Otak manusia adalah organ yang menakjubkan sekaligus menyedihkan. Ketika dihadapkan pada trauma atau kenyataan yang terlalu mengerikan untuk diterima, otak akan menciptakan mekanisme pertahanan otomatis. Ia akan memaksa kita menyangkal, mencari ribuan alasan tak masuk akal, hanya untuk menjaga agar kewarasan kita tidak hancur seketika.
Itulah yang terjadi padaku di detik-detik setelah mataku menangkap notifikasi transfer sebesar seratus lima puluh juta rupiah di layar ponsel suamiku.
Pembayaran campaign tahap 2.
Kalimat itu terpatri di dalam kepalaku, menyala-nyala seperti neon merah yang membakar retina. PT Digital Bina Kreasi. Siapa mereka? Kenapa Mas Rizki mentransfer uang sebanyak itu di tengah badai kehancuranku? Uang seratus lima puluh juta bukanlah nominal yang kecil. Itu adalah tabungan bersama kami.
Dalam pelukan Rizki, di tengah deru air shower yang masih menggenang di lantai kamar mandi, aku memejamkan mata rapat-rapat. Aku menekan sisi wajahku lebih dalam ke dada bidangnya yang berbalut kemeja basah. Bau parfum cedarwood yang menguar dari tubuhnya kini tidak lagi menenangkanku. Aroma itu mendadak tercium amis, memicu rasa mual yang luar biasa hebat hingga ke pangkal tenggorokan.
"Ra? Sayang? Kamu masih kedinginan?"
Suara baritonnya mengalun lembut, membelah keheningan di antara isak tangisku yang mulai mereda. Tangannya yang besar mengusap punggungku naik-turun. Sentuhan yang seharusnya penuh cinta itu kini terasa seperti rabaan seekor laba-laba berbisa yang sedang menenangkanku sebelum menyuntikkan racunnya.
Aku harus berakting. Nisa benar. Aku sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak kukenal, seorang manipulator ulung yang tertawa di atas kehancuranku. Jika aku mengonfrontasinya sekarang, jika aku berteriak menanyakan soal notifikasi itu, aku tidak tahu apa yang bisa ia lakukan padaku dan Kayla di dalam rumah yang dipenuhi kamera CCTV ini.
"Aku... aku cuma capek, Mas," jawabku dengan suara yang sengaja kubuat serak dan putus asa. Aku mendongak perlahan, menatap matanya. "Aku takut banget. Aku ngerasa duniaku runtuh."
Rizki membalas tatapanku dengan sorot mata yang begitu teduh. Ia menyeka sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya. "Aku ngerti, Sayang. Wajar kalau kamu ngerasa begitu. Tapi kamu harus kuat demi Kayla. Sekarang kamu mandi air hangat, ya? Aku siapkan teh chamomile kesukaanmu di kamar."
Ia meraih ponselnya dari atas wastafel tanpa melirik layarnya, memasukkannya kembali ke dalam saku celana seolah benda itu tidak baru saja memuntahkan bukti pengkhianatan terbesarnya.
"Makasih, Mas," bisikku lemah, menundukkan pandangan.
"Sama-sama. Aku keluar dulu. Jangan lama-lama mandinya."
Rizki mengecup keningku cukup lama, lalu melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu di belakangnya. Begitu bunyi klik dari kenop pintu terdengar, lututku kembali lemas. Aku berpegangan pada pinggiran wastafel marmer, menatap pantulan wajahku di cermin besar. Wajah seorang perempuan yang baru saja menyadari bahwa ia telah tidur dengan musuhnya sendiri selama tujuh tahun.
Malam itu, jarum jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit dini hari.
Suara dengkuran halus terdengar dari sisi kanan ranjang. Rizki sudah terlelap. Ia terlihat sangat damai. Lengan kanannya terlempar ke atas bantal, sementara dadanya naik turun dengan ritme yang teratur.
Aku terbaring kaku di sebelahnya, mataku menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungku berdetak dengan kecepatan yang menyakitkan, memompa adrenalin ke seluruh aliran darahku. Aku harus memastikan. Aku tidak bisa hidup dengan prasangka yang akan menggerogoti jiwaku ini. Aku harus melihat isi ponselnya.
Dengan gerakan yang sangat lambat—mengukur setiap milimeter pergeseran tubuhku agar pegas kasur tidak berdecit—aku menyingkap selimut. Udara dingin dari AC langsung menyergap kulitku. Aku menahan napas, bangkit ke posisi duduk, lalu menoleh ke arah nakas di samping Rizki.
Ponsel itu tergeletak di sana, tertelungkup dengan casing silikon berwarna hitam.
Aku menelan ludah yang terasa seperti pasir. Jarak dari posisiku ke nakas itu hanya sekitar satu meter, tapi rasanya seperti menyeberangi ladang ranjau. Jika ia terbangun dan memergokiku, apa alasanku?
Gue cuma mau lihat jam, siapkan kebohongan itu di kepalamu, Haura.
Perlahan, aku mencondongkan tubuhku melewati tubuh Rizki. Tanganku terulur di udara, gemetar hebat. Ujung jemariku menyentuh permukaan dingin ponsel itu. Aku menariknya pelan-pelan, sangat pelan, hingga benda itu sepenuhnya berada di genggamanku.
Rizki tiba-tiba bergerak. Ia menggumam pelan dalam tidurnya dan memutar tubuhnya menghadap ke arahku.
Napasanku berhenti seketika. Tubuhku membeku dalam posisi canggung, melayang di atas tubuhnya dengan tangan memegang ponsel. Mataku membelalak ngeri menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahku. Jika ia membuka mata sekarang, ia akan langsung melihatku.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Dengkuran halusnya kembali terdengar. Ia tidak terbangun.
Aku mengembuskan napas perlahan melalui mulut, mundur perlahan hingga aku kembali duduk di posisiku semula, di tepian kiri ranjang. Aku memutar tubuhku membelakanginya, menutupi ponsel itu dengan tubuhku agar cahayanya tidak memantul ke dinding dan membangunkannya.
Dengan jemari yang basah oleh keringat dingin, aku menekan tombol daya. Layar menyala, menampilkan lockscreen berupa foto kami bertiga—aku, Rizki, dan Kayla—yang sedang tertawa bahagia di pantai Bali tahun lalu. Foto yang ironisnya kini terlihat seperti poster film horor psikologis.
Aku menggeser layar ke atas. Layar meminta PIN enam digit.
Sejak kami berpacaran hingga menikah, Rizki selalu bersikap terbuka soal kata sandi. Ia selalu menggunakan tanggal lahir Kayla—041119. Itu adalah rutinitas, sesuatu yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Kami bahkan sering meminjam ponsel satu sama lain untuk sekadar memesan makanan atau membalas pesan keluarga.
Aku mengetikkan enam angka itu dengan cepat.
0 - 4 - 1 - 1 - 1 - 9.
Layar bergetar kecil. Teks berwarna merah muncul di bawah kolom.
PIN Salah. Silakan coba lagi.
Aku mengerutkan dahi. Mungkin aku salah ketik karena tanganku bergetar. Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, dan mengetiknya sekali lagi. Jauh lebih lambat. Lebih hati-hati.
PIN Salah. Silakan coba lagi. (Sisa percobaan: 3)
Udara di sekitarku terasa membeku. Ia mengganti PIN-nya.
Suamiku yang selalu membanggakan kejujuran dan keterbukaan dalam rumah tangga, pria yang baru saja menyuruhku untuk percaya sepenuhnya padanya, telah mengunci akses ke dunia digitalnya. Kapan ia menggantinya? Apakah baru semalam setelah aku tertidur? Ataukah sejak ia mulai merencanakan kehancuranku?
Rasa penasaran bercampur putus asa membuatku nekat. Aku mencoba kombinasi lain. Tanggal pernikahan kami. 220818.
PIN Salah. Silakan coba lagi. (Sisa percobaan: 2)
Tanggal lahir ibunya.
PIN Salah. Silakan coba lagi. (Sisa percobaan: 1)
Aku berhenti. Layar ponsel itu memperingatkanku bahwa satu kesalahan lagi akan membuat ponsel ini terkunci selama beberapa waktu, dan itu pasti akan membuat Rizki curiga saat ia bangun nanti.
Dengan perasaan hancur dan dada yang sesak oleh rasa pengkhianatan yang semakin menebal, aku mematikan layar ponsel itu. Aku merayap perlahan melintasi kasur, mengembalikan ponsel itu ke posisi asalnya di atas nakas, seolah benda itu tidak pernah tersentuh.
Aku kembali berbaring di tempatku, menatap punggung Rizki. Pertanyaan Nisa kembali berputar di kepalaku. Kalau bukan Rizki, siapa lagi?
Malam itu, aku tidak tidur sedetik pun. Aku menghabiskan sisa malam dengan menyusun kepingan-kepingan ingatan. Perubahan-perubahan kecil pada diri Rizki yang selama ini kuabaikan karena aku terlalu sibuk memuja kesempurnaannya. Bagaimana ia sering membawa ponselnya ke kamar mandi akhir-akhir ini. Bagaimana ia selalu meletakkan ponselnya dalam posisi tertelungkup. Bagaimana ia memaksa memasang kamera CCTV di seluruh sudut rumah dengan alasan 'cinta dan keamanan'.
Semuanya bukan bentuk perlindungan. Itu adalah pengawasan.
Rumah ini adalah penjara, dan aku adalah eksperimen utamanya.
Pagi harinya, setelah Rizki berangkat ke kantor dan Kayla pergi ke sekolah dengan pengawasan ketat dariku dan Pak Maman, aku melancarkan rencanaku.
Aku sengaja menyalakan televisi di ruang keluarga dengan volume cukup keras, menyiarkan acara gosip pagi. Aku berjalan mondar-mandir di ruang makan, pura-pura membereskan meja dengan wajah lesu, memastikan kamera CCTV di sudut plafon merekam keputusasaanku dengan sempurna.
Setelah lima belas menit bermain peran, aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur—ruangan yang bebas dari jangkauan kamera suamiku. Aku mengunci pintu dari dalam, menyalakan keran wastafel agar suaranya menyamarkan percakapanku, dan mengeluarkan ponselku.
Aku membuka aplikasi Telegram, platform pesan yang baru kuunduh pagi ini dan kusembunyikan di dalam folder aplikasi memasak.
Aku menekan tombol panggilan ke kontak Nisa. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara serak sahabatku terdengar.
"Ra? Lo aman?" Nisa langsung to the point.
"Aman. Gue di kamar mandi bawah. Keran air nyala," bisikku cepat, merapatkan ponsel ke telingaku. "Nis, lo udah nemu sesuatu?"
Terdengar helaan napas panjang di ujung sana, disusul suara ketukan keyboard.
"Gue nggak tidur semalaman gara-gara nganalisa data sentimen algoritma lo, Ra. Gue bedah satu per satu akun yang pertama kali mulai nyerang lo pas live kemarin. Dan tebakan gue seratus persen bener. Lo lagi dihabisi sama agensi profesional."
Aku memejamkan mata. Jantungku kembali berdetak tidak beraturan. "Maksudnya gimana, Nis?"
"Gini, Ra," Nisa mulai menjelaskan dengan nada serius khas konsultan digitalnya. "Di dunia black campaign atau kampanye hitam, ada level-levelnya. Kalau cuma haters organik, serangannya sporadis. Jamnya acak, bahasanya beda-beda. Tapi yang nyerang lo ini rapi banget. Mereka pakai sistem yang namanya Astroturfing."
"Astro apa?"
"Astroturfing. Praktik manipulasi di mana sebuah pesan atau sentimen seolah-olah berasal dari publik, padahal didanai dan dikendalikan oleh satu pihak. Mereka punya ribuan akun bot dan puluhan akun buzzer besar sebagai Key Opinion Leader (KOL) jalur bawah. Akun-akun ini dibayar buat menggiring opini. Pas lo live, mereka nerjunin pasukan bot buat ngespam kolom komentar. Terus, bertepatan sama lo matiin live, akun-akun buzzer di Twitter dan TikTok langsung upload potongan video CCTV rumah lo secara serentak. Ini terkoordinasi, Ra. Ada briefing-nya. Ada admin yang ngasih aba-aba kapan mereka harus nge-post."
Aku menggigil kedinginan meski tidak tersentuh air. Terbayang betapa mengerikannya di luar sana, sekelompok orang yang tidak kukenal duduk di depan layar komputer mereka, merancang skenario untuk menghancurkan hidupku, reputasiku, dan mental anakku, hanya karena mereka dibayar untuk melakukannya.
"Nis..." suaraku bergetar saat aku akhirnya mengucapkan nama yang sejak semalam menghantui pikiranku. "Lo tahu PT Digital Bina Kreasi?"
Hening sejenak di ujung telepon. Suara ketukan keyboard terhenti.
"Dari mana lo tahu nama PT itu, Ra?" nada suara Nisa berubah tajam dan penuh kehati-hatian.
Aku menelan ludah. "Semalam... waktu Mas Rizki meluk gue... ada notifikasi dari m-banking di handphone-nya. Transfer seratus lima puluh juta ke PT itu. Keterangannya 'pembayaran campaign tahap dua'."
"Bangsat!" Nisa mengumpat kasar, sesuatu yang jarang ia lakukan kecuali ia benar-benar marah. "Udah jelas, Ra. PT Digital Bina Kreasi itu bukan agensi periklanan biasa. Di kalangan underground digital marketing, mereka itu spesialis crisis management dan black PR. Mereka yang sering disewa politisi kotor buat ngejatuhin lawan politik menjelang pemilu, atau disewa perusahaan gede buat matiin reputasi kompetitor. Tarif mereka gila-gilaan, bisa ratusan juta sampai miliaran tergantung skala targetnya."
"Tapi, Nis..." Aku menggelengkan kepala, mekanisme pertahananku kembali berontak. Kenyataan ini terlalu besar untuk ditelan bulat-bulat. "Mas Rizki itu Manager Marketing di perusahaannya. Mungkin... mungkin itu campaign buat kantornya? Mungkin kantornya lagi ada krisis dan dia yang urus transferannya dari rekening pribadinya dulu sebelum di-reimburse? Dia nggak mungkin sejahat itu, Nis. Buat apa dia hancurin istrinya sendiri? Uang sponsor gue itu kan juga buat bantu ekonomi keluarga..."
"Ra, dengerin gue!" bentak Nisa pelan namun tegas, mencoba menampar kesadaranku. "Bangun, Haura! Lo jangan denial terus! Mana ada manager nalangin duit perusahaan sampai seratus lima puluh juta pakai rekening pribadi tengah malam?! Dan lo pikir kebetulan, tepat di hari kehancuran reputasi lo, suami lo transfer duit ke agensi black PR yang tugasnya emang buat ngehancurin citra orang?!"
Air mataku jatuh. Aku tahu Nisa benar. Aku tidak bodoh, aku hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa pria yang kuanggap sebagai pahlawanku adalah sang algojo itu sendiri.
"Terus gue harus gimana, Nis? Gue nggak punya bukti selain notifikasi yang cuma gue lihat sekilas. Kalau gue marah ke dia sekarang, dia pasti bisa mutarbalikkan fakta. Dia pintar ngomong, Nis. Keluarga dia aja udah benci sama gue."
"Lo jangan konfrontasi dia dulu. Sama sekali jangan," instruksi Nisa tegas. "Biarkan dia merasa menang. Biarkan dia mikir skenarionya berjalan lancar dan lo makin hancur. Sementara itu, gue akan gali lebih dalam soal PT Digital Bina Kreasi ini. Gue punya beberapa kenalan admin anonim di Twitter yang mungkin mau buka mulut kalau dibayar mahal. Lo jaga diri baik-baik di sana. Jangan perlihatkan perubahan sikap apa pun di depan CCTV atau di depan suami lo."
"Oke," bisikku sambil menyeka air mata. "Makasih, Nis. Tolong kabarin gue kalau lo nemu sesuatu lagi."
"Pasti. Hati-hati, Ra."
Aku mematikan panggilan itu, menghapus riwayat obrolan, dan kembali menyembunyikan aplikasi Telegram. Aku mencuci muka, memaksakan seulas senyum menyedihkan di depan cermin, lalu melangkah keluar dari kamar mandi, kembali masuk ke dalam panggung sandiwara suamiku.
Malam itu, hujan gerimis mengguyur atap rumah dengan ritme yang malas.
Aku sedang menyuapi Kayla makan malam di meja makan saat deru mesin mobil Rizki terdengar memasuki garasi. Kayla, yang biasanya langsung berlari menyambut ayahnya, malam ini hanya diam. Ia menunduk, mengunyah makanannya perlahan. Tragedi di sekolah kemarin telah merampas keceriaannya.
Pintu utama terbuka. Rizki masuk dengan senyum cerah yang tampak sangat kontras dengan suasana suram di rumah ini. Di tangannya, ia membawa dua kotak besar berisi lasagna dari restoran Italia favoritku.
"Halo jagoan Papa! Halo, Sayang," sapanya ceria, meletakkan kunci mobil di meja konsol. Ia menghampiri Kayla, mengecup pipi putrinya yang tembam. "Papa bawain lasagna kesukaan Mama nih. Kita makan bareng, yuk!"
"Kayla udah kenyang, Pa," jawab Kayla pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. Anak itu meletakkan sendoknya, turun dari kursi, lalu menatapku. "Ma, Kayla mau masuk kamar aja. Mau main boneka."
Melihat perubahan drastis pada putrinya, raut wajah Rizki langsung berubah sedih. Ia menatapku dengan sorot mata penuh simpati. "Dia masih trauma soal kemarin, Ra?"
Aku mengangguk lemah, memainkan sendok di atas piring Kayla. "Iya, Mas. Dia jadi pendiam banget. Aku takut mentalnya terganggu."
Rizki menghela napas panjang, sebuah helaian napas yang terdengar begitu penuh empati. Ia menarik kursi di sebelahku dan duduk, lalu menggenggam kedua tanganku yang dingin. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan lembut.
"Ra, lihat aku," ucapnya dengan nada bariton yang selalu berhasil membuatku merasa aman.
Aku mengangkat wajah, memaksakan diri menatap mata kecokelatannya, mata yang menyembunyikan iblis di balik kehangatannya.
"Aku nggak bisa lihat kamu dan Kayla menderita seperti ini terus. Lingkungan di sini lagi nggak sehat buat kalian. Media sosial kamu masih terus diserang, kan?"
Aku mengangguk, membiarkan sebulir air mata buatan menetes di pipiku. "Sponsor makin banyak yang mundur, Mas. Aku nggak tahu harus gimana lagi."
"Sudah, nggak usah pikirkan uang. Aku yang tanggung semuanya," potong Rizki cepat, menatapku dengan penuh determinasi. "Aku sudah bicara sama HRD di kantorku. Aku ambil cuti mendadak seminggu ke depan. Mulai besok, kita bertiga berangkat liburan."
Aku mengerjap, benar-benar terkejut. "Liburan?"
"Iya," Rizki tersenyum lembut, merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. "Aku sudah sewa vila private di daerah Puncak, jauh dari keramaian. Pemandangannya bagus, udaranya segar, dan yang paling penting, di sana sinyal internet sangat susah. Ini saatnya kita digital detox, Ra. Kamu harus berhenti baca komentar netizen demi kewarasan kamu sendiri. Kita fokus ke healing, perbaiki mental Kayla, dan perkuat keluarga kita."
Kata-katanya begitu manis, begitu sempurna. Kalimat yang diimpikan oleh setiap istri yang sedang tertimpa musibah. Tapi bagi telingaku, undangan liburan ini terdengar seperti sebuah jebakan.
Digital detox.
Ia ingin memutus aksesku ke dunia luar. Ia ingin mengisolasiku di tempat terpencil, jauh dari Nisa, jauh dari jangkauan siapa pun yang bisa membantuku. Ia ingin aku sepenuhnya bergantung padanya secara fisik dan emosional. Ia sedang merancang sebuah sangkar emas untuk mengurungku.
"Tapi... sekolah Kayla gimana, Mas?" tanyaku mencoba mencari alasan.
"Aku sudah minta izin ke wali kelasnya. Mereka mengerti kondisi kita. Kayla butuh waktu jauh dari lingkungan yang menghakiminya. Kamu setuju, kan, Sayang? Demi mental sehat kita semua."
Tatapan Rizki mengunci pandanganku. Ada sedikit tekanan halus dalam suaranya, sebuah paksaan yang dibungkus dengan pita kepedulian. Di sudut mataku, aku sadar kamera CCTV di atas kami sedang merekam momen 'suami teladan' ini.
Aku tidak punya pilihan selain tersenyum, senyum paling rapuh yang bisa kubuat. "Makasih, Mas. Kamu selalu mikirin aku dan Kayla. Aku mau."
Rizki tersenyum lebar, tampak sangat puas. Ia mengecup bibirku dengan penuh kemenangan. "Gitu dong. Nanti malam kita packing. Sekarang, serahkan handphone kamu ke aku. Mulai malam ini, kita mulai detox-nya."
Napasku tercekat. Ia meminta ponselku. Jika aku menolak, ia akan curiga. Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponselku dari saku dan menyerahkannya.
"Anak pintar," pujinya, mengelus rambutku seperti aku ini anak anjing peliharaannya. "Aku simpan di laci kerjaku, ya."
Tengah malam. Hujan kembali turun, kali ini disertai angin kencang yang membuat ranting pohon bergesekan dengan jendela kamar kami.
Rizki sedang mandi di kamar mandi utama. Suara gemercik air terdengar sayup-sayup.
Ini adalah kesempatanku. Ponsel utamaku memang ada padanya, tapi ia tidak tahu tentang burner phone—ponsel murah bekas yang kubeli online secara rahasia dan dikirim ke rumah Nisa beberapa bulan lalu, yang kebetulan masih tersimpan di dalam lipatan baju musim dinginku di bagian paling bawah lemari, jauh dari jangkauan CCTV.
Dengan gerakan cepat dan senyap, aku membuka pintu lemari, membongkar tumpukan sweter, dan menemukan ponsel kecil itu. Aku menyalakannya. Sinyalnya lemah karena hujan, tapi cukup untuk membuka aplikasi Telegram.
Ada satu pesan masuk dari Nisa, dikirim sepuluh menit yang lalu.
Tanganku berkeringat dingin saat aku membuka pesan itu. Bukan sekadar teks, Nisa mengirimkan sebuah foto tangkapan layar.
[Ra, gue nemu harta karun. Gue berhasil retas sebagian database portofolio lama dari website PT Digital Bina Kreasi sebelum mereka ubah jadi private access.]
Aku menahan napas, memperbesar foto tangkapan layar tersebut.
Itu adalah sebuah dokumen slide presentasi internal agensi, berjudul: 'Our Succesful Key Clients - Crisis Management & Perception Control'.
Di bawah judul itu, terdapat deretan logo perusahaan-perusahaan besar yang pernah menggunakan jasa kotor mereka. Dan di salah satu kolom 'Individual / Personal Branding Client', mataku menangkap sebuah nama, foto, dan deskripsi singkat yang membuat duniaku benar-benar berhenti berputar.
Terdapat foto Mas Rizki mengenakan jas rapi, tersenyum berwibawa.
Di bawah fotonya, tertulis:
Client: RIZKI WIJAYA
Project: "Pembangunan Citra Publik & Restrukturisasi Aset Digital"
Status: ACTIVE (Tahap 2 - Eskalasi Konflik)
Aku menatap layar kecil itu dengan tubuh bergetar hebat. Mual yang kutahan sejak kemarin akhirnya tidak terbendung lagi. Aku membekap mulutku sendiri sekuat tenaga, menahan jeritan yang merobek dadaku.
Eskalasi konflik.
Kehancuranku, hujatan netizen, bahkan air mata Kayla... semuanya bukanlah musibah. Semuanya adalah bagian dari proyek bisnis suamiku. Sebuah proyek yang disusun secara sistematis, dibayar dengan uang rumah tangga kami, dan sedang berjalan menuju fase yang lebih gelap.
Di saat yang sama, suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatku terkesiap.
Aku buru-buru menyembunyikan ponsel itu di balik tumpukan baju, menutup pintu lemari, dan berbalik tepat saat Rizki keluar dengan handuk melilit pinggangnya.
Ia menatapku yang sedang berdiri kaku di depan lemari, napas tersengal dan wajah pucat pasi.
Rizki memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan senyum lembut namun dengan sorot mata yang begitu tajam dan menembus.
"Kamu lagi nyari apa malam-malam begini, Sayang?" tanyanya pelan.
Darahku mendesir. Permainan ini baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak boleh kalah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar