Malam ketiga. Udara di dalam kamar terasa seberat timah.

Pukul 02:45 AM.

Arga duduk bersila di atas kasur, menatap punggung Nadira dengan tatapan mata yang sudah memerah karena kurang tidur dan kelelahan mental. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah senter kecil berbahan besi berat. Ia tidak tahu untuk apa benda itu, tapi insting bertahannya menuntut agar ia memegang sesuatu sebagai senjata.

"Oke... mari kita lihat halusinasi macam apa lagi yang otakku ciptakan malam ini," gumam Arga dengan gigi gemeretak.

Ia sudah mengambil keputusan. Malam ini, ia tidak akan lari. Jika memang itu iblis, ia akan menantangnya. Jika itu hanya halusinasinya yang terganggu karena rasa bersalah masa lalu, ia akan menghadapinya sampai tuntas.

Detik demi detik berlalu dengan sangat lambat. Kesunyian malam terasa berdenging di telinganya.

02:55 AM.

Udara mulai terasa basah. Suhu ruangan tidak turun sedrastis malam sebelumnya, namun ada rasa dingin yang aneh merayap perlahan dari lantai kayu, naik menyelimuti sprei, dan membekukan ujung-ujung jari Arga.

02:59 AM.

Arga mencengkeram senter di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak berkedip menatap jam beker digital.

Klik.

03:00 AM.

Arga menahan napas. Ia sudah bersiap melihat tubuh istrinya kembali duduk tegak dengan gerakan kaku bak mesin. Ia bersiap mendengar suara serak yang akan mengejek dosa-dosanya lagi. Ia sudah menyiapkan mentalnya untuk seringai iblis itu.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaannya.

Bahu Nadira memang berhenti bergerak karena napasnya tertahan, tapi tubuhnya tidak langsung duduk kaku. Perlahan, terdengar suara isakan kecil dari balik selimut. Isakan yang sangat tertahan, disusul oleh bahu yang berguncang pelan.

Arga mengernyit bingung. "Nad?"

Tubuh Nadira perlahan meringkuk, menarik lututnya ke dada persis seperti posisi janin di dalam rahim. Ia menarik selimut tebal itu hingga menutupi separuh wajahnya. Isakannya semakin jelas, berubah menjadi rengekan pelan yang sangat memilukan.

"Nadira? Kamu menangis?" Arga merangkak mendekat, keraguannya menahan tangannya di udara. "Siapa... siapa kamu malam ini?"

Sosok di balik selimut itu tersentak kaget mendengar suara Arga. Dengan gerakan panik yang sangat canggung dan gemetar, ia menyingkap selimut dari wajahnya dan memutar tubuh menghadap Arga.

Arga terperanjat. Bukan seringai mengerikan yang ia lihat, melainkan wajah istrinya yang ketakutan setengah mati. Mata Nadira terbelalak, namun tidak kosong. Mata itu basah oleh air mata, memancarkan kepanikan dan kepolosan yang luar biasa ganjil. Bibir bawahnya melengkung ke bawah, bergetar hebat menahan tangis.

Postur tubuhnya menyusut, bahunya melengkung ke dalam, membuat Nadira terlihat jauh lebih kecil dari biasanya. Ia menggigit kuku ibu jarinya dengan raut wajah panik, sebuah kebiasaan yang tidak pernah dimiliki istrinya.

"Kamu... kamu siapa?" tanya Arga, nada suaranya berubah dari menantang menjadi kebingungan murni.

Sosok itu menatap Arga dengan mata besar yang ketakutan. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"T-takut..." suaranya keluar. Arga nyaris menjatuhkan senternya.

Itu pita suara istrinya, tapi nadanya... melengking, cadel, dan sangat kekanak-kanakan. Persis seperti suara anak perempuan berusia lima atau enam tahun yang sedang tersesat di tengah pasar.

"Takut... gelap. Di sini gelap," rengek sosok itu, menyusut semakin ke sudut ranjang, merapatkan punggungnya ke dinding seolah Arga adalah monster yang menakutkan.

"Siapa yang takut? Kamu siapa?!" desak Arga. Kepalanya pusing dengan pergantian karakter yang begitu drastis ini. Di mana iblis sombong yang mengancamnya semalam? "Kemana yang kemarin?! Jangan main-main denganku!"

Bentakan Arga membuat sosok anak kecil di dalam tubuh Nadira itu tersentak hebat. Ia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan mulai menangis sesenggukan. Tangisannya benar-benar terdengar nyata, penuh dengan rasa sakit dan ketakutan seorang balita.

"Jangan marah... Paman jangan marah... Nila takut..." isaknya di sela-sela tangisan, suaranya teredam oleh lututnya sendiri.

"Nila?" Arga bergumam, menyebut nama yang baru saja ia dengar. Otaknya berputar cepat mencari referensi nama itu dalam hidup Nadira, tapi hasilnya nihil. "Kamu bukan iblis yang semalam? Kamu... hantu anak kecil?"

Sosok yang menyebut dirinya Nila itu perlahan mengintip dari balik lututnya. Mata Nadira yang dipenuhi air mata menatap Arga dengan binar memelas. Ia melepaskan gigitannya pada ibu jarinya yang kini memerah.

"Paman nggak marah sama Nila?" cicitnya dengan suara gemetar.

"Aku nggak marah," Arga menelan ludah, memaksakan suaranya melembut meski jantungnya masih berdebar kencang. Ia meletakkan senternya ke atas kasur perlahan-lahan. "Kamu ngapain di sini, Nila? Kenapa kamu ada di tubuh istriku?"

Nila tidak langsung menjawab. Wajah mungil dalam tubuh wanita dewasa itu perlahan mendongak, matanya yang basah menyapu sekeliling ruangan yang gelap dengan tatapan paranoid. Napasnya terengah-engah seolah ia baru saja dikejar sesuatu.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, sosok anak kecil itu merangkak maju dengan sangat cepat dan menerjang Arga.

Arga menahan napas saat kedua lengan Nadira melingkari lehernya dengan erat. Wajah istrinya dibenamkan dalam-dalam ke dada Arga. Tubuhnya bergetar sangat hebat, dinginnya meresap menembus kaus Arga.

"Tolong Nila, Paman... Nila mau pulang. Di sini sesak. Di sini banyak banget... mereka dorong-dorong Nila," isaknya memilukan, air mata membasahi dada Arga.

Arga membeku. Tangannya mengambang di udara, ragu apakah ia harus membalas pelukan istrinya yang kini diisi oleh jiwa yang asing. "Banyak? Maksudnya banyak itu siapa, Nila?"

Isakan anak itu terhenti secara mendadak.

Tubuh di pelukan Arga mendadak kaku, seolah baru saja tersengat listrik bervoltase tinggi. Nila melepaskan pelukannya dengan paksa. Ia mundur teratur dengan mata membelalak ngeri yang tertuju bukan pada Arga, melainkan pada sesuatu di balik bahu Arga. Sesuatu di sudut ruangan yang gelap.

Wajah Nadira yang dikendalikan Nila seketika memucat pasi, lebih pucat dari sebelumnya. Giginya bergemeretak ketakutan. Tangannya terulur ke depan, mencengkeram kerah kaus Arga dengan sangat kuat hingga Arga sedikit tercekik.

"Nila? Kamu kenapa?" bisik Arga panik, ikut menoleh ke belakang, namun ia tidak melihat apa-apa selain lemari pakaian mereka.

Nila menarik kerah Arga mendekat, menarik paksa suaminya itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata anak kecil yang dipenuhi teror absolut itu menatap lurus ke mata Arga.

Dengan suara yang bergetar parah dan nyaris berupa hembusan angin, ia berbisik dengan tergesa-gesa:

"Dia marah kalau kamu tahu… dia mau ambil tubuh ini."