Aroma mentega yang meleleh sempurna di atas wajan teflon anti lengket menguar, memenuhi setiap sudut udara di dapurku dengan wangi gurih yang selalu berhasil membangkitkan selera. Di depanku, sebuah ring light berukuran sedang berdiri kokoh di atas meja island marmer berwarna putih bersih. Cahayanya yang hangat memantul di bola mataku, membuat wajahku tampak lebih cerah dan segar di layar ponsel yang sedang menyiarkan siaran langsung.

Aku menyelipkan seuntai rambut yang lolos dari jepit badai ke belakang telinga, lalu tersenyum lembut ke arah lensa kamera. Di sudut kiri atas layar, angka penonton terus merangkak naik. Dari lima ratus, delapan ratus, hingga akhirnya menembus angka seribu dua ratus orang dalam waktu kurang dari lima belas menit. Sebagai seorang influencer di bidang parenting dan gaya hidup keluarga dengan lebih dari tujuh ratus ribu pengikut, angka ini adalah hal yang biasa, sebuah rutinitas sore yang selalu kunikmati.

"Jadi, kuncinya ada di api ya, Bunda-bunda," ucapku dengan nada suara yang kuatur senyaman dan seakrab mungkin, persis seperti seorang teman yang sedang berbagi resep di meja makan. Tanganku yang memegang spatula kayu mulai mengaduk potongan ayam fillet yang perlahan berubah warna menjadi kecokelatan menggiurkan. "Pastikan apinya kecil saja saat saus teriyakinya sudah masuk. Kalau apinya terlalu besar, gulanya nanti cepat menjadi karamel yang gosong, dan rasanya jadi ada pahit-pahitnya. Mas Rizki, suamiku, itu paling sensitif lidahnya. Dia nggak suka kalau ada rasa pahit sedikit saja di makanannya."

Kolom komentar di bagian bawah layar meluncur deras dari bawah ke atas, berkejaran menampilkan deretan teks, pujian, dan sapaan hangat yang selama tiga tahun terakhir ini menjadi energi positif bagiku.

‘Wah, kelihatan enak banget, Kak Haura! Warnanya cantik, pasti bumbunya meresap sempurna. Nanti malem mau coba recook ah buat suami.’

‘Mas Rizki beruntung banget punya istri pinter masak, sabar, cantik, keibuan lagi. Paket komplit banget Kak Haura ini.’

‘Kayla pasti seneng banget dibekalin ayam teriyaki ini ke sekolah besok. Keluarga idaman banget sih kalian, selalu harmonis dan adem lihatnya.’

Aku tertawa kecil, tawa yang tulus dari dasar hatiku saat membaca komentar terakhir. "Makasih banyak, Kak Dinda. Iya nih, Kayla memang sudah request ayam teriyaki ini dari semalam sebelum tidur. Katanya dia mau pamer ke teman-teman di TK kalau bekal buatan mamanya paling enak. Namanya juga anak-anak, kalau sudah ada maunya dan nggak diturutin, nanti ngambeknya bisa seharian penuh. Sebagai ibu, melihat anak makan dengan lahap itu rasanya capek seharian langsung hilang, kan?"

Aku menunduk sedikit, merogoh sebuah toples kecil berisi biji wijen yang sudah kusangrai, lalu menaburkannya perlahan ke atas wajan. Suara desis minyak yang berpadu dengan bumbu kental terdengar bagai melodi yang menenangkan. Dapur ini, dengan segala desain minimalis Skandinavia-nya, adalah istanaku. Semuanya terasa begitu sempurna, begitu berada dalam kendaliku. Hidupku terasa berjalan di atas rel yang sangat lurus dan aman.

Aku memiliki seorang suami yang luar biasa. Rizki adalah pria mapan yang selalu memprioritaskan keluarga, tidak pernah meninggikan suara, dan selalu pulang ke rumah sebelum jam makan malam. Aku juga memiliki Kayla, malaikat kecilku yang cerdas dan menggemaskan. Ditambah dengan komunitas pengikut di dunia maya yang selalu mendukung setiap langkahku, membelaku saat ada komentar miring, dan memberiku penghasilan tambahan yang tidak sedikit dari berbagai endorsement. Aku adalah representasi dari kebahagiaan rumah tangga modern yang diidamkan oleh banyak perempuan di luar sana.

Setidaknya, itulah kenyataan absolut yang kuyakini hingga detik ini.

Ketika aku kembali mengangkat wajah, bersiap untuk membacakan satu atau dua komentar lagi sebelum menutup siaran langsung, senyum di bibirku perlahan membeku. Otot-otot di wajahku terasa kaku secara tiba-tiba.

Kolom komentar yang tadinya dipenuhi deretan emoji hati merah, tepuk tangan, dan kalimat-kalimat manis, dalam sepersekian detik berubah wujud. Sebuah akun tanpa foto profil—hanya gambar siluet abu-abu bawaan Instagram—dengan nama pengguna berupa deretan angka acak, mengirimkan sebuah kalimat yang seolah menampar mataku.

User99281: Pencitraan banget lo, nyet. Di depan kamera sok suci, sok keibuan, aslinya sampah.

Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat. Darahku berdesir aneh. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna rentetan kata kasar yang baru saja melintas di layar. Pikiranku berusaha merasionalisasi. Mungkin hanya haters nyasar, batinku mencoba menenangkan diri. Dalam dunia maya, sesempurna apa pun kita bersikap, pasti akan selalu ada satu atau dua orang yang tidak suka. Sebuah komentar pedas adalah risiko pekerjaan yang sudah biasa kuhadapi. Aku menarik napas panjang, memasang senyum profesional, dan bersiap untuk sekadar mengabaikannya.

Namun, sebelum aku sempat membuka mulut untuk mengalihkan pembicaraan, komentar lain muncul.

Bukan hanya satu. Bukan hanya dua. Melainkan puluhan, lalu ratusan komentar yang mengalir secepat kilat, menciptakan dinding teks penuh kebencian yang menenggelamkan sama sekali sisa-sisa komentar positif dari pengikut setiaku.

Anon_Keadilan: Woy, ibu manipulatif! Kasihan anak lo diajarin bohong dari kecil. Hidup lo isinya cuma kebohongan publik!

BongkarFakta: Donasi panti asuhan bulan lalu dikemanain, Haura?! Masuk kantong sendiri buat beli tas Hermes ya? Najis banget makan uang anak yatim.

CintaKebenaran: Kasian suaminya dapet istri uler kek gini. Di balik pintu rumah teriak-teriak kayak orang gila, main tangan ke anak, di kamera sok lembut. Psikopat!

AntiHaura: Perempuan toxic! Nggak pantes dipanggil ibu! Muka dua!

NetizenMahaBenar: Boikot Haura! Jangan mau beli barang dari sponsor dia, itu uang haram hasil nipu orang! #CancelHaura #HauraPembohong

Tanganku yang masih memegang spatula kayu mulai gemetar. Getaran itu merambat dengan cepat dari ujung jari, naik ke lengan, hingga membuat bahuku ikut bergetar. Logam ujung gagang wajan berdenting pelan saat tersenggol oleh spatulaku yang tak lagi terkendali, menyuarakan kepanikanku yang mendadak meledak di dalam dada. Mataku terpaku pada layar, melebar dengan napas yang mulai tersengal.

Aku membaca satu per satu hinaan yang menyerbu masuk tanpa jeda. Mereka menyebutku pembohong. Mereka menuduhku menggelapkan uang donasi—padahal demi Tuhan, semua bukti transfer, laporan pengeluaran, dan dokumentasi panti asuhan selalu kuunggah secara transparan di highlight Instagram. Mereka menyebutku ibu yang manipulatif. Mereka menuduhku menyiksa anakku sendiri.

Psikopat.

Perempuan toxic.

Sampah.

Ibu gila.

Napasanku memburu. Dadaku naik turun dengan cepat, mencoba meraup udara yang tiba-tiba terasa sangat tipis. Seolah-olah seseorang baru saja menyedot seluruh oksigen dari dapur ini, menggantinya dengan gas beracun yang mencekik tenggorokanku. Pandanganku mulai mengabur, bukan karena cahaya ring light, melainkan oleh bendungan air mata yang mendesak naik tanpa permisi, membakar pelupuk mataku.

"Ma... maaf, semuanya," suaraku keluar bergetar hebat, pecah dan sangat parau, sangat berbeda dengan nada ceria yang kugunakan beberapa menit yang lalu. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering, perih, dan seolah tercekik oleh tangan tak kasatmata. "Sepertinya... sepertinya koneksi internetku sedang tidak stabil. Aku... aku harus mematikan live ini dulu. Terima kasih... terima kasih yang sudah menonton."

Aku tidak menunggu balasan. Dengan tangan kanan yang gemetar tak karuan, aku menyentuh layar ponsel. Saking bergetarnya jemariku, aku harus mencoba tiga kali hanya untuk memencet ikon silang kecil di sudut kanan atas layar, lalu dengan panik menekan tombol konfirmasi merah untuk mengakhiri siaran langsung detik itu juga.

Layar ponsel menjadi gelap.

Angka seribu dua ratus penonton itu menghilang, meninggalkan pantulan wajahku yang pucat pasi, ketakutan, dengan mata yang mulai memerah di layar kaca ponsel.

Dapur kembali hening. Sangat hening hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang bertalu-talu menghantam tulang rusuk. Namun keheningan itu hanya bertahan sebentar, dipecahkan oleh suara letupan kecil dari wajan di depanku, disusul oleh kepulan asap putih keabuan yang membawa bau hangus menyengat. Saus teriyaki karamel yang kubanggakan tadi kini gosong, menghitam, menempel di dasar wajan, merusak daging ayam yang sudah kusiapkan dengan penuh cinta.

Seperti sebuah metafora yang kejam atas hidupku sore ini.

Aku mematikan kompor dengan gerakan kasar dan tergesa-gesa. Aku memundurkan langkah, sempoyongan, hingga punggungku menabrak keras pintu kabinet dapur. Tidak ada rasa sakit di punggungku, karena rasa sakit di kepalaku jauh lebih mendominasi. Tubuhku kehilangan seluruh daya topangnya. Aku melorot perlahan, merosot di sepanjang pintu kabinet, hingga akhirnya terduduk di atas lantai marmer yang dingin.

Kututupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku berusaha mengatur napas, menarik udara rakus-rakus dari hidung dan menghembuskannya lewat mulut, mencoba menghentikan serangan panik yang mulai mengambil alih kesadaranku. Aku mencoba mencari logika dari rentetan kejadian barusan yang terasa sangat surealis.

Kenapa ini terjadi? Dari mana asal gelombang kebencian yang mendadak ini? Sebuah cancel culture sebesar ini, serangan yang terkoordinasi rapi dengan narasi yang seragam, tidak mungkin terjadi tanpa ada pemicu besar. Tapi aku merasa tidak pernah memposting hal yang kontroversial. Aku menjauhi bahasan politik, agama, atau isu sosial yang sensitif. Kontenku murni hanya ruang aman tentang resep masakan, tips merapikan lemari, dan momen-momen lucu bermain bersama Kayla. Siapa yang kusinggung? Siapa yang marah padaku?

Ponselku yang tergeletak di atas meja island mulai bergetar. Bukan getaran panggilan masuk, melainkan getaran konstan yang tidak ada hentinya.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

Notifikasi beruntun membombardir mesin kecil itu seolah ingin meledakkannya. Melalui sela-sela jariku, aku bisa melihat kilatan cahaya yang terus-menerus menyala dari layar ponsel, menandakan ratusan—bahkan mungkin ribuan—mention, Direct Message, komentar di postingan lama, dan tag di Instagram, TikTok, serta Twitter yang masuk seperti air bah.

Setiap getaran ponsel itu terasa seperti pukulan godam tak kasatmata yang menghantam kepalaku berulang kali. Aku terlalu takut. Aku terlalu pengecut untuk sekadar berdiri dan menyentuh benda itu. Aku hanya bisa menangis dalam diam, meredam isakanku agar tak terdengar menyedihkan di rumahku sendiri.

"Haura? Sayang? Kok gelap-gelapan di sini? Bau gosong pula."

Suara berat, maskulin, dan sangat familier itu mengalun dari arah ruang keluarga, disusul oleh suara pintu utama yang ditutup. Itu Rizki. Suamiku pulang dari kantor.

Aku tersentak hebat. Refleks, aku buru-buru mengusap air mata dengan punggung tangan, menggosok pipiku yang basah dengan kasar hingga terasa perih. Aku mencoba berdiri, berpegangan pada tepi meja marmer, meski kedua lututku terasa seperti jeli yang bisa runtuh kapan saja. Aku tidak boleh terlihat hancur di depannya. Aku tidak ingin Rizki melihatku dalam keadaan berantakan, menyedihkan, dan kacau balau seperti ini. Ia sudah lelah bekerja mencari nafkah di kantor dari pagi hingga sore, menghadapi berbagai tekanan pekerjaan. Tidak seharusnya ia pulang dan disambut oleh istri yang menangis tersedu-sedu di lantai dapur hanya karena komentar netizen yang bahkan belum jelas asal-usulnya. Aku harus kuat. Aku harus menjelaskan ini padanya dengan kepala dingin.

Namun, sebelum aku sempat melepas apron kotakkotakku yang mulai terasa mencekik leher, suara lain menyela dari arah ruang keluarga.

Suara yang jauh lebih kecil. Suara yang lebih rapuh. Dan seketika, suara itu membuat seluruh aliran darah di tubuhku berhenti berdesir, membeku menjadi balok es.

"Mama..."

Aku tidak mempedulikan kakiku yang masih lemas. Aku setengah berlari, memaksakan diri keluar dari area dapur yang temaram menuju ruang keluarga yang terang benderang oleh lampu kristal gantung.

Di sana, di atas karpet bulu berwarna krem impor yang selalu kujaga kebersihannya, Kayla, putri kecilku yang baru berusia enam tahun, sedang duduk bersimpuh. Ia masih mengenakan seragam taman kanak-kanaknya yang berwarna biru muda, tas ransel kecilnya tergeletak sembarangan di sampingnya.

Di kedua tangan mungilnya, ia memegang erat sebuah ponsel berukuran besar. Ponsel milik Rizki.

Rizki sendiri sedang berdiri membelakangi Kayla, melonggarkan ikatan dasinya di depan cermin besar dekat meja konsol. Ia tampak santai, baru saja meletakkan tas kerjanya dan belum menyadari apa yang sedang terjadi di belakangnya, belum menyadari apa yang sedang dipegang dan ditonton oleh putri semata wayangnya.

"Kayla? Sayang?" panggilku, suaraku masih terdengar parau dan bergetar hebat. "Kamu... kamu pegang apa, Nak?"

Mendengar suaraku, Kayla perlahan menengadah.

Mata bulatnya yang biasanya selalu berbinar ceria, yang selalu menyipit lucu setiap kali ia tertawa memamerkan gigi susunya yang rapi, kini menatapku dengan pandangan yang membuat jantungku seolah ditarik paksa dari rongga dadaku.

Ada kebingungan yang sangat pekat di kedua mata anakku. Ada ketakutan yang samar namun nyata. Dan yang paling menghancurkan hatiku, ada sebuah keluguan murni yang baru saja dirobek paksa, dihancurkan oleh dunia orang dewasa yang kejam.

Dari speaker ponsel kelas atas yang dipegang Kayla, terdengar suara bising. Aku menajamkan pendengaranku yang masih berdenging.

Itu adalah suaraku. Tapi bukan suaraku yang biasa membacakan dongeng sebelum tidur. Bukan suaraku yang menyanyikan lagu anak-anak. Itu adalah rekaman suaraku yang sedang berteriak marah dengan nada tinggi.

Lalu, mataku menangkap visual di layar ponsel tersebut. Tubuhku seolah tersambar petir.

Itu adalah video CCTV atau entah rekaman kamera dari sudut yang tidak kukenali, digabungkan dengan potongan video amatir dari kamera ponsel seseorang. Video itu menampilkan kejadian beberapa bulan yang lalu di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Kayla yang sedang sangat aktif tiba-tiba berlari dan hampir memasukkan tangannya ke dalam celah eskalator yang sedang diperbaiki dan rusak. Dalam kepanikan luar biasa sebagai seorang ibu yang takut anaknya celaka, refleksku bekerja. Aku menarik tangan Kayla dengan sangat keras hingga ia hampir terjatuh, dan aku berteriak memarahinya karena rasa terkejut dan takut yang luar biasa. Saat itu juga, aku langsung memeluknya dan menangis bersama karena membayangkan hal buruk yang bisa terjadi.

Tapi di video yang sedang ditonton Kayla ini, konteksnya dihilangkan sama sekali.

Potongan video itu diedit dengan sangat jahat. Tidak ada eskalator rusak yang terlihat. Tidak ada bagian saat aku memeluknya setelah kejadian. Yang ditampilkan secara berulang-ulang hanyalah momen ketika wajahku terlihat bengis karena panik, tanganku yang menarik kasar lengan Kayla, dan suara teriakanku yang melengking. Video itu bahkan diberi filter gelap dan musik latar instrumen yang mencekam layaknya film horor.

Di layar ponsel itu, terpampang teks besar berwarna merah darah, berkedip-kedip seolah mengejek kewarasanku:

SIKAP ASLI HAURA PRADIPTA! BUKAN IBU IDAMAN, TAPI MONSTER BAGI ANAKNYA SENDIRI!

Bibir mungil Kayla bergetar hebat. Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu menunduk menatap layar ponsel yang masih memutar video itu berulang-ulang, dan kembali menatapku. Tangannya yang memegang ponsel ikut bergetar.

"Mama..." suara Kayla keluar sangat pelan, nyaris terdengar seperti bisikan angin, tapi rasanya seperti pedang tajam yang menyayat hatiku tepat di tengah. "Mama... beneran perempuan jahat ya? Mama benci sama Kayla?"

Deg.

Duniaku runtuh detik itu juga. Langit-langit rumah ini seolah runtuh menimpa punggungku. Pertanyaan polos itu menghancurkan seluruh sisa pertahananku. Rasa sakitnya jutaan kali lipat lebih menyiksa daripada membaca ribuan komentar cacian dari orang-orang yang tidak kukenal di live tadi. Ini adalah anakku. Darah dagingku. Seseorang yang untuknya aku rela menukar nyawaku sendiri.

Kakiku benar-benar tidak bisa menahan beban tubuhku lagi. Aku jatuh berlutut dengan kasar di atas lantai, tidak mempedulikan rasa ngilu di tempurung lututku. Air mataku tumpah ruah, tak tertahankan lagi. Aku merangkak maju, menggapai tubuh mungil itu.

"Nggak, Sayang! Enggak! Ya Allah, enggak..." Aku menggeleng kuat-kuat hingga rambutku berantakan, merengkuh tubuh kecil Kayla ke dalam pelukanku dengan erat. Tapi tidak seperti biasanya, Kayla tidak langsung membalas pelukanku. Tubuhnya terasa kaku, tegang. Penolakan kecil itu membuatku semakin histeris, isakanku pecah menjadi raungan tertahan. "Mama nggak jahat, Nak. Mama sayang banget sama Kayla, Mama cinta sama Kayla. Video itu bohong, Sayang! Itu bohong... Mama narik Kayla karena di situ ada eskalator bolong, Mama takut Kayla jatuh. Mama minta maaf, Nak, Mama minta maaf..."

Mendengar suara tangisanku yang pecah dan menggelegar di ruang keluarga, Rizki akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

Ia menoleh dengan cepat. Raut wajahnya yang tadinya santai dan sedikit kelelahan, seketika berubah tegang melihat istri dan anaknya menangis di lantai. Ia melangkah lebar dengan cepat mendekati kami. Tanpa bertanya, matanya langsung menangkap layar ponselnya yang masih menyala di pangkuan Kayla. Ia berjongkok, dan dengan gerakan cepat namun tenang, merebut ponsel itu dari tangan putri kami.

"Astaga," gumam Rizki pelan, sangat pelan, saat melihat apa yang terpampang di layar ponselnya. Ia menekan tombol kunci di sisi ponsel hingga layarnya menjadi hitam pekat, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana bahannya dengan gerakan tegas.

Rizki memajukan tubuhnya. Rengkuhan kedua lengannya yang panjang dan kokoh langsung mengurung kami berdua. Ia memelukku dan Kayla sekaligus. Pelukannya terasa begitu kuat, hangat, dan melindungiku dari dunia luar yang mendadak terasa begitu memusuhi dan ingin membunuhku. Aroma maskulin dari parfumnya—campuran cedarwood dan citrus yang sedikit bercampur dengan wangi pendingin udara mobil—yang selama bertahun-tahun selalu berhasil menenangkanku saat aku cemas, kini memenuhi rongga napasku.

"Maafkan aku, Haura. Ya Tuhan, aku minta maaf," bisik Rizki di puncak kepalaku. Suaranya terdengar berat, dipenuhi oleh penyesalan yang mendalam. "Aku... aku tadi sedang membaca berita simpang siur soal video ini di mobil saat perjalanan pulang. Aku sedang mencari tahu siapa bajingan yang menyebarkannya. Aku saking pusingnya sampai lupa mengunci layar handphone-ku saat menaruhnya di meja konsol tadi. Aku benar-benar minta maaf kecerobohanku membuat Kayla harus melihat sampah kotor ini."

Rizki melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Kayla yang masih kebingungan dengan senyum kebapakan yang dipaksakan. Tangannya yang besar dan hangat terulur, mengusap lembut rambut putri kami, merapikan anak rambut yang menempel di dahi Kayla yang berkeringat dingin.

"Kayla, anak pinter, anak Papa yang paling cantik. Dengar Papa, ya?" ucap Rizki dengan nada suara yang sangat tenang dan meyakinkan, kemampuan persuasi yang selalu membuatku kagum padanya. "Yang di video tadi itu bukan Mama sungguhan. Itu cuma editan. Orang jahat di luar sana sengaja bikin video jelek, memotong videonya, supaya kelihatannya Mama marah-marah, buat ganggu keluarga kita. Kayla tahu sendiri kan, setiap hari Mama yang masakin Kayla, Mama yang mandiin, Mama yang bacain buku cerita. Mama sayang banget sama Kayla, lebih dari siapa pun di dunia ini."

Kayla menatap wajah ayahnya lekat-lekat sejenak, mencari kebenaran di sana, lalu perlahan beralih menatapku. Wajahku pasti terlihat sangat mengerikan sekarang—basah oleh air mata, mata bengkak merah, hidung berair, dan napas tersengal.

Perlahan, tangan kecil nan lembut itu terulur ragu-ragu, ujung jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipiku.

"Mama jangan nangis..." suara Kayla terdengar tulus, membuat hatiku kembali teriris perih. "Kayla percaya sama Papa. Mama bukan monster. Mama orang baik."

Kata-kata lugu dari mulut anak berusia enam tahun itu bukannya menenangkanku, malah membuat dadaku semakin sesak hingga rasanya mau pecah. Rasa bersalah yang tak beralasan, rasa gagal menjadi ibu yang seharusnya bisa melindungi anaknya dari konten kotor dunia maya, menghantamku telak. Aku kembali menarik putriku, memeluknya erat, membenamkan wajahku di pundak kecilnya dan menangis tersedu-sedu. Sementara itu, tangan Rizki terus mengelus punggungku dari belakang dengan ritme lambat yang sabar, membiarkanku meluapkan segala ketakutan.

"Sudah, Sayang, sudah. Kamu nggak boleh begini terus, nanti Kayla ikut takut," bujuk Rizki dengan suara lembut, mencium sisi kepalaku. "Malam ini biar aku yang mandikan Kayla, menyuapinya makan malam, dan menidurkan dia. Kamu tinggalkan urusan dapur. Mandi pakai air hangat sekarang, tenangkan pikiranmu, lalu istirahat di kamar, ya? Jangan buka media sosial sama sekali. Jangan sentuh ponselmu. Biar aku yang urus semuanya. Aku akan hubungi manajermu dan kita selesaikan ini."

Aku tidak memiliki sisa tenaga untuk mendebat. Aku hanya bisa mengangguk lemah, menyerahkan seluruh kendali fisik dan mentalku malam itu kepada pria yang sudah kunikahi selama tujuh tahun ini. Suamiku, pelindungku, pahlawanku.

Malam merangkak semakin larut, membawa serta kegelapan yang terasa lebih pekat dari biasanya. Di luar jendela kamar utama kami, hujan badai turun dengan deras. Rintik airnya menetes kasar menghantam kaca jendela, menciptakan irama konstan yang berpadu dengan suara guntur dari kejauhan. Biasanya, cuaca seperti ini adalah favoritku. Suara hujan selalu berhasil membuatku merasa aman di dalam selimut dan terlelap dengan mudah.

Namun malam ini, tidak peduli seberapa lelah tubuhku menangis, mataku enggan terpejam sedikit pun.

Aku berbaring miring menghadap jendela, meringkuk seperti janin di bawah selimut tebal bermotif floral yang membungkus tubuhku. Di sampingku, di sisi kanan ranjang king size ini, Rizki sudah berbaring. Lampu utama kamar sudah dimatikan sejam yang lalu. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah lampu tidur bernuansa emas di atas nakas, memancarkan cahaya kekuningan yang temaram dan menghasilkan bayangan panjang di dinding.

Di balik selimut, aku merasakan tangan Rizki yang hangat mengusap lengan atasku dengan lembut dari belakang. Gerakannya konsisten, perlahan, penuh afeksi.

"Masih belum bisa tidur juga?" tanyanya dengan suara serak, khas seseorang yang kesadarannya sudah setengah ditarik oleh alam mimpi.

"Aku takut, Mas," bisikku jujur, suaraku terdengar kecil dan rapuh di tengah suara hujan. Mataku menatap nanar ke arah tirai jendela yang tertutup rapat, membayangkan jutaan pasang mata di luar sana yang sedang menghakimiku. "Aku takut banget. Kenapa orang-orang bisa sejahat itu memutarbalikkan fakta? Aku salah apa? Gimana kalau besok pagi masalahnya makin membesar? Gimana kalau brand-brand besar memutus kontrak kerjasamaku? Aku takut lingkungan sekolah Kayla tahu dan mereka mengucilkan anak kita..."

"Ssst..." Rizki menyela rentetan kepanikanku dengan desisan lembut. Tangannya beralih melingkari pinggangku, menarik tubuhku mundur hingga punggungku menempel sempurna pada dadanya yang bidang dan hangat. "Jangan dipikirkan sekarang, Haura. Ini cuma badai sesaat. Namanya juga internet, cancel culture itu nggak ada yang abadi. Paling lama seminggu, besok juga mereka pasti menemukan bahan gosipan selebritis baru dan melupakan masalah kamu. Biarkan management yang handle PR-nya besok."

Rizki menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, napasnya yang hangat menggelitik kulitku. "Yang penting sekarang mental kamu sehat. Kamu nggak boleh down. Kamu nggak sendirian dalam menghadapi ini. Ada aku di sini. Aku suamimu. Aku akan selalu pasang badan di barisan paling depan buat lindungi kamu dan Kayla dari siapa pun."

Ucapan Rizki, nada suaranya yang begitu stabil dan protektif, mengalir layaknya morfin berdosis tinggi ke dalam nadiku. Mematikan sementara rasa sakit dan cemas yang berkecamuk di kepalaku. Ia benar-benar suami yang sempurna. Di saat fondasi duniaku sedang hancur lebur berkeping-keping, ia berdiri tegak menjadi pilar utamaku. Aku tidak tahu apa jadinya aku, mungkin aku sudah gila dan melukai diriku sendiri, jika tidak ada pria ini di sampingku.

"Makasih ya, Mas," bisikku pelan, menyentuh tangannya yang melingkar di perutku. "Aku... aku benar-benar beruntung banget punya kamu di hidupku."

"Sudah kewajibanku sebagai kepala keluarga, Sayang. Tugasku memastikan kamu aman," balasnya mengecup puncak kepalaku lama dan dalam. "Sekarang pejamkan matamu. Janji sama aku, jangan sentuh handphone sampai besok pagi."

Aku memejamkan mata, memaksakan diri untuk mengosongkan pikiran. Aku harus patuh padanya demi kewarasanku sendiri. Suara hujan di luar dan deru napas Rizki yang mulai teratur di belakangku perlahan mulai membawa kesadaranku mengawang. Mungkin ini hanya mimpi buruk yang panjang. Mungkin besok pagi, saat matahari terbit, klarifikasi dari pihakku akan diterima, dan semuanya akan berangsur-angsur kembali normal.

Aku akhirnya jatuh ke dalam tidur yang gelisah dan dipenuhi mimpi buruk tentang orang-orang tak berwajah yang meneriakiku di tengah jalan.

Entah berapa lama waktu berlalu, aku terbangun dengan napas tersengal karena merasa seolah jatuh dari tebing di dalam mimpiku. Keringat dingin membasahi dahi dan leherku. Aku menelan ludah, berusaha menetralisir detak jantung.

Aku menyadari ada sesuatu yang berbeda. Rengkuhan tangan Rizki di pinggangku sudah tidak ada.

Aku membuka mata perlahan. Suasana kamar masih gelap gulita, suara hujan di luar malah semakin deras, yang berarti ini masih tengah malam. Namun, di tengah kegelapan itu, ada cahaya kebiruan yang redup memantul ke dinding di depanku, berasal dari arah belakangku.

Aku tidak langsung bergerak. Entah insting dari mana, aku hanya mengatur napasku agar terdengar berat dan teratur, berpura-pura masih terlelap dalam tidur yang lelap. Dengan gerakan milimeter demi milimeter yang sangat berhati-hati agar kasur tidak berdecit, aku memutar kepalaku sedikit ke belakang, menyipitkan mata, hanya cukup untuk bisa mengintip dari sudut penglihatanku.

Rizki tidak sedang tidur.

Ia sedang berbaring telentang, kedua tangannya memegang ponsel tepat di depan wajahnya, diangkat tinggi-tinggi. Cahaya kebiruan dari layar ponsel menyinari wajahnya dalam kegelapan. Dan apa yang kulihat membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.

Wajahnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Sudut bibirnya bahkan sedikit terangkat membentuk seringai tipis yang mengerikan. Sangat kontras, seribu delapan ratus derajat berbeda dengan wajah penuh empati, kasih sayang, dan kekhawatiran yang ia tunjukkan padaku beberapa jam yang lalu.

Mataku semakin menyipit, melawan rasa perih, mencoba menajamkan pandangan ke arah layar ponsel yang sedang ia tatap lekat-lekat. Mataku tidak minus, dan layar ponsel suamiku disetel pada tingkat kecerahan yang cukup tinggi, membuatku bisa melihatnya dengan jelas.

Ia sedang membuka aplikasi Instagram. Di layarnya, terlihat sebuah postingan dari akun gosip anonim raksasa yang sedang membahas kehancuranku hari ini. Ada foto wajahku yang sedang tersenyum ceria, namun disilang dengan garis merah tebal bagaikan buronan. Teks caption-nya penuh dengan provokasi kebencian.

Kolom komentarnya panjang ke bawah, dipenuhi ribuan interaksi.

Aku menahan napas sekuat tenaga saat melihat ibu jari suamiku bergerak menggulir layar dengan perlahan. Ia membaca komentar-komentar hujatan itu satu per satu. Wajahnya tidak menunjukkan sepercik pun kemarahan. Tidak ada raut kekesalan, tidak ada kernyitan di dahi, apalagi keinginan untuk mengetikkan kalimat pembelaan untuk istrinya yang sedang diinjak-injak harga dirinya oleh publik. Ia hanya menatap layar itu dengan tatapan dingin, puas, dan sangat memperhitungkan—tatapan seorang sutradara yang sedang menikmati hasil karyanya sendiri.

Lalu, ibu jarinya berhenti menggulir pada satu komentar tertentu.

Mataku membelalak lebar, memancarkan teror murni saat aku ikut membaca nama akun dan isi komentar brutal yang terpampang jelas di layar ponselnya.

BenciOrangSokSuci: Gue tahu banget aslinya si Haura ini. Dia itu cuma sampah masyarakat yang berlindung di balik wajah polos. Lonte berkedok ibu rumah tangga yang jualan anak demi konten dan uang sponsor! Jangan biarkan parasit ini tenang hidupnya!

Itu adalah komentar yang paling kejam, paling menjijikkan, dan paling menyakitkan dari semua yang kubaca hari ini. Sebuah fitnah keji yang merendahkan martabatku sebagai seorang istri dan ibu.

Aku berekspektasi, di titik ini, naluri seorang suami akan muncul. Aku berharap Rizki akan memblokir akun itu, atau mereport komentarnya, atau mungkin membalasnya dengan ancaman tegas bahwa ia akan melaporkannya ke polisi atas pasal pencemaran nama baik. Seperti janjinya tadi. Seperti kata-kata manisnya bahwa ia akan pasang badan untuk melindungiku dari siapa pun.

Namun, apa yang kulihat di detik berikutnya membuat aliran darah di seluruh saraf tubuhku terasa membeku hingga ke tulang sumsum. Kewarasanku seolah ditarik paksa keluar dari kepalaku.

Ibu jari Rizki tidak menekan tombol report. Ibu jarinya tidak mengetikkan satu kata pembelaan pun di kolom balasan.

Dengan gerakan pelan, penuh kesadaran, dan tanpa keraguan sedikit pun... ibu jari tangan kanannya mengetuk komentar biadab itu dua kali.

Tap. Tap.

Sebuah animasi hati kecil berwarna merah muncul sebentar di atas layar, menyala terang, sebelum ikon hati di sebelah komentar itu berubah warna menjadi merah pekat.

Rizki menyukai komentar itu.

Ia terus menggulir layar ke bawah dengan santai, mengulangi tindakan yang sama pada beberapa komentar kejam lainnya, sementara aku terbaring kaku bagai mayat di sebelahnya. Napasku tercekat di pangkal tenggorokan, tidak bisa keluar maupun masuk. Udara dingin dari AC kamar tiba-tiba terasa menjelma menjadi ribuan jarum yang menusuk langsung ke jantungku.

Tanganku yang berada di bawah selimut gemetar hebat. Bukan karena panik seperti tadi sore. Bukan karena cemas. Melainkan karena sebuah ketakutan murni, pekat, gelap, dan mencekam, yang membuat lambungku melilit mual.

Air mataku kembali menetes dalam diam, mengalir deras membasahi sarung bantal di bawah kepalaku tanpa suara isakan sedikit pun. Pikiranku menjerit kencang, menuntut sebuah jawaban dari pertanyaan gila yang tak berani kuucapkan keras-keras di ruangan ini.

Kenapa pria yang berjanji akan selalu melindungiku, pria yang tidur di ranjang yang sama denganku... justru menyukai komentar yang memanggilku sampah?