Matahari di atas langit Tasikmalaya baru saja merangkak naik, namun panasnya sudah terasa memanggang atap seng rumah kontrakan Karina. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Dua jam lagi sebelum ancaman debt collector itu benar-benar menjadi kenyataan dan menghancurkan sisa-sisa kehormatan yang ia miliki.
Di dalam kamar yang pengap, Karina berdiri mematung di depan lemari pakaian plastik yang pintunya sudah sulit ditutup rapat. Tangannya yang masih gemetar sejak menemukan struk parfum bernilai jutaan rupiah milik suaminya pagi tadi, kini sibuk meraba bagian paling dasar dari tumpukan baju-baju lamanya. Jari-jarinya menelusup ke bawah lipatan kain flanel pudar, mencari sebuah kotak kecil berbahan beludru merah yang sudah kusam warnanya.
Ketika tangannya menyentuh permukaan kasar kotak itu, pertahanan air matanya nyaris kembali runtuh. Ia menarik napas dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan isak tangis, lalu menarik kotak itu keluar.
Di dalamnya, terbaring seuntai kalung emas dua puluh empat karat dengan liontin berbentuk bunga mawar. Itu adalah hadiah pernikahan dari mendiang ibunya. Satu-satunya harta warisan, sekaligus satu-satunya barang berharga yang tersisa di rumah ini, yang sengaja ia sembunyikan dari pandangan Fadel selama berbulan-bulan.
"Maafkan aku, Ibu..." bisik Karina lirih, suaranya parau oleh keputusasaan yang begitu pekat. Setetes air mata jatuh menetes tepat di atas liontin emas itu. "Karina terpaksa, Bu. Karina benar-benar nggak punya jalan lain."
Dengan langkah gontai, Karina merapikan rambutnya, memakai kerudung instan berwarna gelap, dan mengenakan jaket pudar untuk menutupi dasternya. Ia keluar rumah, mengunci pintu dengan cepat, dan berjalan kaki menuju kantor Pegadaian yang letaknya sekitar dua kilometer dari rumah kontrakannya. Ia tidak berani mengeluarkan uang untuk naik ojek. Setiap perak sangat berharga hari ini.
Sepanjang perjalanan di bawah terik matahari pagi yang menyengat, pikiran Karina tidak bisa diam. Kertas struk pembelian parfum Dior Sauvage seharga tiga setengah juta rupiah itu seolah menari-nari di pelupuk matanya. Ia terus bertanya-tanya, siapa yang membelikan parfum itu? Atau jika Fadel yang membelinya sendiri, dari mana uang sebanyak itu berasal? Mengapa Fadel tega melihat istrinya kelaparan, menangis ketakutan diancam masuk penjara, sementara ia dengan santai menggesek kartu debit rahasia di sebuah mal mewah?
Rasa sakit dari pengkhianatan finansial itu terasa jauh lebih perih daripada cengkeraman kasar Fadel di lengannya tadi pagi.
Tiba di kantor Pegadaian, Karina harus menelan ludah dan menekan dalam-dalam harga dirinya. Ia duduk di ruang tunggu yang penuh sesak, menatap lantai ubin dengan pandangan kosong. Ketika gilirannya tiba, ia menyerahkan kalung peninggalan ibunya itu kepada petugas penaksir dengan tangan bergetar.
"Emas tua ya, Bu. Dua puluh empat karat, beratnya sepuluh gram. Surat-suratnya lengkap?" tanya petugas itu sambil meneropong kalung tersebut melalui kaca pembesar.
"Lengkap, Pak. Di dalam kotaknya," jawab Karina pelan, nyaris seperti berbisik.
"Bisa cair tiga juta seratus ribu, Bu. Mau diambil semua?"
Tiga juta seratus ribu. Angka itu jauh dari total tagihan lima puluh juta beserta bunganya. Tapi, Karina berharap uang itu cukup untuk menunjukkan itikad baik dan menunda kedatangan para penagih utang itu setidaknya untuk satu minggu ke depan.
"Iya, Pak. Ambil semua," ucap Karina. Hatinya mencelos saat melihat kalung ibunya dimasukkan ke dalam plastik klip transparan, disegel, dan dibawa pergi ke brankas belakang.
Tepat pukul setengah sepuluh pagi, Karina berdiri di depan mesin ATM dengan tangan berkeringat dingin. Ia mentransfer seluruh uang hasil gadai kalungnya—ditambah sisa tabungan tiga ratus ribu miliknya sendiri—ke nomor virtual account bank yang menagihnya. Setelah layar mesin menunjukkan transaksi berhasil, ia segera menelepon nomor debt collector yang menerornya semalaman.
"Halo, Pak... Saya Karina. Saya baru saja mentransfer tiga juta empat ratus ribu sebagai pembayaran itikad baik untuk bulan ini. Sisa tunggakannya saya mohon waktu satu minggu lagi, Pak. Tolong jangan kirim orang ke rumah saya hari ini," ucap Karina dengan nada memohon yang merendahkan dirinya sendiri, berbicara dengan pria bersuara kasar di seberang telepon.
Setelah negosiasi alot, ancaman kasar, dan makian yang harus Karina telan mentah-mentah, pihak penagih akhirnya setuju untuk menunda kedatangan mereka dengan syarat sisa tunggakan bulan ini harus lunas minggu depan.
Karina menutup teleponnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kaca ruang ATM, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga ia berjongkok di lantai. Kakinya lemas. Ia bernapas terengah-engah, seolah baru saja selamat dari kejaran binatang buas. Setidaknya, hari ini ia aman dari rasa malu di depan tetangga. Setidaknya, hari ini barang-barang jualannya tidak disita.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum realita kembali menghantamnya dengan keras. Minggu depan. Ia harus mencari uang lagi minggu depan.
Tanpa membuang waktu, Karina segera bangkit dan berjalan pulang. Tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Pekerjaannya di rumah sudah menumpuk, menunggu untuk diselesaikan.
Tiba di rumah pukul sebelas siang, udara di dalam kontrakan terasa seperti di dalam oven. Kipas angin kecil di sudut ruangan hanya memutar udara panas, sama sekali tidak memberikan kesejukan. Perut Karina berbunyi perih, mengingatkannya bahwa ia belum makan apa pun selain kerak nasi sisa semalam. Namun, ia mengabaikannya. Ia langsung duduk bersila di lantai ruang tamu, di kelilingi puluhan potong daster yang baru dikirim oleh supplier dari Solo.
Hari ini ada promo tanggal kembar di aplikasi belanja online, dan pesanannya melonjak dua kali lipat. Ini adalah kabar baik sekaligus siksaan fisik bagi Karina. Ia sendirian. Tidak ada admin, tidak ada karyawan packing.
Karina mulai bekerja. Ia melipat daster-daster itu dengan cepat, memasukkannya ke dalam plastik klip, lalu membungkusnya lagi dengan plastik polymailer berwarna hitam. Suara lakban yang ditarik dengan kasar—srett, srett, srett—mendominasi keheningan ruangan. Sesekali ia harus berhenti untuk membalas pesan masuk dari calon pembeli di ponselnya.
"Kak, warna marun ready nggak?"
"Kak, bisa dikirim hari ini? Kalau nggak bisa, saya cancel ya."
"Bahan adem nggak kak? Jangan tipu-tipu ya!"
Karina mengetik balasan dengan jempol yang mulai kapalan, merangkai kata-kata manis penuh kesabaran untuk melayani pelanggan. "Ready, Kak. Iya, dikirim hari ini. Bahannya rayon tebal ya, dijamin adem. Silakan diorder."
Jam terus berputar. Pukul dua siang. Pukul tiga sore.
Punggung Karina terasa seperti patah. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari dahinya, membasahi ujung kerudungnya hingga lepek. Ia belum beranjak dari posisinya sejak siang tadi. Rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan rasa pusing yang mulai menyerang bagian belakang kepalanya. Ia merasa suhu tubuhnya perlahan naik, membuat persendian di kaki dan tangannya terasa ngilu.
"Aduh..." Karina merintih pelan saat ujung lakban yang tajam tak sengaja menggores telunjuknya hingga berdarah kecil. Ia menghisap jarinya sendiri, merasakan asin darah bercampur keringat, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak boleh berhenti. Kurir ekspedisi akan datang menjemput barang pukul lima sore. Jika paket-paket ini tidak siap, skor tokonya akan turun, dan pendapatannya bulan depan akan hancur.
Sambil melakban kardus-kardus pesanan yang ukurannya lebih besar, pikiran Karina tak bisa berhenti berputar membandingkan nasibnya dengan struk parfum Fadel.
Tiga juta empat ratus ribu rupiah, batinnya miris. Aku harus kehilangan kalung ibuku, aku harus membungkuk-bungkuk memohon di telepon, aku harus menahan lapar dan menahan sakit punggung dari pagi sampai sore begini... hanya demi mendapatkan angka yang bahkan tidak lebih besar dari harga satu botol parfum suamiku.
Mengingat hal itu, ada rasa perih yang meluap di dada Karina. Ia merasa seperti keledai dungu yang terus-menerus disuruh menarik gerobak batu, sementara majikannya duduk santai di atas gerobak sambil menikmati minuman dingin. Kemarahan mulai tumbuh di sudut hatinya, namun tubuhnya yang lemah tidak mampu menopang emosi sebesar itu.
Pukul setengah lima sore. Sisa paket tinggal belasan buah lagi. Namun, kondisi fisik Karina benar-benar sudah mencapai batasnya.
Pandangannya mulai berkunang-kunang. Huruf-huruf di kertas resi yang sedang ia tempelkan terlihat berbayang dan menari-nari. Napasnya memburu, dadanya sesak seperti kekurangan oksigen. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, sementara wajahnya terasa sangat panas seperti dipanggang api.
"Tinggal sedikit lagi... Ya Allah, kuat... kuatkan aku sedikit lagi," gumamnya memotivasi diri sendiri dengan suara bergetar.
Ia mencoba berdiri untuk mengambil tumpukan plastik yang letaknya agak jauh di sudut ruangan. Namun, baru saja lututnya terangkat dari lantai, dunia di sekelilingnya tiba-tiba berputar hebat. Rasa pusing yang luar biasa menghantam kepalanya bagai godam. Keseimbangannya hilang seketika.
"Ah!"
Karina terhuyung ke depan. Tangannya mencoba menggapai udara kosong untuk mencari pegangan, namun tak ada apa-apa. Tubuhnya ambruk, menabrak tumpukan kardus paket yang sudah rapi hingga berserakan ke mana-mana. Ia jatuh tertelungkup di atas lantai ubin yang keras, kepalanya membentur salah satu sudut kardus dengan cukup keras.
Selama beberapa detik, Karina tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa terengah-engah, merasakan lantai yang dingin menempel di pipinya yang panas karena demam. Ia memejamkan mata, berharap rasa pusing dan berputarnya ruangan ini segera berhenti. Ia sadar ia sedang sakit. Ia butuh istirahat. Ia butuh segelas air hangat dan obat penurun panas.
Tepat pada detik kelemahannya itu, suara decit pagar yang didorong paksa terdengar dari luar. Disusul oleh derap langkah sepatu yang terburu-buru dan suara pintu depan yang didorong terbuka.
Fadel pulang lebih awal.
Karina mencoba mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat. Dari sudut pandangnya di lantai, ia melihat sepasang sepatu pantofel cokelat mengkilap milik suaminya melangkah masuk.
"Karina! Di mana letak map biruku yang berisi—"
Kalimat Fadel terhenti mendadak. Pria itu berdiri di ambang ruang tamu, menatap kekacauan di depannya. Kardus-kardus paket yang tumpah ruah, gulungan lakban yang menggelinding ke sudut ruangan, dan istrinya yang tergeletak lemah di lantai di antara tumpukan barang dagangan.
Alih-alih berlari menghampiri istrinya, panik melihat Karina terjatuh, atau sekadar bertanya "Kamu kenapa, Dek? Kamu sakit?" seperti layaknya suami normal, Fadel justru berdiri mematung dengan rahang yang mengeras.
Aroma parfum Dior Sauvage yang mewah dan menyengat seketika memenuhi ruangan, menusuk indera penciuman Karina, membuat perut wanita itu semakin mual mengingat harga dari wewangian tersebut.
Karina menatap wajah suaminya dengan mata sayu. Ia berharap, setidaknya kali ini, Fadel akan membantunya berdiri. Setidaknya kali ini, naluri kemanusiaan pria itu akan muncul melihat istrinya terkapar tak berdaya.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat bibir Fadel terbuka.
Pria itu mendengus kasar, menendang pelan salah satu kardus yang menghalangi jalannya, lalu menatap Karina dengan tatapan penuh kejengkelan dan cibiran sinis.
"Kamu ini kenapa lagi, sih? Sengaja tiduran di lantai pas aku pulang biar kelihatan paling menderita sedunia?" ucap Fadel dengan nada suara yang sangat dingin, tanpa empati sedikit pun.
Karina merintih, mencoba menopang tubuhnya dengan siku. "Mas... kepalaku pusing sekali. Aku mual. Badanku lemas... Tolong bantu aku bangun, Mas."
Fadel melipat kedua tangannya di dada, tidak berniat maju satu langkah pun. Ia justru mendecak lidah, menatap istrinya seolah Karina adalah debu kotor yang merusak pemandangan matanya.
"Pusing? Lemas?" Fadel tertawa hambar. "Terus paket-paket ini siapa yang mau ngurus kalau kamu lemas begini? Kamu mau pelanggan kasih rating bintang satu, lalu toko kamu ditutup? Kalau tokomu ditutup dan kamu nggak punya penghasilan..."
Fadel memajukan wajahnya sedikit, menatap mata Karina yang berkaca-kaca dengan tajam.
"...kalau kamu lemah begini, terus siapa yang mau bayar utang-utangmu itu, Karina? Kamu mau kita diseret ke polisi?!"
Kata-kata itu menghujam jantung Karina lebih dalam dari belati mana pun. Di saat tubuhnya benar-benar hancur dan ia nyaris kehilangan kesadaran, pria yang ia sebut suami, pria yang utangnya sedang ia tanggung dengan keringat darah, justru memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin pencetak uang yang tak diizinkan rusak.
Air mata Karina jatuh tanpa bisa ditahan, bukan hanya karena sakit di tubuhnya, tapi karena ia akhirnya sadar: Fadel tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri lagi. Ia hanyalah tumbal yang akan terus diperas sampai mati.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar