Malam sudah merangkak jauh melewati pergantian hari. Jarum jam dinding yang terpasang miring di atas televisi tabung tua menunjuk ke angka dua dini hari. Bunyi detaknya yang berirama konstan—tik, tok, tik, tok—seharusnya menjadi pengantar tidur yang menenangkan. Namun, bagi Karina, suara itu tak ubahnya seperti detak bom waktu yang terus menghitung mundur sisa kewarasannya.
Cahaya temaram dari lampu meja belajar yang sudah mulai berkedip-kedip menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruang tamu sempit itu. Karina duduk bersila di atas karpet lantai yang bulu-bulunya sudah menipis dan kasar. Postur tubuhnya melengkung, menahan pegal di punggung bawah yang sejak sore tadi sudah terasa seolah ditusuk-tusuk jarum. Jemarinya yang ramping namun kasar karena terlalu sering mengurus pekerjaan rumah dan membungkus ratusan paket, kini terasa kaku. Jari-jari itu terus beradu dengan papan ketik laptop yang permukaannya sudah memudar, mengetikkan deretan angka ke dalam sel-sel spreadsheet yang seolah tak ada ujungnya.
Di sekelilingnya, pemandangan yang tersaji bukanlah hal yang ingin dilihat oleh istri mana pun setelah lelah bekerja seharian. Tumpukan kertas berwarna merah, kuning, dan putih berserakan membentuk benteng keputusasaan. Surat tagihan kartu kredit. Pemberitahuan tunggakan cicilan motor. Somasi pertama dari pihak pinjaman online. Semuanya mencantumkan satu nama yang sama dengan huruf kapital yang dicetak tebal: KARINA LARASATI.
Karina memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut hebat. Matanya perih, memerah, dan berair, efek dari menatap layar dengan intensitas cahaya rendah selama lebih dari lima jam tanpa jeda. Ini adalah pekerjaan lepas ketiganya. Setelah tadi pagi ia harus berjibaku di bawah terik matahari Tasikmalaya untuk menyetorkan puluhan paket pakaian daster dagangan online-nya ke pihak ekspedisi, lalu siangnya ia harus standby di depan ponsel menjadi admin media sosial untuk sebuah katering lokal dengan bayaran tak seberapa, malam ini ia harus merangkap menjadi tenaga pembukuan lepas untuk sebuah toko bangunan.
Honornya lumayan, tiga ratus ribu rupiah jika ia bisa menyelesaikan rekapitulasi data penjualan bulan ini sebelum matahari terbit. Uang tiga ratus ribu itu sudah ia alokasikan di dalam kepalanya: seratus ribu untuk menyambung napas token listrik yang sejak magrib tadi sudah berbunyi nyaring, lima puluh ribu untuk membeli beras dan telur curah, dan sisa seratus lima puluh ribu akan ia simpan diam-diam di sela-sela lipatan baju di lemarinya untuk persiapan membayar denda keterlambatan BPJS yang sudah menunggak enam bulan.
Drttt... Drttt... Drttt...
Ponsel murah bersistem Android yang layarnya sudah retak di sudut kiri atas itu bergetar hebat, berputar pelan di atas meja kayu di samping laptopnya. Layarnya menyala, menampilkan deretan angka belasan digit tanpa nama kontak. Namun, Karina tidak perlu menyimpan nomor itu untuk tahu siapa yang menelepon di jam selarut ini. Polanya selalu sama. Jika bukan dari nomor telepon kabel dengan kode area Jakarta, pasti nomor ponsel acak yang digunakan oleh mesin auto-dialer.
Debt Collector.
Karina memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdegup sangat kencang, memompa darah dengan ritme yang menyakitkan ke telinganya. Rasa mual tiba-tiba menyergap perutnya yang hanya terisi sepiring mi instan sejak siang tadi. Setiap kali benda pipih itu bersuara, ketakutan yang luar biasa merayap naik dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Ia tidak berani mengangkatnya. Ia takut mendengar suara bentakan pria asing di seberang sana. Ia takut diancam. Namun, ia juga tidak punya kekuatan atau keberanian untuk sekadar menggeser tombol merah untuk menolaknya. Ia merasa seperti tawanan yang dipenjara di dalam rumahnya sendiri.
Ponsel itu akhirnya berhenti bergetar, menyisakan notifikasi panggilan tak terjawab yang ke-empat belas untuk hari ini saja. Karina menghela napas panjang, napas yang terdengar bergetar dan sarat akan keputusasaan.
"Ya Allah... sampai kapan aku harus begini? Dari mana lagi aku harus cari uang untuk nutup semua ini?" bisiknya lirih. Suaranya parau, tertelan keheningan malam yang dingin.
Tangannya perlahan meraih salah satu surat tagihan dari bank yang berwarna merah menyala. Tagihan pinjaman tanpa agunan senilai lima puluh juta rupiah. Angka yang bagi Karina saat ini sama mustahilnya dengan menyentuh bintang di langit. Ingatannya tanpa sadar terlempar pada kejadian satu setengah tahun yang lalu. Saat itu, Fadel, suaminya, pulang dengan wajah memelas dan janji-janji manis. Fadel mengatakan ada tender proyek properti besar di Bogor, tapi ia kekurangan suntikan dana. Karena nama Fadel sudah di-blacklist oleh pihak bank akibat kredit macet sebelumnya, pria itu memohon, berlutut, dan mencium tangan Karina, meminta sang istri untuk menggunakan nama dan data pribadinya demi meminjam uang ke bank.
"Ini demi masa depan kita, Dek. Kalau proyek ini tembus, Mas janji kita bakal pindah dari rumah kontrakan kumuh ini. Mas bakal belikan kamu mobil, kamu nggak perlu lagi jualan daster panas-panasan. Percaya sama Mas. Cicilannya pasti Mas yang bayar tiap bulan, dipotong otomatis dari keuntungan proyek."
Kata-kata itu masih terekam jelas di memori Karina. Sebagai istri yang mengabdi, yang mencintai suaminya dengan tulus, Karina luluh. Ia menandatangani berkas setebal puluhan halaman itu tanpa membaca rinciannya. Ia menyerahkan lehernya sendiri untuk diikat dengan tali utang.
Namun, realita tidak seindah janji manis Fadel. Enam bulan setelah uang itu cair, Fadel pulang dengan wajah hancur, mengatakan bahwa rekannya membawa kabur uang proyek. Fadel menyatakan dirinya bangkrut. Bisnis propertinya hancur lebur. Tidak ada mobil baru. Tidak ada rumah baru. Yang ada hanyalah surat tagihan yang mulai datang silih berganti ke rumah kontrakan mereka, mencari nama Karina Larasati. Dan sejak hari itu, Fadel berubah. Pria yang dulu romantis dan penuh semangat itu perlahan berubah menjadi sosok pemarah, dingin, dan selalu menyalahkan keadaan, sementara Karina-lah yang harus banting tulang menggantikan peran sebagai tulang punggung keluarga demi menambal lubang hitam yang digali oleh suaminya sendiri.
Di tengah lamunannya yang menyesakkan dada, sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil dari kejauhan, memecah keheningan malam. Suara mesin itu semakin lama semakin jelas, dan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah kontrakan mereka. Disusul suara derit pintu pagar besi yang didorong.
Karina tersentak. Kepanikan seketika melanda dirinya. Itu suara mobil Honda Civic tua milik Fadel—satu-satunya aset berharga yang mati-matian dipertahankan suaminya dengan alasan "kendaraan operasional untuk mencari relasi" walau pajaknya sudah mati tiga tahun.
Dengan gerakan refleks yang terlatih oleh rasa takut, Karina segera meraup semua tumpukan surat tagihan itu, menyatukannya dengan asal, lalu menjejalkannya ke dalam laci meja belajar dan menguncinya rapat-rapat. Ia tahu betul apa yang akan terjadi jika Fadel melihat tumpukan kertas itu. Pria itu akan marah besar, menuduh Karina sengaja memamerkan "kegagalannya" sebagai suami, dan malam itu akan berakhir dengan pertengkaran hebat.
Karina merapikan rambutnya yang kusut masai, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan mencoba menyembunyikan gurat kelelahan yang begitu kentara. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Fadel.
Pria berusia tiga puluh empat tahun itu melangkah masuk dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya masih tertata rapi berkat pomade, sama sekali tidak mencerminkan pria malang yang seharian luntang-lantung mencari pinjaman modal seperti yang selalu ia keluhkan. Aroma parfum pria yang menyengat bercampur dengan sedikit bau asap rokok langsung memenuhi ruangan sempit itu. Fadel melepaskan sepatunya sembarangan, membiarkannya tergeletak berantakan di dekat pintu.
"Belum tidur kamu?" Suara bariton Fadel memecah keheningan. Tidak ada nada lembut di sana, hanya nada datar yang sarat akan ketidaksukaan. Ia melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa yang kulitnya sudah pecah-pecah, menimbulkan suara berdebam yang membuat bahu Karina tersentak kecil.
Karina memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang kering. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri suaminya. "Belum, Mas. Ini... tanggung sedikit lagi laporan pembukuannya selesai. Besok pagi-pagi harus sudah dikirim ke bos supaya honornya bisa langsung cair. Mas Fadel mau mandi dulu atau mau langsung makan? Aku tadi sisakan ayam goreng dan sayur asem, bisa aku panaskan sebentar."
Fadel tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang packing barang dagangan Karina. Di sudut ruangan, tumpukan kardus bekas, gulungan bubble wrap, dan selotip berserakan. Beberapa plastik paket berisi pesanan pelanggan yang belum sempat Karina rapikan karena harus segera mengerjakan laporan, tergeletak begitu saja di lantai.
Rahang Fadel mengeras. Ia mendengus kasar, lalu menatap Karina dengan sorot mata penuh ejekan dan rasa jijik.
"Makan apa? Ayam goreng sisa tadi pagi yang minyaknya sudah beku? Kamu itu ya, jadi istri bukannya bikin suami senang dan tenang pas pulang kerja, malah pamer muka kuyu, mata bengkak kayak orang mati kelaparan begitu. Kamu sengaja mau bikin aku merasa bersalah? Hah?!" bentak Fadel, suaranya menggema di ruangan sempit itu.
Karina tertegun. Senyum paksanya perlahan pudar. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. "Astaghfirullah, Mas... Nggak ada maksud begitu sama sekali. Aku cuma capek, Mas. Dari pagi aku ngurus paketan, masak, beres-beres..."
"Halah! Beres-beres apanya?!" potong Fadel dengan suara yang semakin meninggi. Ia menunjuk kasar ke arah sudut ruangan tempat tumpukan kardus berada. "Kamu lihat ini rumah atau gudang rongsokan?! Debu di mana-mana! Dus berantakan! Plastik sampah tidak dibuang! Kamu pikir aku ini nggak stres di luar sana? Aku pontang-panting cari kenalan, cari pinjaman sana-sini supaya bisnisku bisa jalan lagi, supaya kita bisa keluar dari lubang neraka ini! Tapi sampai rumah, apa yang aku dapat? Pemandangan kumuh! Istri yang tidak becus mengurus rumah! Harusnya kamu itu bersyukur aku masih mau pulang ke rumah ini!"
Kata-kata Fadel meluncur deras seperti silet yang menyayat hati Karina berkali-kali. Tenggorokannya tercekat. Rasanya ia ingin berteriak, ingin membalas dan mengatakan bahwa jika bukan karena "gudang rongsokan" yang ia buat itu, mereka berdua tidak akan bisa makan. Jika bukan karena ia yang membungkus paket-paket itu hingga tangannya kapalan, bensin mobil Fadel tidak akan pernah terisi. Tapi Karina tahu, melawan ucapan Fadel saat pria itu sedang marah adalah sebuah kesia-siaan. Fadel memiliki kemampuan luar biasa untuk memutarbalikkan fakta dan membuat Karina selalu berada di posisi tersangka.
Karina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Telinganya berdenging, menahan sakit dari bentakan dan rasa lelah yang bertumpuk menjadi satu.
"Iya, Mas... Maafkan aku," ucap Karina dengan suara bergetar. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit. "Salahku, Mas. Tadi aku buru-buru kerjakan laporan ini supaya uangnya bisa buat nutup... nutup cicilan listrik besok. Besok pagi-pagi sekali, sebelum aku ke pasar, aku janji bakal bereskan semua kardus-kardus ini. Maafkan aku sudah bikin rumah ini nggak nyaman buat Mas."
Ia tetap meminta maaf. Untuk kesalahan yang tidak ia lakukan. Untuk beban yang tidak seharusnya ia pikul sendirian.
Fadel mendecak lidah, seolah permintaan maaf Karina adalah sesuatu yang menjijikkan baginya. Ia menatap istrinya dari atas ke bawah, melihat daster pudar yang dikenakan Karina, lalu membuang muka.
"Alasan saja terus. Kalau kamu memang niat jadi istri yang baik, kamu nggak bakal biarkan rumah berantakan begini apa pun alasannya. Jangan bawa-bawa soal listrik, kamu pikir aku ini pengangguran yang nggak mikirin keluarga? Aku ini sedang usaha, Karina! Usaha! Tapi kamunya yang nggak pernah sabar dan selalu merasa paling menderita!"
Dengan langkah menghentak penuh amarah, Fadel berbalik dan berjalan menuju kamar tidur utama. Ia membuka pintu dengan kasar dan membantingnya dari dalam hingga figura foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding ruang tamu sedikit miring. Brak!
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, hanya diselingi oleh isakan tertahan dari bibir Karina. Ia memegangi dadanya yang sesak luar biasa. Kakinya terasa lemas hingga ia akhirnya terduduk kembali di kursinya. Air mata yang tadinya hanya menggenang kini luruh sudah, membasahi pipinya yang pucat. Ia menangis tanpa suara, takut isakannya akan terdengar oleh Fadel dan memicu kemarahan babak kedua.
Di dalam hati yang paling dalam, Karina mulai merasa hancur. Dulu, ia yakin bahwa badai ekonomi ini hanya sementara. Ia yakin bahwa jika ia bertahan, mendukung suaminya tanpa syarat, menutupi kekurangannya, maka Tuhan akan melihat usahanya dan mengembalikan suaminya yang penyayang. Tapi semakin hari, yang ia rasakan hanyalah kekosongan. Cinta yang dulu menggebu kini terasa seperti ilusi yang perlahan pudar ditelan realita tagihan dan makian.
Karina menghapus air matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan dasternya. Ia melirik ke arah jam di laptopnya. Pukul 02.45 pagi. Ia belum boleh hancur sekarang. Laporannya belum selesai. Jika ia menyerah pada emosinya malam ini, besok mereka benar-benar akan hidup dalam kegelapan tanpa listrik.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia kembali meraih mouse laptopnya. Namun, tepat pada saat itu, layar ponselnya kembali menyala terang di atas meja, diiringi bunyi ting yang menandakan sebuah pesan teks masuk.
Bukan dari WhatsApp, melainkan SMS biasa. Jantung Karina kembali berdegup kencang. Dengan ragu, ia membalikkan ponsel tersebut. Dari notifikasi di layar kunci, ia bisa membaca beberapa baris awal pesan tersebut.
PEMBERITAHUAN TERAKHIR.
Bpk/Ibu KARINA LARASATI.
Ini adalah peringatan final. Mengingat Anda terus mengabaikan itikad baik kami dan menolak menjawab panggilan telepon, maka per besok pagi, data Anda akan kami serahkan ke tim lapangan lapis kedua. Pembayaran terakhir harus masuk paling lambat pukul 10.00 WIB besok, atau kami akan datang ke alamat rumah dan tempat usaha Anda untuk melakukan penyitaan aset, serta memproses kasus ini ke ranah hukum atas tuduhan penggelapan dana pinjaman. Jangan salahkan kami jika tetangga dan keluarga Anda mengetahui masalah ini.
Darah di tubuh Karina seolah surut seketika. Tubuhnya mendadak sedingin es. Nafasnya tercekat di tenggorokan, tidak bisa ditarik maupun dihembuskan.
Penyitaan aset... Ranah hukum... Tetangga mengetahui...
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang mematikan. Ia membayangkan sebuah mobil pick-up datang ke rumah kontrakannya, orang-orang bertubuh besar berteriak di depan pagar, menarik paksa televisi, kulkas tua, dan barang-barang dagangannya di hadapan ibu-ibu tetangga yang sedang berbelanja sayur. Ia membayangkan rasa malu yang tak tertanggungkan. Ia membayangkan polisi datang membawa surat panggilan.
Karina menatap nanar ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, tempat suaminya tertidur pulas setelah memaki dan merendahkannya. Pria yang membuat hutang itu, terlelap tanpa beban. Sementara dirinya, sang istri yang berkorban hingga darah penghabisan, malam ini harus menatap layar ponsel yang membawa pesan kehancurannya.
Ruangan itu terasa berputar. Pandangan Karina menggelap, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang penderitaannya, ia benar-benar merasa tak sanggup lagi untuk melihat hari esok.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar