Tawa melengking yang keluar dari bibir Nadira perlahan memudar, berganti menjadi senandung pelan yang terdengar seperti gumaman tak bernada. Namun bagi Arga, tawa itu masih terus menggema, memantul-mantul dengan kejam di dalam dinding tengkoraknya.
Raka.
Nama itu bagaikan pelatuk yang meledakkan gudang ingatan yang selama lima tahun ini mati-matian ia kunci rapat dan ia kubur di dasar pikirannya yang paling gelap.
Seketika, suhu dingin di kamar itu seolah menghilang, digantikan oleh bayangan hujan badai yang menderas. Di depan matanya yang membelalak ngeri, dinding kamar tidurnya memudar, digantikan oleh kelamnya malam di pinggiran tebing sungai berarus gila.
“Tolong, Ga! Tanganku licin! Arga!”
Suara itu. Suara serak Raka yang bercampur dengan deru air bah yang mengamuk mengoyak telinga Arga. Ingatan itu terlalu hidup. Arga bisa merasakan lagi sensasi lumpur yang licin di bawah sepatunya, dinginnya hujan yang menusuk tulang, dan pemandangan tangan Raka yang menggapai-gapai putus asa di bibir tebing yang terus longsor.
“Pegang tanganku, Ka! Bertahan!” teriak Arga malam itu, mengulurkan tangannya di tengah guyuran hujan. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan. Terasa sangat dingin.
Namun, saat tanah di bawah lutut Arga mulai retak dan amblas, kepanikan purba mengambil alih. Ketakutan akan kematian menyergapnya. Jika ia menarik Raka, ia akan ikut terseret ke dalam pusaran air cokelat yang mengamuk di bawah sana.
“Ga! Jangan lepasin! Ga!”
Arga menarik tangannya. Ia mundur dengan merangkak, membiarkan mata Raka membelalak penuh ketidakpercayaan sebelum tubuh temannya itu tertelan oleh kegelapan dan suara gemuruh air. Arga berlari. Berlari menembus semak belukar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Raka mati, dan membawa rahasia pengecut itu sampai ke ranjang pernikahannya dengan Nadira.
"Dari mana... dari mana kamu tahu?!" desis Arga, menarik dirinya kembali ke masa kini. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Matanya menatap liar ke arah sosok istrinya yang kini kembali duduk membatu.
"Jawab aku, iblis!" bentak Arga, mencengkeram lengan Nadira hingga kuku-kukunya menancap. "Siapa yang kasih tahu kamu soal Raka?! Ini cuma kebetulan kan?! Jawab!"
Namun sosok itu tidak lagi merespons. Seringai gila itu perlahan memudar dari wajah Nadira, berganti menjadi ekspresi datar tanpa otot yang bekerja. Kelopak matanya yang sedari tadi melotot, perlahan terpejam. Tulang punggungnya yang kaku mendadak kehilangan ketegangannya.
Dalam satu detik, tubuh Nadira meluruh ke samping, jatuh terhempas ke atas kasur dengan suara napas berat yang kembali teratur.
Ia kembali tidur. Meninggalkan Arga yang masih gemetar hebat dengan napas tersengal-sengal dan jantung yang berdetak seolah ingin meledak.
"Nad? Nadira?" panggil Arga dengan suara pecah. Ia mengguncang bahu istrinya dengan sisa tenaganya. "Bangun, Nad! Bangun!"
Hanya dengkuran halus yang menjawab. Istrinya telah kembali menjadi Nadira. Sosok itu telah pergi, setidaknya untuk malam ini.
Arga mundur, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang gemetar parah. Malam itu, Arga sama sekali tidak memejamkan mata. Ia berjaga bagai buronan yang menunggu eksekusi, menatap wajah damai istrinya dalam kegelapan hingga sinar matahari perlahan menyusup dari balik tirai.
Pagi harinya, suasana kembali terasa sangat kontras. Aroma kopi dan roti tawar yang dipanggang menguar dari arah dapur. Arga melangkah turun dari tangga dengan kaki yang terasa seperti diikat beban puluhan kilogram. Kantung matanya menghitam dan wajahnya pucat pasi bak mayat hidup.
"Mas Arga? Ya ampun, muka kamu kenapa kuyu banget gitu?" tegur Nadira yang sedang mengoleskan selai stroberi ke atas roti. Istrinya itu mengenakan celemek motif bunga, tampak begitu cerah dan penuh kehidupan. Sangat normal. Terlalu normal.
Arga menarik kursi meja makan dan menjatuhkan tubuhnya ke sana dengan kasar. "Aku nggak bisa tidur semalaman, Nad."
"Kan, udah aku tebak. Kamu pasti overthinking soal kerjaan lagi ya?" Nadira meletakkan piring berisi dua lembar roti di depan suaminya, lalu menuangkan kopi panas dari teko. "Dimakan dulu rotinya. Jangan sampai maag kamu kumat. Kalau memang pusing banget, kamu ambil cuti sakit aja hari ini."
Arga menatap lekat-lekat mata cokelat terang itu. Ia mencari sisa-sisa tatapan kosong, mencari kilatan seringai mengerikan itu. Tidak ada. Semuanya murni Nadira, wanita yang ia kenal luar dalam.
"Nad," panggil Arga pelan, nyaris berbisik. "Kamu... beneran nggak ingat apa-apa semalam?"
Tangan Nadira yang sedang mengaduk teh manis terhenti. Dahinya berkerut dalam, menatap suaminya dengan ekspresi bingung dan sedikit cemas.
"Ingat apa sih, Mas? Perasaan dari kemarin kamu nanyain itu terus. Aku tidur nyenyak banget dari jam sepuluh malam sampai subuh. Emangnya semalam ada apaan?"
Arga menelan ludah. "Kamu nggak bermimpi sesuatu? Tentang... masa lalu? Atau tentang teman-temanku?"
"Teman kamu? Siapa?" Nadira balik bertanya, lalu tertawa kecil. "Mimpiin kamu aja aku jarang, Mas, boro-boro mimpiin teman kamu. Kenapa sih? Kamu ada masalah sama teman kantormu?"
"Nggak... nggak ada apa-apa," dusta Arga. Ia menundukkan kepalanya, mengaduk kopinya yang masih mengepul tanpa selera.
Pikirannya kembali bergejolak, mencari segala rasionalisasi yang masuk akal. Apakah semua ini hanya halusinasinya? Apakah rasa bersalahnya terhadap Raka selama lima tahun ini akhirnya merusak kewarasannya hingga ia memproyeksikan iblis dalam wujud istrinya sendiri?
"Mas," panggilan Nadira memecah lamunannya.
Arga mendongak. Ia melihat Nadira sedang mengunyah rotinya sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum manisnya sudah menghilang, digantikan oleh raut wajah serius yang membuat perut Arga kembali melilit.
"Kenapa, Nad?" tanya Arga hati-hati.
Nadira meletakkan rotinya di tepi piring. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja makan, matanya menatap tepat ke arah manik mata Arga.
"Kamu semalam ngomong sendiri ya?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar