Matahari baru saja naik setinggi galah saat RS Medika Utama mulai berdenyut dengan kesibukan khasnya. Aroma kopi instan bercampur dengan bau pembersih lantai yang menyengat di ruang diskusi dokter. dr. Adrian Sp.OT melangkah tegap, jas putihnya yang kaku berkibar pelan, memancarkan wibawa seorang spesialis senior yang disegani.
Namun, fokusnya pagi itu tidak sepenuhnya pada deretan foto Rontgen dan MRI yang terpajang di layar iluminator. Pikirannya melayang pada pesan singkat semalam. Pesan yang seharusnya ia abaikan, namun justru ia baca berulang kali sebelum mandi.
"Pagi, Dok," sebuah suara ceria membuyarkan lamunannya.
Clarissa berdiri di sana, bersandar di pintu ruang diskusi. Ia mengenakan snelli (jas putih pendek koas) yang sangat bersih, kontras dengan mahasiswa lain yang biasanya tampak kuyu. Riasan wajahnya tipis namun presisi, menekankan tulang pipinya yang tinggi.
"Pagi, Clarissa. Kamu sudah cek pasien di bangsal Melati?" tanya Adrian, berusaha menjaga suaranya tetap datar di depan residen dan perawat lain yang mulai berdatangan.
"Sudah, Dok. Pasien open fracture grade II tadi malam sudah saya ganti balutannya. Cairan infus juga sudah disesuaikan sesuai instruksi Dokter di chat semalam," jawab Clarissa dengan penekanan halus pada kata 'chat'.
Adrian berdehem, merasa beberapa pasang mata di ruangan itu sempat melirik ke arah mereka. "Bagus. Mari kita visite sekarang."
Sepanjang berkeliling bangsal, Clarissa tidak pernah jauh dari sisi Adrian. Ia sangat cekatanβselalu menyodorkan rekam medis sebelum Adrian memintanya, atau membukakan pintu dengan senyum yang hanya ditujukan pada sang spesialis. Adrian merasa seperti raja yang dilayani oleh permaisuri muda. Perasaan ini berbeda dengan saat ia bersama Arini. Arini adalah rekan sejajar, seseorang yang sering mendebat diagnosisnya atau mengingatkannya untuk tidak terlalu banyak minum kopi. Arini adalah realita; Clarissa adalah fantasi.
Sementara itu, di sebuah puskesmas di pinggiran kota, dr. Arini sedang menghadapi antrean pasien yang tak kunjung habis. Masker medis menutupi sebagian wajahnya, namun matanya yang lelah tetap memancarkan empati.
"Ibu, ini obatnya diminum tiga kali sehari setelah makan ya. Jangan lupa istirahat yang cukup," ujar Arini lembut pada seorang pasien lansia.
Setelah pasien itu keluar, Arini menyempatkan diri menghela napas. Ia meraih ponselnya, berniat mengirim pesan semangat pada Adrian. Namun, ia melihat status WhatsApp suaminya baru saja diperbarui. Sebuah foto kopi dan stetoskop di atas meja kayu yang estetik. Caption-nya singkat: "Semangat pagi untuk bimbingan hari ini."
Arini tersenyum tipis. Ia tahu Adrian sangat mencintai pekerjaannya sebagai pendidik. Namun, ada satu detail yang mengusik pikirannya. Di sudut foto itu, tampak ujung lengan jas putih dengan kancing yang berbedaβitu jas putih pendek milik koas perempuan, dan ada sebuah gantungan kunci mungil berbentuk hati yang tergeletak di sana.
Mungkin itu milik mahasiswanya yang tertinggal, pikir Arini, mencoba menepis prasangka buruk. Sebagai sesama dokter, ia tahu betapa dekatnya hubungan antara konsulen dan mahasiswa bimbingannya. Terkadang mereka makan bersama di kantin atau diskusi di ruang dokter.
Namun, perasaan seorang istri jarang sekali salah. Ada getaran gelisah yang mulai merayap di ulu hatinya.
Siang harinya, Adrian sedang berada di ruang pribadinya di lantai empat rumah sakit ketika ketukan pintu terdengar. Clarissa masuk membawa dua cup kopi dari kafe ternama di lobi bawah.
"Dokter kelihatan lelah setelah operasi tadi. Ini, Americano tanpa gula, sesuai selera Dokter," ujar Clarissa tanpa diminta.
Adrian mendongak dari balik komputernya. "Kamu perhatian sekali, Clarissa. Terima kasih."
Clarissa tidak langsung keluar. Ia justru duduk di kursi pasien di depan meja Adrian, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Dokter, saya boleh tanya sesuatu? Tapi ini di luar medis."
Adrian meletakkan pulpennya. "Apa itu?"
"Apa Dokter tidak merasa bosan? Maksud saya... karier Dokter sudah di puncak, rumah tangga Dokter kelihatan sangat stabil. Apakah ada sesuatu yang Dokter inginkan tapi belum Dokter dapatkan?"
Pertanyaan itu lancang, namun entah mengapa Adrian tidak merasa marah. Ia justru merasa tertantang. "Pertanyaan yang aneh untuk seorang mahasiswa koas. Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang hidup saya?"
Clarissa bangkit, berjalan memutari meja Adrian hingga ia berdiri tepat di samping kursi kebesaran sang dokter. Ia membungkuk sedikit, aroma parfum vanila yang manis dan memabukkan menyergap indra penciuman Adrian.
"Saya pikir, pria seperti Dokter butuh seseorang yang bisa melihat sisi 'Adrian' yang sebenarnya, bukan hanya dr. Adrian sang spesialis ortopedi atau dr. Adrian sang kepala keluarga. Seseorang yang bisa diajak bersenang-senang tanpa harus membahas masalah rumah."
Tangan Clarissa dengan berani menyentuh kerah jas Adrian, merapikannya dengan gerakan lambat. Jantung Adrian berdegup kencang. Ia tahu ia harus menepis tangan itu, ia harus mengingatkan gadis ini tentang etika. Namun, kehangatan dari sentuhan itu seolah mematikan logika medisnya.
"Clarissa, ini di rumah sakit," bisik Adrian parau.
"Maka dari itu, Dok... mari kita cari tempat yang bukan rumah sakit setelah jam praktik Dokter selesai," jawab Clarissa dengan suara yang nyaris seperti desahan.
Ponsel Adrian di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan masuk dari "Istriku Sayang".
Nama itu terpampang jelas di layar, kontras dengan suasana intim yang baru saja terbangun. Adrian terpaku. Clarissa melirik layar ponsel itu dengan senyum miring yang provokatif, seolah menantang Adrian untuk memilih.
Adrian tidak mengangkat telepon itu. Ia justru membalikkan ponselnya, membiarkan getaran itu menghilang menjadi sunyi.
"Aku ada jadwal praktik di RS Hermina jam lima. Tapi sepertinya aku bisa membatalkannya," ujar Adrian pelan, suaranya mengandung pengkhianatan pertama yang nyata.
Di seberang telepon, di koridor puskesmas yang ramai, Arini menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Ini pertama kalinya dalam lima tahun Adrian tidak mengangkat teleponnya di jam makan siang tanpa mengirim pesan balasan "Nanti aku telepon balik".
Arini memeluk tasnya erat. "Mungkin dia sedang di ruang operasi," bisiknya pada diri sendiri. Namun, dingin yang merayap di ulu hatinya kini mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar