Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden jendela kamar yang warnanya sudah kusam. Karina membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan berdenyut, meski suhu tubuhnya tidak sepanas semalam. Keringat dingin sisa demam membuat dasternya lengket menempel di kulit, memberikan sensasi tidak nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh.

Ia menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Di sebelahnya, sisi ranjang itu kosong. Seprai bagian Fadel tertata rapi, menandakan pria itu sudah bangun sejak tadi.

Ingatan tentang kejadian semalam menghantam pikiran Karina bagai ombak besar yang menghantam karang. Pesan singkat di layar ponsel suaminya. Emoji hati berwarna merah. Dan satu nama yang kini tercetak tebal dengan tinta api di dalam otaknya: Haura.

Karina memejamkan mata, merasakan dada kirinya nyeri bukan main. Selama ini ia mengira musuh terbesarnya adalah kemiskinan, kebangkrutan, dan para penagih utang yang tak kenal ampun. Ia mengira Fadel sering marah dan bersikap kasar semata-mata karena beban pikiran sebagai kepala keluarga yang gagal secara finansial. Ia selalu mencari pembenaran untuk sikap buruk suaminya.

Mas Fadel cuma stres, wajar kalau dia sensitif. Mas Fadel butuh dukungan, bukan tuntutan. Kalimat-kalimat naif itu selalu ia rapalkan setiap kali hatinya hancur dibentak oleh sang suami.

Namun kebenaran yang baru saja menamparnya semalam menghancurkan semua ilusi itu. Fadel tidak stres memikirkan cara membayar utang. Fadel tidak pusing mencari uang untuk makan. Fadel sedang menikmati hidup di dunia lain—dunia yang dipenuhi parfum seharga tiga setengah juta rupiah dan janji manis untuk menemani seorang wanita bernama Haura melakukan fitting baju di butik.

Dengan sisa tenaga yang masih lemah, Karina memaksakan diri untuk bangun. Tulang-tulangnya terasa ngilu, tapi ia tidak punya waktu untuk bermanja-manja dengan rasa sakit. Ia harus memastikan apakah apa yang ia lihat semalam adalah sebuah kenyataan mutlak, ataukah—dalam sisa keputusasaannya—hanya sekadar halusinasi akibat demam tinggi.

Ia melangkah keluar kamar dengan gontai. Aroma seduhan kopi instan tercium dari arah dapur. Karina berjalan mendekat, dan melihat Fadel sedang duduk bersila di atas tikar plastik di ruang tengah, menyesap kopi hitamnya sambil menatap layar ponsel.

Pria itu sudah mandi. Rambutnya kembali tersisir rapi dengan pomade. Kemeja lengan panjang berwarna navy yang disetrika licin membalut tubuhnya. Namun, ada satu hal yang membuat dada Karina bergemuruh: Fadel sedang tersenyum.

Senyum itu sangat tipis, nyaris tak terlihat jika Karina tidak memperhatikannya lekat-lekat. Namun, bagi seorang istri yang sudah bertahun-tahun hidup bersama, Karina tahu betul arti kerutan di sudut mata Fadel dan cara pria itu menggigit bibir bawahnya saat menahan senyum. Itu adalah senyum ketertarikan. Senyum kebahagiaan. Senyum yang dulu, bertahun-tahun yang lalu, sering diberikan Fadel kepadanya saat mereka masih menjadi pengantin baru.

Kini, senyum itu bukan untuknya.

Karina menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Ia berjalan perlahan menuju dapur, pura-pura mengambil gelas untuk minum, sambil ekor matanya tak lepas dari sosok Fadel.

Setiap kali jari Fadel mengetik di layar, senyum itu semakin jelas. Pria itu tampak begitu tenggelam dalam dunianya, tidak menyadari kehadiran istrinya yang berdiri hanya berjarak beberapa meter darinya, menahan luka yang menganga di dada.

Aku harus melihatnya. Aku harus memastikan apa isi chat itu, batin Karina. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang membuat rasa lemasnya sedikit berkurang.

Karina mengambil napas panjang, mencoba mengatur ekspresi wajahnya senormal mungkin. Ia berjalan menghampiri Fadel, lalu duduk di kursi plastik tak jauh dari tempat suaminya bersila.

Fadel langsung menyadari pergerakan itu. Dalam sepersekian detik, senyum di bibir pria itu lenyap tanpa sisa. Wajahnya kembali berubah datar, dingin, dan kaku. Gerakan tangannya pun berubah drastis. Dengan sangat cepat, ia menekan tombol power di sisi ponsel, membuat layarnya menjadi hitam, lalu meletakkan ponsel itu di pangkuannya dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Perubahan sikap yang sangat tiba-tiba itu semakin memperkuat kecurigaan Karina. Fadel bersikap layaknya seorang pencuri yang baru saja kepergok.

"Sudah bangun kamu?" tanya Fadel dengan nada ketus, tanpa menatap mata Karina. Tangannya meraih cangkir kopi, berpura-pura sibuk menyesap cairan pekat itu. "Kukira kamu mau tidur sampai siang. Rumah masih berantakan, cucian piring numpuk. Kalau kamu sakit-sakitan begini terus, rumah ini bisa jadi sarang tikus."

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa empati, tanpa menanyakan apakah demam Karina sudah turun atau belum.

Karina menekan dalam-dalam rasa sakit hatinya. Ia tidak boleh terpancing emosi sekarang. Tujuannya adalah ponsel itu.

"Maaf, Mas. Kepalaku masih sedikit pusing, tapi nanti aku bereskan semuanya," jawab Karina dengan nada patuh yang sengaja ia buat-buat. Ia diam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk melancarkan skenarionya. "Mas... HP-ku tiba-tiba layarnya nge-blank hitam, nggak bisa nyala dari tadi malam. Padahal aku harus balas chat pelanggan pagi ini, ada pesanan yang harus diproses resinya. Aku boleh pinjam HP Mas sebentar? Cuma buat login ke aplikasi tokoku sebentar saja."

Kalimat itu diucapkan Karina dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah ia sedang meminta izin pada seorang raja yang tiran.

Reaksi Fadel sungguh di luar dugaan, namun sekaligus mengonfirmasi semua ketakutan Karina. Pria itu tersentak kaget, nyaris menumpahkan kopi yang sedang dipegangnya. Tangannya yang bebas dengan gerakan refleks menyambar ponsel di pangkuannya, menggenggamnya erat-erat seolah benda pipih itu adalah nyawanya.

Mata Fadel mendelik menatap Karina. Rahangnya mengeras seketika. "Pinjam HP?! Mau buat apa?!" bentaknya dengan nada suara yang naik satu oktaf.

"Cuma... cuma buat buka aplikasi tokoku, Mas. Tokoku bisa kena penalti kalau pesanan nggak diproses pagi ini..." Karina mencoba mempertahankan nada suaranya agar tidak bergetar, meski jantungnya kini bertalu-talu seperti genderang perang.

"Alasan!" Fadel meletakkan cangkir kopinya dengan kasar hingga terdengar bunyi klak yang nyaring. "Kamu pikir aku bodoh, hah?! Kamu sengaja mau periksa-periksa HP-ku kan?! Kamu mau memata-matai suamimu sendiri?! Istri macam apa kamu ini, pikiranmu penuh curiga terus bawaannya!"

Karina terkesiap. Reaksi defensif Fadel benar-benar berlebihan. Orang yang tidak menyembunyikan apa-apa tidak akan semarah ini hanya karena dimintai tolong untuk meminjamkan ponsel.

"Mas, demi Allah, HP-ku memang mati. Aku nggak ada maksud mau periksa HP Mas. Apa yang mau aku periksa? Aku cuma mau kerja buat cari uang, Mas..." Karina mencoba membela diri, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak sepenuhnya berbohong; ponsel murahnya memang sering mati mendadak, walau saat ini benda itu sebenarnya masih menyala di dalam kamar.

"Terserah kamu mau bilang apa! Pokoknya tidak bisa!" potong Fadel cepat, setengah berteriak. Ia memasukkan ponsel itu ke dalam saku kemejanya, menyembunyikannya dari jangkauan Karina. "Ini HP untuk urusan bisnis! Banyak rahasia kerjaan, banyak kontak investor! Kalau kamu salah pencet, bisa hancur semua usahaku! Kamu urus saja HP rongsokanmu itu, bawa ke konter kek, dijemur kek, jangan menyusahkan orang lain!"

Fadel berdiri dengan kasar, wajahnya merah padam menahan amarah—atau lebih tepatnya, menahan kepanikan yang berusaha ia tutupi dengan amarah. Ia melangkah terburu-buru menuju kamar mandi, masuk ke dalam, dan mengunci pintunya dengan suara putaran kunci yang terdengar sangat keras.

Karina tertinggal di ruang tengah, membeku di atas kursinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, bukan karena bentakan Fadel, melainkan karena kenyataan yang semakin jelas benderang di depan matanya.

Tidak ada "urusan bisnis". Tidak ada "kontak investor". Fadel mengunci ponselnya, melindunginya mati-matian seolah itu adalah rahasia negara, karena di dalam sana ada dunia yang tidak boleh Karina ketahui. Dunia di mana Fadel adalah pria kaya raya yang membelikan parfum mahal, bukan suami miskin yang membiarkan istrinya dikejar debt collector.

Dan Fadel membawa ponsel itu ke dalam kamar mandi.

Karina tersenyum miris. Senyum yang sangat getir hingga membuat perutnya mual. Ia ingat persis, dulu Fadel paling tidak suka membawa barang elektronik ke kamar mandi. Pria itu selalu meletakkan ponselnya sembarangan di atas kasur atau di meja makan. Perubahan kebiasaan ini adalah tanda bahaya yang selama ini selalu diabaikan Karina karena terlalu sibuk mencari uang.

Dari dalam kamar mandi, sayup-sayup terdengar suara air keran dihidupkan, mengalir deras mengisi bak mandi. Fadel sengaja menghidupkan air dengan volume maksimal untuk menyamarkan suara dari dalam. Namun, insting Karina sudah terlampau tajam. Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan tanpa suara mendekati pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik PVC yang tipis.

Karina menempelkan telinganya di daun pintu. Ia menahan napasnya sendiri, memusatkan seluruh indera pendengarannya.

Di sela-sela suara gemuruh air yang jatuh ke bak, Karina bisa mendengar bunyi yang sangat pelan namun konstan.

Tek, tek, tek, tek.

Bunyi jemari yang sedang mengetik di layar kaca. Sangat cepat. Sangat intens.

Air mata Karina mengalir semakin deras. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke pintu plastik itu. Hatinya menjerit kesakitan. Fadel tidak sedang mandi. Suaminya itu bersembunyi di dalam kamar mandi, menghidupkan keran air sebagai kedok, hanya untuk bisa bertukar pesan dengan wanita bernama Haura itu dengan aman tanpa gangguan dari istrinya yang sedang sakit di luar.

Betapa bodohnya aku, batin Karina merutuki dirinya sendiri. Bertahun-tahun aku kerja sampai sakit, jual kalung Ibu, menahan lapar... sementara dia asyik memadu kasih di belakang punggungku.

Sekitar sepuluh menit kemudian, suara ketikan itu berhenti, disusul suara air yang dimatikan. Karina segera mundur dengan tergesa-gesa, berlari kecil kembali ke dapur dan pura-pura sedang mencuci piring kotor bekas makan semalam. Tangannya gemetar saat memegang spons yang dipenuhi sabun, namun ia memaksakan diri agar terlihat sibuk.

Pintu kamar mandi terbuka. Fadel keluar, masih dengan pakaian lengkapnya. Pria itu hanya mencuci muka, bukan mandi. Rambut depannya sedikit basah. Ia berjalan melewati dapur tanpa melirik Karina sama sekali. Tangan kanannya menggenggam ponselnya erat.

Karina memutar tubuhnya, mengikuti pergerakan suaminya dengan sudut matanya. Fadel duduk kembali di ruang tengah, meletakkan ponselnya di atas meja sambil meraih tas kerjanya.

Dalam satu momen yang sangat singkat, saat layar ponsel itu masih menyala sebelum otomatis terkunci, Fadel sedikit memiringkan layar tersebut ke arah sudut yang bisa dilihat oleh Karina. Mata Karina yang memang sejak tadi mengawasi bak elang yang mengincar mangsa, tidak menyia-nyiakan kesempatan sepersekian detik itu.

Mata Karina yang masih sedikit rabun karena air mata, menangkap deretan kalimat terakhir di dalam kolom chat berlatar belakang hijau terang. Pesan yang dikirim oleh Fadel, terkirim hanya beberapa detik yang lalu.

"Aku juga kangen banget, Sayang. Nanti siang aku jemput ya. Uangnya udah aku transfer ke rekeningmu buat DP gaunnya. Love you."

Deg.

Spons cuci piring yang ada di tangan Karina terlepas, jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi plup yang pelan.

Dada Karina terasa seperti dihantam palu godam berkali-kali. Napasnya berhenti seketika. Tubuhnya lemas, nyaris merosot ke lantai jika ia tidak segera mencengkeram pinggiran wastafel dengan kedua tangannya yang berbusa.

Sayang... Uang udah aku transfer... DP gaun...

Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, mengejek semua pengorbanan dan penderitaan yang ia alami selama ini. Pagi ini, ia harus memohon-mohon pada debt collector, menggadaikan emas peninggalan ibunya, menahan rasa malu yang tak terhingga, demi melunasi sisa utang yang membelit lehernya. Namun di saat yang sama, suaminya dengan mudah mengetik pesan bahwa ia telah mentransfer sejumlah uang untuk membayar uang muka sebuah gaun untuk selingkuhannya.

Uang siapa yang ditransfer Fadel?

Tentu saja uang yang ia sembunyikan selama ini! Uang dari bisnis yang katanya bangkrut! Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar utang bank yang didaftarkan atas nama Karina!

Karina menatap punggung suaminya yang sedang merapikan tas kerjanya dengan pandangan nanar. Marah, benci, jijik, dan sakit hati melebur menjadi sebuah pusaran hitam di dalam dadanya. Ia ingin mengambil pisau dapur di dekatnya dan melemparkannya ke arah pria pengkhianat itu. Ia ingin berteriak di depan wajah Fadel, membongkar semua kebohongannya detik ini juga.

Tapi... tidak.

Akal sehat Karina yang selama ini tertidur pulas akibat manipulasi Fadel, tiba-tiba terbangun dengan beringas. Jika ia meledak sekarang, Fadel akan menyangkalnya. Pria itu licik. Fadel pasti akan menghapus pesan itu, memutarbalikkan fakta, mengatakan bahwa Karina berhalusinasi karena demam, dan pada akhirnya, Karina tidak memiliki bukti apa pun. Terlebih lagi, utang di bank itu tertulis atas nama Karina Larasati. Jika Fadel merasa terpojok dan memutuskan untuk kabur meninggalkannya, Karina-lah yang akan membusuk di penjara, sementara Fadel akan hidup bahagia dengan Haura.

Karina menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya menetes jatuh bercampur dengan busa sabun di dalam wastafel. Ia menarik napas panjang, sangat panjang, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya yang rasanya ingin meledak.

Sabar, Karina. Sabar, bisiknya pada diri sendiri. Tahan amarahmu. Jangan gegabah. Kamu harus punya bukti.

Fadel bangkit berdiri, menyandang tas kerjanya. "Aku berangkat. Jangan lupa bereskan rumah. Dan jangan coba-coba sentuh barang-barangku kalau aku nggak ada," ucapnya dingin sebagai salam perpisahan, tanpa menoleh, tanpa mencium kening istrinya seperti yang biasa dilakukan pasangan normal.

Pintu depan ditutup rapat. Mesin mobil dihidupkan, dan menderu menjauh.

Karina berdiri sendirian di dapur yang sempit dan pengap. Tangannya perlahan melepaskan cengkeramannya dari pinggiran wastafel. Ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan lengan daster. Wajahnya yang pucat karena demam kini mengeras, rahangnya terkatup rapat.

Senyum Fadel tadi pagi, senyum penuh cinta yang ternyata bukan ditujukan untuknya, telah membakar habis semua sisa-sisa kesabaran dan cinta buta yang dimiliki Karina. Rasa sakit itu kini telah mengkristal menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sesuatu yang bernama dendam.