Jantungku berhenti berdetak selama sekian detik. Darahku seolah tersedot habis ke dasar kaki, meninggalkan sensasi dingin yang menjalar dan membekukan tulang punggungku.
Rizki berdiri hanya dua langkah dariku. Air menetes perlahan dari ujung rambutnya yang basah, jatuh membasahi bahunya yang bidang. Ia menatapku dengan kepala sedikit miring. Senyum lembutnya masih bertengger di bibirnya, namun matanya yang gelap mengunci pandanganku layaknya seekor predator yang sedang mengukur ketakutan mangsanya.
"Kamu lagi nyari apa malam-malam begini, Sayang?" tanyanya lagi, suaranya mengalun sangat tenang. Terlalu tenang.
Otakku dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya. Nisa benar, aku adalah seorang content creator. Aku terbiasa berakting di depan kamera. Jika ada satu momen dalam hidupku di mana aku harus memberikan akting terbaik yang menentukan hidup dan matiku, momen itu adalah sekarang.
Aku sengaja melepaskan napasku yang tertahan dengan sedikit getaran, membiarkan raut wajahku berkerut sedih. Tanganku yang gemetar menarik sebuah sweter turtleneck tebal berwarna krem dari tumpukan baju, menutupi ponsel rahasiaku yang terkubur aman di bawahnya.
"Aku... aku kedinginan, Mas," jawabku dengan suara parau yang kubuat sepilu mungkin. Air mata yang sejak tadi menggenang karena membaca bukti pengkhianatannya di layar Telegram, kini kubiarkan jatuh membasahi pipiku. "Aku lagi cari sweter buat packing ke Puncak besok... tapi aku kepikiran komentar orang-orang terus. Aku takut, Mas. Gimana kalau di sana nanti ada yang ngenalin aku? Gimana kalau mereka ngerekam Kayla lagi?"
Raut wajah Rizki seketika berubah. Kewaspadaan tajam di matanya mencair, digantikan oleh topeng suami penuh kasih sayang yang selama ini membuai kewarasanku.
Ia melangkah maju, mengambil sweter itu dari tanganku dan melemparkannya ke atas kasur, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya yang hangat mengelus punggungku perlahan, sementara bibirnya mengecup puncak kepalaku berulang kali.
"Ssst... kamu mikir terlalu jauh, Haura. Nggak akan ada yang berani ganggu kamu selama ada aku," bisiknya posesif, merengkuh tubuhku semakin erat. "Vila yang aku sewa itu sangat tertutup. Aksesnya private. Nggak akan ada netizen atau wartawan yang bisa masuk. Fokus kamu sekarang cuma satu: tenangin diri, perbaiki mental kamu. Biar aku yang jadi tameng buat keluarga kita."
Dalam dekapannya, aku memejamkan mata rapat-rapat. Lambungku melilit mual. Aroma sabun mandi yang menempel di tubuhnya membuatku ingin muntah. Pria yang berjanji menjadi tamengku ini adalah orang yang menembakkan panah-panah beracun itu kepadaku dari belakang. Ia sedang menikmati penderitaanku. Ia sedang menikmati betapa lemah dan bergantungnya aku padanya.
"Aku percaya sama kamu, Mas," bisikku lirih ke dadanya. Sebuah kebohongan yang rasanya membakar lidahku sendiri.
Keesokan paginya, kami bersiap berangkat menuju Puncak.
Rizki sudah memasukkan semua koper ke dalam bagasi mobil SUV hitam miliknya. Kayla duduk di kursi belakang bersama boneka beruangnya, masih dengan wajah murung dan enggan bicara. Tragedi di sekolah telah merenggut keceriaan putriku, dan melihatnya diam membisu seperti ini membuat hatiku kembali hancur.
Sebelum benar-benar meninggalkan kota, Rizki menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah supermarket besar.
"Kita harus beli snack, susu, dan beberapa bahan makanan buat di vila. Di sana agak jauh kalau mau cari minimarket," ucap Rizki sambil mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke belakang, menatap Kayla. "Kayla mau ikut turun pilih snack sendiri, Nak?"
Kayla menggeleng pelan, memeluk bonekanya lebih erat. "Kayla mau di mobil aja sama Pak Maman."
Sopir kami, Pak Maman, mengangguk hormat dari kursi kemudi. "Biar saya yang jaga Non Kayla, Pak, Bu."
"Ya sudah. Kamu ikut turun sama aku ya, Ra? Bantu aku milih bahan masakan yang kamu suka. Sekalian refreshing lihat yang segar-segar," ajak Rizki, menatapku dengan senyum meyakinkan.
Aku meremas seatbelt di dadaku. "Mas... aku nggak usah ikut turun ya? Aku tunggu di mobil aja. Aku takut ada yang ngenalin."
Rizki tertawa kecil, mengusap punggung tanganku. "Sayang, ini cuma supermarket biasa. Kamu pakai masker, pakai topi, nggak akan ada yang sadar. Kamu nggak bisa terus-terusan sembunyi di dalam mobil kayak buronan. Kamu harus pelan-pelan berani menghadapi dunia luar. Ada aku di sebelahmu. Ayo."
Bujukannya terdengar seperti perintah halus yang tidak bisa dibantah. Dengan tangan gemetar, aku memakai masker medis berwarna hitam yang menutupi separuh wajahku, lalu menarik topi baseball hingga menutupi dahiku.
Kami berjalan bersisian memasuki area supermarket. Udara dingin dari AC raksasa menyambut kulitku, namun keringat dingin tetap membasahi punggungku. Aku berjalan menunduk, menatap ujung sepatuku, mencengkeram lengan kemeja Rizki seolah itu adalah tali penolong di tengah badai.
Awalnya semua terasa aman. Kami melewati lorong buah dan sayuran segar, lalu masuk ke lorong makanan ringan. Beberapa pengunjung berlalu-lalang dengan troli mereka, sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mulai bisa bernapas sedikit lebih lega. Mungkin Rizki benar. Mungkin ketakutanku terlalu berlebihan.
Namun, saat kami berada di lorong susu dan sereal, mimpiku buruk itu menjadi kenyataan.
Sekelompok ibu-ibu muda—mungkin usianya sebaya denganku—sedang berkerumun di ujung lorong. Saat aku menoleh untuk mengambil sekotak sereal cokelat kesukaan Kayla, pandanganku tanpa sengaja bersirobok dengan salah satu dari mereka.
Perempuan itu menyipitkan matanya. Ia menyenggol lengan temannya. Tatapannya menusuk tajam, seolah masker dan topi yang kukenakan hanyalah plastik transparan.
"Itu Haura kan?" bisik perempuan itu, namun suaranya cukup keras untuk memantul di lorong yang sepi.
"Eh, iya! Beneran itu si Haura. Yang viral dorong anaknya itu kan?" balas temannya dengan nada jijik yang sama sekali tidak ditutup-tutupi.
"Gila ya, muka tembok banget masih berani keluyuran di tempat umum. Kalau gue jadi dia, gue udah ngurung diri di kamar karena malu," sahut perempuan ketiga.
Jantungku berdegup dengan kecepatan yang mengerikan. Kotak sereal di tanganku terasa tiba-tiba memiliki berat puluhan kilogram. Tubuhku membeku. Napasku tercekat di tenggorokan, tersumbat oleh lapisan masker yang kini terasa mencekikku.
"Mas..." bisikku panik, menarik-narik lengan baju Rizki. "Mas, ayo pergi. Tolong, ayo pergi."
Tapi Rizki bertingkah seolah ia tidak mendengar bisikanku maupun cibiran ibu-ibu itu. Ia justru melangkah sedikit menjauh dariku, pura-pura fokus memeriksa komposisi pada sebuah kemasan susu cair.
Sementara itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan hanya kelompok ibu-ibu tadi, beberapa pengunjung muda yang menyadari keributan kecil itu mulai berkumpul di ujung lorong. Kudengar suara klik-klik yang familiar. Suara shutter kamera ponsel.
Seseorang mengarahkan ponselnya padaku, merekam dari jarak beberapa meter.
"Mbak Haura, beneran sering pukulin anak ya di rumah?" seru seorang remaja perempuan sambil tertawa mengejek, kameranya terus merekamku.
"Klarifikasi dong, Mbak! Uang donasi panti asuhan beneran dipakai buat beli tas branded?" teriak yang lain.
Lampu flash dari kamera ponsel seseorang menyala, membutakan mataku sejenak.
Dadaku sesak luar biasa. Pandanganku mulai berputar. Lorong supermarket dengan rak-rak menjulang tinggi ini tiba-tiba terasa menyempit, bergerak maju untuk menghimpitku. Udara di sekitarku lenyap tak tersisa. Aku mundur selangkah, namun tumitku menabrak troli, membuat keseimbanganku goyah.
Kotak sereal di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai hingga isinya berhamburan.
Panic attack itu menyerangku tanpa ampun. Telingaku berdenging hebat, menenggelamkan suara cacian mereka menjadi dengungan statis yang menyiksa. Lututku kehilangan tenaga. Aku merosot berjongkok di lantai supermarket, menutup kedua telingaku dengan tangan gemetar, menundukkan kepalaku dalam-dalam. Aku menangis, terisak di bawah serangan ribuan mata tak terlihat yang seolah sedang mengulitiku hidup-hidup.
Di saat itulah, pahlawan kesiangan itu melancarkan aksinya.
"BERHENTI!"
Suara bariton Rizki menggelegar, membelah lorong supermarket dengan otoritas mutlak. Suaranya bergema kuat, mematikan tawa dan cacian orang-orang yang sedang merekamku.
Rizki melempar kemasan susu di tangannya dengan kasar ke rak, melangkah lebar dengan raut wajah penuh amarah yang terlihat begitu natural. Ia berdiri tepat di depanku, menggunakan punggung lebarnya sebagai perisai yang melindungiku dari sorotan lensa kamera ponsel mereka.
"Tutup kamera kalian!" bentaknya dengan nada suara bergetar karena emosi yang tertahan. Ia menunjuk satu per satu orang yang berkerumun dengan jari telunjuknya. "Kalian punya hati nurani atau nggak?! Istri saya sedang sakit! Dia sedang mengalami tekanan mental berat gara-gara fitnah kalian semua di internet, dan kalian masih tega menyiksanya di dunia nyata?!"
Kerumunan itu terdiam. Beberapa orang mulai menurunkan ponsel mereka, tampak kaget dan sedikit bersalah melihat reaksi pria yang sedang melindungi istrinya dengan mempertaruhkan harga dirinya.
"Siapapun yang menyebarkan fitnah tentang istri saya, kami akan proses hukum. Tapi untuk sekarang, saya mohon sebagai sesama manusia, tolong hargai privasi kami. Jangan serang ibu dari anak saya!" seru Rizki lagi, kali ini nada suaranya berubah sedikit memohon, menciptakan kontras yang luar biasa dramatis antara amarah seorang pelindung dan keputusasaan seorang suami.
Setelah memastikan kamera-kamera itu berhenti merekam wajahku, Rizki berbalik. Ia berjongkok, merengkuh tubuhku yang gemetar ke dalam pelukannya.
"Ssst... ada aku, Haura. Nggak apa-apa. Nggak ada yang berani nyakitin kamu lagi," bisiknya lembut di telingaku.
Ia memapahku berdiri, merangkul pinggangku dengan sangat protektif, menenggelamkan wajahku ke dadanya, lalu menuntunku keluar dari lorong neraka itu. Ia mengabaikan belanjaan kami, berjalan tegap membelah kerumunan pengunjung yang kini memandangnya dengan tatapan takjub.
Di dalam mobil, selama sisa perjalanan menuju vila di Puncak, aku masih belum bisa menghentikan tangisku. Aku bersandar pada kaca jendela yang dingin, memeluk diriku sendiri.
Di kursi kemudi, Rizki sesekali mengelus rambutku dengan tangan kirinya. Ia tampak sangat perhatian, sangat mencintaiku. Namun otakku yang rasional menjerit memperingatkan: Ini semua skenario. Dia membiarkanmu diserang untuk memberinya panggung pahlawan.
Kenyataan yang paling menyiksa adalah, meskipun aku tahu pria ini adalah monster yang sedang menghancurkan hidupku, saat kerumunan itu menyerangku, tubuhku bereaksi mencari perlindungan padanya. Secara psikologis, ia berhasil memaksaku untuk bergantung sepenuhnya kepadanya. Ia membuat dunia membenciku, agar ia menjadi satu-satunya pelabuhan aman bagiku.
Manipulasi emosional tingkat tertinggi yang mengoyak-ngoyak jiwaku.
Kami tiba di vila menjelang sore.
Tempat itu benar-benar terisolir. Sebuah bangunan kayu dua lantai bergaya modern-minimalis yang dikelilingi hutan pinus lebat. Udara berkabut turun menyelimuti pelataran. Tidak ada rumah lain dalam radius satu kilometer. Di dalam vila, sinyal operator seluler nyaris tidak ada, hanya mengandalkan Wi-Fi vila yang kata Rizki sedang bermasalah. Ini bukan sekadar liburan, ini adalah tempat pengasinganku yang sempurna.
Malam harinya, setelah Kayla tertidur pulas di kamarnya akibat kelelahan menangis di mobil, aku berbaring di atas ranjang kamar utama, menatap langit-langit kayu yang tinggi.
Rizki sedang berada di lantai bawah, katanya ingin mengecek sistem pemanas air.
Begitu kudengar langkah kakinya menuruni tangga, aku segera beringsut turun dari kasur. Aku merogoh dasar tasku yang kusembunyikan di sudut lemari dan mengeluarkan ponsel rahasiaku. Di dekat jendela kamar, aku akhirnya mendapatkan satu bar sinyal LTE yang timbul tenggelam.
Ada rentetan pesan beruntun dari Nisa. Jantungku berdetak kencang saat membuka pesan-pesan itu.
[Ra, lo udah lihat berita belum?!]
[Video lo panik di supermarket tadi siang viral gila-gilaan.]
[Tapi bukan lo yang jadi bintangnya. Suami lo, Ra.]
Nisa mengirimkan tautan dari sebuah akun TikTok dengan jutaan pengikut. Aku mengklik tautan tersebut.
Video itu diambil dari sudut pandang salah satu remaja yang merekam di supermarket tadi. Gambar bergetar, merekam detik-detik saat aku menjatuhkan kotak sereal dan meringkuk di lantai. Lalu, sosok Rizki muncul seperti ksatria dalam film-film romantis. Suara baritonnya yang membentak, "Tutup kamera kalian! Kalian punya hati nurani atau nggak?!" menggema diiringi musik latar biola yang menyayat hati—jelas hasil editan tim profesional.
Aku membolak-balik kolom komentar yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Narasi publik benar-benar bergeser.
‘Ya Allah, merinding banget denger suara suaminya. Marahnya beneran dari hati banget karena saking sayangnya sama istri.’
‘Mas Rizki suami idaman banget! Walaupun istrinya diduga toxic dan kasar, dia tetep pasang badan belain istrinya di depan umum.’
‘Sabar banget ngadepin istri yang playing victim gitu. Mas Rizki lo berhak bahagia!’
‘Followers Mas Rizki langsung naik ratusan ribu lho hari ini. Banyak brand gede yang support dia di DM.’
‘#SuamiSabar #SaveRizki jadi trending di X sekarang.’
Ponsel di genggamanku bergetar. Tanganku terkepal kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan, meninggalkan bekas bulan sabit yang perih.
Aku bukan lagi pemeran utama dalam hidupku sendiri. Rizki telah merampas segalanya. Ia menggunakan rasa panikku, trauma yang kualami, dan ketakutanku sebagai batu loncatan untuk membangun citra dirinya. Citra 'suami sabar yang mendampingi istri tidak stabil'.
Ia berhasil memutarbalikkan narasi. Publik kini memandangnya sebagai martir, sementara aku adalah beban yang menyusahkannya. Berapa banyak uang sponsor yang kini beralih menawarinya kontrak? Berapa besar keuntungan yang ia dapatkan dari penderitaan dan air mataku yang tumpah di lantai supermarket itu?
Perutku bergejolak hebat. Kebencian, jijik, dan ketakutan menyatu menjadi satu entitas pekat yang merayap di dadaku.
Aku buru-buru mematikan ponsel rahasiaku saat mendengar suara ketukan dari lantai bawah. Namun, bukan suara langkah kaki Rizki yang menaiki tangga. Itu adalah suara samar-samar yang berasal dari ruang kerja kecil di dekat ruang tamu lantai bawah.
Rizki tidak sedang memperbaiki pemanas air. Ia sedang mengobrol dengan seseorang.
Rasa penasaran mengalahkan ketakutanku. Aku melangkah tanpa suara, hanya mengenakan kaus kaki tebal agar langkahku tidak berderit di lantai kayu. Aku menuruni tangga dengan gerakan sepelan hantu, merapat ke dinding, dan mengintip ke arah ruang kerja yang pintunya terbuka sedikit.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari layar laptop MacBook yang diletakkan di atas meja. Rizki duduk bersandar di kursi kerjanya, menggunakan earphone nirkabel di telinga kanannya. Layar laptop itu menampilkan aplikasi Zoom meeting dengan tiga kotak video yang tidak menampilkan wajah, hanya berupa siluet atau foto profil abstrak.
Aku menahan napas, menempelkan telingaku di dekat celah pintu.
"Video hari ini luar biasa, Pak Rizki," sebuah suara laki-laki terdengar dari speaker laptop yang rupanya tidak sepenuhnya dimatikan volumenya. Suaranya terdengar profesional, dingin, namun sarat akan kebanggaan. "Momentum panic attack Ibu Haura tertangkap dengan sangat sempurna. Kami sudah menginstruksikan tim buzzer untuk memotong bagian itu dan memfokuskan framing pada aksi pembelaan Bapak. Engagement rate Bapak naik tiga ratus persen hanya dalam waktu empat jam."
Aku membekap mulutku dengan kedua tangan. Air mata kembali menggenang, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata kemarahan yang membara. Kejadian di supermarket itu... apakah ia yang membocorkan lokasinya pada buzzer? Ataukah ia hanya memanfaatkan momen secara spontan?
"Kerja bagus," balas Rizki santai, menyesap kopi dari cangkir di mejanya. Nada suaranya sangat dingin, angkuh, dan penuh perhitungan. Sama sekali tidak ada jejak 'suami sabar' di sana. "Beberapa brand pakaian pria dan asuransi sudah mulai DM manajer saya malam ini. Sentimen positif publik benar-benar menguntungkan."
"Tentu, Pak. Ini baru tahap dua. Target kita untuk mengalihkan simpati publik sepenuhnya ke arah Bapak sudah hampir tercapai," suara pria dari agensi itu kembali terdengar. "Namun, kita harus hati-hati. Jangan sampai Ibu Haura membuat klarifikasi tandingan yang meyakinkan saat dia sudah lebih tenang."
Rizki tertawa pelan. Tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. Itu adalah tawa meremehkan dari seorang psikopat yang sedang bermain-main dengan mangsanya.
"Jangan khawatir soal itu. Mentalnya sudah hancur. Dia sekarang bergantung sepenuhnya padaku. Dia mengira aku pahlawannya," ucap Rizki sambil memutar-mutar pena di tangannya.
"Lalu, apa instruksi Bapak untuk campaign kita minggu depan?" tanya orang dari agensi.
Ruangan itu hening sejenak. Hanya terdengar suara rintik hujan yang menabrak kaca jendela vila.
Rizki memajukan tubuhnya ke arah layar laptop. Seringai tipis yang mengerikan tercetak jelas di wajahnya, terpapar oleh cahaya layar.
"Naikkan kebencian minggu depan," perintah Rizki dengan suara bariton yang menusuk tulang. "Serang psikologisnya lebih dalam. Jangan sampai istriku terlihat terlalu kuat."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar