Aroma rumah sakit selalu memiliki dua sisi bagi dr. Arini. Di satu sisi, bau karbol dan antiseptik adalah bau perjuangan hidup. Di sisi lain, baginya yang seorang dokter umum, rumah sakit adalah tempat ia pertama kali jatuh cinta pada dr. Adrian, Sp.OT. Lima tahun pernikahan telah berlalu, namun setiap kali melihat Adrian mengenakan scrub hijau dengan stetoskop melingkar di leher, jantung Arini masih berdesir dengan cara yang sama.
Pagi itu, di kediaman mereka yang asri di kawasan Jakarta Selatan, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan. Arini sedang mengoleskan selai kacang pada roti gandum untuk Keysha, putri mereka yang berusia empat tahun. Keysha adalah perpaduan sempurna; mata bulat Arini yang cerdas dan garis rahang Adrian yang tegas.
"Ayah, nanti sore kita beli es krim?" tanya Keysha dengan suara cemprengnya yang menggemaskan.
Adrian, yang sedang merapikan dasinya di depan cermin ruang tengah, menoleh dan tersenyum lebar. Ia menghampiri meja makan, mencium puncak kepala Keysha, lalu mengecup kening Arini dengan lembut. "Kalau operasi Ayah selesai cepat, kita tidak cuma beli es krim, tapi juga ke toko mainan. Oke, Tuan Putri?"
Arini tersenyum, meski ada sedikit rasa lelah yang tersembunyi di balik matanya. Sebagai dokter umum di sebuah klinik besar, jam kerjanya lebih teratur dibandingkan Adrian yang merupakan dokter spesialis ortopedi tersohor. "Mas, jangan kasih janji kalau jadwal operasimu padat. Nanti Keysha kecewa lagi seperti minggu lalu."
Adrian terkekeh, suara baritonnya menenangkan. "Tenang saja, sayang. Hari ini jadwal cuma dua total knee replacement. Harusnya sore sudah steril. Kamu sendiri? Ada jadwal pasien banyak?"
"Seperti biasa, Mas. Musim pancaroba begini banyak pasien ISPA. Tapi aku usahakan pulang jam empat supaya bisa masak makan malam kesukaanmu," jawab Arini sambil menyerahkan tas kerja Adrian.
Pemandangan itu tampak seperti iklan keluarga bahagia. Seorang suami yang sukses, istri yang berdedikasi, dan anak yang ceria. Namun, di balik tirai kemesraan itu, ada sesuatu yang mulai bergeser tanpa disadari Arini.
Rumah Sakit Medika Utama tempat Adrian praktik adalah salah satu yang terbaik. Sore itu, Adrian baru saja keluar dari kamar operasi. Peluh membasahi dahinya, namun kepuasan terpancar setelah berhasil menyambung tulang paha seorang atlet muda. Saat ia berjalan menuju ruang ganti dokter, langkahnya terhenti oleh seorang gadis muda dengan jas putih co-ass yang pas di tubuhnya yang ramping.
"Dokter Adrian," panggil gadis itu. Suaranya lembut, namun memiliki nada menggoda yang sangat tipis.
Adrian menoleh. Itu Clarissa, mahasiswa koas yang sedang menjalani stase ortopedi selama empat minggu terakhir. Clarissa cantik—sangat cantik untuk ukuran seorang calon dokter yang biasanya terlihat kusam karena kurang tidur. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, dan matanya selalu menatap Adrian dengan kekaguman yang berlebihan.
"Oh, Clarissa. Ada apa? Ada masalah dengan laporan pasien di bangsal?" tanya Adrian, mencoba tetap profesional.
Clarissa melangkah mendekat, memperpendek jarak yang secara etika seharusnya tetap ada. "Tidak ada, Dok. Pasien post-op di bed 4 sudah stabil. Saya cuma mau bilang... cara Dokter melakukan reduksi tadi sangat luar biasa. Saya belajar banyak hari ini."
Adrian tersenyum tipis. Sebagai dokter senior, ia terbiasa dipuji. Namun, ada sesuatu dalam cara Clarissa menatapnya yang membuat ego lelakinya merasa melambung. "Itu hanya masalah jam terbang, Clarissa. Kamu juga akan bisa kalau tekun."
"Tapi saya ingin belajar langsung dari yang terbaik, Dok," sahut Clarissa cepat. "Boleh saya minta nomor WhatsApp Dokter? Untuk konsultasi kasus-kasus sulit yang saya temui di bangsal nanti malam?"
Sejenak, Adrian ragu. Namun, ia melihat binar di mata Clarissa—binar yang berbeda dengan tatapan Arini yang kini lebih sering berbicara tentang tagihan rumah, sekolah anak, atau masalah kliniknya. Clarissa mewakili sesuatu yang segar, sesuatu yang memujanya tanpa syarat.
"Tentu, catat saja," ujar Adrian akhirnya.
Itu adalah keputusan kecil. Sebuah pertukaran nomor telepon yang lazim di lingkungan medis. Namun, bagi sebuah pernikahan yang sudah berjalan lima tahun, itu adalah lubang kecil pertama pada bendungan yang akan mengakibatkan banjir bandang.
Malam harinya, di rumah, Arini sedang membantu Keysha belajar mewarnai. Adrian duduk di sofa ruang tengah, tampak sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali Arini melihat suaminya tersenyum sendiri menatap layar.
"Ada berita lucu, Mas?" tanya Arini sambil merapikan krayon Keysha.
Adrian sedikit tersentak, lalu membalikkan ponselnya dengan gerakan refleks yang terlalu cepat. "Eh, tidak. Ini... cuma grup alumni fakultas. Biasa, mereka sedang bahas kasus aneh di daerah."
Arini mengangguk, percaya sepenuhnya. "Oh ya, tadi sore aku beli ikan gurame segar. Besok pagi aku masakkan pesmol kesukaanmu ya?"
"Boleh, sayang. Tapi sepertinya besok aku ada meeting pagi dengan jajaran direksi rumah sakit, jadi mungkin sarapan di jalan saja," jawab Adrian tanpa menatap mata Arini.
Arini merasakan sensasi dingin di dadanya. Bukan karena penolakan sarapan itu, tapi karena Adrian tidak lagi menatap matanya saat berbicara. Selama lima tahun, tatapan Adrian adalah kompas bagi Arini. Kini, kompas itu tampak sedang menunjuk ke arah lain.
Malam itu, saat Arini sudah terlelap dalam kelelahan, ponsel Adrian di atas nakas kembali menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama:
Terima kasih untuk hari ini, Dok. Saya tidak sabar menunggu stase besok pagi. Mimpi indah, Mentor Favoritku.
Adrian membaca pesan itu dengan senyum kecil yang tak pernah ia tunjukkan lagi pada Arini belakangan ini. Ia tidak membalas, namun ia juga tidak menghapusnya. Ia membiarkan ego dan rasa penasarannya menimbun benih-benih pengkhianatan di bawah atap rumah yang ia sebut harmonis itu.
Arini, dalam tidurnya yang damai, sama sekali tidak tahu bahwa jubah putih yang ia banggakan dari suaminya mulai ternoda oleh bayang-bayang orang ketiga. Drama itu baru saja dimulai, dan ia belum tahu bahwa ia harus bersiap untuk menjadi orang paling dingin demi melindungi dirinya dan Keysha.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar