Udara pagi di Tasikmalaya terasa lebih dingin dari biasanya, menyusup masuk melalui celah-celah ventilasi rumah kontrakan yang tak rapat. Jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, namun Karina sudah berdiri di depan kompor gas dua tungku yang salah satu pemantiknya sudah rusak dan harus dipancing menggunakan korek api kayu. Matanya masih bengkak dan merah, sisa dari tangisan tertahan semalaman suntuk dan jam tidur yang tak lebih dari dua jam.

Kepalanya terasa berat, seolah ada beban berton-ton yang menekan tengkoraknya. Namun, rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa panik yang terus menggerogoti perutnya mengingat pesan singkat dari debt collector semalam. Pukul sepuluh pagi. Batas waktunya hanya tinggal empat jam lagi, dan ia sama sekali tidak tahu ke mana harus mencari uang puluhan juta rupiah dalam waktu sekejap.

Dengan sisa tenaga dan pikiran yang sangat kacau, Karina mencoba fokus pada rutinitas paginya. Pagi hari di rumah ini tidak pernah diawali dengan aroma kopi mahal yang menenangkan atau obrolan ringan di meja makan layaknya keluarga normal. Bagi Karina, pagi adalah medan perang tahap pertama sebelum ia menghadapi kerasnya dunia luar. Ia harus memastikan Fadel tidak memiliki celah sekecil apa pun untuk marah sebelum berangkat.

Karina membuka pintu kulkas yang suaranya mendengung keras. Di dalamnya, pemandangannya sangat menyedihkan. Hanya ada sebotol air putih dingin, separuh kol yang ujungnya sudah mulai menghitam, dan satu butir telur yang tersisa dari belanjaan tiga hari lalu. Nasi sisa semalam di magic com kondisinya sudah sedikit kering.

"Bikin nasi goreng saja," gumam Karina lirih.

Dengan cekatan, ia mengiris bawang merah dan bawang putih yang tinggal beberapa siung di keranjang bumbu. Ia menumisnya dengan sedikit minyak yang dituang hati-hati agar tidak cepat habis. Aroma gurih mulai tercium. Ia memasukkan nasi sisa yang keras itu, menekan-nekannya dengan spatula agar tidak menggumpal, lalu menambahkan kecap manis murah dan sedikit garam. Telur satu-satunya yang ia miliki ia ceplok secara terpisah di wajan kecil.

Ketika nasi goreng itu matang, Karina menuangkannya ke atas piring keramik putih. Ia meletakkan telur ceplok yang kuningnya setengah matang—persis seperti kesukaan Fadel—di bagian paling atas, menutup hampir seluruh permukaan nasi. Untuk dirinya sendiri, Karina mengambil sisa nasi goreng yang menempel di dasar wajan, mengorek kerak-keraknya yang berwarna kehitaman, lalu meletakkannya di piring plastik. Ia tak keberatan. Perutnya terlalu mual memikirkan ancaman debt collector untuk bisa menikmati makanan enak.

Karina menata sarapan itu di atas meja makan kecil yang taplak plastiknya sudah bolong di beberapa bagian. Ia lalu menyiapkan secangkir teh manis hangat untuk Fadel. Setelah semua siap, ia kembali sibuk merapikan kardus-kardus packing semalam, memasukkannya ke dalam karung agar ruang tamu terlihat lebih lega, memenuhi janjinya pada Fadel semalam meski pinggangnya menjerit kesakitan.

Tepat pukul setengah tujuh, pintu kamar mandi terbuka. Fadel keluar dengan handuk melilit di pinggang bagian bawah. Ia berjalan santai menuju kamar, tak mengindahkan keberadaan Karina yang sedang menyapu lantai di dekatnya.

Sepuluh menit kemudian, Fadel kembali keluar, kali ini sudah berpakaian lengkap. Dan seperti biasa, penampilan pria itu selalu berhasil membuat dada Karina bergemuruh menahan perasaan yang campur aduk.

Fadel, pria yang selalu mengaku bisnisnya hancur dan tak punya uang sepeser pun untuk membeli beras, kini berdiri di depan cermin kecil di ruang tengah. Ia mengenakan kemeja katun berlengan pendek merek ternama yang bahannya jatuh pas di tubuh atletisnya—kemeja yang dulu dibeli saat masa jaya, namun masih dirawat dengan sangat baik. Celana chino berwarna khaki membalut kakinya dengan sempurna. Ia tengah mengoleskan pomade mahal ke rambutnya, menyisirnya ke belakang hingga tatanannya terlihat klimis dan sangat profesional.

Karina yang sedang mengelap meja makan mencuri pandang ke arah suaminya. Ada kontras yang begitu menyakitkan antara realita kehidupan mereka di dalam rumah dan penampilan Fadel. Karina memakai daster kusam bermotif bunga yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu, rambutnya hanya dicepol asal menggunakan karet gelang yang biasa ia pakai untuk mengikat plastik paket, dan wajahnya polos tanpa riasan apa pun selain kantung mata yang tebal. Sementara Fadel, ia terlihat seperti direktur muda yang siap memimpin rapat penting di gedung bertingkat ibu kota.

Ketika Fadel menyemprotkan parfum ke area leher dan pergelangan tangannya, aroma maskulin yang mewah dan elegan langsung menguar, menutupi bau pengap rumah kontrakan mereka. Aroma itu jelas bukan berasal dari parfum isi ulang pinggir jalan seharga dua puluh ribu rupiah yang biasa dibeli orang-orang dengan kondisi ekonomi pas-pasan.

Fadel melangkah menuju meja makan, menarik kursi kayunya, lalu duduk. Ia mengambil ponselnya, menatap layarnya sejenak, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil sebelum ia mengetikkan sesuatu dengan cepat. Ia meletakkan ponsel itu di sebelahnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, lalu mulai menyendok nasi goreng yang disiapkan Karina.

Karina duduk di seberang meja, menunduk menatap piring plastiknya sendiri. Tangannya meremas kuat ujung dasternya. Ia harus membicarakan masalah utang itu sekarang. Ia tidak punya waktu lagi. Jika ia membiarkan Fadel pergi begitu saja, jam sepuluh nanti ia akan menghadapi teror itu sendirian.

"Mas..." panggil Karina ragu-ragu. Suaranya nyaris terdengar seperti cicitan tikus yang ketakutan.

Fadel hanya berdehem panjang, sibuk memotong telur setengah matangnya tanpa sedikit pun menoleh pada Karina. Ia mengunyah pelan, tampak menikmati masakannya.

Karina menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dadanya. "Mas, aku mau bicara sebentar sebelum Mas berangkat. Soal... soal pesan dari bank yang kemarin malam aku kasih tahu ke Mas."

Gerakan sendok Fadel seketika terhenti di udara. Senyum kecil yang tadi sempat menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh gurat rahang yang menegang dan sorot mata yang menggelap tajam. Ia meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar ke atas piring hingga menimbulkan bunyi clanking yang nyaring.

"Pagi-pagi begini, udara masih segar, aku baru mau berangkat cari rezeki, kamu sudah bahas soal utang. Kamu nggak punya topik obrolan lain yang lebih enak didengar, ya? Memangnya kamu nggak bisa lihat aku ini mau sarapan tenang?!" Nada suara Fadel rendah, namun intonasinya sangat mengintimidasi.

Karina menelan ludah, tangannya yang berada di bawah meja mulai bergetar. "Bukannya aku sengaja mau bikin Mas nggak tenang. Tapi ini darurat, Mas. Semalam, jam tiga pagi, debt collector dari pihak bank kirim SMS lagi. Mereka bilang itu peringatan terakhir. Kalau hari ini sebelum jam sepuluh pagi kita nggak bayar cicilan yang nunggak tiga bulan itu, mereka bakal datang ke rumah pakai tim lapangan kedua. Mereka ancam mau sita barang dan bawa masalah ini ke jalur hukum atas nama penggelapan uang..." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Karina, suaranya bergetar menahan tangis. "Mas, utang itu kan atas namaku... Aku takut, Mas. Aku takut ditangkap polisi. Aku takut dipermalukan di depan tetangga..."

Alih-alih merasa bersalah atau menunjukkan simpati, wajah Fadel justru memerah menahan amarah yang meledak. Ia menatap Karina dengan tatapan merendahkan, seolah wanita di depannya ini adalah mahluk paling bodoh sedunia.

"Lalu kamu mau aku melakukan apa, Karina?! Kamu mau aku cetak uang daun di belakang rumah?!" bentak Fadel tajam. "Kamu pikir aku di luar sana ngapain? Main-main?! Aku ini setiap hari keliling panas-panasan cari investor, cari proyek, ngemis-ngemis kerjaan ke teman-teman lamaku! Itu semua buat siapa? Buat kita! Buat bayar utang-utang itu!"

"Ta... tapi Mas, mereka minta hari ini. Nggak ada waktu lagi. Tolong, Mas, hubungi teman Mas, pinjam uang dulu buat nutupin tagihan bulan ini saja. Atau... atau mobil Mas kita gadaikan dulu BPKB-nya..." ucap Karina putus asa, memberikan solusi yang selama ini tak pernah berani ia ucapkan.

Mendengar kata 'mobil digadaikan', mata Fadel melotot marah. Ia memukul meja makan dengan telapak tangannya. Brak!

Karina berjengit kaget, tubuhnya menyusut ke belakang kursi.

"Otakmu di mana, hah?!" teriak Fadel, urat di lehernya menonjol. "Gadaikan mobil?! Kalau mobil digadaikan, aku mau ketemu klien pakai apa? Pakai angkot?! Naik ojek?! Mana ada investor yang mau kasih proyek miliaran kalau lihat aku turun dari angkot kucel! Kamu itu nggak pernah berpikir panjang! Bisanya cuma menuntut, menekan, menyusahkan!"

Fadel menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Karina. "Dengar ya, Karina. Utang itu memang dari proyekku, tapi yang tanda tangan di kertas bank itu nama kamu! Harusnya kamu sebagai istri yang ikut menikmati hasil kerjaku pas lagi jaya dulu, sekarang bantu putar otak cari jalan keluar! Bukannya malah merengek minta aku yang selesaikan semuanya dalam semalam!"

Karina terbelalak. Dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. "Mas, aku ikut nikmati apa? Selama ini kita cuma ngontrak! Uangnya Mas yang pegang, Mas yang putar buat proyek yang hancur itu! Dan aku sudah bantu putar otak, Mas! Aku jualan daster online! Aku jadi admin katering! Semalam aku begadang sampai jam empat pagi buat kerjain laporan pembukuan toko bangunan orang! Semua uangnya aku pakai buat makan kita, buat bayar cicilan motor Mas, buat listrik! Aku banting tulang sampai sakit, Mas!" Air mata Karina akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya. Ia tak kuasa lagi menahan rasa tidak adil yang membakar dadanya.

Namun, air mata Karina sama sekali tidak menggerakkan hati Fadel. Pria itu justru tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat kejam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada.

"Oh, jadi sekarang kamu mau perhitungan sama suamimu sendiri? Kamu mau mengungkit-ungkit recehan hasil jualan dastermu itu?" Fadel menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, mendecak dengan nada meremehkan. "Coba kamu hitung, berapa penghasilan dari kerjamu itu? Sebulan dapat tiga juta? Empat juta? Uang segitu mau dipakai bayar utang lima puluh juta? Yang logis sedikit kalau bicara! Lagipula, ke mana sisa uang jualanmu itu? Harusnya kalau kamu pintar mengatur uang, pintar mengelola keuangan rumah tangga, sisa cicilan bulan lalu sudah tertutup! Jangan-jangan... uangnya sengaja kamu sembunyikan, ya? Atau diam-diam kamu transfer ke ibumu di kampung tanpa sepengetahuanku?!"

"Astaghfirullah, Mas Fadel!" pekik Karina tak percaya. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar fitnah suaminya. "Tega sekali kamu ngomong begitu! Ibuku di kampung bahkan sampai mau kirim uang pensiunannya buat bantu aku makan di sini karena tahu kamu bangkrut, tapi aku tolak karena aku malu! Semua uangku habis buat nutupin kebutuhan rumah ini yang nggak pernah kamu pedulikan! Kamu nggak pernah kasih aku nafkah sepeser pun selama delapan bulan terakhir!"

Mendengar perlawanan Karina yang lebih keras dari biasanya, harga diri Fadel sebagai pria tersengat. Ia tiba-tiba berdiri kasar dari kursinya, membuat kursi kayu itu terdorong ke belakang dengan suara nyaring bergesekan dengan lantai. Ia melangkah cepat mengitari meja dan berdiri menjulang tepat di samping Karina yang sedang menangis tergugu.

Tanpa basa-basi, Fadel mencengkeram lengan atas Karina dengan kuat, menarik wanita itu hingga terpaksa berdiri dari kursinya.

"Aw! Sakit, Mas!" rintih Karina, berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya yang terasa seperti cakar besi.

"Dengar baik-baik," desis Fadel tepat di depan wajah Karina. Matanya menyiratkan ancaman yang gelap. "Aku ini suamimu. Imammu. Jangan pernah kamu berani meninggikan suaramu kepadaku! Kalau kamu mau masalah ini selesai, urus sana sendiri! Hadapi debt collector itu! Bilang pada mereka suamimu sedang berjuang! Kalau kamu tidak kuat mental, jangan sok-sokan ikut campur urusan bisnis!"

Fadel menghempaskan lengan Karina dengan kasar. Karena tubuhnya yang lemas kurang tidur dan kurang makan, dorongan kuat itu membuat keseimbangan Karina goyah. Pinggangnya membentur ujung meja makan dengan keras.

"Aah!" Karina meringis kesakitan, memegangi pinggangnya sambil berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh ke lantai.

Fadel bahkan tidak berkedip melihat istrinya kesakitan. Ia meraih ponselnya dari atas meja, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menatap Karina dengan pandangan jijik yang paling dalam.

"Istri tidak berguna. Pagi-pagi sudah bikin mood orang hancur," makinya pelan namun tajam.

Fadel melangkah lebar menuju pintu depan, membuka kunci, dan melenggang keluar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sedetik kemudian, terdengar suara mesin mobil Civic dihidupkan, menderu keras, lalu melaju pergi meninggalkan rumah, meninggalkan istrinya yang terluka secara fisik dan mental, terjebak dalam masalah yang ia ciptakan sendiri.

Di dalam ruang makan yang kini terasa sangat senyap, Karina perlahan merosot turun ke lantai. Ia duduk bersimpuh di atas ubin yang dingin, menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada kaki meja makan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya. Tangisannya pilu, memecah kesunyian pagi yang seharusnya damai. Ia meratapi nasibnya yang malang. Ia meratapi betapa bodohnya dirinya yang dulu mau saja diperalat oleh atas nama cinta dan kepatuhan.

Ia merasa sebatang kara. Sendirian menghadapi ancaman penjara, sanksi sosial, dan kehancuran masa depan. Sementara pria yang seharusnya melindunginya dengan nyawanya sendiri, justru menjadi orang pertama yang mendorongnya ke tepi jurang.

Sekitar lima belas menit berlalu. Tangisan Karina mulai mereda menjadi isakan-isakan kecil. Air matanya sudah kering, digantikan oleh mati rasa yang membuat dadanya terasa hampa. Ia menarik napas panjang berulang kali, mencoba memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya yang terasa tercekik.

Aku tidak boleh hancur sekarang, batinnya mengingatkan diri sendiri dengan putus asa. Aku harus kuat. Jam sembilan aku harus buka pesanan online. Aku harus balas chat pelanggan. Aku... aku harus bersiap kalau orang-orang itu benar-benar datang jam sepuluh nanti.

Dengan tertatih, Karina memaksa tubuhnya yang ngilu untuk berdiri. Ia memandangi sisa sarapan Fadel di atas meja. Nasi goreng yang hanya dimakan tiga sendok. Telur ceplok yang masih utuh sebagian. Makanan yang dibuat dengan cinta dan keringatnya, ditinggalkan begitu saja seperti sampah. Rasa mual kembali menyerangnya, tapi kali ini bukan karena ancaman utang, melainkan rasa muak yang teramat sangat pada suaminya.

Karina mengambil piring-piring kotor itu dan membawanya ke tempat cucian piring di dapur kecilnya. Setelah meletakkan piring, ia mengambil sapu ijuk dari sudut ruangan. Ia butuh menyibukkan diri secara fisik untuk mengalihkan pikiran cemasnya yang hampir membuatnya gila.

Ia mulai menyapu lantai ruang makan dengan gerakan kasar. Saat sapunya menyapu area bawah kursi yang tadi diduduki Fadel, ujung sapunya mengenai sebuah benda kecil dari kertas yang tergeletak di lantai. Benda itu bergeser pelan di atas ubin.

Karina menghentikan gerakannya. Ia menunduk. Selembar kertas kecil berbentuk persegi panjang, terlihat seperti struk belanjaan yang terlipat dan jatuh.

Dengan rasa penasaran yang tipis—mungkin itu struk bensin atau tol yang jatuh dari saku celana Fadel—Karina membungkuk dan memungut kertas itu. Ia membukanya perlahan. Kertas thermal itu masih tercetak sangat jelas, menandakan bahwa struk itu belum lama dicetak.

Mata Karina menyipit, membaca logo yang tercetak di bagian paling atas struk.

La Boutique des Parfums - Grand Mall Center

Itu adalah nama salah satu butik parfum internasional ternama yang terletak di mal paling mewah di pusat kota, tempat yang bahkan untuk masuk saja Karina merasa minder karena pakaiannya yang lusuh.

Tanggal yang tertera di sana membuat alis Karina bertaut bingung. 12 April 2026. 14:30 WIB. Itu baru dua hari yang lalu. Hari Minggu. Saat itu, Fadel pamit pergi dari pagi hingga larut malam dengan alasan meeting penting dengan calon investor di luar kota.

Pandangan Karina kemudian turun ke baris rincian barang yang dibeli.

1x Dior Sauvage Eau de Parfum 100ml

Harga: Rp. 3.550.000,-

Total Pembayaran: Rp. 3.550.000,-

Metode Pembayaran: KARTU DEBIT MANDIRI (xxxx-xxxx-xxxx-8891)

Dunia Karina terasa berhenti berputar selama beberapa detik. Udara di sekelilingnya seolah tersedot habis, membuatnya sulit bernapas. Ia mematung, matanya terpaku pada deretan angka yang tercetak tebal di bagian bawah struk tersebut.

Tiga juta lima ratus lima puluh ribu rupiah.

Angka itu berdengung di kepalanya. Tiga setengah juta. Untuk satu botol parfum pria berukuran seratus mililiter.

Karina mulai menghitung tanpa sadar di dalam kepalanya. Tiga setengah juta rupiah adalah biaya makan mereka untuk dua bulan. Tiga setengah juta rupiah bisa digunakan untuk membayar uang muka negosiasi kepada debt collector yang akan datang menjemput nyawanya jam sepuluh nanti. Tiga setengah juta rupiah berarti ia harus menjual lebih dari seratus daster tanpa tidur berminggu-minggu.

Suaminya bilang ia tidak punya uang bahkan untuk sekadar membeli beras. Suaminya bilang ia sedang berdarah-darah di jalanan mencari investor. Suaminya menyalahkannya karena tidak becus mengatur uang belanja yang tak pernah ada. Suaminya membiarkannya menangis ketakutan diancam masuk penjara demi melunasi utang bisnisnya.

Lalu... dari mana Fadel punya uang tiga setengah juta untuk membeli parfum mewah di hari Minggu kemarin?!

Dan yang lebih membuat jantung Karina mencelos adalah metode pembayarannya. Kartu Debit Mandiri. Fadel mengatakan semua rekening banknya sudah diblokir dan dikuras habis karena kebangkrutan setahun lalu. Karina tahu persis semua rekening Fadel. Tapi ia tidak pernah tahu Fadel memiliki nomor rekening dengan empat digit belakang 8891.

Tangan Karina bergetar hebat. Kertas struk kecil itu seolah membakar telapak tangannya. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke dinding dapur yang catnya sudah mengelupas.

Luka di hatinya yang tadinya hanya berupa sayatan akibat kata-kata kasar dan perlakuan kasar Fadel pagi ini, seketika robek dan menganga sangat lebar. Ini bukan lagi sekadar amarah karena tidak dihargai. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih gelap. Sesuatu yang berbau kebohongan luar biasa besar.

"Mas Fadel... membohongiku?" bisik Karina dengan suara yang hampir tak terdengar, diucapkan di antara tarikan napasnya yang putus-putus.

Kecurigaan gelap mulai merayap naik, menyelimuti pikiran positif yang selama ini mati-matian ia pertahankan. Parfum mewah. Penampilan klimis setiap hari. Uang misterius yang tiba-tiba muncul di rekening rahasia.

Karina meremas struk itu kuat-kuat di dalam genggamannya. Air mata yang tadi sudah kering kini kembali menumpuk, namun kali ini bukan air mata keputusasaan atau ketakutan. Ini adalah air mata pengkhianatan.

Di tengah ancaman debt collector yang semakin dekat, diamnya Karina pagi ini berubah wujud. Ia bukan lagi istri yang pasrah meratapi nasib di sudut dapur. Ia adalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa selama ini, ia telah berkorban nyawa untuk orang yang mungkin menari bahagia di atas penderitaannya. Dan sebuah pertanyaan besar yang mengerikan kini mulai mengakar kuat di kepalanya: Apa lagi yang selama ini disembunyikan oleh Fadel?