Suasana meja makan pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya, setidaknya di permukaan. Arini baru saja menyelesaikan sarapan oatmeal kesukaan Adrian, sementara Keysha sibuk memamerkan gambar matahari berwarna jingga yang ia buat semalam.
"Bagus sekali, Sayang. Nanti Ayah tempel di pintu kulkas ya," ujar Adrian sambil mengacak rambut putrinya. Namun, senyum itu tidak sampai ke matanya. Ada beban yang menggelayut di pundaknya, sebuah rasa bersalah yang terus bergesekan dengan rasa penasaran yang berbahaya.
"Mas, kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Arini lembut sembari menuangkan kopi. "Tadi malam kamu mengigau. Seperti orang yang sedang gelisah."
Adrian tersentak, hampir menjatuhkan sendoknya. "Oh, benarkah? Mungkin karena kasus fraktur servikal kemarin, Sayang. Cukup rumit dan membuatku kepikiran sampai tidur."
Arini mengangguk maklum. Sebagai sesama dokter, ia tahu betapa berat beban mental saat nyawa seseorang berada di ujung pisau bedah. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
Adrian hanya mampu tersenyum kecut. Ia merasa seperti penipu. Arini begitu tulus, begitu percaya. Ketulusan itu justru menjadi belati yang menusuk egonya pelan-pelan. Di satu sisi, ia sangat mencintai kedamaian rumah ini. Namun di sisi lain, bayangan Clarissa di rumah sakitβdengan segala keberanian dan tatapan memujanyaβmenawarkan sesuatu yang sudah lama tidak Adrian rasakan: sensasi menjadi pria yang "berkuasa" dan dikagumi, bukan sekadar suami atau ayah yang punya segudang rutinitas.
Siang itu di RS Medika Utama, pertahanan Adrian mulai menunjukkan retakan besar. Ia baru saja menyelesaikan prosedur bedah ortopedi yang melelahkan selama tiga jam. Saat ia keluar dari ruang steril dan menuju ruang ganti dokter yang sepi, ia mendapati Clarissa sudah menunggu di sana dengan dua botol minuman isotonik dingin.
"Dokter pasti dehidrasi," ujar Clarissa lembut. Ia berdiri sangat dekat, hingga aroma vanila dari tubuhnya mulai menginvasi ruang pribadi Adrian.
"Terima kasih, Clarissa. Kamu seharusnya sudah di bangsal sekarang," jawab Adrian, berusaha menjaga jarak profesionalnya.
"Saya sudah minta izin residen sebentar. Saya khawatir melihat Dokter tadi di meja operasi. Dokter kelihatan sedikit... tidak fokus?" Clarissa melangkah maju satu tindak lagi. Tangannya yang mungil dan lembut dengan berani menyentuh lengan Adrian yang masih tertutup scrub hijau. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dokter?"
Adrian menatap tangan itu, lalu menatap mata Clarissa. Di sana ia melihat pantulan dirinya yang dianggap sebagai pahlawan. "Clarissa, ini salah. Aku punya Arini, aku punya Keysha..."
"Saya tidak meminta Dokter meninggalkan mereka," potong Clarissa dengan suara yang nyaris berbisik, serak dan provokatif. "Saya hanya ingin menjadi tempat Dokter beristirahat. Tempat di mana Dokter tidak perlu menjadi 'dr. Adrian yang sempurna'. Hanya Adrian."
Kalimat itu menghantam telak titik terlemah Adrian. Selama bertahun-tahun, ia selalu dituntut menjadi yang terbaikβdi rumah sakit, di mata mertuanya, bahkan di mata Arini. Clarissa menawarkan sebuah "pelarian" tanpa beban.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Logika Adrian berteriak untuk pergi, namun adrenalinnya memintanya untuk tinggal. Dan saat Clarissa berjinjit, mendekatkan wajahnya, Adrian tidak menarik diri.
Pertahanan itu runtuh. Adrian membalas ciuman Clarissa dengan intensitas yang dipicu oleh rasa frustrasi dan gairah yang terpendam. Itu adalah ciuman pertama yang menandai langkah pertamanya menyeberangi garis pengkhianatan.
Sore harinya, Adrian pulang dengan perasaan campur aduk. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri, namun di saat yang sama, ada kepuasan aneh yang menjalar di nadinya.
Di rumah, Arini menyambutnya dengan pelukan hangat. "Mas, tadi Keysha dapat bintang empat di sekolah! Dia nggak sabar mau tunjukin ke kamu."
Adrian memaksakan tawa, menggendong Keysha, dan berusaha bersikap seolah semuanya normal. Ia mandi lebih lama dari biasanya, menggosok tubuhnya dengan sabun berkali-kali seolah bisa menghapus aroma vanila Clarissa yang seolah masih menempel di kulitnya.
Arini, yang sedang merapikan pakaian di kamar, sama sekali tidak mencium gelagat aneh. Baginya, keterlambatan Adrian hari ini hanyalah bagian dari dedikasi sang suami pada pasien. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia peluk tadi telah membagi hatinya di ruang ganti rumah sakit yang dingin.
Malam itu, saat Arini sudah terlelap di sampingnya, Adrian menatap langit-langit kamar dengan mata terjaga. Ia meraih ponselnya, melihat foto profil WhatsApp Clarissa yang baru saja diperbaruiβsebuah foto diri dengan caption singkat: "Beberapa rahasia memang terasa lebih manis."
Adrian mematikan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tahu ia sedang bermain api, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak ingin memadamkannya. Sementara itu, Arini bergerak dalam tidurnya, memeluk lengan Adrian dengan rasa aman yang semu, tidak menyadari bahwa suaminya sedang meniti jalan menuju kehancuran mereka bersama.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar