Pagi itu, udara di Puskesmas tempat Arini bertugas terasa lebih berat dari biasanya. Arini, yang biasanya dikenal sebagai dokter yang ceria dan penuh energi, merasakan ada sesuatu yang janggal begitu ia melangkah melewati ruang pendaftaran.
Beberapa perawat yang sedang berkumpul di balik meja administrasi mendadak terdiam saat melihatnya. Mereka saling bertukar pandang, lalu buru-buru menyibukkan diri dengan tumpukan berkas. Hal itu terjadi tidak hanya sekali. Saat Arini menuju ruang sterilisasi, ia menangkap sisa-sisa percakapan yang terputus.
"...kasihan ya dr. Arini, padahal suaminya kelihatan alim banget," bisik salah satu asisten apoteker. "Ssttt! Orangnya datang," sahut yang lain dengan nada panik.
Arini menghentikan langkahnya sejenak. Jantungnya berdegup tidak keruan. Apa yang mereka bicarakan? Kasihan? Kenapa aku harus dikasihani? pikirnya. Namun, sebagai wanita yang menjunjung tinggi profesionalisme, ia memilih untuk mengabaikannya. Mungkin itu hanya gosip internal puskesmas yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Di sisi lain kota, di RS Medika Utama, Adrian benar-benar sedang berada di dalam labirin yang ia buat sendiri. Pertemuannya dengan Clarissa di ruang ganti kemarin telah mengubah segalanya. Ia merasa seperti pecandu yang baru saja mencicipi dosis pertama; merasa bersalah, namun sekaligus menginginkan lebih.
Saat jam istirahat, Adrian duduk di kantin dokter yang agak terpencil. Ia berharap bisa makan dengan tenang, namun Clarissa muncul dan duduk tepat di hadapannya tanpa permintaan izin.
"Dokter terlihat gelisah. Apa Istri Dokter mulai curiga?" tanya Clarissa sambil mengaduk jus jeruknya dengan santai.
"Jangan bahas itu di sini, Clarissa," desis Adrian, matanya waspada menatap sekeliling. "Dan tolong, jaga jarakmu. Aku mulai merasa orang-orang di departemen ortopedi memperhatikan kita."
Clarissa tertawa kecil, suara tawanya yang renyah justru membuat Adrian semakin tegang. "Biarkan saja mereka melihat. Mereka hanya iri karena tidak bisa berada di posisi sayaβmenjadi orang yang bisa membuat dr. Adrian Sp.OT yang kaku ini kehilangan kendali."
Adrian terdiam. Kata-kata Clarissa menyentuh titik egonya yang paling sensitif. Ada kebanggaan yang salah arah saat ia merasa menjadi pusat perhatian bagi wanita semuda dan secantik Clarissa. Dilema itu kembali muncul: Kasih sayang tulus Arini yang menenangkan, atau gairah membara Clarissa yang memicu adrenalin?
Sore harinya, saat Arini sedang bersiap-siap pulang, dr. Sarahβsahabat lamanya yang juga praktik di RS Medika Utamaβmeneleponnya. Suara Sarah terdengar ragu-ragu.
"Rin, kamu lagi apa?" tanya Sarah di seberang telepon.
"Lagi beresin meja, Sar. Kenapa? Tumben telepon jam segini, biasanya kamu masih sibuk sama pasien asuransi," jawab Arini mencoba bercanda.
"Nggak apa-apa. Cuma mau tanya... Adrian akhir-akhir ini sering pulang malam ya?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi entah mengapa membuat bulu kuduk Arini meremang. "Iya, katanya ada audit dan evaluasi departemen. Memangnya kenapa?"
Ada jeda yang cukup lama di telepon. Arini bisa mendengar helaan napas Sarah. "Enggak kok. Cuma tanya. Tadi aku sempat lihat dia di kantin, kelihatannya sibuk banget bimbing koasnya. Titip salam buat Keysha ya, Rin. Aku tutup dulu."
Sambungan terputus. Arini menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Kalimat Sarah tidak gamblang, namun sebagai sesama wanita, Arini menangkap ada sesuatu yang disembunyikan. Sarah bukan tipe orang yang menelepon hanya untuk menanyakan jadwal pulang suami orang lain.
Arini keluar dari puskesmas dengan langkah gontai. Saat ia berjalan menuju parkiran, ia berpapasan dengan dua perawat senior. Mereka tidak menyapa seperti biasanya, hanya tersenyum tipis yang terasa... hambar. Seolah-olah senyum itu adalah bentuk belas kasihan.
Kenapa semua orang bersikap seolah-olah aku adalah pasien yang baru saja didiagnosis penyakit terminal? batin Arini.
Malam itu di rumah, suasana terasa dingin meski pendingin ruangan sudah dimatikan. Adrian pulang pukul sembilan malam, wajahnya tampak sangat lelah. Ia langsung menggendong Keysha yang sudah mengantuk, memberikan kasih sayang yang tampak begitu nyata.
"Mas, apa ada gosip yang lagi ramai di rumah sakit?" tanya Arini tiba-tiba saat mereka sedang berada di kamar.
Adrian yang sedang melepas kancing kemejanya membeku. Punggungnya menegang. "Gosip? Rumah sakit itu pabrik gosip, Rin. Kenapa memangnya?"
"Tadi dr. Sarah telepon, tanya-tanya jadwal pulangmu. Terus orang-orang di puskesmas... mereka menatapku dengan aneh hari ini," ujar Arini sambil menatap punggung suaminya.
Adrian berbalik, mencoba memasang wajah heran yang paling meyakinkan. "Mungkin mereka cuma iri karena suamimu ini sebentar lagi mau dipromosikan jadi kepala departemen? Kamu tahu kan, persaingan di dunia medis itu tajam. Jangan didengarkan, Sayang. Mereka cuma mau merusak kebahagiaan kita."
Adrian melangkah mendekat, memeluk Arini erat. Di dalam pelukan itu, Arini menghirup aroma tubuh suaminya. Masih aroma sabun yang sama, namun ada sesuatu yang terasa asing. Bukan aroma parfum wanita, melainkan aura kegelisahan yang coba disembunyikan di balik pelukan yang terlalu kencang.
Arini tidak menemukan bukti. Tidak ada pesan rahasia, tidak ada bau vanila yang mencolok. Namun, instingnya sebagai dokter dan sebagai istri mulai membisikkan sesuatu yang menakutkan: bahwa keharmonisan yang ia banggakan selama lima tahun ini, mungkin hanyalah sebuah bangunan indah yang fondasinya mulai digerogoti rayap dari dalam.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar