Malam itu, Jakarta dibalut rintik hujan yang membawa hawa dingin hingga ke tulang. Di dalam ruang kerja pribadinya di rumah, Adrian duduk terpaku menatap layar laptop yang menampilkan jurnal medis tentang Arthroplasty. Namun, pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya tertinggal di koridor rumah sakit tadi sore.

"Dokter, saya tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi selain Dokter. Hanya Dokter yang membuat materi serumit ini jadi terasa mudah," kalimat Clarissa itu terus terngiang.

Adrian menghela napas, menyandarkan punggungnya yang pegal. Sebagai pria berusia 35 tahun yang sedang berada di puncak karier, pujian adalah hal lumrah. Namun, pujian dari Clarissa terasa berbeda. Gadis itu memiliki cara menatap yang seolah-olah menempatkan Adrian di atas altar pemujaan.

Pintu ruang kerja terbuka pelan. Arini masuk membawa segelas susu cokelat hangatβ€”minuman favorit Adrian jika sedang lembur.

"Masih banyak laporannya, Mas?" tanya Arini lembut. Ia meletakkan gelas itu di meja dan memijat bahu Adrian dengan gerakan terlatih.

Adrian sedikit tersentak. Sentuhan Arini terasa begitu akrab, begitu... rumah. "Ah, tinggal sedikit lagi, Sayang. Maaf ya, aku jadi kurang waktu sama kalian hari ini."

"Nggak apa-apa, aku tahu jadwal operasi ortopedi lagi padat-padatnya. Keysha sudah tidur, tadi dia sempat tanya Ayah kapan pulang, tapi aku bilang Ayah lagi bantu orang supaya bisa jalan lagi," ujar Arini sambil tersenyum tulus.

Rasa bersalah mendadak menghujam dada Adrian. Di hadapannya adalah wanita yang telah menemaninya sejak ia masih menjadi residen yang kelelahan, wanita yang memberikan hidupnya untuk membangun keluarga mereka. Namun, di dalam ponselnya yang tergeletak terbalik, ada deretan pesan dari Clarissa yang belum ia balasβ€”pesan-pesan yang lebih mirip godaan daripada konsultasi medis.


Keesokan harinya di RS Medika Utama, intensitas Clarissa mendekati Adrian semakin meningkat. Saat Adrian sedang di ruang ganti setelah operasi, Clarissa masuk dengan alasan mengantarkan jadwal follow-up pasien.

"Dokter Adrian," panggil Clarissa. Ia melangkah mendekat, berdiri cukup dekat hingga Adrian bisa mencium aroma parfum vanilanya yang manisβ€”sangat berbeda dengan aroma rumah sakit yang steril.

"Ya, Clarissa? Ada masalah?" Adrian berusaha menjaga suaranya tetap tegas, meski jantungnya berkhianat dengan berdegup lebih kencang.

"Bukan masalah pasien, Dok. Tapi soal saya. Saya merasa... saya ingin belajar lebih banyak dari Dokter, mungkin di luar jam rumah sakit? Ada tempat kopi baru yang tenang di dekat sini," Clarissa menatap Adrian dengan mata yang sayu, jari-jarinya memainkan ujung stetoskopnya sendiri.

Adrian terdiam. Egonya sebagai pria merasa tersanjung. Ada adrenalin yang meletup saat merasa diinginkan oleh wanita muda yang cantik. Namun, di benaknya tiba-tiba muncul bayangan Keysha yang sedang tertawa dan Arini yang selalu menunggunya dengan sabar.

"Clarissa, saya rasa bimbingan di rumah sakit sudah cukup. Saya punya tanggung jawab di rumah," jawab Adrian, meski suaranya terdengar tidak seyakin biasanya.

Clarissa tersenyum miring, sebuah senyum yang menantang. "Tanggung jawab memang perlu, Dok. Tapi bukankah Dokter juga berhak untuk sedikit... rileks? Dokter terlalu banyak bekerja. Saya cuma ingin menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Tanpa drama, tanpa tuntutan."

Gadis itu kemudian melangkah maju satu tindak lagi, merapikan kerah jas putih Adrian yang sebenarnya sudah rapi. Tindakan itu berlangsung hanya beberapa detik, tapi bagi Adrian, waktu seolah melambat. Ia tidak menepis tangan Clarissa, namun ia juga tidak membalas sentuhan itu. Ia berada di zona abu-abu yang berbahaya.


Sore itu, Adrian pulang lebih awal. Ia merasa perlu 'melarikan diri' dari tarikan gravitasi Clarissa yang semakin kuat. Di rumah, ia mendapati Keysha sedang bermain dokter-dokteran di ruang tengah.

"Ayah! Sini, Ayah jadi pasiennya ya. Keysha mau suntik supaya Ayah nggak capek lagi," teriak putri kecilnya itu sambil berlari membawa stetoskop mainan plastik.

Adrian berlutut, memeluk putrinya erat-erat. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Bagaimana mungkin aku sempat terpikir untuk bermain api saat aku sudah memiliki surga ini? pikirnya pahit.

Arini keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. "Tumben Mas sudah pulang? Wah, Keysha senang banget tuh."

Arini menghampiri mereka, ikut duduk di karpet dan mencium pipi Adrian. "Tadi aku baru beli tiket buat kita liburan singkat bulan depan ke Bali. Kita butuh family time, Mas. Kamu setuju kan?"

Adrian menatap wajah istrinya yang cerah. Wajah yang penuh cinta dan kepercayaan mutlak. Arini sama sekali tidak menaruh curiga. Baginya, Adrian adalah pahlawan, suami sempurna yang tak mungkin goyah.

"Iya, Sayang. Kita harus pergi. Hanya kita bertiga," jawab Adrian pelan.

Namun, tepat saat itu, ponsel Adrian di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Clarissa:

"Dokter, terima kasih untuk 'diam'nya Dokter tadi di ruang ganti. Saya tahu Dokter juga merasakannya. Sampai ketemu besok di ruang operasi."

Adrian merasakan dunianya terbelah. Satu sisi adalah kehangatan nyata dari anak dan istrinya, sisi lain adalah godaan ego yang menawarkan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan Clarissa, namun aroma vanila itu seolah masih tertinggal di indra penciumannya, mulai merusak ketenangan yang selama ini ia agungkan.

Arini tetap tersenyum, tanpa tahu bahwa di balik jubah putih suaminya, sebuah perang batin baru saja dideklarasikan.