"Mas! Arga! Ya ampun, bangun dong, heh! Kebo banget sih hari ini!"
Arga tersentak hebat, tubuhnya melompat dari kasur dengan napas terengah-engah dan keringat sebesar biji jagung membasahi dahi serta lehernya. Matanya langsung terbuka sangat lebar, liar menyapu sekeliling ruangan. Ia siap untuk berteriak, siap untuk melawan apa pun yang ada di depannya.
Namun, yang menyambutnya adalah sinar matahari pagi yang sangat cerah, menembus tirai jendela yang sudah terbuka lebar. Kamarnya terang benderang. Aroma harum dari mentega yang dilelehkan, roti gandum panggang, dan kopi hitam pekat langsung memenuhi indra penciumannya, menendang keluar sisa-sisa bau tanah basah dan logam yang semalam mencekiknya.
"Nah, gitu dong bangun. Melek juga akhirnya. Aku udah panggil dari tadi tahu dari bawah, sampai serak nih suara teriak-teriak."
Arga menoleh dengan cepat hingga lehernya terasa kaku. Di ambang pintu kamar mandi, Nadira berdiri bersandar santai sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil berwarna biru muda. Istrinya itu mengenakan kaus putih kebesaran miliknya dan celana pendek katun rumahan. Wajahnya berseri-seri segar setelah mandi, matanya berbinar ceria, dan senyum manisnya—senyum aslinya yang selalu membuat Arga jatuh cinta setiap hari—mengembang sempurna lengkap dengan lesung pipinya.
"Nad...?" panggil Arga ragu, suaranya parau karena tenggorokannya masih terasa sakit. Matanya tidak berkedip, menilai setiap inci tubuh istrinya.
"Iya, Bapak Arga yang terhormat. Kenapa ngeliatinnya gitu banget sih? Kayak lihat hantu aja." Nadira terkekeh pelan, melangkah masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju meja rias. "Ada belek ya di mataku? Atau maskaranya luntur?"
"Kamu... kamu beneran nggak apa-apa, sayang?"
"Nggak apa-apa gimana maksudnya?" Nadira balik bertanya, menatap suaminya dari pantulan cermin sambil tangannya sibuk mengoleskan krim pelembap ke wajah. "Aku sehat walafiat, Mas. Kamu tuh yang kayaknya nggak apa-apa. Keringetan parah gitu padahal AC masih nyala di angka dua puluh empat lho. Semalam begadang nonton bola lagi ya?"
Arga perlahan bangkit dari posisi telentangnya, lalu duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal di punggungnya. Ia menelan ludah berkali-kali, berusaha menyingkirkan sisa-sisa ketakutan yang masih menempel di dinding perutnya. Matanya menatap lekat-lekat punggung istrinya yang sedang sibuk merias diri.
Memorinya tentang kejadian tepat jam tiga pagi tadi terasa terlalu bertekstur, terlalu hidup, dan terlalu nyata untuk sekadar dikategorikan sebagai bunga tidur. Seringai itu... bagaimana mungkin otak manusia bisa menciptakan visualisasi seringai semenakutkan itu dalam mimpi?
"Nad... semalam... kamu bangun jam tiga pagi, nggak?" tanya Arga hati-hati, memilah setiap kata agar tidak terdengar seperti orang yang kehilangan kewarasan.
Gerakan tangan Nadira yang sedang memegang botol serum terhenti sejenak di udara. Ia menatap pantulan Arga dari cermin dengan dahi berkerut bingung.
"Jam tiga pagi? Ngapain aku bangun jam tiga pagi, Mas? Tahajud juga enggak, kan aku lagi dapet bulan ini. Lagian kamu tahu sendiri aku kalau tidur udah kayak orang pingsan."
"Kamu... beneran nggak ingat? Kamu duduk di ujung kasur, Nad."
Nadira meletakkan botol serumnya ke atas meja rias, lalu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap ranjang. Ia menatap suaminya dengan tatapan geli yang bercampur sedikit heran.
"Duduk di ujung kasur? Terus ngapain? Nyinden?" Nadira tertawa pelan. "Mas Arga, kamu mimpi horor ya semalam? Tuh kan, udah aku bilangin berkali-kali, jangan keseringan dengerin podcast horor atau nonton film thriller sebelum tidur. Terbawa mimpi kan jadinya."
"Aku serius, Nad," suara Arga meninggi sedikit, rasa frustrasi mulai bercampur dengan ketakutannya. "Aku panggil-panggil kamu, tapi kamu diam aja. Pas aku deketin... kamu nunduk, terus tiba-tiba noleh ke aku dan bilang... 'Kamu bukan yang pertama'."
Tawa Nadira kini meledak memecah kesunyian kamar. Ia berjalan mendekati sisi ranjang, lalu duduk di sebelah Arga. Tangan kirinya terulur, mencubit pelan dan manja pipi kanan suaminya itu.
"Ya ampun, suamiku sayang. Imajinasi kamu kejauhan deh sumpah. Kapan coba aku ngomong kaku dan puitis lebay kayak gitu? 'Kamu bukan yang pertama', ih geli banget dengarnya. Kalimatnya klise banget, Mas, kayak dialog murahan di sinetron misteri azab-azab gitu lho."
"Nad, sumpah demi Tuhan, itu kelihatan nyata banget. Bukan kayak mimpi biasa. Wajah kamu... senyum kamu..." Arga menelan ludah, memori tentang seringai menyeringai itu kembali berkelebat di benaknya, membuat bulu romanya kembali berdiri. "Senyum kamu beda banget. Menakutkan."
"Mas," Nadira menghentikan tawanya. Ia menyadari kepanikan di mata suaminya bukanlah sebuah akting. Tangannya yang lembut kini beralih menyentuh rahang Arga, mengusapnya dengan ibu jarinya. Tatapannya berubah menjadi sangat hangat, penuh empati dan perhatian khas seorang istri.
"Itu cuma mimpi buruk, Sayang. Percaya deh sama aku. Aku tidur nyenyak banget dari jam sepuluh malam sehabis kita nonton Netflix, sampai jam enam subuh tadi waktu alarm bunyi. Nggak kebangun sama sekali untuk minum apalagi sampai duduk di ujung kasur buat nakut-nakutin suami sendiri. Kurang kerjaan banget sih aku."
Arga menatap mata cokelat itu. Hangat. Hidup. Berbinar. Penuh cinta. Sangat bertolak belakang dengan dua bola mata kosong dan melotot yang mengawasinya semalam. Perlahan, sentuhan hangat di rahangnya dan wangi floral dari pelembap Nadira mulai membuat ketegangan di dadanya mengendur. Otot-ototnya yang kaku mulai rileks.
"Mungkin... mungkin kamu bener," gumam Arga sambil mengusap wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan secara kasar, mencoba membuang sisa mimpi itu. "Mungkin aku cuma lagi stres dan kecapekan akhir-akhir ini karena kerjaan di kantor lagi gila-gilanya persiapan audit."
"Pasti itu penyebabnya. Otak kamu capek," Nadira tersenyum lega, mengecup pipi Arga sekilas. "Makanya, hari ini kamu WFH aja kan? Jangan terlalu diforsir kerjanya. Santai sedikit. Nanti siang pas jam istirahat, aku pesenin makanan kesukaan kamu ke rumah via ojol, ya? Mau sate padang dekat simpang atau bebek madura bumbu hitam yang pedas itu?"
"Sate padang aja boleh deh, yang daging semua jangan pakai jeroan," jawab Arga, akhirnya bisa balas tersenyum tipis, merasa konyol sendiri karena sempat mencurigai wanita sebaik ini.
"Siap, Laksanakan, Komandan!" Nadira bangkit berdiri dan menepuk bahu Arga pelan. "Sekarang buruan mandi sana, bau keringat tahu nggak! Rotinya di meja makan udah aku selaiin kacang kesukaanmu, kopinya jangan lupa diminum mumpung masih panas ngebul!"
"Iya, iya, bawel banget sih nyonya rumah ini," seru Arga sambil tersenyum tulus.
Sepeninggal Nadira yang melangkah keluar kamar sambil bersenandung kecil, senyum di wajah Arga perlahan memudar. Ruangan itu kembali hening. Ia menoleh perlahan, menatap tajam ke arah ujung ranjang tempat sosok itu duduk semalam. Bagian seprai di situ memang terlihat sedikit kusut.
Arga menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Cuma mimpi, Ga. Cuma mimpi," sugestinya pada diri sendiri. Tapi jauh di dalam dadanya, sebuah pertanyaan terus mengganggu: Kalau itu memang murni mimpi, kenapa rasa dingin es yang menusuk kulitnya semalam masih meninggalkan ngilu yang membekas sampai sekarang?
Siang itu, cuaca terik memangGangganggang kota. Arga memutuskan bekerja dari ruang kerjanya di lantai bawah. Laptop menyala, deretan angka di lembar kerja Excel berbaris rapi, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Fokusnya buyar. Setiap kali ia mencoba membaca laporan keuangan, deretan angka itu seolah berubah menjadi angka 03:00.
Pikirannya terus berputar, mengulang kembali kejadian jam tiga pagi tadi seperti kaset rusak. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya. Sesuatu yang dengan keras kepala menolak untuk disapu bersih dan dibuang begitu saja ke dalam kotak memori bertuliskan 'Mimpi Buruk Biasa'. Intuisi primalnya terus memberikan peringatan tanda bahaya.
Sekitar pukul dua siang, saat Nadira berpamitan untuk pergi belanja bulanan sebentar ke supermarket depan kompleks perumahan, Arga segera menghentikan pura-puranya bekerja. Begitu mendengar suara mesin mobil istrinya menjauh dari garasi, ia bangkit berdiri. Ia berjalan menuju pintu ruang kerjanya dan menekan tombol kunci dari dalam. Terdengar bunyi klik pelan.
"Oke, kita buktikan saja. Kalau aku lihat nggak ada apa-apa di rekaman, berarti aku yang gila dan memang butuh istirahat," gumam Arga pada dirinya sendiri di ruangan yang sunyi itu.
Tangannya yang tiba-tiba kembali berkeringat dingin menggerakkan mouse komputer desktop yang terhubung langsung dengan sistem keamanan rumah pintar mereka. Ia membuka aplikasi CCTV. Mereka memang memasang satu kamera berbentuk kubah kecil di plafon lorong lantai dua, yang sudut pandangnya menghadap lurus menyusuri lorong panjang itu, tepat ke arah pintu kamar tidur utama di ujungnya.
Arga menelan ludah yang kembali terasa kering. Ia mengarahkan kursor ke menu playback dan mencari rekaman tanggal hari ini. Ia menggeser time bar ke pukul 02:40 AM.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar monitor besar itu tanpa berkedip. Jantungnya mulai kembali berdetak dalam ritme yang tidak nyaman.
Pukul 02:45 AM. Lorong terlihat kosong. Mode malam infrared dari kamera membuat seluruh lorong terlihat abu-abu kehijauan. Pukul 02:50 AM. Tidak ada pergerakan sedikit pun. Hanya debu beterbangan yang tertangkap lensa. Pukul 02:55 AM. Masih kosong. Sunyi.
"Tuh kan, nggak ada apa-apa," bisik Arga lega. Ia sudah siap untuk menutup aplikasi itu dan menertawakan ketakutannya sendiri. Jarinya sudah bersiap mengklik tombol silang merah di pojok kanan atas.
Pukul 02:59 AM.
Langkah tangan Arga terhenti. Matanya memicing tajam ke layar.
Gagang pintu kamar utama yang tertangkap kamera, perlahan bergerak ke bawah.
Klik. Pintu berderit terbuka, sangat lambat.
Jantung Arga seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Udara di ruang kerjanya mendadak terasa lenyap.
Dari dalam kamar utama yang gelap gulita di layar itu, sesosok tubuh perlahan melangkah keluar menembus ambang pintu. Itu Nadira. Istrinya. Ia mengenakan piyama sutra putih yang terlihat bercahaya menyilaukan saat tertimpa sensor infrared.
Langkahnya tidak seperti orang yang sedang berjalan sambil tidur. Langkahnya kaku, diseret, dan aneh, seolah lututnya tidak ditekuk saat ia memajukan kaki. Tangannya menggantung lemas begitu saja di sisi tubuh, menjuntai seperti boneka rusak. Rambutnya menutupi seluruh wajahnya yang menunduk dalam.
Arga meremas pinggiran mejanya kuat-kuat. Tubuhnya membeku di kursi.
Sosok Nadira di layar itu melangkah dua kali ke depan, tepat keluar dari kamar, lalu menghentikan langkahnya secara mendadak. Tepat saat waktu digital di pojok kanan bawah layar berubah menunjukkan angka 03:00:00 AM.
Ia berdiri mematung di tengah lorong. Bukan berjalan menuju tangga untuk turun ke dapur minum air. Bukan berjalan ke kamar mandi luar. Ia hanya berdiri di sana. Di depan kamarnya sendiri.
Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan dan patah-patah persis seperti dalam mimpinya, wajah yang tertunduk itu terangkat. Sosok di layar itu mendongak, mengangkat kepalanya ke atas, menatap lurus menembus lensa CCTV. Menatap lurus seolah ia tahu Arga dari masa depan sedang memperhatikannya di balik layar monitor ini.
Arga menahan napasnya, dadanya sesak luar biasa.
Sosok itu berdiri di sana. Tanpa bergerak satu milimeter pun. Selama satu menit. Lima menit. Tiga puluh menit. Arga mempercepat rekaman itu dengan kecepatan 4x. Waktu terus bergulir. Pukul 03:30. Pukul 04:00. Pukul 04:45. Sosok Nadira di layar tetap membatu dengan posisi kepala mendongak menatap kamera.
Hingga tepat pukul 05:00 pagi, barulah sosok itu kembali menunduk, membalikkan badan dengan patah-patah, dan berjalan kaku masuk kembali ke dalam kamar utama, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Napas Arga memburu hebat, dadanya naik-turun seolah ia baru saja berlari maraton sepuluh kilometer. Jemarinya mencengkeram tepi meja kayu solid itu hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
Ia memundurkan rekaman itu. Menghentikannya kembali pada pukul 03:15 AM. Ia menggunakan fitur zoom in pada aplikasi tersebut, memperbesar gambar wajah istrinya yang sedang menatap kamera itu berkali-kali lipat hingga pikselnya sedikit pecah.
Di layar monitor itu, di sela-sela distorsi hitam-putih dan butiran piksel mode malam, Arga bisa melihatnya dengan sangat jelas. Sesuatu yang mengonfirmasi bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sesuatu yang menghancurkan seluruh benteng rasionalitasnya menjadi debu.
Bibir Nadira di rekaman itu... menyeringai lebar. Seringai gila yang sama persis dengan yang dilihatnya semalam.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar