Cahaya putih dari layar iPad berlogo apel tergigit itu menyilaukan mata Alya dalam keremangan kamar ibunya. Tangannya yang memegang tablet pipih itu gemetar hebat, sedemikian rupa hingga pinggiran aluminiumnya berdenting beradu dengan cincin peraknya.
Napas Alya tertahan di tenggorokan. Udara di dalam kamar luas beraroma lavender ini tiba-tiba terasa seperti ditarik habis.
Ia awalnya masuk ke kamar Arini hanya untuk mencari kartu keluarga asli di laci nakas—ia harus segera mengurus pemisahan dokumen kependudukannya. Ibunya sedang mandi. Namun, sebuah notifikasi pop-up Telegram di layar iPad yang menyala tanpa kunci layar telah menghancurkan dunia Alya dalam satu tarikan napas.
Pesan dari kontak bernama 'D'.
“Foto yang di Aston Bandung jangan lupa dipindah ke folder aman, Sayang. Nanti ketahuan anak gila itu.”
Anak gila itu. Alya tahu persis siapa yang dimaksud. Jari Alya yang sedingin es langsung mengetuk layar, membuka aplikasi yang tidak dikunci tersebut. Naluri perempuannya mengambil alih. Ia menelusuri riwayat percakapan yang penuh dengan stiker mesra, panggilan sayang, dan... rentetan foto.
Alya menghentikan gulirannya. Matanya membelalak maksimal menatap satu foto beresolusi tinggi yang dikirim ibunya kepada Damar seminggu yang lalu.
Foto selfie.
Di dalam foto itu, Arini berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi hotel bintang lima. Ibunya mengenakan bathrobe putih berlogo Hotel Grand Aston, dengan belahan dada yang sengaja diturunkan, memamerkan kalung berlian yang sangat Alya kenali—kalung yang diakui Arini sebagai 'hadiah arisan'. Rambut ibunya basah.
Namun, bukan itu yang membuat ulu hati Alya terasa seperti ditikam pisau berkarat.
Di pantulan cermin dalam foto itu, tepat di belakang Arini, terlihat jelas sosok laki-laki. Laki-laki bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk di pinggang, sedang duduk di tepi ranjang hotel yang seprainya berantakan. Laki-laki itu sedang memegang gelas wine, menatap ke arah kamera melalui cermin dengan senyum puas.
Itu Damar. Suaminya.
Alya melihat watermark tanggal di pojok foto tersebut.
12 Februari 2026.
Tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan yang lalu adalah saat Alya menangis tersedu-sedu di rumah sakit karena hasil program bayi tabung mereka gagal lagi. Hari di mana Damar meneleponnya dengan nada dingin, mengatakan bahwa dia sedang meeting darurat dengan klien di luar kota dan tidak bisa menemani Alya melewati masa kuretase.
Laki-laki itu tidak sedang meeting. Laki-laki itu sedang meniduri ibu mertuanya sendiri di kamar hotel mewah.
Rasa mual yang luar biasa menghantam perut Alya. Ia membekap mulutnya sendiri, menahan isi lambungnya yang memaksa naik. Pengkhianatan ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah pembunuhan karakter yang dilakukan secara terencana oleh dua orang yang seharusnya menjadi pelindungnya di dunia ini.
Cklik.
Suara kenop pintu kamar mandi diputar.
Arini keluar dari kamar mandi dengan langkah santai, masih melilitkan handuk di tubuhnya dan menepuk-nepuk wajahnya dengan kapas toner. Saat ia mendongak dan melihat anak sulungnya berdiri mematung di samping ranjang dengan iPad menyala di tangan, wajah Arini seketika pucat pasi.
Langkah wanita paruh baya itu terhenti. Kapas di tangannya jatuh ke lantai karpet.
"Apa-apaan kamu, Alya?!" jerit Arini, suaranya melengking memecah keheningan. Ia setengah berlari menerjang Alya, berusaha merampas iPad tersebut. "Lancang sekali kamu buka-buka barang privasi Mama! Sini kembalikan!"
Tapi Alya tidak mundur. Dengan satu sentakan keras, ia menepis tangan ibunya. Matanya yang memerah menatap Arini dengan kilatan kebencian yang murni dan tajam.
"Privasi?" Suara Alya bergetar hebat, namun ia berteriak di depan wajah ibunya. "Privasi apa yang Mama maksud?! Privasi tidur bareng menantu Mama sendiri di Bandung tiga bulan lalu?!"
Arini membeku. Matanya bergerak liar, mencari alasan di tengah kepanikan yang menyergapnya. "Itu... itu bukan seperti yang kamu pikirkan! Kamu ini sudah gila ya? Berani-beraninya menuduh ibu kandungmu sendiri! Itu foto editan! Atau... atau waktu itu Mama kebetulan ada arisan di Bandung, dan Damar mampir untuk..."
"Untuk apa, Ma?!" Alya memotong kebohongan murahan itu dengan beringas. Ia memutar layar iPad, menyodorkan foto selfie menjijikkan itu tepat di depan hidung ibunya. "Untuk apa?! Untuk pakai bathrobe berdua di kamar yang sama?! Untuk minum wine berdua dalam keadaan setengah telanjang di kasur?! Mama pikir aku anak balita yang bisa Mama bego-begoin?!"
Dada Alya naik turun dengan cepat. Air mata kepedihan dan amarah mengalir deras membasahi pipinya. "Tiga bulan lalu, Ma... waktu aku keguguran, waktu rahimku dikorek di rumah sakit sendirian! Mama bilang Mama ada acara pengajian di luar kota. Mas Damar bilang dia meeting. Ternyata kalian berdua asyik berzina di belakangku?!"
Wajah Arini berubah drastis. Kepanikan yang tadi tergambar di wajahnya menguap, digantikan oleh ekspresi mengeras yang kejam. Rahangnya terkatup rapat. Matanya memicing dingin, menelanjangi Alya dengan kebencian. Wanita itu tidak lagi berusaha mencari alasan. Topeng keibuannya akhirnya terlepas seutuhnya.
"Lalu kenapa kalau iya?!" desis Arini tajam, meludahkah setiap kata dengan bisa. "Kamu pikir Damar bahagia sama perempuan cacat sepertimu?! Dia butuh wanita yang bisa mengerti dia, melayani dia! Kamu yang nggak becus jadi istri!"
PLAK!
Bunyi tamparan itu memekakkan telinga.
Kepala Alya terlempar ke samping dengan sangat keras. Arini menamparnya dengan sekuat tenaga menggunakan tangan kanannya. Cincin berlian besar di jari telunjuk Arini menggores sudut bibir Alya hingga robek. Rasa kebas dan panas menjalar seketika di separuh wajahnya. Rasa asin anyir dari darah yang menetes ke dalam mulutnya membuat perut Alya semakin bergejolak.
Alya mematung. Matanya menatap kosong ke arah lantai karpet. Ia baru saja ditampar oleh ibunya sendiri, karena memergoki wanita itu berselingkuh dengan suaminya. Dunia sudah benar-benar terbalik.
"Berani kamu meneriaki ibumu, hah?!" Arini maju selangkah, menunjuk-nunjuk kepala Alya. "Anak durhaka! Ini rumah saya! Saya yang melahirkan kamu! Kalau kamu memang perempuan tidak berguna yang nggak bisa mempertahankan suamimu, jangan salahkan orang lain kalau suamimu mencari kehangatan di tempat yang lebih baik!"
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Pintu kamar menjeblak terbuka. Vanya berdiri di ambang pintu dengan headphone menggantung di lehernya, wajahnya ditekuk marah karena terganggu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kekacauan di depannya.
Dalam sekejap mata, Arini mengubah postur tubuhnya. Bahunya yang tadinya tegap penuh arogansi, kini merosot. Tangannya menutupi wajahnya, dan suara isak tangis histeris yang sangat dibuat-buat langsung pecah memenuhi ruangan.
"Vanya... tolong Mama, Nak..." ratap Arini tersedu-sedu, merosot jatuh terduduk di tepi ranjang seolah-olah baru saja diserang. "Mbakmu sudah gila, Vanya... dia stres gara-gara dicerai Damar... dia nuduh Mama yang nggak-nggak... dia nuduh Mama tidur sama Damar! Astaghfirullahalazim... dosa apa Mama melahirkan anak tukang fitnah begini..."
Vanya membelalakkan mata. Ia menatap Alya yang masih memegang pipinya yang berdarah dengan tatapan jijik luar biasa.
"Mbak ini benar-benar sakit jiwa ya?!" Vanya berjalan cepat, merebut iPad dari tangan Alya secara paksa, lalu mendorong bahu kakaknya dengan keras hingga Alya terhuyung ke belakang. "Udah numpang hidup, sekarang bikin keributan! Kurang ajar banget nuduh Mama ngerebut Mas Damar! Sadar diri dong, Mbak! Mas Damar itu nyerain Mbak karena Mbak itu mandul dan gila!"
"Vanya, kamu nggak tahu apa-apa! Lihat fotonya, Van! Lihat di iPad itu!" Alya memohon, menunjuk tablet di tangan adiknya.
Namun Vanya sama sekali tidak berniat membuka layar yang sudah dikunci otomatis tersebut. Ia malah membuang muka. "Mbak mending keluar dari kamar ini sekarang, sebelum aku panggil satpam kompleks buat nyeret Mbak keluar!"
Alya berdiri di sana, menatap dua manusia yang memiliki darah yang sama dengannya. Sang ibu yang menangis palsu sambil menyeringai sinis di balik telapak tangannya, dan sang adik yang dengan buta membela kehancurannya. Alya menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar utama itu dalam keheningan yang mematikan.
Tidak ada lagi air mata. Hanya ada kebencian hitam yang kini mengeras di dasar hatinya.
Dua jam kemudian, di dalam kamar pengap yang menyerupai gudang, Alya duduk meringkuk di atas kasur tipisnya. Sudut bibirnya sudah membengkak kebiruan. Ia baru saja mengoleskan salep seadanya.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di lantai bergetar hebat. Layarnya menyala tanpa henti, memunculkan belasan notifikasi yang masuk bertubi-tubi dalam hitungan detik.
Alya mengambil ponselnya. Grup WhatsApp bernama Keluarga Besar Sastrowidjojo—yang berisi puluhan paman, bibi, dan sepupunya—mendadak ramai layaknya pasar malam.
Napas Alya tertahan saat membaca pesan pertama yang dikirim oleh nomor ibunya sepuluh menit yang lalu. Arini tidak hanya diam. Wanita itu melakukan serangan pre-emptive untuk menghancurkan reputasi Alya di mata publik keluarganya.
Arini (Mama):
[Voice Note, durasi 1:45 detik]
(Suara tangisan histeris) "Maaf keluarga besar... Arini nggak kuat lagi. Alya sepertinya depresi berat sejak ditalak Damar. Tadi dia masuk kamar Arini, marah-marah, teriak-teriak... dia nuduh Arini yang bikin rumah tangganya hancur. Dia nuduh Arini selingkuh sama Damar... Ya Allah, ibu mana yang nggak hancur dituduh sekeji itu sama darah dagingnya sendiri... Arini rasanya mau mati saja..."
Jantung Alya berdegup kencang membaca balasan-balasan yang langsung membanjiri grup tersebut.
Tante Rosa:
"Astaghfirullah!! Alya, kamu tuh bener-bener anak nggak tahu diuntung ya! Udah suamimu sabar ngadepin kamu yang mandul, sekarang ibumu sendiri kamu fitnah pelakor?! Kamu kesurupan apa?!"
Om Hendrik:
"Mbak Arini yang sabar. Alya ini memang dari dulu selalu merasa paling pintar, sekarang terbukti otaknya yang bermasalah. Kalau dia berani kasar fisik ke Mbak, biar saya yang laporin anak itu ke polisi!"
Bude Ningsih:
"Ya ampun, memalukan sekali! Alya, kamu mending periksa ke psikiater. Penyakit hati kamu itu sudah kelewat batas. Berani-beraninya nuduh ibumu yang jelas-jelas janda terhormat tidur sama menantunya sendiri. Jijik Bude bacanya!"
Vanya:
"Tadi Mbak Alya sampai hampir mukul Mama, Tante. Untung Vanya cepat masuk. Emang udah gila dia."
Alya menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca, namun rahangnya mengatup rapat. Jari-jemarinya memutih mencengkeram tepi ponsel. Mereka menyudutkannya. Mereka mengisolasi dirinya. Arini telah memutarbalikkan fakta dengan sangat sempurna, bermain sebagai korban yang teraniaya oleh anak perempuan yang 'hilang kewarasan' akibat ditalak suami.
Alya mengetik balasan dengan tangan gemetar.
“Mama bohong. Aku punya buktinya. Mereka berdua tidur di hotel di Bandung tiga bulan lalu.”
Namun, sebelum pesannya sempat terkirim, ia menyadari sesuatu yang krusial. Bukti itu ada di iPad Arini. Dan Alya yakin 100%, detik ini juga, foto dan folder laknat itu sudah dihapus bersih oleh ibunya. Jika Alya mengirim pesan pembelaan sekarang, tanpa bukti foto tersebut, ia hanya akan semakin memvalidasi tuduhan mereka bahwa dirinya memang benar-benar gila.
Alya menghapus kembali ketikannya. Ia menekan tombol power ponselnya, mematikan layar, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Ia sendirian. Tidak ada uang. Tidak ada tempat berlindung. Dan seluruh keluarga sedarahnya telah mencapnya sebagai wanita cacat yang sakit jiwa. Damar dan Arini telah merancang neraka ini dengan sangat apik.
Hari beranjak malam. Alya sama sekali tidak keluar kamar. Ia tidak peduli dengan rasa lapar yang mulai menusuk-nusuk lambungnya. Pikirannya berpacu keras merancang strategi. Marah dan menangis tidak akan mengembalikan harga dirinya. Ia harus melawan, tapi bukan dengan cara konyol seperti tadi pagi. Ia butuh amunisi nyata.
Tepat pukul 19.30 malam, layar ponsel Alya kembali menyala.
Sebuah pesan pribadi masuk. Kali ini dari nomor Om Hendrik, kakak tertua ibunya, sosok yang paling dituakan di keluarga Sastrowidjojo.
Alya membuka pesan itu perlahan. Isinya ringkas, diformat dengan sangat resmi, namun nadanya seperti sebuah ultimatum pemanggilan tersangka.
Om Hendrik:
"Besok malam, jam 7 tepat. Datang ke Restoran Seribu Rasa, ruangan VIP. Om sudah pesan meja atas nama keluarga besar. Seluruh keluarga akan kumpul, termasuk Nak Damar. Ibumu dan Nak Damar punya pengumuman penting yang harus disampaikan ke seluruh keluarga. Bude dan Om harap kamu masih punya sisa urat malu untuk datang, duduk diam, dan mendengarkan keputusan mereka. Setelah pengumuman ini, keluarga besar akan menentukan nasibmu, Alya. Jangan membuat masalah lagi, atau namamu akan dicoret dari keluarga."
Darah Alya berdesir. Pengumuman penting? Melibatkan ibunya dan mantan suaminya secara bersamaan di hadapan seluruh tetua keluarga?
Insting Alya langsung memberikan jawaban yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Mereka tidak mengundangnya untuk berdamai. Mereka mengundangnya ke altar eksekusi publik.
Tamparan ibunya di pipi Alya masih berdenyut nyeri, namun senyum sinis yang sedingin es perlahan terbentuk di bibir Alya yang terluka.
Ia membalas pesan itu dengan satu kata singkat.
"Baik."
Alya melempar ponselnya ke kasur. Matanya menatap tajam ke arah pintu kayu kamarnya yang lapuk. Mereka ingin bermain drama publik? Silakan. Ia akan datang ke makan malam itu, dan ia akan memastikan dirinya mendapat kursi paling depan untuk menyaksikan kegilaan apa yang akan mereka umumkan esok hari.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar