Sisa malam itu adalah neraka terpanjang dalam hidupku.
Aku tidak tahu bagaimana caraku menahan diri untuk tidak menjerit, bangkit dari kasur, dan merampas ponsel itu dari tangan Rizki. Seluruh insting di tubuhku berteriak menyuruhku melarikan diri, namun otot-ototku kaku layaknya mayat. Aku terus berbaring membelakanginya, memaksakan dadaku naik-turun dengan ritme teratur—sebuah sandiwara putus asa untuk meyakinkannya bahwa aku masih terlelap.
Di belakangku, bunyi ketukan jemari pada layar ponsel terus berlanjut. Sesekali diselingi helaan napas pelan dari Rizki, bukan helaan napas cemas, melainkan helaan napas rileks seseorang yang sedang menikmati tontonan hiburan di waktu luangnya.
Setiap kali aku membayangkan ibu jarinya mengetuk lambang hati pada komentar yang menyebut ibunya dari anaknya ini 'sampah' dan 'lonte', perutku bergejolak hebat. Rasa mual yang pekat menggulung lambungku. Aku menelan ludah berkali-kali, menahan asam lambung yang mendesak naik ke kerongkongan.
Pikiranku berputar liar, mencari pembenaran. Apakah jarinya terpeleset? Apakah itu ketidaksengajaan? Tapi ia melakukannya lebih dari sekali. Ia menggulir perlahan, membaca, lalu menyukai. Itu adalah tindakan yang sangat sadar dan disengaja.
Air mataku sudah mengering, menyisakan jejak lengket di pipi dan rasa perih yang menjalar hingga ke pelipis. Otakku terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya, mencoba merajut kepingan-kepingan teka-teki yang tidak masuk akal ini.
Kenapa, Mas? batinku menjerit pilu. Kenapa kamu tersenyum melihat istrimu dihancurkan?
Cahaya kebiruan dari layar ponselnya baru padam sekitar satu jam kemudian. Aku merasakan pergerakan di kasur saat ia meletakkan ponselnya di atas nakas, disusul oleh lengannya yang kembali melingkari pinggangku, menarik tubuhku ke dalam pelukannya seperti sedia kala. Hembusan napasnya yang hangat kembali menerpa tengkukku.
Namun kali ini, pelukan itu tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Tangan yang melingkar di perutku itu terasa seperti lilitan ular piton yang bersiap meremukkan tulang rusukku secara perlahan. Aku terjaga hingga fajar menyingsing, membeku dalam pelukan pria yang kini terasa seperti orang asing yang paling menakutkan di dunia.
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai, menandakan dimulainya hari baru yang sama sekali tidak kuinginkan.
"Pagi, Sayang."
Suara berat dan serak khas bangun tidur menyapaku, disusul oleh kecupan lembut di pelipis. Aku mengerjap, memutar tubuhku perlahan untuk menatap wajah Rizki. Wajah itu tampak begitu polos, tampan, dan penuh kasih sayang. Matanya yang sedikit sembab karena baru bangun tidur menatapku dengan sorot kekhawatiran yang tampak begitu nyata.
"Kamu bisa tidur semalam?" tanyanya sambil merapikan helaian rambut yang menutupi wajahku.
Aku menatap mata kecokelatannya, mencari celah kebohongan di sana. Namun aku tidak menemukan apa pun. Tidak ada jejak pria dingin yang menyeringai melihat hujatan netizen semalam. Hanya ada Rizki, suamiku yang lembut. Kepribadian ganda yang ditunjukkannya membuat kewarasanku seolah dirobek menjadi dua.
"Sedikit," jawabku berbohong, suaraku parau. "Kepalaku masih sakit."
"Nggak apa-apa. Hari ini kamu istirahat total. Aku sudah bilang ke Mbak Nur untuk urus sarapan dan siapkan bekal Kayla," ucapnya lembut, merujuk pada asisten rumah tangga kami yang datang setiap pagi. Ia beranjak duduk, meregangkan otot bahunya sebelum menoleh kembali padaku dengan senyum tipis yang menenangkan. "Aku akan mandi dulu, lalu mengantar Kayla ke sekolah. Kamu nggak usah keluar kamar kalau belum siap. Ingat pesanku semalam, jangan buka handphone, ya?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Ia tersenyum puas, mengecup keningku sekali lagi sebelum melangkah menuju kamar mandi. Tak lama, suara gemercik air shower terdengar dari balik pintu kaca buram.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, aku langsung bangkit dari ranjang. Napasku seketika memburu. Dengan gerakan setengah berlari, aku mengambil ponselku yang sejak semalam tergeletak di atas meja rias dalam keadaan silent. Tanganku kembali bergetar saat menyentuh benda pipih itu.
Meski Rizki melarangku, aku tidak bisa hanya diam menjadi orang buta dan tuli sementara duniaku di luar sana sedang dibakar habis-habisan. Sebagai orang yang mencari nafkah melalui internet, mematikan ponsel sama saja dengan bunuh diri secara profesional.
Layar menyala, dan mataku langsung disambut oleh angka notifikasi yang tidak masuk akal. Ikon WhatsApp menunjukkan angka '999+'. Notifikasi email bertumpuk.
Dengan tangan sedingin es, aku membuka WhatsApp dan mencari kontak manajerku, Manda. Ada lebih dari lima puluh pesan suara dan teks darinya sejak semalam.
[Ra, angkat teleponku sekarang. Gawat banget.]
[Ra, kamu di mana? Mas Rizki bilang kamu lagi syok dan disuruh istirahat. Tapi ini krisis, Ra!]
[Ra, video baru naik lagi. Ada akun anonim yang nyebarin video kamu di rumah. Viral banget di TikTok dan X. Kita harus bikin klasifikasi HARI INI JUGA.]
[Sponsor pada panik. Pihak NutriKids minta meeting darurat pagi ini. Tolong hubungi aku kalau kamu udah bangun.]
Perutku terasa mual. Video baru? Video di rumah?
Aku keluar dari ruang obrolan Manda dan membuka aplikasi email dengan jemari yang kaku. Deretan subjek email teratas membuat oksigen di paru-paruku seolah terkuras habis.
URGENT: Penangguhan Kontrak Eksklusif Haura Pradipta - NutriKids Indonesia.
Pemberitahuan Pembatalan Campaign "Mother's Love" - PureGlow Skincare.
Terminasi Kerjasama - BabyCuddles.
Aku membuka email dari NutriKids, brand susu formula anak terbesar yang menjadi sponsor utamaku selama dua tahun terakhir. Mataku bergerak cepat membaca deretan kalimat formal dan dingin yang tertulis di layar.
...Menindaklanjuti isu publik yang sedang berkembang pesat di media sosial mengenai dugaan kekerasan verbal dan fisik terhadap anak di bawah umur, dengan sangat menyesal kami dari pihak manajemen NutriKids Indonesia memutuskan untuk menangguhkan seluruh kontrak kerjasama eksklusif dengan Ibu Haura Pradipta secara sepihak, efektif per hari ini... Sesuai dengan klausal 5B mengenai reputasi dan citra publik... kami menuntut penurunan seluruh materi promosi dari akun Anda dalam waktu 1x24 jam...
Ponsel itu terlepas dari tanganku, jatuh berdebum di atas karpet.
Kontrak NutriKids bernilai ratusan juta rupiah. Itu adalah sumber penghasilan utamaku yang kugunakan untuk membayar asuransi pendidikan Kayla, tagihan bulanan, dan tabungan masa depan kami. Hilang begitu saja hanya dalam kurun waktu dua belas jam.
Aku terduduk di tepi ranjang, meremas rambutku dengan kedua tangan. Air mata kembali mengalir membasahi wajahku yang kuyu. Semua kerja kerasku selama tiga tahun membangun reputasi yang bersih, hancur lebur oleh potongan video yang bahkan tidak utuh.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatku terkesiap. Aku buru-buru menendang ponselku hingga masuk ke kolong tempat tidur dan mengusap wajahku dengan kasar.
Rizki keluar dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya masih basah meneteskan air. Ia melihat mataku yang merah dan hidungku yang berair.
"Kamu nangis lagi, Ra?" tanyanya, melangkah mendekat dengan raut khawatir. Ia berjongkok di depanku, menggenggam kedua tanganku yang dingin. "Sayang, kan aku sudah bilang... jangan dipikirkan. Kamu buka handphone, ya?"
"Aku... aku takut, Mas," isakku, membiarkan diriku terlihat rapuh. Aku tidak punya tenaga untuk melawan atau berkonfrontasi. Rasa takutku padanya bercampur dengan keputusasaan yang nyata. "Manda bilang ada video baru yang disebar. Sponsor... sponsor banyak yang putus kontrak. Kontrak NutriKids dibatalkan sepihak, Mas. Uangnya padahal buat bayar sekolah Kayla bulan depan..."
Rizki menghela napas panjang, merengkuh kepalaku dan menyandarkannya ke perutnya yang berbalut handuk. "Uang bisa dicari, Haura. Perusahaan sialan itu cuma mikirin nama baik mereka sendiri. Biar saja mereka pergi. Aku ini suamimu, aku masih kerja, aku yang akan biayai kamu dan Kayla. Kamu tenang saja, ya?"
Nada suaranya begitu tulus. Belaian tangannya di rambutku begitu nyata. Untuk sejenak, sebagian kecil dari diriku ingin kembali percaya padanya. Ingin membuang ingatan tentang layar ponsel bersinar kebiruan semalam sebagai halusinasi akibat kelelahan. Tapi setiap kali aku menutup mata, ikon hati merah yang ia tekan di atas komentar hujatan itu berkedip-kedip di dalam ingatanku.
Sebelum aku bisa membalas ucapannya, dering nyaring terdengar dari arah nakas. Ponsel Rizki berbunyi.
Rizki melepaskan pelukannya, melangkah mengambil ponsel tersebut. Ia melirik layar, dan raut wajahnya berubah kaku.
"Dari Ibu," gumamnya. Ibu mertuaku.
Rizki menekan tombol terima dan sengaja menyalakan loudspeaker, meletakkan ponsel itu di atas meja rias agar aku bisa ikut mendengar, lalu ia mulai memakai kemeja kerjanya.
"Halo, Bu?"
"Rizki! Kamu sudah lihat berita soal istrimu belum?!" Suara melengking Ibu mertuaku langsung memenuhi ruangan, sarat akan kemarahan dan kepanikan. "Ibu malu banget, Ki! Pagi ini teman-teman arisan Ibu pada kirim link video Haura lagi bentak-bentak cucu Ibu! Itu beneran?! Istrimu kalau di belakang kita sering main tangan ke Kayla?!"
Aku menahan napas. Hinaan mertua adalah ketakutan terbesarku yang lain.
"Astaga, Ibu. Ibu jangan ikut-ikutan netizen yang nggak jelas itu dong," balas Rizki dengan nada suara yang perlahan meninggi, seolah benar-benar tersinggung keluarganya diusik. Sambil berbicara, ia menatapku dari pantulan cermin, memberikan tatapan yang seolah berkata 'Lihat, aku membelamu'.
"Netizen gimana?! Videonya jelas banget, Ki! Suaranya Haura lagi teriak-teriak persis orang kesetanan! Pantesan Kayla kalau kumpul keluarga kadang suka diam, ternyata ditekan sama ibunya sendiri di rumah! Kamu itu suami, harusnya tegas! Jangan sampai anakmu jadi korban perempuan tempramental kayak dia! Keluarga kita ini keluarga terpandang, Ki. Nama baik ayahmu bisa hancur kalau mantunya dituduh psikopat sama se-Indonesia!"
Air mataku menetes lagi. Hinaan itu menembus dadaku bagai belati.
Rizki menghentikan gerakannya yang sedang mengancingkan kemeja. Ia mendekat ke arah ponsel, urat di lehernya tampak menegang. Sebuah pertunjukan kemarahan yang luar biasa sempurna.
"Ibu dengar Rizki baik-baik," desis Rizki dengan suara baritonnya yang berat dan mengancam. "Haura itu istri Rizki. Ibu dari anak Rizki. Rizki yang paling tahu bagaimana dia merawat Kayla setiap hari. Video itu cuma editan orang yang sirik sama kesuksesan Haura. Kalau Ibu berani menuduh Haura yang tidak-tidak dan menyalahkan istri saya, lebih baik Ibu nggak usah telepon Rizki dulu! Tolong hargai Haura saat dia sedang down, Bu!"
Tanpa menunggu balasan dari ibunya, Rizki mematikan sambungan telepon dengan kasar.
Ia membalikkan badan menatapku, membuang napas kasar, lalu tersenyum menenangkan. "Jangan dimasukkan ke hati omongan Ibu. Dia cuma termakan gosip ibu-ibu kompleks. Aku nggak akan biarkan siapa pun, bahkan keluargaku sendiri, menghakimi kamu, Ra."
Aku menatap mata Rizki dalam-dalam. Tubuhku gemetar, bukan karena terharu, melainkan karena kengerian yang merayap di bawah kulitku. Pria ini brilian. Ia adalah aktor kelas kakap. Ia bisa memainkan peran suami pembela yang marah besar di depan keluarganya sendiri, membela kehormatan istrinya dengan sangat heroik. Tapi di tengah malam yang sepi, ia adalah orang yang tersenyum saat membaca istrinya dipanggil dengan sebutan pelacur.
Topeng mana yang asli? Atau jangan-jangan, selama tujuh tahun pernikahan ini, aku tidak pernah benar-benar menikahi manusia, melainkan iblis yang pandai meniru rupa suamiku?
"Makasih, Mas," ucapku, memaksakan senyum tipis, menyembunyikan badai kepanikan yang nyaris merobek dadaku. "Aku nggak tahu harus bersandar ke siapa lagi selain kamu."
"Hanya padaku, Haura. Kamu cuma butuh aku," bisiknya, mengecup bibirku sekilas. "Aku berangkat dulu, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan buka media sosial."
Aku mengangguk, mengawasinya melangkah keluar kamar dengan tas kerjanya. Mendengar suara mobilnya melaju meninggalkan garasi barulah aku bisa melepaskan napas yang sedari tadi kutahan.
Sore harinya, hujan kembali turun membungkus kota dengan nuansa kelabu.
Suasana rumah terasa layaknya kuburan. Mbak Nur sudah pulang sejak siang setelah menyadari betapa suramnya wajahku. Kayla sedang tidur siang di kamarnya, terlalu lelah setelah menangis karena beberapa teman di sekolah menjauhinya—dampak nyata dari gosip yang sudah sampai ke grup WhatsApp wali murid.
Aku duduk meringkuk di sofa ruang keluarga, menatap kosong ke arah televisi yang dimatikan. Pikiranku buntu. Aku butuh seseorang. Seseorang yang benar-benar bisa kupercaya.
Suara bel pintu yang berbunyi nyaring membuatku melompat kaget.
Dengan langkah ragu, aku mengintip dari lubang kunci pintu utama. Begitu melihat sosok berjas hujan kuning dengan payung transparan di luar, aku langsung membuka pintu dan menariknya masuk.
"Astaga, Ra! Lo ngapain buka pintu lama banget?!"
Itu Nisa. Sahabatku sejak zaman kuliah, sekaligus orang yang mengenalkan dunia content creator kepadaku. Nisa adalah seorang spesialis digital marketing, otak yang cerdas, tajam, dan tidak pernah basa-basi.
Begitu pintu tertutup, Nisa langsung memelukku erat, mengabaikan jas hujannya yang membasahi bajuku. Pertahananku runtuh seketika. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabatku, meluapkan seluruh emosi yang harus kutahan saat berada di dekat Rizki.
"Udah, Ra, udah. Gue di sini," bisik Nisa sambil mengelus punggungku keras-keras. "Gue sengaja dateng sore sebelum Rizki pulang kerja. Manda bilang lo unreachable seharian, sponsor pada kabur. Kita harus selesain ini sekarang. Hapus air mata lo, kita kerja."
Nisa menarik tanganku menuju meja makan. Ia mengeluarkan laptop MacBook-nya dari dalam tas antiair, menyalakannya, dan langsung membuka layar yang menampilkan deretan data analitik dan rentetan video.
"Duduk," perintahnya tegas. Ia menatap wajahku yang kacau. "Lo kelihatan kayak mayat hidup, Ra. Tapi kita nggak punya waktu buat mental breakdown. Lo diserang secara sistematis."
"Maksud lo sistematis gimana, Nis?" tanyaku dengan suara serak, menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Kemarin malam, hate speech yang lo terima di live itu bukan organik," Nisa menunjuk grafik di layarnya yang melonjak tajam dalam satu menit yang sama. "Lihat polanya. Ratusan akun anonim komentar di detik yang bersamaan dengan kata kunci yang seragam. Manipulatif, bohong, donasi, toxic. Ini bot, Ra. Atau minimal, akun buzzer yang dikomando dari satu grup. Ada yang sengaja bayar mereka buat ngerusak algoritma akun lo."
Aku menelan ludah, dadaku terasa sesak. "Siapa? Siapa yang mau buang-buang uang buat ngehancurin ibu rumah tangga biasa kayak gue?"
"Itu yang lagi gue cari tahu," jawab Nisa cepat. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Tapi yang bikin gue merinding parah bukan buzzer-nya, Ra. Tapi bahan yang mereka pakai."
Nisa membuka sebuah tab baru. "Lo belum buka internet sama sekali hari ini, kan? Lo belum lihat video terbaru yang bikin kontrak NutriKids lo diputus hari ini?"
Aku menggeleng lemah, meremas ujung bajuku. "Manda bilang ada video baru gue di rumah. Video apa, Nis?"
Nisa menatapku dengan sorot mata kasihan sekaligus serius. Ia memutar laptopnya ke arahku, menekan tombol play.
Layar menampilkan sebuah video berdurasi dua puluh detik. Tanpa suara pada lima detik pertama, lalu terdengar suara bentakanku yang sangat jelas.
"Awas! Jangan sentuh! Ya ampun, Kayla, kamu ini bisa diam nggak sih?!"
Di video itu, aku terlihat sangat marah, wajahku merah padam, dan tanganku mendorong bahu Kayla cukup keras hingga anak itu terhuyung ke belakang. Layar membeku pada ekspresi ketakutan Kayla. Tagar #HauraManipulator dan #SelamatkanKayla terpampang jelas sebagai watermark video.
Napasanku tercekat. Air mataku langsung menggenang. "Nis... ini... ini kejadian bulan lalu. Kayla mecahin gelas beling kesayangan Mas Rizki di ruang keluarga. Pecahannya nyebar ke mana-mana. Kayla mau pungut pakai tangan kosong. Gue panik, gue bentak supaya dia mundur, gue dorong dia menjauh supaya kakinya nggak kena beling! Sumpah, Nis, gue nggak niat nyakitin anak gue!"
"Gue percaya sama lo, Ra," sela Nisa cepat, memegang tanganku yang gemetar. "Masalahnya, di video ini, lantai di bawah Kayla sengaja di-crop dan diburamkan. Pecahan gelasnya nggak kelihatan. Konteksnya dihilangkan. Yang netizen lihat cuma lo, sebagai ibu, ngamuk dan main fisik ke anak kandung lo sendiri tanpa alasan."
Aku memijat pelipisku yang berdenyut hebat. "Ya Allah... jahat banget. Siapa yang ngerekam ini, Nis? Mbak Nur? Nggak mungkin Mbak Nur pintar ngedit video. Lagian kejadian ini malam hari, Mbak Nur udah pulang..."
Di sinilah suasana berubah menjadi sangat mencekam. Hujan di luar seolah berhenti berbunyi, menyisakan keheningan absolut di ruang makan kami.
Nisa memajukan wajahnya, menatap layar laptop dengan mata memicing tajam, lalu kembali menatapku. Wajahnya pucat.
Ia memutar ulang video tersebut ke detik pertama, lalu menekan tombol jeda. Ia memperbesar layar, menunjuk area langit-langit, proporsi tubuhku, dan sudut pengambilan gambar yang sangat statis. Gambar itu sedikit cembung, dengan kualitas warna infrared yang dikonversi ke resolusi yang lebih baik.
"Bukan Mbak Nur, Ra," bisik Nisa, suaranya tiba-tiba terdengar bergetar, bulu kuduknya berdiri.
"Lalu siapa?" tanyaku panik. "Siapa yang bisa masuk ke rumah gue malam-malam?"
Nisa menelan ludah, menatap mataku dengan pandangan ngeri yang seolah menembus ulu hatiku. Jari telunjuknya masih menempel pada layar laptop yang membeku.
"Ra... video ini bukan direkam pakai kamera handphone," ucap Nisa pelan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti vonis mati. "Lihat distorsi lensa di ujungnya. Lihat letak posisi bayangannya. Tidak ada yang memegang kamera ini."
Nisa mencengkeram lenganku erat, matanya melebar.
"Video ini diambil dari sudut CCTV rumahmu."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar