"Aku jatuhkan talak satu untukmu malam ini, Alya. Aku sudah muak. Aku capek punya istri mandul."

Denting sendok yang beradu dengan piring keramik di meja makan panjang itu mendadak berhenti. Hening yang tercipta sedetik kemudian terasa seperti ruang hampa udara yang mencekik leher.

Alya mematung. Potongan daging yang baru setengah dipotongnya jatuh kembali ke atas piring. Matanya membelalak, menatap pria yang duduk tepat di seberangnya. Damar, laki-laki yang selama empat tahun ini tidur di ranjang yang sama dengannya, laki-laki yang baru saja memotong tumpeng perayaan promosi jabatannya lima belas menit yang lalu, kini menatapnya dengan raut wajah sebeku es.

Tiga puluh detik yang lalu, ruang makan keluarga besar ini masih dipenuhi tawa renyah Tante Mira yang menceritakan liburannya, dan suara berat Om Hendrik yang memuji-muji kesuksesan Damar. Sekarang, dua belas pasang mata menoleh serentak, menembus wajah Alya seperti pisau jagal.

"Mas... kamu... kamu ngomong apa?" Suara Alya bergetar, nyaris tidak terdengar. Tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir.

Damar mendengus pelan, sebuah senyum sinis dan merendahkan tersungging di sudut bibirnya. Pria berdada bidang dengan kemeja navy yang disetrika rapi itu menyandarkan punggungnya ke kursi jati. Tangannya bersendekap, menatap Alya dari atas ke bawah seolah menatap barang cacat yang baru saja gagal melewati uji kelayakan pabrik.

"Kamu kurang jelas dengarnya? Atau telingamu sekarang ikut bermasalah selain rahimmu?" Suara Damar tidak meninggi, tapi setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang sangat rapi, dirancang khusus untuk menghancurkan harga diri Alya hingga berkeping-keping di depan seluruh keluarganya.

Gema bisik-bisik mulai terdengar dari ujung meja.

"Ya ampun... mandul katanya?" bisik Tante Rosa sambil menutupi mulutnya, tapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang keji.

"Pantesan, udah empat tahun nikah perutnya rata terus. Kasihan Nak Damar," timpal Bude Ningsih dari sisi kiri meja.

Wajah Alya memanas. Panas yang menjalar dari leher hingga ke telinga, membakar setiap lapis kulitnya. Darahnya berdesir hebat. Ini adalah acara kumpul keluarga bulanan. Ada paman, bibi, sepupu, bahkan istri-istri dari rekan kerja mendiang ayahnya dulu.

"Mas, kita bisa bicarakan ini di kamar, kan? Kenapa... kenapa harus di sini?" Alya menekan kedua telapak tangannya ke tepi meja, berusaha menahan tubuhnya yang mulai gemetar hebat.

"Bicarakan apa lagi, Al?" Damar melempar serbetnya ke atas piring dengan kasar. "Selama ini aku diam. Aku tutup-tutupi aibmu di depan semua orang. Tiap ditanya kapan punya anak, aku yang pasang badan bilang kita masih mau pacaran. Padahal? Kamu yang cacat! Kamu yang nggak bisa ngasih aku keturunan. Laki-laki mana yang tahan kerja banting tulang dari pagi sampai malam, tapi pulang ke rumah nggak ada suara tangis anak? Cuma ada perempuan yang sibuk nangis-nangis nggak jelas tiap kali lihat hasil test pack garis satu!"

"Damar, cukup!" Alya akhirnya berteriak. Air mata yang sejak tadi menggenang kini tumpah, merusak riasan tipis di wajahnya. "Kita sudah periksa ke dokter berdua! Dokter bilang peluangnya masih ada, kita cuma butuh—"

"Dokter bilang kamu yang bermasalah, Alya. Jangan memutarbalikkan fakta di depan keluargamu sendiri," potong Damar cepat, matanya menatap tajam, penuh kilat manipulasi yang baru kali ini Alya sadari ada pada diri suaminya.

Alya tercekat. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Pernyataan Damar barusan adalah kebohongan besar. Hasil tes tiga bulan lalu jelas-jelas menyatakan ada masalah pada vitalitas Damar akibat stres kerja, sementara rahim Alya dinyatakan sehat walafiat. Tapi sekarang, di depan puluhan mata yang menghakiminya, pria ini menimpakan seluruh kesalahan padanya.

Alya menoleh ke kanan, mencari satu-satunya pelampung di tengah badai tsunami yang sedang menghancurkannya hidup-hidup.

"Mama..." Alya menatap ibunya yang duduk tepat di sebelah Damar.

Ibu Arini. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat anggun, dengan riasan sempurna, gaun brokat merah marun yang pas di badan, dan lipstik merah menyala yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda.

"Mama, tolong kasih tahu Mas Damar... Mama tahu kan kita—"

Kalimat Alya menggantung di udara.

Ibunya tidak menatapnya. Wanita itu justru dengan tenang mengangkat cangkir teh kamomilnya, meniup perlahan uap panas yang mengepul, lalu menyesapnya seolah tidak ada satu pun kejadian besar yang sedang terjadi. Tidak ada raut terkejut. Tidak ada reaksi kaget layaknya seorang ibu yang anak perempuannya baru saja diceraikan dan dihina sebagai wanita cacat di depan umum.

Arini meletakkan cangkirnya dengan anggun. Matanya melirik ke arah Alya sebentar, dingin, datar, tanpa secercah pun empati.

"Suamimu benar, Alya," suara Arini mengalun pelan, namun efeknya seperti dentuman bom di telinga Alya. "Kodrat perempuan itu melahirkan. Kalau kamu tidak bisa memberikan hak Damar sebagai laki-laki, ya kamu harus sadar diri. Jangan egois. Mama juga malu selalu ditanya ibu-ibu arisan kapan punya cucu."

Jantung Alya serasa berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya berputar. Udara ditarik paksa dari paru-parunya.

Ibunya membela Damar? Ibunya sendiri ikut melemparnya ke dalam kobaran api?

"Ma...?" Suara Alya hanya berupa cicitan lirih. "Mama belain dia? Setelah apa yang dia lakuin? Dia nyerain aku di depan semua orang, Ma!"

"Lalu kamu mau Mama belain kamu yang jelas-jelas kurang pengabdian?" Arini menyilangkan kakinya. "Coba kamu instropeksi diri. Sudah nggak bisa ngasih anak, dandan berantakan, ngurus suami juga nggak becus. Wajar Damar lelah. Laki-laki butuh diistimewakan, Alya."

Sorak-sorai bisikan tawa sinis dari kerabat lain makin berdengung di telinga Alya.

"Tuh dengerin ibumu ngomong. Makanya, jadi istri tuh yang bener," cibir Tante Rosa puas.

"Untung ya Mas Damar cepat sadar, masih muda, karir lagi bagus, gampang lah nyari yang lebih subur," timpal sepupu Alya dari ujung meja.

Damar berdiri dari kursinya. Ia merogoh saku kemejanya, lalu menarik paksa sebuah cincin emas putih dari jari manisnya. Tanpa rasa bersalah, ia melempar cincin pernikahan mereka ke tengah meja.

KLINTING!

Cincin itu berputar-putar di atas meja kaca sebelum berhenti tepat di depan piring Alya.

"Mulai malam ini, kita selesai," ucap Damar dingin. Tangannya merapikan kerah kemejanya sendiri. "Aku nggak mau lihat muka kamu lagi waktu aku pulang dari kantor besok. Kemasi barang-barangmu. Rumah ini atas namaku, jadi kamu yang harus angkat kaki."

"Ini rumah peninggalan Papa, Mas!" Alya menggebrak meja, air mata membanjiri wajahnya yang kini merah padam karena marah dan hancur. "Kamu lupa siapa yang bayar DP rumah ini? Ayahku!"

"Surat-suratnya atas namaku, Alya. Kalau kamu nggak terima, silakan bawa pengacara," tantang Damar tanpa berkedip. Ia menoleh ke arah Arini, dan sepersekian detik, Alya melihat ibunya itu memberikan senyuman kecil—sangat kecil hingga nyaris tidak terlihat—ke arah Damar.

"Maaf Tante-tante, Om-om, acara syukuran malam ini saya rasa cukup sampai di sini. Saya harus pergi, ada urusan mendadak," pamit Damar dengan nada sopan yang dibuat-buat. Laki-laki itu membalikkan badan, melangkah dengan tegap keluar dari ruang makan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alya yang kini terduduk lemas di kursinya.

Suara pintu utama ditutup dengan keras terdengar membahana di seluruh penjuru rumah.

Meninggalkan Alya sendirian, di tengah meja makan, dikelilingi oleh tatapan merendahkan dari keluarga sedarahnya. Tidak ada yang mendekatinya. Tidak ada yang memeluknya.

Bahkan ibunya, Arini, hanya berdiri, merapikan gaunnya, dan berkata kepada tamu yang tersisa, "Ayo dilanjut makannya. Maklum ya, namanya juga anak muda, emosinya masih labil."

Malam merangkak larut. Jam dinding besar di ruang tengah berdenting dua kali. Pukul dua pagi.

Rumah besar itu akhirnya sepi setelah para tamu undangan pulang membawa gosip segar untuk dibagikan ke seluruh penjuru kota esok hari. Alya duduk meringkuk di lantai kamarnya. Lampu dibiarkan padam. Matanya bengkak, tatapannya kosong menatap dua koper besar yang sudah terisi separuh oleh pakaian-pakaiannya.

Hatinya hancur bukan kepalang. Ditalak. Dihina mandul. Diusir dari rumah yang ia ikut rintis pembayarannya. Dan yang paling mengoyak kewarasannya adalah respons ibunya.

Sejak ayah Alya meninggal lima tahun lalu, Alya selalu berusaha menjadi anak yang berbakti. Ia membiayai gaya hidup Arini yang suka bersosialita, membelikannya tas branded, bahkan memasukkan nama ibunya ke dalam asuransi kesehatannya. Tapi hari ini, wanita itu justru menginjak-injaknya di titik terendahnya.

Tenggorokan Alya terasa kering. Rasa pahit dari air mata dan sisa makanan membuat perutnya mual. Ia butuh air putih.

Dengan langkah diseret dan tubuh yang terasa tidak bertulang, Alya berjalan keluar kamar menuju dapur. Lorong rumah terasa dingin. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu taman yang menembus jendela kaca.

Saat melewati kamar ibunya di ujung lorong dekat ruang keluarga, langkah Alya terhenti.

Pintu kamar Arini tidak tertutup rapat. Ada celah selebar tiga jari yang membiarkan cahaya lampu tidur kekuningan merembes keluar ke lantai marmer.

Alya awalnya berniat mengabaikannya, tidak ingin bertengkar lagi malam ini. Namun, lamat-lamat, ia mendengar suara bisikan.

Suara ibunya.

Bukan suara tinggi dan dingin seperti di meja makan tadi, melainkan suara yang sangat lembut, manja, dengan nada setengah berbisik yang membuat bulu kuduk Alya entah mengapa meremang.

Alya menahan napas. Secara refleks, tubuhnya merapat ke dinding. Jari-jarinya yang sedingin es mencengkeram erat ujung daster yang ia kenakan. Ia mengintip perlahan dari celah pintu.

Di dalam, Arini sedang duduk di tepi ranjang. Ia sudah mengenakan gaun tidur satin berwarna merah marun yang mengekspos leher dan sebagian dadanya. Tangannya memegang ponsel yang ditempelkan di telinga, sementara tangan kirinya memutar-mutar ujung rambutnya dengan gaya genit yang sangat menjijikkan bagi Alya.

"Iya, Mas... tenang saja. Dia sudah di kamarnya, lagi beres-beres koper sepertinya," bisik Arini sambil tertawa kecil. Tawa yang sangat renyah.

Alya mengerutkan dahi. Mas? Ibunya sedang teleponan dengan siapa jam dua pagi? Paman Hendrik? Tidak mungkin nadanya semanja itu.

"Kamu tadi hebat banget, acting-nya meyakinkan. Mama sampai hampir ikut kaget waktu kamu lempar cincinnya." Arini mengubah posisi duduknya, menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang sambil menggigit bibir bawahnya.

Napas Alya tercekat di tenggorokan. Kakinya mendadak terasa lumpuh. Acting?

"Besok Mama pastikan dia benar-benar keluar dari rumah ini sebelum siang. Biar rumahnya kosong..." Arini menghela napas panjang, nadanya tiba-tiba berubah berat dan penuh antisipasi. "Mama udah kangen banget sama kamu. Harusnya dari dulu kita lakuin ini. Nggak sabar nunggu kamu pulang besok... Sayang."

Jantung Alya seakan dihantam palu godam. Matanya terbelalak maksimal.

Di seberang telepon, suara balasan dari ponsel ibunya terdengar cukup keras di keheningan malam, menembus celah pintu dan menghujam langsung ke ulu hati Alya.

Sebuah suara bariton yang sangat ia kenal. Suara laki-laki yang empat jam lalu meneriakinya mandul.

"Aku juga nggak sabar, Rin. Tunggu aku besok. Tidur yang nyenyak ya."

Ponsel dimatikan. Arini tersenyum lebar menatap layar ponselnya, lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil memeluk guling dengan raut wajah berbunga-bunga.

Di luar pintu, Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menahan jeritan histeris yang meronta-ronta minta dikeluarkan dari tenggorokannya. Air mata yang baru saja mengering kembali mengalir deras, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan rasa jijik, ngeri, dan amarah yang meledak di ubun-ubun.

Ibu kandungnya sendiri. Malam ini. Memanggil mantan suaminya dengan sebutan Sayang.