Suara roda koper yang diseret paksa bergesekan dengan aspal jalanan kompleks terdengar nyaring, seolah mengumumkan kehancuran hidup Alya ke seluruh penjuru perumahan.

Matahari sore bersinar terik, memanaskan kulit, tapi Alya merasa tubuhnya membeku. Taksi yang membawanya baru saja melaju pergi, meninggalkannya berdiri di depan pagar besi bercat hitam milik rumah ibunya. Belum sempat Alya meraih gagang pagar, rentetan tawa sumbang bercampur bisikan yang disengaja keras menghantam gendang telinganya.

"Eh, Jeng, lihat tuh. Baru juga bulan lalu suaminya beli mobil baru, sekarang istrinya udah diusir bawa koper. Pulang ke ketek emaknya."

Alya menghentikan langkahnya. Di warung sayur seberang jalan, Bu Teti dan tiga ibu-ibu tetangga lainnya sedang berdiri mengelompok. Mata mereka menelanjangi Alya dari ujung rambut yang berantakan, turun ke wajahnya yang sembap, hingga ke dua koper besar yang mengapit kakinya.

"Lagian, jadi perempuan kok nggak bisa ngurus rahim," timpal Bu Santi, sengaja mengeraskan suaranya sambil memilih-milih tomat. "Suami udah sukses, ganteng, mapan, ya wajar nyari perempuan yang bisa ngasih keturunan. Kalau pohon nggak berbuah, ya ditebang, ganti bibit baru. Betul nggak, Ibu-ibu?"

Tawa ejekan meledak dari kumpulan itu.

Jari-jari Alya mencengkeram gagang koper hingga buku-bukunya memutih. Amarah yang semalaman ia tahan kini mendidih di ubun-ubun. Alya tidak menunduk. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah gerombolan ibu-ibu yang kini tiba-tiba terdiam melihat sorot matanya yang menyalang tajam.

"Pohon tidak berbuah karena tanahnya yang beracun, Bu Teti," suara Alya terdengar dingin, mengiris jarak di antara mereka. "Bukan salah pohonnya kalau pemiliknya tukang kencing sembarangan."

Wajah Bu Teti langsung pias. "Heh! Kamu kalau ngomong—!"

Tanpa menunggu balasan murahan itu selesai, Alya mendorong pagar besinya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi debuman keras. Ia menyeret dua kopernya masuk ke pelataran rumah ibunya, membiarkan tetangga-tetangganya menganga marah di seberang jalan. Ia tidak peduli lagi pada citra. Kehormatannya sudah diinjak-injak tadi malam, tidak ada lagi yang perlu dijaga.

Pintu utama rumah terbuka sebelum Alya sempat mengetuk.

Namun, bukan pelukan hangat atau air mata simpati yang menyambutnya. Adik perempuannya, Vanya, berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. Usia anak itu baru dua puluh tahun, mahasiswi semester empat, mengenakan kaus oversized dan celana pendek, dengan AirPods yang baru saja dilepas dari sebelah telinganya.

Vanya menatap koper Alya, lalu mendengus kasar. Wajahnya ditekuk masam, sama sekali tidak ada gurat iba melihat kakak kandungnya datang dengan mata bengkak dan penampilan berantakan.

"Ngapain Mbak ke sini?" todong Vanya ketus. Suaranya menyalak, tidak ada sopan santun.

"Ini rumah Mama. Aku berhak ke sini. Minggir," balas Alya lelah. Ia mencoba mendorong kopernya masuk, tapi Vanya menahan rodanya dengan sebelah kaki.

"Mbak tahu nggak, gara-gara Mbak dicerai Mas Damar, aku yang kena imbasnya!" Vanya berteriak, suaranya melengking memenuhi ruang tamu. "Hari ini harusnya Mas Damar transfer uang untuk bayar UKT aku sama cicilan iPhone baru! Tapi pagi-pagi dia WA, katanya dia udah nggak punya kewajiban lagi nanggung keluarga ini karena Mbak udah bukan istrinya!"

Alya tertegun. Ia menatap adiknya dengan dada sesak. "Kamu... kamu lebih mikirin cicilan HP-mu daripada nanya kenapa kakakmu dicerai, Van? Mas Damar ngehina aku di depan keluarga besar semalam, dia ngusir aku dari rumah yang aku ikut bayar!"

"Ya salah Mbak sendiri nggak becus jadi istri!" Vanya membalas tanpa belas kasihan. Telunjuknya menusuk udara tepat di depan wajah Alya. "Mas Damar itu baik banget sama kita! Dia royal! Dia yang selalu bayarin liburan Mama, dia yang menuhin gaya hidup kita! Mbak cuma disuruh diam di rumah dan hamil aja nggak bisa! Sekarang kalau ATM berjalan keluarga ini hilang, Mbak mau tanggung jawab?!"

Plak!

Sebuah tamparan keras, tapi bukan dari tangan Alya.

Bukan. Alya tidak menampar Vanya. Ia hanya mematung, menatap nanar ketika menyadari betapa murahnya harga dirinya di mata keluarganya sendiri. Uang. Semuanya hanya tentang uang Damar.

"Vanya, pelankan suaramu. Tetangga dengar."

Sebuah suara dingin dari arah tangga menghentikan keributan itu. Arini, ibu mereka, menuruni anak tangga dengan keanggunan yang selalu dijaganya. Riasannya sempurna, rambut blow-dry yang rapi, mengenakan setelan piyama sutra yang elegan. Sangat kontras dengan Alya yang terlihat seperti gembel yang baru saja selamat dari badai.

"Ma," Alya menatap ibunya dengan tatapan memohon. Berharap ada sedikit sisa kewarasan dari wanita yang melahirkannya itu. "Tolong kasih tahu Vanya..."

"Vanya benar, Alya," potong Arini datar. Langkahnya berhenti di depan kedua putrinya. Mata Arini menatap tajam ke arah koper-koper Alya. "Damar selalu bertanggung jawab pada keluarga ini. Kalau sampai dia menceraikanmu, pasti ada kesalahan fatal dari pihakmu. Kamu yang terlalu kaku, kamu yang tidak bisa melayani suamimu dengan baik."

Dunia Alya kembali runtuh. Ucapan ibunya di meja makan semalam ternyata bukan sekadar acting untuk menjaga gengsi keluarga. Ibunya benar-benar menyalahkannya secara sadar.

Tapi tunggu. Mengingat meja makan semalam, otak Alya langsung memutar ulang rekaman mengerikan pada pukul dua dini hari tadi. Suara bisikan manja ibunya di telepon. Panggilan 'Sayang'.

Dada Alya bergemuruh. Ia menatap lekat-lekat wajah ibunya. Mencari kebohongan. Mencari rasa bersalah.

"Kesalahanku, Ma?" Suara Alya merendah, menahan gemetar di bibirnya. Matanya menyipit, menusuk langsung ke manik mata Arini. "Atau kesalahan ini memang sengaja diciptakan supaya aku pergi? Semalam... jam dua pagi... Mama teleponan sama siapa?"

Ruangan itu mendadak hening. Vanya mengernyitkan dahi, tidak paham arah pembicaraan kakaknya.

Namun Alya melihatnya. Sepersekian detik, bahu Arini menegang. Ada kilatan panik yang sangat cepat melintas di mata wanita paruh baya itu, sebelum akhirnya tertutup kembali oleh topeng ketenangannya yang dingin.

"Bicara apa kamu ini? Jangan mengalihkan pembicaraan dari kegagalanmu merawat rahim," desis Arini tajam. Ia melipat tangannya di dada. "Bawa kopermu ke kamar belakang. Kamar lamamu di atas sudah dipakai Vanya untuk studio live TikTok-nya. Kamu tempati kamar bekas Mbok Nah saja. Dan ingat, selama kamu menumpang di sini, jangan buat onar."

Arini membalikkan badan, kembali berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi.

"Tuh denger! Masukin barangnya lewat pintu dapur aja sekalian, Mbak, biar debunya nggak ngotorin karpet!" Vanya mendengus puas, lalu berbalik masuk ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.

Alya berdiri sendirian di ruang tamu. Udara di rumah ini terasa beracun. Ia menarik napas panjang, menelan mentah-mentah rasa sakit yang mengoyak-ngoyak dadanya. Perlahan, ia menarik kopernya menuju bagian belakang rumah, menuju kamar pengap tak berjendela yang ukurannya hanya cukup untuk satu kasur busa dan sebuah lemari plastik.

Malam itu, Alya tidak bisa memejamkan mata sedetik pun.

Udara panas dari kipas angin kecil yang berputar berderit-derit tidak mampu mendinginkan kepalanya. Ia duduk bersandar di dinding lembap, menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan.

Alya membuka aplikasi mobile banking. Ia harus mencari kontrakan. Ia harus segera pergi dari rumah yang terasa seperti neraka ini. Ia masih memiliki tabungan dari hasil kerja kerasnya dulu sebelum Damar memaksanya resign dengan alasan agar fokus program hamil.

Saat jemarinya mengetuk layar untuk mengecek saldo, sebuah notifikasi merah muncul.

Akses ditolak. Rekening ini telah dibekukan atas permintaan pemegang kuasa.

Jantung Alya berdetak kencang. Ia mencoba login ke rekening keduanya. Hasilnya sama.

Rekening bersama mereka! Damar memblokir semuanya. Laki-laki itu telah mengunci seluruh akses keuangannya, merampas semua miliknya tepat di hari ia dijatuhkan talak.

Alya melempar ponselnya ke kasur. Ia meringkuk, memeluk lututnya kuat-kuat. Tubuhnya berguncang hebat, tapi ia membekap mulutnya sendiri agar suara isak tangisnya tidak terdengar. Damar sedang memotong kakinya. Suaminya itu memastikan Alya hancur, miskin, dan tidak memiliki pilihan lain selain terjebak di rumah ibu kandungnya yang secara terang-terangan membencinya.

Mengapa? Mengapa Damar tiba-tiba bertindak sebengis ini? Tiga bulan lalu mereka masih tertawa bersama. Apa yang sebenarnya terjadi?

Lalu, memori tentang percakapan telepon ibunya kembali berputar di kepala Alya.

“Harusnya dari dulu kita lakuin ini. Nggak sabar nunggu kamu pulang besok... Sayang.”

Mata Alya terbuka lebar di dalam gelap. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata tajam penuh kewaspadaan. Ia tidak akan diam saja. Ia bukan perempuan bodoh yang bisa diinjak lalu dibuang ke tempat sampah. Besok, ia akan mulai mencari tahu.

Pagi datang terlalu cepat. Langit di luar masih berwarna biru gelap keabuan. Jarum jam di ponsel Alya baru menunjukkan pukul 05:15 WIB.

Alya merasa tenggorokannya seringan kapas. Dehidrasi akibat menangis semalaman membuatnya harus bangkit dari kasur tipisnya. Ia membuka pintu kamar belakang dengan pelan, melangkah berjinjit agar tidak membangunkan Vanya atau ibunya.

Rumah masih sangat sepi. Lampu utama belum dinyalakan. Hanya cahaya kebiruan dari luar jendela yang menerangi samar-samar ruang makan dan dapur.

Alya menuangkan air putih dari dispenser ke dalam gelasnya. Ia baru saja menenggak air itu setengah jalan ketika telinganya menangkap sebuah suara.

Cklik.

Suara kenop pintu yang diputar sangat pelan. Bukan pintu depan. Suara itu berasal dari lorong tengah.

Alya menghentikan minumnya. Gelas di tangannya tertahan di udara. Ia menajamkan pendengarannya. Langkah kaki pelan menyusul suara pintu tersebut. Terdengar bergesekan dengan lantai marmer, mencoba untuk tidak menimbulkan suara gaduh.

Dengan jantung yang berdebar kencang, Alya meletakkan gelasnya di atas meja pantry tanpa suara. Ia mengendap-endap mendekati sekat pembatas antara dapur dan ruang tengah. Tubuhnya merapat ke dinding, mengintip dari balik pilar.

Mata Alya melebar hingga batas maksimalnya. Napasnya seakan dirampas paksa dari paru-parunya.

Di ujung lorong, tepat di depan pintu kamar utama milik ibunya yang kini tertutup rapat, berdirilah seorang laki-laki. Sosok itu membelakangi Alya, tengah sibuk memasukkan ujung kemeja ke dalam celana bahan mahalnya.

Laki-laki itu memutar tubuhnya sedikit untuk merapikan kerah. Profil wajahnya tertimpa cahaya lampu taman yang menembus kaca jendela.

Itu Damar.

Mantan suaminya. Laki-laki yang tadi malam mengusirnya bak anjing kurap, kini berdiri di dalam rumah ibunya pada pukul lima pagi. Keluar dari kamar ibunya.

Alya merasa lantai tempatnya berpijak lenyap. Tangannya gemetar hebat, meremas ujung dasternya. Ia ingin berteriak. Ia ingin berlari ke depan sana dan mencakar wajah laki-laki itu. Tapi kakinya terasa dipaku. Otaknya mencoba memproses pemandangan gila dan tidak masuk akal yang ada di depan matanya.

Damar terlihat sangat santai. Laki-laki itu menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari-jemarinya, merapikan lengan kemejanya, lalu berjalan dengan langkah pelan namun pasti menuju pintu utama rumah. Dia bergerak dengan keluwesan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan denah rumah ini. Seolah ini adalah rutinitas paginya.

Tepat ketika Damar mencapai pintu depan, ia menyalakan sakelar lampu ruang tamu untuk mencari kunci mobilnya yang diletakkan di atas nakas.

Cahaya lampu yang terang benderang menyinari sosok Damar dengan sempurna. Dan saat itulah, dari tempat persembunyiannya, mata Alya menangkap sebuah detail yang membuat aliran darahnya terasa membeku.

Di kerah sebelah kiri kemeja navy yang dikenakan Damar, tepat di bagian yang tadi coba ia rapikan, menempel sebuah noda.

Bukan noda makanan. Bukan noda kopi.

Itu adalah cap bibir. Sisa lipstik yang menempel dengan sangat jelas, kontras dengan warna gelap kemeja tersebut. Dan Alya tahu betul warna itu. Ia sangat mengenali shade warna merah maroon velvet tersebut.

Itu adalah warna lipstik yang sama persis dengan yang selalu dipakai ibunya. Lipstik yang menempel di bibir Arini saat ia menuruni tangga tadi malam.

Damar membuka pintu depan, melangkah keluar ke udara pagi yang dingin, dan menutup pintu kembali dengan bunyi klik pelan, meninggalkan Alya dalam keheningan yang mencekik, mematung dengan dada yang terasa seperti baru saja dibelah dua menggunakan kapak berkarat.