Aroma Bvlgari Aqva—parfum mahal sialan itu—menguar pekat hingga menembus celah bawah pintu kamar pengap Alya.

Alya membuka matanya dengan kasar. Jantungnya langsung berdegup kencang, memompa adrenalin yang bercampur dengan rasa mual. Ia melirik layar ponsel yang layarnya sudah retak di ujung. Pukul 09.00 pagi. Hari Kamis.

Ini sudah hari keempat sejak malam laknat saat Damar melempar cincin kawin mereka ke atas meja makan keluarga. Dan selama empat hari berturut-turut pula, mobil SUV hitam milik laki-laki itu selalu terparkir manis di garasi rumah ibunya.

Suara tawa berat dari ruang tengah membuat bulu kuduk Alya berdiri. Itu suara Damar. Diikuti oleh rentetan tawa renyah yang terdengar sangat manja. Suara ibunya.

Alya menyingkap selimut tipisnya dengan kasar. Rasa pusing mendera kepalanya akibat kurang tidur berhari-hari. Bayangan cap bibir berwarna maroon velvet di kerah kemeja navy Damar tiga hari yang lalu terus berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak, meracuni setiap detik kewarasannya.

Ia membuka pintu kamar belakang, berjalan melewati lorong dengan langkah berat.

Pemandangan di ruang keluarga pagi itu benar-benar menguji batas kesabarannya. Damar, pria yang secara hukum sedang dalam proses mengurus akta cerai dengannya, berdiri di atas tangga aluminium, sedang memperbaiki filter AC ruang tamu. Lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan otot lengannya yang berkeringat.

Sementara itu, tepat di bawah tangga, Arini berdiri memegang sebuah handuk kecil yang bersih.

Alya menghentikan langkahnya di balik pilar. Matanya memindai penampilan ibunya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan napasnya tertahan.

Ibunya berubah. Sangat berubah.

Arini biasanya baru akan mandi dan berdandan rapi di atas jam sebelas siang jika ada jadwal arisan. Tapi pagi ini, wanita berusia lima puluh tahun itu terlihat seperti perempuan yang baru saja jatuh cinta. Kulitnya memancarkan glowing yang tidak wajar. Ia mengenakan dress selutut bermotif floral yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna—baju yang biasanya hanya dipakai Arini saat kencan makan malam dengan mendiang ayah Alya dulu. Rambutnya dicatok rapi bervolume, dan bibirnya dipulas lipstik maroon velvet andalannya.

"Pelan-pelan, Mas. Hati-hati debunya masuk ke mata," tegur Arini lembut. Nada suaranya berayun, penuh perhatian yang membuat perut Alya melilit.

"Iya, Rin—eh, Ma," balas Damar sambil tertawa kecil, meralat panggilannya dengan cepat. Ia turun dari tangga, lalu menundukkan kepalanya sedikit.

Detik berikutnya, sebuah pemandangan absurd terjadi. Arini berjinjit, lalu menggunakan handuk kecil di tangannya untuk mengusap keringat di dahi dan pelipis Damar. Gerakannya sangat lambat, intim, dan terlalu dekat untuk ukuran interaksi wajar antara ibu dan mantan menantu.

"Udah, biarin aja AC-nya. Nanti kamu kecapekan. Sini, minum sirop dingin dulu, udah Mama buatin kesukaan kamu, rasa leci kan?" ujar Arini, menatap Damar dengan binar mata yang menjijikkan bagi Alya.

"Ngapain kamu di sini lagi?"

Suara dingin Alya memecah gelembung menjijikkan di ruang tamu itu.

Arini dan Damar serentak menoleh. Tangan Arini yang masih memegang handuk di dekat dada Damar langsung turun dengan kaku.

Damar menatap Alya dari atas ke bawah. Sorot matanya langsung berubah drastis, dari yang tadinya hangat dan penuh senyum, kini menjadi tajam dan merendahkan. Ia meraih gelas sirop di atas meja, meminumnya dengan santai sebelum menjawab.

"Aku ke sini buat benerin AC Mama yang bocor. Kasihan Mama kepanasan semalaman. Memangnya kamu bisa benerin beginian?" balas Damar enteng.

"Kamu bukan bagian dari keluarga ini lagi, Mas. Kita sudah cerai secara agama! Berhenti datang ke sini seolah-olah kamu bos di rumah ini!" Alya melangkah maju. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Dan Mama, tolong berhenti manggil dia ke sini. Alya yang bisa panggil tukang AC. Nggak usah ngemis-ngemis tenaga mantan suami Alya!"

Prang!

Arini membanting gelas kosong ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi berderak yang memekakkan telinga. Wajah cantiknya langsung mengeras, menatap Alya dengan kilatan amarah.

"Jaga mulutmu, Alya!" bentak Arini. "Siapa yang kamu bilang ngemis?! Damar itu datang sendiri nawarin bantuan karena dia masih punya hati nurani! Nggak kayak kamu, yang bisanya cuma numpang tidur, ngabisin beras, dan kerjaannya cuma marah-marah nggak jelas!"

"Hati nurani?" Alya tertawa sumbang, matanya memanas. "Laki-laki yang buang anak Mama di depan semua keluarga, melempar cincin di meja makan, dan ngunci semua rekening bankku, Mama sebut punya hati nurani?!"

"Itu karena kamu pancing emosinya! Coba kamu nurut! Coba rahim kamu bisa dipakai!" Arini berteriak balik, tidak peduli suaranya mungkin terdengar sampai ke luar jendela. "Damar ini laki-laki baik. Dia yang masih biayai adikmu, Vanya. Tadi pagi dia baru saja transfer uang kuliah adikmu. Kamu bisa kasih Vanya uang? Uang dari mana? Kartu ATM-mu saja isinya nol!"

Mata Alya melebar. Ia menoleh ke arah Damar, yang kini bersandar di dinding sambil bersendekap, tersenyum miring menikmati pertunjukan di depannya. Pria itu menyuap keluarganya dengan uang, membeli kesetiaan ibu dan adiknya untuk mengisolasi Alya sepenuhnya.

"Wah, wah, ada apa ini ribut-ribut pagi-pagi?"

Suara cempreng dari arah pintu depan membuat ketiganya menoleh. Pintu pagar memang sengaja dibuka lebar oleh Damar tadi. Jeng Pur, tetangga sebelah rumah yang terkenal sebagai biang gosip kompleks, berdiri di ambang pintu sambil memegang kotak Tupperware. Matanya yang jeli memindai suasana ruang tamu yang tegang, lalu terhenti pada sosok Damar dan Arini yang berdiri berdekatan.

"Eh, Jeng Pur..." Raut wajah Arini berubah 180 derajat dalam hitungan detik. Senyum ramahnya langsung mengembang. Ia berjalan mendekati Jeng Pur. "Nggak ada apa-apa, Jeng. Biasa, Alya lagi kumat sensi-nya. Maklum, perempuan kalau lagi stres bawaannya marah-marah."

"Oh... gitu," Jeng Pur mengangguk-angguk, matanya menatap Alya dengan tatapan iba yang meremehkan, lalu beralih ke Damar. "Loh, ada Mas Damar juga? Katanya... aduh maaf nih, katanya udah pisah sama Mbak Alya? Kok masih rajin banget ke sini pagi-pagi?"

Sebuah pertanyaan tajam yang dibungkus dengan nada bercanda.

Damar melangkah maju, memamerkan senyum sopan khas pria berpendidikan tinggi. "Ah, iya Bu Pur. Saya dan Alya memang sudah berpisah. Tapi saya kan masih menganggap Ibu Arini seperti ibu saya sendiri. Tadi kebetulan lewat, sekalian mampir benerin AC yang rusak. Saya nggak tega kalau Mama kepanasan."

"Aduuuuh, ya ampun!" Jeng Pur menutup mulutnya, takjub. "Beruntung banget ya Bu Arini punya mantan menantu berbudi luhur begini. Udah sukses, ganteng, masih perhatian sama mantan mertua. Jeng Arini juga kulihat-lihat belakangan ini makin seger lho. Kayak anak ABG lagi kasmaran, bajunya bunga-bunga gitu. Cocok lho Jeng kalau dijejerin sama Mas Damar, kayak bukan mertua sama menantu, hihihi!"

Alya merasa isi perutnya diaduk-aduk. Telinganya berdengung. Candaan Jeng Pur mungkin hanya basa-basi tetangga, tapi bagi Alya, kalimat itu menohok tepat di titik nadirnya. Ia melihat ibunya tersipu. Ya, tersipu malu. Wajah Arini merona merah, menunduk sedikit sambil memukul pelan bahu Jeng Pur.

"Ah, Jeng Pur ini bisa aja. Masa saya disamain sama anak muda," ucap Arini dengan nada manja.

Alya tidak sanggup lagi. Udara di ruangan itu terlalu beracun untuk dihirup. Tanpa berkata apa-apa, Alya berbalik dan setengah berlari menuju kamar belakang, membanting pintunya dengan keras.

Di dalam kamar, Alya mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu. Kepalanya berdenyut.

Ada yang tidak beres. Ini sangat, sangat tidak beres.

Naluri perempuannya berteriak kencang. Ia mengingat panggilan telepon jam dua pagi. Cap lipstik di kemeja Damar. Riasan ibunya yang berlebihan. Dan pandangan mata ibunya pada Damar—pandangan memuja yang selalu diberikan Arini setiap kali membela mantan suaminya itu.

Alya mulai menggeledah pikirannya sendiri. Apakah ia sudah gila? Apakah trauma perceraian ini membuatnya berhalusinasi dan mencurigai ibu kandungnya sendiri? Tapi bukti-bukti kecil itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia harus tahu. Ia butuh kepastian, meski itu akan menghancurkannya.

Sore harinya, matahari mulai condong ke barat. Rumah terasa lebih sepi karena Vanya sedang pergi nongkrong bersama teman-temannya—tentu saja dibiayai dengan uang transferan Damar.

Alya keluar dari kamarnya untuk mencari makan di dapur. Perutnya perih karena belum terisi apa pun sejak pagi. Ia menyeduh mi instan dalam diam. Suasana rumah hening, namun Alya tahu Damar belum pulang. Mobil pria itu masih ada di garasi.

Alya membawa mangkuk mi-nya dan berniat makan di teras belakang yang menghadap ke taman kecil. Namun, saat ia melangkah mendekati pintu kaca geser yang menghubungkan dapur dengan teras belakang, langkahnya terhenti secara paksa.

Sebuah pemandangan di balik kaca itu membuat mangkuk mi di tangan Alya bergetar hebat. Kuah panasnya nyaris tumpah ke tangannya, namun mati rasa di hatinya jauh lebih mendominasi.

Di teras belakang, di atas kursi rotan panjang, duduklah dua orang yang paling ia benci di dunia ini.

Damar dan Arini.

Mereka duduk terlalu rapat. Sangat rapat hingga paha mereka bersentuhan. Damar sedang memegang ponselnya, menunjukkan sesuatu di layar kepada Arini.

Alya merapatkan tubuhnya ke dinding bata di sebelah pintu kaca. Jantungnya berdebar sangat keras hingga ia takut suara detaknya terdengar sampai ke luar.

"Bagus banget, Mas... harganya berapa ini?" sayup-sayup terdengar suara Arini dari celah pintu yang terbuka sedikit.

"Nggak usah mikirin harga. Kalau kamu suka, besok kita lihat barang aslinya. Aku mau beliin yang paling bagus buat kamu." Damar menjawab dengan nada rendah, berat, dan dipenuhi kasih sayang. Nada yang sama persis seperti saat Damar merayunya di tahun pertama pernikahan mereka.

Arini tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah.

Lalu, hal itu terjadi.

Mata Alya membelalak maksimal. Di balik kaca transparan itu, ia melihat tangan kanan Arini terangkat. Alih-alih memukul lengan Damar dengan gaya bercanda khas mertua, tangan berhias kuku manikur merah itu mendarat perlahan di atas punggung tangan kiri Damar yang sedang memegang ponsel.

Jari-jemari Arini tidak menepuk. Jari-jemari itu membelai.

Mengelus punggung tangan Damar dengan gerakan naik turun yang sangat intim. Ibu jari Arini mengusap buku-buku jari Damar dengan lembut.

Itu bukan sentuhan keibuan. Itu adalah belaian seorang kekasih.

Dan yang membuat dunia Alya benar-benar runtuh detik itu juga adalah reaksi Damar. Pria itu tidak menepisnya. Damar tidak menjauh. Sebaliknya, Damar memutar telapak tangannya ke atas, menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Arini, lalu menggenggamnya dengan erat. Damar menatap wajah Arini dalam-dalam, dan Arini membalas tatapan itu dengan senyuman menggoda.

Prang!

Alya tidak sadar kapan jari-jarinya melepaskan mangkuk keramik itu.

Mangkuk berisi mi panas itu jatuh menghantam lantai dapur, pecah berkeping-keping. Kuah panasnya memercik mengenai pergelangan kaki Alya, tapi ia tidak merasakan sakitnya. Rasa sakit yang sesungguhnya sedang merobek-robek dada kirinya hingga hancur berantakan.

Suara pecahan itu mengejutkan dua orang di teras luar.

Genggaman tangan mereka terlepas seketika. Arini melompat berdiri dengan wajah pias, langsung menjaga jarak dari Damar. Matanya melebar menatap Alya yang berdiri kaku di balik pintu kaca dengan wajah sepucat mayat.

"Al... Alya... kamu ngapain di situ?" Suara Arini terdengar panik dan bergetar. Wanita paruh baya itu gelagapan merapikan bajunya yang sama sekali tidak berantakan. "Mama... Mama cuma lagi lihat foto cincin emas di HP Damar, dia mau beliin buat Vanya..."

Kebohongan yang terlalu bodoh. Canggung. Menjijikkan.

Alya menatap ibunya dengan dada kembang kempis. Udara di sekitarnya terasa lenyap. Ia membuka mulutnya, tapi pita suaranya seakan putus. Kata 'sakit jiwa' tertahan di ujung lidahnya.

"Aduh, Mama ke depan dulu, ya. Kayaknya ada tukang paket datang," Arini berasalan dengan cepat, mengalihkan pandangannya dari tatapan membunuh anak kandungnya. Wanita itu setengah berlari masuk ke dalam rumah melewati pintu samping, melarikan diri dari ketegangan yang mencekik.

Kini, tertinggal hanya Alya dan Damar.

Alya menatap lurus ke arah mantan suaminya. Laki-laki yang pernah berjanji akan menjaganya seumur hidup.

Damar tidak terlihat panik sedikit pun. Berbeda dengan Arini yang lari ketakutan, pria itu justru perlahan berdiri dari kursi rotannya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu melangkah santai memasuki dapur melalui pintu kaca yang terbuka.

Sepatu pantofel Damar menginjak pecahan mangkuk keramik di lantai dengan bunyi gemeretak yang memuakkan. Ia berhenti tepat satu jengkal di depan Alya. Aroma parfumnya yang memuakkan kembali menyumbat hidung Alya.

Alya mendongak. Matanya memerah, penuh dengan kebencian dan rasa jijik yang tumpah ruah.

"Kalian berdua..." suara Alya akhirnya keluar, berupa bisikan kasar yang bergetar. "Kalian berdua benar-benar binatang."

Damar tidak marah. Pria itu justru tersenyum kecil. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah hancur mantan istrinya dengan sorot mata puas dan penuh dominasi. Ia menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Alya.

Hembusan napas Damar menerpa kulit leher Alya, membuatnya merinding ngeri.

"Berhentilah menangis seperti orang bodoh, Alya," bisik Damar pelan, nadanya sangat tenang, namun mematikan. Ia menarik wajahnya kembali untuk menatap tepat ke dalam manik mata Alya yang gemetar.

Senyum di bibir Damar melebar, menampilkan deretan giginya.

"Lagipula, melihat usahamu selama empat tahun ini..." Damar sengaja menggantung kalimatnya, matanya melirik ke arah dada dan perut Alya dengan tatapan mengejek. "Harusnya kamu yang ada di posisi mama sekarang."