Udara malam ini terasa jauh lebih tebal dan mencekik. Seolah ada beban tak kasatmata yang berat menekan langsung ke rongga dada Arga.

Pukul 02:40 AM.

Arga berbaring miring di atas kasurnya, menghadap ke arah Nadira yang tertidur pulas memunggunginya. Matanya terbuka sangat lebar, tegang, mengawasi setiap tarikan dan embusan napas istrinya yang menaik-turunkan piyama sutra tersebut. Tangannya tersembunyi di bawah selimut, mengepal erat hingga kuku-kukunya nyaris menembus kulit telapak tangan.

Di nakas sebelahnya, secangkir kopi hitam tanpa gula yang sudah dingin teronggok sepi di sana. Arga sengaja membuatnya sebelum tidur, menenggaknya separuh untuk memastikan kafein memompa paksa matanya agar tetap terjaga malam ini. Tapi nyatanya, ia tidak butuh sisa kopi itu. Rasa takut, adrenalin, dan paranoia yang menjalar liar di seluruh pembuluh darahnya sudah lebih dari cukup untuk membuat saraf-sarafnya siaga penuh seperti prajurit di medan perang.

"Nad..." bisik Arga sangat pelan, nyaris tanpa suara.

Nadira tidak bergerak sedikit pun. Dadanya naik-turun dengan ritme yang lambat dan sangat teratur. Rambutnya berantakan di atas bantal, wajah sampingnya yang terlihat dalam keremangan tampak begitu lelap dan damai dalam tidurnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keanehan.

"Kalau ini semacam prank... atau lelucon konyol untuk konten medsos... ini sama sekali nggak lucu, Sayang," gumam Arga lagi, lebih meracau kepada dirinya sendiri. Suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang tertahan. "Aku lihat rekaman CCTV siang tadi. Aku lihat semuanya, Nad."

Hanya paduan suara serangga malam dan desisan pelan pendingin ruangan dari sudut atas kamar yang membalas ucapannya.

Arga menelan ludah yang kembali terasa seperti menelan pecahan kaca. Ia memaksakan matanya yang pedih untuk tidak berkedip sedetik pun. Dengan gerakan sangat hati-hati agar kasur tidak bergoyang, ia memutar bola matanya melirik sekilas ke arah jam beker digital di nakas.

02:50 AM. Detak jantungnya mulai bertambah cepat.

02:55 AM. Arga mulai merasakan suhu di kakinya mendingin secara tidak wajar.

02:58 AM. Keringat dingin merembes deras dari pelipis, punggung, dan lehernya, membuat kaus dalamnya basah kuyup.

02:59 AM.

Suhu ruangan mendadak turun drastis dalam hitungan detik. Bukan perlahan, tapi anjlok seolah seseorang baru saja menumpahkan berton-ton es batu ke dalam kamar tertutup ini. Arga bisa merasakan embusan udara yang sangat dingin dan lembap menyapu langsung wajahnya. Bulu matanya bahkan terasa berat. Napas Arga yang terengah mulai mengeluarkan kepulan uap putih tipis setiap kali ia mengembuskan udara dari mulutnya.

Klik.

Suara mekanis halus dari jam meja terdengar keras di telinga Arga. Angka di jam beker berubah tegas. 03:00 AM.

Tepat pada detik angka itu berubah, ritme napas Nadira di depannya berhenti total.

Tidak ada embusan napas panjang. Tidak ada suara tarikan oksigen. Dada yang sedari tadi naik-turun dengan damai itu kini membeku seketika. Punggungnya kaku.

Arga menahan napasnya sendiri, tidak berani membuang uap putih dari mulutnya. Matanya nanar menatap punggung itu. "Nad...?"

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Selama lima detik yang terasa seperti melintasi abad yang panjang, wanita di depannya itu diam tak bernyawa layaknya sebuah patung lilin.

Lalu, secara tiba-tiba dan tanpa ancang-ancang sedikit pun, tubuh Nadira bergerak. Bukan gerakan menggeliat alami orang yang baru bangun atau terganggu tidurnya. Gerakannya luar biasa kaku, presisi, cepat, dan sangat mekanis seakan ototnya ditarik oleh tali tak kasatmata.

Tubuh bagian atas Nadira terangkat. Ia duduk tegak dalam satu gerakan patah yang menyentak kuat. Selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya meluncur jatuh ke pangkuannya dengan suara desiran kain yang terdengar keras di kamar sunyi itu.

Arga tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia segera ikut terbangun, duduk dan menyandarkan punggungnya dengan keras ke sandaran ranjang. Dadanya bergemuruh hebat seperti sedang dihantam palu godam berulang kali.

"Nadira? Sayang, kamu dengar aku?" panggil Arga dengan suara yang memecah kesunyian, mencoba bersikap dominan meski seluruh saraf di tubuhnya berteriak untuk segera lari dari kamar itu.

Sosok yang duduk membelakanginya itu perlahan menolehkan kepalanya. Sama persis seperti malam sebelumnya. Gerakan patah-patah yang menimbulkan suara tulang berderak halus. Sangat pelan. Saat wajah pucat pasi itu sepenuhnya menghadap Arga, mata yang terbelalak kosong itu kembali menatapnya menembus jiwa. Kegelapan dan kekosongan absolut di dalam bola mata itu terasa menyedot habis semua harapan dan keberanian yang sudah susah payah Arga kumpulkan sejak siang tadi.

"Siapa kamu?" suara Arga bergetar parah, pertahanan mentalnya jebol. Ia tidak peduli lagi kalau ia terdengar seperti orang gila atau sedang berhalusinasi. Fakta ada di depan matanya. "Kamu bukan istriku. Kamu bukan Nadira! Siapa kamu?!"

Sosok yang meminjam wajah cantik istrinya itu tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk kaku, menatap Arga lekat-lekat tanpa berkedip. Lalu, pelan-pelan, sosok itu memiringkan kepalanya sedikit ke arah kiri. Sudut kemiringannya terlalu tajam untuk ukuran tulang leher manusia normal. Gerakan yang sangat aneh, meresahkan, dan mengancam.

"Kamu mulai memperhatikan..." suara itu keluar dari bibir tipis Nadira.

Arga tersentak mundur menempel ke tembok.

Suara itu... sangat dingin dan menusuk. Berbeda dengan nada datar tanpa emosi yang ia dengar malam sebelumnya. Kali ini, dalam suara itu terselip nada mengejek yang kental. Sebuah arogansi dan kebanggaan yang merendahkan, seolah sosok itu sedang melihat seekor serangga kecil yang mencoba melawannya.

"...bagus." lanjut sosok itu, bibirnya mulai menarik sebuah seringai tipis di sudut kanannya.

"Keluar... keluar dari tubuh istriku!" desis Arga, memaksakan segenap sisa keberanian maskulinnya untuk keluar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat meski gemetar hebat merambat dari lengan hingga pundaknya. "Keluar sekarang, atau aku akan panggil—"

"Panggil siapa?" potong sosok itu cepat. Bibir Nadira bergerak melengkung ke atas, menyeringai menakutkan, tapi Arga bersumpah demi langit dan bumi itu bukanlah senyum istrinya. Rahangnya bergerak dengan cara yang salah. "Orang pintar berpakaian serba putih? Dokter berjas rapi? Polisi dengan senjata mainan mereka? Siapa... siapa yang akan percaya pada ceritamu yang menyedihkan ini, Arga?"

Arga tercekat. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Sosok iblis itu tahu namanya. Ia menyebut namanya dengan artikulasi yang sangat jelas dan penuh penekanan ejekan.

"Apa... apa sebenarnya maumu?" tanya Arga, napasnya memburu cepat. "Kenapa kamu ganggu rumah ini? Kami tidak pernah mengganggu siapa pun! Kami selalu berdoa!"

"Rumah ini..." sosok itu mendengus pelan. Dari hidung Nadira keluar suara serak berat yang sama sekali tidak menyerupai suara pita suara perempuan. Udara di sekitarnya semakin membeku. "...Ini bukan tentang bangunan rumah ini, bodoh. Ini tentang wadah."

"Wadah?" dahi Arga berkerut dalam di tengah kepanikannya. "Wadah apa?"

Tanpa diduga, sosok itu merangkak dengan gerakan menyentak yang sangat cepat di atas kasur, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Arga.

Arga terkesiap, tubuhnya menempel kaku ke dinding. Udara busuk dan apek—aroma kuat tanah basah yang baru digali bercampur darah dan karat besi—menusuk penciumannya dengan hebat, membuat perutnya mual seketika. Itu bukan aroma napas Nadira.

"Wadah ini terbuka. Sangat lebar dan mengundang," bisik sosok itu persis di depan wajah Arga. Mata kosong tak berkedip itu menatap tajam, menelanjangi segala dosa dan rahasia di dalam jiwa Arga. "Tapi... dia terlalu lemah."

"Jangan berani-berani sentuh dia," geram Arga marah, insting melindunginya muncul menembus rasa takut. Ia berusaha mendorong bahu sosok itu mundur, tapi tangannya seolah lumpuh dan terpaku di tempat, menolak mematuhi perintah otaknya.

Seringai di wajah Nadira semakin melebar melihat ketidakberdayaan Arga, hingga menampakkan gusi kemerahannya di keremangan.

"Tentu saja tidak akan kami hancurkan sekarang. Kami akan menjaganya dengan sangat baik..." suara serak itu berbisik lembut bagai racun di telinga Arga. "...sampai kami menemukan wadah baru yang lebih kuat."

Setelah mengucapkan ancaman mengerikan itu, sosok itu perlahan mundur, merangkak mundur dengan gerakan patah-patah kembali ke posisi duduk tegaknya di ujung ranjang. Matanya memutus kontak dari Arga dan kembali menatap kosong ke arah dinding di seberang ruangan.

"Berhenti main-main gila!" bentak Arga, kehilangan kesabaran bercampur panik yang memuncak. Akal sehatnya menolak takluk. Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu kecil Nadira dengan kasar dan mengguncang tubuh istrinya itu kuat-kuat. "Sadarlah, Nad! Bangun! Lawan dia! Bangun, Nadira!"

Bahu di bawah cengkeraman Arga terasa sekeras batu es beku. Guncangan keras Arga sama sekali tidak mengubah postur tegaknya. Kepala Nadira bahkan tidak bergoyang sedikit pun saat diguncang. Namun, sosok yang menguasai tubuh itu kembali berbicara. Kali ini suaranya terdengar seperti bisikan mendesis pelan, namun bergema di seluruh penjuru ruangan, seolah datang dari balik dinding-dinding kamar.

"Kamu selalu bersikap sok suci, pahlawan kesiangan."

Gerakan tangan Arga terhenti seketika. Cengkeramannya di bahu istrinya mengendur. Udara di paru-parunya seakan disedot keluar. "Apa... apa maksudmu?"

Sosok itu memutar lehernya patah-patah ke belakang, menatap Arga hanya dari sudut matanya yang putih melotot. Seringai itu perlahan berubah menjadi senyum sinis dan menjijikkan yang penuh kemenangan mutlak.

"Kamu pikir... dengan pindah ke kota ini, kamu bisa sembunyi selamanya dari dosa-dosamu?" bisiknya perlahan.

Nada suaranya kini mendadak berubah distorsi, tidak lagi serak, tidak lagi datar. Suara itu menjelma menjadi sesuatu yang sangat familier bagi Arga. Sesuatu dari masa lalunya yang terkubur dalam-dalam. Sesuatu yang membuat jantung Arga seakan diremas oleh tangan raksasa hingga hancur berkeping-keping.

"Kamu pikir..." lanjut sosok itu dengan nada riang yang menakutkan, "...Raka sudah memaafkanmu karena membiarkannya tenggelam malam itu?"

Napas Arga berhenti total. Matanya terbelalak ngeri menatap wajah istrinya. Wajahnya seketika pucat pasi seperti mayat.

Nama itu. Raka.

Tidak ada satu pun orang di dunia ini—bahkan Nadira, istri yang sangat ia cintai sekalipun—yang tahu tentang nama itu. Tentang malam berdarah lima tahun yang lalu. Tentang tangan yang memohon pertolongan di tengah derasnya arus sungai, dan tentang Arga yang memilih untuk membalikkan badan dan berlari pergi meninggalkan temannya mati tertelan pusaran air.

"Dari mana..." suara Arga bergetar parah, nyaris tak terdengar. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dari mana iblis sepertimu tahu nama itu?!"

Sosok di dalam tubuh Nadira itu hanya tersenyum semakin lebar, merobek sisa kewarasan malam itu. Sangat lebar hingga kulit pipinya terlihat tertarik tegang. Di tengah kesunyian kamar bersuhu es yang mencekam itu, suara tawa kecil mulai keluar dari bibir Nadira.

Tawa pelan, serak, dan penuh kebencian itu perlahan membesar, menggema, dan memenuhi seluruh sudut ruangan, menertawakan kengerian dan dosa masa lalu Arga yang kini datang menagih nyawa di jam tiga pagi.