Malam merangkul rumah kontrakan itu dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Namun di atas kasur busa yang tipis dan keras di kamar utama, Karina justru merasa sedang dipanggang di atas bara api.

Demamnya semakin tinggi. Seluruh tubuhnya menggigil hebat, sementara peluh dingin sebesar biji jagung terus merembes keluar dari pori-porinya, membasahi daster yang belum sempat ia ganti sejak pagi. Persendiannya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum kasat mata, membuat setiap pergerakan sekecil apa pun terasa menyiksa. Kepalanya berdenyut brutal, berirama seiring dengan detak jantungnya yang berpacu terlalu cepat.

Karina meringkuk di bawah selimut tipis bermotif bunga yang warnanya sudah memudar. Giginya bergemeretak menahan dingin yang anehnya berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Ia sendirian di dalam kamar yang gelap gulita. Lampu sengaja dimatikan karena cahaya terang membuat matanya semakin perih.

Sore tadi, setelah Fadel melontarkan kalimat kejamnya, pria itu langsung masuk ke kamar mandi, berganti pakaian, mengambil map yang ia cari, lalu pergi lagi dengan membanting pintu. Meninggalkan Karina yang harus bersusah payah bangkit sendiri, menyeret tubuhnya yang sakit untuk menyelesaikan packing, dan menyerahkannya kepada kurir dengan wajah sepucat mayat.

Karina tidak memiliki tenaga lagi untuk sekadar berjalan ke dapur, mencari obat penurun panas atau segelas air hangat. Perutnya kosong, belum terisi makanan berat sejak dua hari yang lalu, namun rasa mual mencegahnya untuk memikirkan makanan. Ia hanya bisa berbaring, pasrah pada rasa sakit yang menggerogoti fisiknya, sambil membiarkan pikirannya dihantui oleh ingatan-ingatan yang menyiksa batinnya.

Dulu, saat mereka baru menikah, Fadel tidak seperti ini. Karina ingat betul, suatu hari saat awal pernikahan mereka, ia pernah terkena flu berat. Fadel yang saat itu baru merintis usahanya, rela membatalkan pertemuan penting demi membelikannya bubur ayam di ujung jalan. Pria itu menyuapinya dengan telaten, mengompres dahinya dengan handuk hangat, dan memeluknya sepanjang malam agar Karina merasa hangat. Kenangan itu begitu manis, namun kini terasa begitu fiktif, seolah itu terjadi di kehidupan yang lain, dengan pria yang sama sekali berbeda.

Di mana Fadel yang dulu? Apakah kesulitan ekonomi benar-benar bisa mengubah seseorang menjadi monster yang kehilangan hati nurani?

Atau...

Pikiran Karina kembali pada struk parfum Dior Sauvage seharga tiga setengah juta rupiah, dan metode pembayaran dari kartu debit yang sengaja dirahasiakan darinya.

Atau... jangan-jangan Mas Fadel memang tidak pernah bangkrut? Pertanyaan itu melintas di benaknya, menghadirkan rasa ngeri yang luar biasa. Jika Fadel tidak bangkrut, lalu untuk apa pria itu membiarkan istrinya hidup menderita? Untuk apa Fadel membiarkannya diancam debt collector atas utang pinjaman modal yang bunganya terus membengkak? Ke mana larinya uang proyek yang katanya dibawa kabur rekan kerjanya itu?

Semakin Karina berpikir, semakin kepalanya terasa ingin pecah.

Suara derit pintu kamar yang terbuka memecah lamunan Karina yang menyakitkan. Cahaya dari ruang tengah menyusup masuk, menyilaukan mata Karina yang terbiasa dalam gelap. Sesosok tubuh tinggi melangkah masuk. Itu Fadel. Pria itu baru saja pulang entah dari mana. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Karina membuka matanya setengah, mengamati suaminya dari balik selimut. Fadel berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu kamar hingga terang benderang.

"Mas... tolong matikan lampunya... mataku silau," rintih Karina dengan suara yang sangat lemah, nyaris tak terdengar.

Fadel menoleh, menatap istrinya yang meringkuk kedinginan di atas kasur. Wajah pria itu tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran. Sebaliknya, ia tampak sangat segar. Rambutnya masih tertata rapi, pakaiannya tidak terlihat kucel sedikit pun, dan yang paling menyayat hati Karina adalah aroma parfum mahal itu kembali menguar, memenuhi ruang kamar yang pengap.

Aroma kesuksesan dan kemewahan yang sangat kontras dengan kemiskinan yang mencekik rumah ini.

"Gelap-gelapan begini kamu pikir ini kuburan?" sahut Fadel ketus. Ia tidak mengindahkan permintaan Karina. Ia berjalan menuju lemari pakaian, membuka pintunya dengan santai. "Lagi pula aku mau ganti baju. Susah cari baju kalau gelap."

Karina memejamkan mata, menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin berdenyut akibat cahaya lampu yang menusuk. "Mas... aku demam tinggi. Tadi sore aku sampai jatuh. Badanku ngilu semua... Boleh aku minta tolong... ambilkan obat penurun panas di kotak P3K dekat dapur? Sama air putih hangat, Mas. Tolong..."

Karina membuang jauh-jauh ego dan harga dirinya. Ia benar-benar butuh bantuan malam ini. Tubuhnya terasa seperti akan menyerah jika tidak segera diobati.

Fadel menghentikan gerakannya yang sedang melepaskan kancing kemeja. Ia menatap Karina dari pantulan cermin lemari. Terdengar helaan napas panjang yang sarat akan rasa jengkel.

"Kamu ini, ya. Kalau sudah sakit manja sekali. Dari pagi bikin orang pusing saja urusannya," gerutu Fadel tanpa belas kasihan.

Pria itu berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah berat yang dihentak-hentakkan sengaja, menunjukkan ketidaksukaannya disuruh-suruh oleh sang istri. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa segelas air putih bersuhu ruang—bukan air hangat seperti yang Karina minta—dan melemparkan satu strip obat parasetamol murahan ke atas kasur, tepat di samping wajah Karina.

Air dari gelas yang dibawa Fadel tumpah sedikit, membasahi seprai di dekat bantal Karina.

"Itu obatnya. Minum sendiri. Aku belum makan malam, capek. Jangan banyak menyuruh," ucap Fadel dingin, meletakkan gelas dengan kasar di atas meja nakas kecil di sebelah kasur.

Pria itu kemudian mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi di luar kamar untuk membersihkan diri, meninggalkan istrinya yang bahkan terlalu lemah untuk memungut obat yang dilemparkan ke wajahnya itu.

Karina menatap strip obat di sampingnya dengan pandangan nanar. Air mata panas mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal yang sudah lembab oleh keringat dingin. Tidak ada sentuhan di dahi untuk mengecek suhunya. Tidak ada pertanyaan lembut menanyakan keadaannya. Tidak ada pelukan hangat. Pria itu memperlakukannya lebih buruk dari seorang pembantu yang sakit. Setidaknya, majikan yang baik masih punya simpati. Fadel tidak punya itu sama sekali.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Karina bersusah payah mengeluarkan satu tablet obat dari bungkusnya. Tangannya bergetar hebat saat ia berusaha mengangkat kepalanya untuk menelan obat tersebut bersama tegukan air bersuhu ruang yang tidak nyaman di kerongkongannya yang meradang. Setelah obat itu tertelan, ia kembali ambruk ke atas bantal, menarik selimutnya semakin tinggi, mencoba mencari kehangatan yang tak kunjung datang.

Beberapa menit kemudian, Fadel kembali ke kamar dengan pakaian tidur yang nyaman. Aroma sabun mandi bercampur sisa parfum menempel di tubuhnya.

Bukannya berbaring di samping Karina atau setidaknya mengecek apakah istrinya sudah meminum obat, Fadel justru duduk di kursi berlengan tunggal yang terletak di sudut kamar, tidak jauh dari ranjang.

Karina yang setengah sadar dalam kungkungan demamnya, memutar kepalanya sedikit untuk mengamati sang suami. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar napas Karina yang memburu dan suara detik jam dinding.

Di sudut ruangan, Fadel menyandarkan tubuhnya dengan santai. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Layar ponsel itu menyala terang, memantulkan cahaya ke wajah Fadel dalam kegelapan yang diciptakan oleh posisi duduknya.

Dan pemandangan yang tersaji di depan mata Karina selanjutnya adalah siksaan mental yang paling kejam dari semua penderitaan hari itu.

Fadel, pria yang selalu bermuka masam, pria yang baru saja mengomeli istrinya yang sedang sekarat karena demam, pria yang mengeluh stres karena dikejar utang... kini sedang tersenyum.

Bukan senyum tipis biasa. Itu adalah senyum lebar yang merekah tulus, menampilkan gigi putihnya. Matanya berbinar-binar penuh ketertarikan. Jemarinya lincah mengetik sesuatu di atas layar, lalu ia berhenti sejenak, menunggu balasan. Saat layar ponselnya kembali berkedip, Fadel tertawa pelan. Tawa yang sangat lembut, penuh kasih sayang, dan terdengar begitu bahagia. Tawa yang tidak pernah Karina dengar lagi selama lebih dari setahun terakhir.

Di atas kasur, tubuh Karina yang semula menggigil kedinginan, kini mendadak membeku seolah aliran darahnya berhenti total. Matanya terbelalak lebar, menatap suaminya dengan perasaan ngeri bercampur sakit hati yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Pria itu tidak sedang mengurusi bisnis. Pria yang stres tidak akan tersenyum dan tertawa semanis itu di depan layar ponsel pada pukul setengah dua belas malam. Ada dunia lain di dalam layar kecil itu. Sebuah dunia di mana Fadel merasa hidup, bahagia, dan memiliki uang untuk membeli parfum seharga tiga setengah juta rupiah. Dan di dalam dunia itu... jelas tidak ada ruang untuk Karina.

Kontras pemandangan di kamar itu terasa sangat menyayat hati. Di satu sisi, seorang istri sah terbaring lemah, hancur secara fisik dan mental, merintih menahan demam tinggi sendirian dalam dingin. Di sisi lain, sang suami duduk dengan nyaman, wangi, bersih, dan tersenyum bahagia berbalas pesan dengan entah siapa.

Karina meremas selimutnya dengan kuat. Dadanya sesak luar biasa, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya dari dalam. Ia ingin berteriak. Ia ingin merebut ponsel itu dan menghantamkannya ke wajah Fadel. Namun tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk melakukan itu semua.

"Mas..." panggil Karina pelan, nyaris seperti embusan angin. Ia sengaja ingin menguji suaminya. "Kepalaku sakit sekali..."

Fadel bahkan tidak menoleh sedikit pun. Ia terlalu asyik dengan dunianya. Ia justru memutar tubuhnya membelakangi ranjang, seolah suara rintihan Karina adalah nyamuk pengganggu yang tidak perlu dihiraukan. Ia kembali mengetik dengan senyum yang semakin mengembang di wajahnya.

Tiba-tiba, perut Fadel berbunyi lirih. Pria itu menghentikan ketikannya, mengusap perutnya pelan. Ia menoleh ke arah pintu kamar, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Aku bikin mi instan dulu di dapur."

Fadel meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja rias kecil di dekat kursinya, dengan posisi layar menghadap ke atas. Ia kemudian melangkah keluar kamar menuju dapur, membiarkan pintu terbuka setengah.

Jantung Karina berdetak liar di dalam dadanya. Adrenalin tiba-tiba mengalir deras, untuk sesaat mengalahkan rasa lemas akibat demamnya. Sebuah dorongan kuat yang bersumber dari rasa penasaran yang membakar dan insting seorang wanita yang terluka, memaksanya untuk bergerak.

Dengan tubuh yang bergetar hebat dan napas terengah-engah, Karina memaksakan diri untuk bangun dari kasur. Ia menyingkap selimutnya, menurunkan kakinya yang terasa seperti agar-agar ke lantai yang dingin. Ia berpegangan pada tepi ranjang, lalu merambat perlahan menuju meja rias tempat Fadel meletakkan ponselnya. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung batu dengan kaki telanjang.

Jarak lima langkah itu terasa sangat jauh. Namun, begitu ia sampai di depan meja rias, napasnya tercekat.

Layar ponsel Fadel memang terkunci, menampilkan lockscreen dengan gambar default. Namun, sebuah notifikasi pesan masuk baru saja muncul, menyalakan layar ponsel itu dengan terang, menampilkan informasi yang dengan sengaja dibiarkan terekspos karena sang pemilik terlalu ceroboh, merasa aman dalam kebohongan yang ia ciptakan.

Mata Karina yang memerah karena demam dan tangis, terpaku pada barisan huruf yang tertera jelas di kotak notifikasi putih tersebut.

Ada sebuah pesan WhatsApp yang baru saja masuk. Nama kontaknya tidak disembunyikan.

Haura ❤️

Aku juga kangen banget, Sayang. Besok siang temenin aku fitting baju di butik biasa ya. 😘

Bumi seolah berhenti berputar. Udara di paru-paru Karina tersedot habis. Kakinya kehilangan tenaga sepenuhnya, membuatnya nyaris terjatuh jika ia tidak segera berpegangan kuat pada ujung meja rias.

Haura. Sayang. Emoji hati merah. Fitting baju di butik.

Baris-baris kata itu seperti godam godam raksasa yang menghantam ubun-ubun Karina, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya malam itu. Kebohongan yang selama ini berusaha ia sangkal, kini berdiri telanjang di depan matanya. Suaminya bukan bangkrut. Suaminya bukan sedang berjuang.

Suaminya sedang membiayai wanita lain, menghujaninya dengan parfum mewah, memanggilnya sayang, sementara membiarkan istrinya sendiri kelaparan dan sekarat diancam jeruji penjara demi menutupi semua pengeluarannya.

Karina tidak menangis. Anehnya, air matanya sudah tidak bisa keluar lagi. Di tengah tubuhnya yang menggigil hebat karena demam empat puluh derajat, ada sebuah api kecil yang baru saja menyala di sudut hatinya yang paling gelap. Api yang tidak lagi mencari kehangatan, melainkan keadilan.

Dengan susah payah, Karina memutar tubuhnya, berjalan kembali ke ranjangnya sebelum Fadel kembali dari dapur. Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, menyembunyikan getaran hebat yang kini bukan hanya karena demam, tapi karena amarah yang mulai mendidih di dalam nadinya.

Haura.

Karina mengukir nama itu dalam-dalam di ingatannya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Karina bersumpah tidak akan lagi menjadi pemeran figuran yang selalu menangis di akhir cerita.