Ruangan VIP Restoran Seribu Rasa itu terasa seperti ruang eksekusi mati bersuhu enam belas derajat celcius.

Begitu Alya mendorong pintu ganda berbahan kayu jati itu, tawa riuh dan obrolan puluhan anggota keluarga besarnya mendadak putus seolah ada yang mencabut kabel listriknya. Puluhan pasang mata langsung menoleh, menatap Alya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan mereka bukan tatapan menyambut keluarga, melainkan tatapan jijik sekumpulan hakim yang siap menjatuhkan vonis pada seorang pendosa besar.

Alya melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ia sengaja mengenakan gaun hitam selutut berlengan panjang—pakaian yang biasa ia pakai untuk melayat. Sangat kontras dengan baju-baju batik sutra dan gaun malam berwarna cerah yang dikenakan para paman dan bibinya. Di sudut bibirnya, concealer tebal berusaha setengah mati menutupi memar kebiruan akibat tamparan ibunya kemarin siang.

"Masih punya muka juga dia datang ke sini," desis Tante Rosa cukup keras dari kursi deretan tengah, sengaja membiarkan suaranya memantul di dinding kedap suara ruangan VIP tersebut.

"Ya namanya juga orang nggak waras, Ros. Urat malunya udah putus," sahut Bude Ningsih sambil memutar bola matanya malas, tangannya sibuk menuangkan es teh lemon ke gelas suaminya.

Alya mengabaikan bisikan beracun itu. Matanya memindai meja bundar raksasa yang menempati tengah ruangan. Di kursi utama yang berukir paling mewah, duduk Om Hendrik—kakak tertua ibunya, pria berkumis tebal yang selalu merasa dirinya adalah pemegang otoritas moral tertinggi di keluarga Sastrowidjojo.

Di sebelah kanan Om Hendrik, duduk ibunya. Arini.

Malam ini, Arini berdandan bak permaisuri yang sedang merayakan kemenangan. Rambutnya disanggul modern, memamerkan lehernya yang jenjang. Ia mengenakan kebaya modern berwarna rose gold yang sangat pas di badan, dipadukan dengan selendang sutra. Perhiasan berlian berkilauan di leher dan telinganya, memantulkan cahaya lampu kristal restoran. Wajahnya dipasang dengan ekspresi sedih yang begitu artifisial, sangat kontras dengan matanya yang bersinar licik saat menatap Alya.

Dan di sebelah kiri Arini, duduklah sang penyandang dana malam ini. Damar.

Mantan suaminya itu mengenakan kemeja linen hitam yang mahal, lengannya digulung rapi hingga siku, memamerkan jam tangan Rolex keluaran terbaru. Saat Alya menatapnya, Damar memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. Pria itu menyandarkan punggungnya, terlihat sangat menikmati kekuasaannya malam ini.

"Duduk kamu, Alya. Jangan berdiri mematung di situ seperti orang dungu," perintah Om Hendrik dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan yang mencekik. Tangannya menunjuk ke satu-satunya kursi kosong di ujung meja, tepat berhadapan langsung dengan Damar dan Arini. Posisi kursi terdakwa.

Alya menarik kursi itu dan duduk dalam diam. Jari-jarinya bertaut erat di atas pangkuannya, dingin seperti es.

"Baik, karena si pembuat masalah sudah datang, kita mulai saja," Om Hendrik membuka suara. Ia menatap berkeliling ke seluruh anggota keluarga. "Malam ini, Nak Damar yang berbaik hati menyewa ruangan VIP ini dan mentraktir kita semua makan malam. Padahal, secara teknis, dia sudah tidak punya kewajiban apa-apa lagi pada keluarga kita karena kelakuan buruk salah satu anggota keluarga kita."

Om Hendrik menatap tajam ke arah Alya, seolah kalimat barusan adalah anak panah yang diarahkan tepat ke jantung keponakannya itu.

"Terima kasih banyak lho, Nak Damar," Tante Rosa menyela dengan senyum semanis madu, setengah membungkuk ke arah Damar. "Padahal kami semua sudah malu luar biasa atas kelakuan Alya yang fitnah ibunya sendiri keliling grup WA. Nak Damar masih mau mengumpulkan kita semua."

"Tidak apa-apa, Tante Rosa," Damar membalas dengan suara rendah yang sangat berwibawa, penuh wibawa palsu. "Saya selalu menganggap keluarga Sastrowidjojo sebagai keluarga saya sendiri. Dan saya merasa bertanggung jawab atas... kekacauan mental yang dialami Alya pasca-perceraian kami."

Alya menggertakkan giginya. Kekacauan mental. Mereka sedang memutarbalikkan narasi. Membingkai Alya sebagai perempuan gila yang berhalusinasi karena syok dicerai, sehingga semua tuduhan Alya tentang perselingkuhan mereka menjadi tidak valid. Skenario yang sangat rapi.

"Nah, Alya," Om Hendrik mengebrak meja pelan dengan telunjuknya, memusatkan kembali perhatian pada Alya. "Malam ini, Om minta kamu secara terbuka, di depan seluruh keluarga besar, untuk meminta maaf kepada ibumu, dan kepada Damar. Minta maaf atas tuduhan kejimu bahwa mereka berdua berselingkuh di hotel. Minta maaf karena kamu sudah mencoreng nama baik ibumu sebagai janda terhormat!"

Udara di paru-paru Alya terasa panas. Semua mata kini menatapnya, menuntut ketundukannya. Vanya, yang duduk di sebelah Damar, bahkan merekam kejadian ini diam-diam dengan ponselnya yang disandarkan ke vas bunga.

Alya mengangkat wajahnya secara perlahan. Ia menatap lurus ke mata Om Hendrik, lalu beralih ke wajah ibunya, dan terakhir menatap Damar. Tidak ada setitik pun air mata di wajah Alya malam ini. Yang ada hanya tatapan kosong yang membeku.

"Aku tidak akan meminta maaf untuk kebenaran, Om," suara Alya keluar, tenang namun setajam silet.

Ruangan itu seketika berdengung oleh helaan napas terkejut dan bisikan kemarahan.

"Alya!" bentak Om Hendrik, wajahnya memerah. "Kamu masih mau keras kepala?! Mana buktinya kalau ibumu selingkuh?! Ibumu sudah tunjukkan semua isi iPad-nya ke Om siang tadi, tidak ada satupun foto yang kamu sebutkan itu! Kamu halusinasi!"

"Tentu saja iPad itu sudah dibersihkan, Om," balas Alya cepat, nada suaranya mulai naik. Jari telunjuknya terarah lurus ke wajah Arini yang kini mendadak bersembunyi di balik saputangannya, berpura-pura menangis. "Tanya sama perempuan yang pura-pura nangis di sebelah Om itu! Tanya jam berapa dia buru-buru menghapus folder aman di aplikasinya! Dan Om, kalau Om memang butuh bukti, kenapa Om tidak cek mutasi rekening Damar? Cek siapa yang membiayai Damar merintis bisnisnya sebelum kami cerai!"

"Cukup, Alya!"

Kali ini Damar yang menggebrak meja. Suaranya menggema keras, memotong kalimat Alya. Pria itu berdiri, menatap Alya dengan tatapan terluka yang luar biasa meyakinkan.

"Kamu boleh membenciku karena aku menceraikanmu, Al. Kamu boleh menuduhku macam-macam karena aku tidak tahan lagi dengan pernikahan kita yang kosong tanpa anak," Damar merendahkan suaranya, memanipulasi simpati seluruh ruangan. "Tapi jangan pernah kamu menyeret ibumu sendiri ke dalam lumpur fantasimu! Ibumu hancur, Alya. Dia menangis darah melihat anak perempuan yang dibesarkannya menjadi monster tanpa hati seperti ini!"

"Tutup mulutmu, penipu!" Alya ikut berdiri, kursi kayunya berderit keras bergesekan dengan lantai marmer. Napasnya memburu. "Kalian berdua berzina di saat aku berjuang menyelamatkan nyawa bayiku di meja operasi! Kalian—"

PRANG!

Sebuah piring porselen dibanting keras oleh Om Hendrik. Pecahannya berhamburan ke atas taplak meja. Semua orang tersentak mundur.

"DIAM KAMU, ANAK DURHAKA!" Om Hendrik menunjuk Alya dengan tangan bergetar karena emosi. "Om tidak mau dengar lagi omong kosong dari mulut busukmu! Ibumu itu sudah banyak berkorban! Sejak ayahmu meninggal, ibumu berjuang menjaga kehormatan keluarga ini, dan kamu balas dengan fitnah keji murahan?!"

Alya tertawa pelan. Tawa hambar yang terdengar mengerikan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Ia memandang seluruh paman dan bibinya. Ia melihat bagaimana mereka semua mengangguk membenarkan ucapan Om Hendrik. Mereka buta. Bukan, mereka tidak buta, mereka hanya memilih untuk menutup mata karena Damar adalah sumber uang yang selama ini menyirami kebun keserakahan keluarga ini.

"Duduk, Hendrik. Tahan emosimu."

Suara lembut namun penuh komando itu berasal dari Arini. Wanita paruh baya itu menurunkan saputangannya. Matanya memerah, sangat sempurna memainkan peran sebagai korban penganiayaan batin.

Arini menyentuh lengan Om Hendrik, meminta kakak tertuanya itu untuk duduk kembali. Lalu, Arini menatap seluruh keluarga yang hadir dengan pandangan sendu.

"Keluarga sekalian..." suara Arini bergetar, serak, seolah menahan beban dunia di pundaknya. "Saya minta maaf karena harus membuat kalian menyaksikan drama memalukan ini. Saya sudah lelah. Saya hancur. Fitnah dari anak kandung saya sendiri membuat saya nyaris tidak ingin hidup lagi."

"Sabar, Jeng Arini... Allah maha tahu," ucap Bude Ningsih dari seberang meja, ikut menyeka sudut matanya dengan tisu.

"Namun..." Arini menarik napas panjang. Ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu menoleh ke sebelah kirinya. Menatap Damar.

Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang membuat perut Alya bergejolak hebat terjadi di depan matanya.

Di atas meja makan yang disaksikan puluhan anggota keluarga, Damar mengulurkan tangan kanannya. Dan Arini, dengan keanggunan yang dibuat-buat, menyambut tangan itu. Jari-jari mereka bertaut erat. Damar menggenggam tangan mantan mertuanya itu, mengelus punggung tangan Arini dengan ibu jarinya secara terang-terangan.

Beberapa bibi menahan napas. Mata Om Hendrik melebar. Vanya bahkan menurunkan ponselnya karena terkejut. Tiba-tiba saja, atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Sebuah kebingungan masal melanda seluruh keluarga Sastrowidjojo.

"Nak Damar... apa-apaan ini?" tegur Om Hendrik pelan, suaranya kehilangan ketegasannya saat matanya terpaku pada tautan tangan menantu dan mertua itu.

Damar tidak melepaskan tangan Arini. Pria itu justru mengangkat dagunya, menatap Om Hendrik dan seluruh keluarga dengan tatapan penuh determinasi dan kewibawaan yang absolut. Ia telah membeli panggung ini, dan sekarang ia akan memainkan lakon utamanya.

"Om Hendrik, Bude, Tante, dan seluruh keluarga yang hadir malam ini," Damar memulai pidatonya dengan suara bariton yang bergema jelas. "Malam ini saya mengundang kalian semua bukan sekadar untuk meluruskan kesalahpahaman. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar omong kosong Alya."

Damar menoleh menatap Arini, memberikan senyuman penuh kelembutan pada wanita paruh baya tersebut, sebelum kembali menatap ke sekeliling meja.

"Beberapa bulan terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi saya. Perceraian, tekanan mental, dan hancurnya rumah tangga saya dengan Alya. Namun, di saat saya jatuh, di saat saya merasa kehilangan arah..." Damar meremas lembut tangan Arini. "Mama Arini adalah satu-satunya orang yang menemani saya. Beliau mendengarkan keluh kesah saya, beliau merawat luka batin saya."

Alya merasa lantai tempatnya berpijak mulai retak. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan itu membuat seluruh darah di tubuhnya terasa membeku.

"Dan melihat bagaimana Alya—darah dagingnya sendiri—tega menyiksa batin Mama Arini dengan fitnah-fitnah keji ini... saya sebagai laki-laki tidak bisa tinggal diam," lanjut Damar, suaranya semakin mantap. "Mama Arini butuh pelindung. Beliau butuh seorang pria yang bisa menjaga kehormatannya, yang bisa membahagiakannya di sisa usianya, dan memastikan tidak ada seorang pun, termasuk Alya, yang berani menginjak-injak harga dirinya lagi."

Ruangan itu sangat hening. Tidak ada suara denting sendok, tidak ada suara tarikan napas. Bahkan suara desingan pendingin ruangan pun seolah lenyap tersedot oleh ketegangan yang memuncak.

Alya menahan napas. Matanya melotot, menatap pergantian raut wajah dari setiap paman dan bibinya.

Damar berdiri dari kursinya. Ia tidak melepaskan tangan Arini. Pria itu merogoh saku jasnya dengan tangan kirinya, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil, lalu meletakkannya di atas meja makan. Kotak itu terbuka, memamerkan sebuah cincin berlian berpotongan emerald yang menyilaukan mata.

"Karena itu..." suara Damar mengalun membelah keheningan yang mencekam.

Mata Damar beralih menatap Alya lurus-lurus. Sebuah senyum kemenangan yang sangat iblis, penuh manipulasi dan dominasi absolut, tercetak jelas di bibir pria itu. Ia sengaja menatap langsung ke dalam mata mantan istrinya saat mengucapkan kalimat laknat tersebut.

"Di hadapan keluarga besar malam ini, saya ingin mengumumkan bahwa saya dan Arini akan meresmikan hubungan kami. Kami akan menikah bulan depan."

Hening.

Sebuah keheningan yang absolut, mati, dan pekat. Seluruh ruangan berhenti bernapas. Waktu seakan membeku.

Bude Ningsih yang baru saja hendak menyuapkan potongan buah ke mulutnya mematung dengan mulut terbuka. Tante Rosa nyaris menjatuhkan tas Hermes tiruannya dari pangkuan. Vanya melongo, matanya bergerak bergantian menatap ibunya dan pria yang membiayai kuliahnya dengan tatapan syok.

Bahkan Om Hendrik pun kehilangan kemampuannya untuk merangkai kata. Mulut pria tua itu terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan oksigen di darat.

Menikah? Mantan menantu dan mertua? Telinga mereka tidak salah dengar? Pria mapan, tampan, dan sukses di usia tiga puluhan ini melamar wanita berusia lima puluh tahun yang merupakan ibu kandung dari mantan istrinya sendiri?

"Da... Damar... kamu... kamu serius, Nak?" suara Om Hendrik akhirnya pecah, serak dan penuh kebingungan yang luar biasa. "Ini... secara adat... secara etika keluarga..."

"Secara agama tidak ada larangan mantan menantu menikahi mantan ibu mertuanya setelah masa iddah selesai, Om," potong Damar cepat dan telak, menggunakan dalih logis untuk membungkam moralitas palsu keluarga itu. "Saya mapan. Saya bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk Mama Arini dibandingkan penderitaan yang selama ini ia tanggung. Semua aset saya, rumah, perusahaan, akan saya jadikan jaminan untuk kebahagiaan beliau. Saya juga akan terus menanggung biaya pendidikan Vanya dan membiayai pengobatan bulanan Bude Ningsih."

Sebuah umpan yang mematikan. Uang.

Seketika, tatapan bingung dan syok di wajah keluarga besar itu mulai mencair, digantikan oleh roda gigi rasionalisasi yang berputar cepat di kepala mereka. Bude Ningsih, yang tadi disinggung soal biaya rumah sakitnya, tiba-tiba menutup mulutnya dan mengangguk pelan. Tante Rosa saling berpandangan dengan suaminya.

Alya melihatnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana moral, etika, dan nurani keluarganya dibeli lunas dalam waktu kurang dari satu menit.

"Kalau... kalau memang niatnya baik..." Om Hendrik bergumam pelan, suaranya kehilangan ketegasan. Ia melirik cincin berlian raksasa di atas meja, lalu melirik Damar. "Dan kalau Arini memang sudah setuju... yah... keluarga hanya bisa mendoakan yang terbaik."

Alya tidak sanggup lagi.

Rasa jijik yang mual merambat naik dari perutnya, menembus kerongkongannya hingga ia merasa ingin memuntahkan organ dalamnya. Ini bukan sekadar pengkhianatan. Ini adalah pemerkosaan terhadap kewarasannya di depan publik. Mereka semua berkomplot melegalkan kegilaan ini.

Alya menggebrak meja dengan kedua tangannya, menghantam marmer itu begitu keras hingga buku-buku jarinya berdarah.

"KALIAN SEMUA SAKIT JIWA!" teriakan Alya menggelegar, merobek gendang telinga siapa pun yang ada di ruangan itu. Air mata amarah meledak dari pelupuk matanya. Ia menunjuk bergantian ke wajah semua keluarganya. "Om Hendrik! Tante! Bude! Kalian membiarkan mantan suamiku menikahi ibuku sendiri?! Kalian melacurkan moral keluarga ini hanya karena harta laki-laki penipu ini?!"

"Alya, jaga mulutmu!" bentak Vanya, kini tersadar dari syoknya dan langsung memasang badan membela sumber uangnya. "Kalau Mama bahagia, Mbak bisa apa?! Mbak aja yang nggak laku, nggak bisa ngasih anak!"

"Tutup mulutmu, anak kecil yang cuma bisa ngemis duit hasil zina!" Alya menepis udara, menatap adiknya dengan kebencian luar biasa, sebelum memutar pandangannya menatap Arini.

Ibu kandungnya itu masih duduk dengan tenang. Tangannya masih digenggam oleh Damar. Tidak ada rasa malu di wajah Arini. Yang ada hanya aura superioritas seorang wanita yang baru saja memenangkan perlombaan paling kotor di dunia.

"Mama..." suara Alya bergetar, napasnya tersengal-sengal menahan emosi yang merobek-robek dadanya. "Bagaimana bisa, Ma? Aku lahir dari rahim Mama. Dia laki-laki yang tidur denganku selama empat tahun. Dan sekarang Mama mau tidur di ranjang yang sama dengannya? Memakai bekas anak Mama sendiri?!"

Mata Alya menyalang tajam, menusuk tepat ke kornea mata ibunya. "Kalian berdua adalah monster paling menjijikkan yang pernah hidup di bumi. Kalian merencanakan semua ini dari awal. Menyiksaku, memfitnahku, membuangku, hanya supaya kalian bisa membenarkan perselingkuhan busuk kalian!"

Damar hendak membuka mulut untuk membalas, tapi Arini mengangkat sebelah tangannya, menghentikan Damar.

Arini berdiri dari kursinya. Gaun rose gold-nya berkilau di bawah lampu gantung. Wanita itu menatap anak sulungnya dengan raut wajah datar yang teramat sangat dingin. Tidak ada jejak ibu yang membesarkannya. Di depan Alya sekarang, berdirilah seorang rival, seorang musuh yang berhasil merebut segalanya dan memenangkan validasi publik.

Arini berjalan memutari meja makan. Suara ketukan heels-nya di lantai marmer menggema di tengah keheningan. Ia berhenti tepat di samping kursi Alya.

Seluruh keluarga menahan napas, menunggu apa yang akan dilakukan oleh sang nyonya besar.

Arini mencondongkan tubuhnya ke arah Alya. Aroma parfum ibunya bercampur dengan aroma parfum Damar di pakaiannya, membuat Alya merasa ingin muntah. Arini memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata Alya yang dipenuhi air mata keputusasaan dan kemarahan.

Sebuah senyum miring, sangat lambat, dan penuh dengan racun manipulasi absolut, merekah di bibir merah maroon velvet Arini.

Ia menepuk bahu Alya pelan. Dua kali tepukan yang terasa seperti hantaman palu godam.

"Anakku sayang..." bisik Arini dengan nada suara selembut sutra namun sedingin es, memastikan hanya Alya, Damar, dan orang-orang di dekat mereka yang bisa mendengar intonasi mematikannya. "Dunia ini tidak berputar mengelilingimu. Kalau ibumu ini bisa menggantikan tugasmu yang gagal melayani seorang pria sempurna..."

Arini menegakkan kembali tubuhnya, menatap Alya dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan yang mutlak, lalu mengucapkan kalimat penutup yang akan menghantui setiap detik kewarasan Alya selamanya.

"Kamu harus belajar ikhlas."