Udara di ruang makan seketika terasa membeku. Suara rintik hujan sisa badai sore tadi yang menabrak kaca jendela kini terdengar seperti detak jarum jam raksasa yang menghitung mundur sisa kewarasanku.

Aku menatap layar laptop Nisa dengan pandangan kosong. Kalimat terakhir yang diucapkannya terus bergaung di dalam kepalaku, memantul-mantul menghantam dinding tengkorakku hingga rasanya mau pecah.

Video ini diambil dari sudut CCTV rumahmu.

Perlahan, seolah leherku terbuat dari engsel besi berkarat yang kaku, aku mendongakkan kepala. Mataku menelusuri dinding ruang keluarga yang menyatu dengan area ruang makan ini, naik terus hingga ke sudut plafon dekat tangga.

Di sana, sebuah kamera pengawas berbentuk kubah kecil berwarna putih terpasang kokoh. Sebuah lampu indikator kecil berwarna merah menyala statis di bagian tengahnya, menatap lurus ke arahku. Benda mati itu tiba-tiba terasa hidup, seperti sebuah mata iblis tak berkedip yang selama ini menelanjangi setiap gerak-gerikku, merekam setiap napasku, dan mencuri rahasia-rahasia paling rapuh di dalam rumah tangga ini.

"Nggak mungkin, Nis," bisikku parau, suaraku nyaris hilang ditelan ketakutan yang mulai merayap naik ke tenggorokan. "Kamera CCTV itu... aksesnya cuma bisa dibuka lewat aplikasi. Dan aplikasinya..."

"...cuma ada di handphone suami lo," sambung Nisa dengan nada datar, namun matanya memancarkan kengerian yang sama denganku. Nisa menutup laptopnya perlahan, seolah benda itu baru saja menayangkan adegan pembunuhan. Ia menatapku lekat-lekat. "Ra, lo sadar kan apa artinya ini? Kalau bukan peretas profesional tingkat tinggi yang nge-hack jaringan internet rumah lo... berarti ada orang dari dalam rumah ini yang sengaja mengekspor video itu, memotongnya, dan memberikannya ke buzzer."

Aku menggeleng kuat-kuat. Tubuhku kembali gemetar, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. "Nggak! Nggak mungkin Mas Rizki, Nis! Buat apa?! Semalam dia mati-matian belain gue di depan ibunya yang marah-marah gara-gara video ini! Dia yang nenangin gue, dia yang nyuruh gue jangan buka handphone supaya mental gue nggak makin hancur. Mas Rizki nggak punya alasan buat ngancurin ibu dari anaknya sendiri!"

Nisa menghela napas berat, meraih kedua tanganku yang sedingin es dan menggenggamnya erat. "Gue nggak bilang suamimu pelakunya, Ra. Gue cuma memaparkan fakta logis berdasarkan jejak digital. CCTV ini punya password enkripsi. Selain lo dan Rizki, siapa lagi yang tahu password Wi-Fi dan punya akses ke sistem keamanan rumah ini?"

Pikiranku berputar liar, mencoba mencari alibi, mencari kambing hitam siapa saja asalkan bukan pria yang tidur di sebelahku setiap malam. Teknisi yang memasang? Tapi itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Teman-teman Mas Rizki yang pernah berkunjung? Tapi mereka tidak mungkin tahu letak aplikasi smart home di ponsel suamiku.

Tiba-tiba, sebuah memori dari dua bulan yang lalu menyambar benakku seperti kilatan petir.

Saat itu akhir pekan. Aku baru saja pulang dari pemotretan sebuah brand pakaian anak bersama Kayla. Ketika aku membuka pintu, aku mendapati ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur sudah dipenuhi serbuk bor dari dinding. Rizki berdiri di atas tangga aluminium, sibuk memasang beberapa perangkat kamera baru.

"Buat apa pasang CCTV sebanyak ini di dalam rumah, Mas?" tanyaku saat itu, sedikit protes karena merasa risih. Sebelumnya, kami hanya memiliki satu kamera di garasi dan satu di teras depan.

Rizki turun dari tangga, tersenyum lembut sambil mengusap peluh di dahinya. "Aku baca berita, belakangan ini lagi rawan perampokan dengan modus menyekap pembantu, Ra. Mbak Nur kan sering sendirian di rumah sama Kayla kalau kamu lagi ada kerjaan di luar. Aku cuma mau memastikan keamanan keluarga kita. Kalau ada apa-apa, aku bisa pantau kalian langsung dari kantor. Ini bentuk cinta aku buat kalian, Sayang."

Saat itu, aku merasa sangat tersentuh oleh perhatiannya. Aku memeluknya, memuji betapa ia adalah sosok kepala keluarga yang sangat protektif.

Namun kini, mengingat senyum lembutnya hari itu... lambungku terasa dipelintir paksa. Mual. Kepalaku pening.

"Nis..." suaraku bergetar hebat. "Dua bulan lalu, Mas Rizki ganti semua sistem keamanan. Dia nambah empat kamera baru di dalam rumah. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan lorong lantai dua yang ngarah ke kamar Kayla. Dia... dia bilang itu buat keamanan."

Wajah Nisa memucat. Ia menatap berkeliling, menyadari bahwa percakapan kami saat ini pun kemungkinan besar sedang direkam—baik visual maupun audionya. Refleks, Nisa merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat pelan.

"Ra, lo harus hati-hati," bisik Nisa, matanya melirik waspada ke arah lensa CCTV di sudut ruangan. "Gue nggak mau nuduh tanpa bukti. Tapi lo sekarang lagi ada di tengah-tengah skenario yang dirancang dengan sangat rapi. Rumah ini... rumah ini udah nggak aman buat lo. Segala sesuatu yang lo lakuin, cara lo nangis, cara lo marah, semuanya bisa dipotong dan dijadiin senjata buat ngebunuh karakter lo di internet."

Kata-kata Nisa menancap tepat di jantungku. Rumah yang selama tujuh tahun ini kuanggap sebagai istana pelindungku, tempat di mana aku bisa melepas lelah, mencium aroma masakan, dan memeluk anakku dengan bebas... kini berubah menjadi penjara kaca transparan. Aku merasa ditelanjangi. Aku merasa sedang diamati dari sudut-sudut gelap yang tidak bisa kujangkau.

"Gue harus gimana, Nis?" isakku tertahan, air mata kembali mengalir deras. "Gue takut..."

"Langkah pertama, jangan tunjukin ke Rizki kalau lo udah tahu soal asal video ini," instruksi Nisa dengan nada serius dan strategis, ciri khasnya setiap kali menangani krisis klien. "Bersikaplah seolah lo bener-bener hancur, lemah, dan bergantung penuh sama dia. Kalau bener dia pelakunya, dia pengen lihat lo nggak berdaya. Jangan kasih dia alasan buat curiga kalau lo mulai sadar. Langkah kedua, mulai kumpulin bukti. Cek mutasi rekening, cek sisa tagihan, cek aktivitas dia di luar rumah. Gue bakal bantu lacak dari jalur digital. Gue bakal cari tahu siapa mastermind buzzer yang nyerang lo."

Nisa menepuk bahuku perlahan sebelum berdiri, merapikan laptopnya ke dalam tas. "Gue harus balik sekarang sebelum Rizki pulang. Ingat pesen gue, Ra. Pasang topeng lo. Lo itu content creator, kan? Anggap ini peran terbesar dalam hidup lo. Lo harus acting bodoh buat bisa selamat."

Setelah Nisa pergi, keheningan di rumah ini terasa ribuan kali lebih menyiksa.

Lampu indikator merah di sudut plafon itu seolah berkedip mengejekku. Aku berjalan menunduk, menghindari kontak langsung dengan kamera mana pun. Gerak-gerikku menjadi kaku. Aku bahkan tidak berani menangis keras-keras. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku hingga berdarah, menahan isakan, sembari membersihkan sisa cangkir teh Nisa di dapur dengan tangan gemetar.

Keesokan harinya, mimpi buruk itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Malah, ia menjelma menjadi monster yang semakin rakus memakan sisa-sisa kehidupanku.

Aku duduk di meja makan, menatap layar ponselku yang diletakkan terbalik. Tadi pagi, Nisa mengirimkan pesan berisi rangkuman sentimen publik yang dianalisis oleh timnya. Kurva kebencian terhadap namaku meroket hingga ke langit-langit. Video potongan CCTV itu telah dibagikan lebih dari lima puluh ribu kali di berbagai platform.

Aku tidak tahan. Berlawanan dengan janjiku pada Mas Rizki, aku membalik ponselku dan membuka aplikasi Twitter. Mataku langsung disambut oleh rentetan kata-kata yang cukup tajam untuk merobek nadiku.

‘Sumpah merinding lihat videonya. Ibu macam apa yang dorong anak sekecil itu?!’

‘Anaknya kasihan punya ibu manipulatif. Di depan kamera sok manis bawa-bawa agama, aslinya iblis berwujud manusia.’

‘Pantesan suaminya selalu kelihatan sabar banget, ternyata istrinya yang sakit jiwa. Mas Rizki mending cerai aja deh, selamatkan anakmu, Mas!’

‘Boikot Haura! KPAI tolong turun tangan, ini udah masuk kekerasan fisik dan verbal!’

Napasanku tersengal. Aku segera menutup aplikasi itu dan melempar ponselku menjauh. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak ada di sana saat gelas itu pecah. Mereka tidak tahu bagaimana aku tidak tidur semalaman merawat Kayla saat ia demam berdarah bulan lalu. Mereka hanya melihat dua puluh detik yang diedit, dan mereka merasa berhak menjadi Tuhan atas hidupku.

Namun, hancurnya reputasiku di dunia maya ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi siang itu.

Pukul satu siang, suara klakson mobil jemputan sekolah terdengar dari depan rumah. Aku buru-buru merapikan wajahku, mencuci muka agar mata sembabku tidak terlalu kentara, lalu berlari membuka pintu utama untuk menyambut putri kecilku.

Biasanya, Kayla akan langsung melompat keluar dari mobil jemputan, berlari ke arahku sambil menceritakan apa yang ia gambar hari ini, lalu memeluk kakiku dengan tawa renyah.

Tapi hari ini berbeda. Sangat berbeda.

Kayla turun dari mobil dengan langkah gontai yang sangat lambat. Kepalanya menunduk dalam, menatap ujung sepatu kets merah jambunya. Tangan kirinya memegang tali ranselnya dengan erat, sementara tangan kanannya meremas sebuah kertas gambar yang sudah kusut masai.

Sopir jemputan, Pak Maman, hanya menundukkan kepala sekilas ke arahku tanpa memberikan senyum ramah seperti biasanya, lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.

"Kayla? Sayang? Anak Mama udah pulang," sapaku dengan suara yang kubuat seceria mungkin. Aku berjongkok di teras, merentangkan kedua tanganku menantinya masuk ke dalam pelukanku.

Kayla menghentikan langkahnya sekitar satu meter dariku. Ia tidak berlari ke arahku. Ia tidak tersenyum. Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

Dadaku seolah dihantam batu besar. Mata bulat putriku merah dan bengkak. Pipi gembulnya dipenuhi jejak air mata yang sudah mengering. Ada tatapan terluka yang begitu dalam di mata anak berusia enam tahun itu, tatapan yang seharusnya tidak pernah ada pada anak seusianya.

"Sayang... kamu kenapa, Nak? Ada yang nakal di sekolah? Coba cerita sama Mama," aku maju perlahan, meraih bahunya yang bergetar kecil.

Kayla menatapku dengan bibir bergetar, lalu tangisnya pecah. Ia tidak memelukku. Ia justru melangkah mundur, menghindari sentuhanku.

"Mama... hiks... Mama beneran monster ya?" isak Kayla, suaranya putus-putus. "Mama mau pukul Kayla kayak di video itu?"

"Astaga, Kayla... Nggak, Sayang, nggak! Mama nggak mungkin pukul kamu!" Aku langsung menariknya paksa ke dalam pelukanku, tidak peduli ia meronta kecil. Aku memeluknya seerat mungkin, mencium puncak kepalanya berkali-kali. "Siapa yang bilang begitu? Siapa, Nak?"

"Temen-temen..." Kayla terisak hebat di dadaku, meremas kemejaku dengan kepalan tangan kecilnya. "Tadi... tadi Kayla mau main ayunan sama Caca... tapi mamanya Caca tarik Caca. Mamanya Caca bilang... hiks... jangan main sama Kayla. Mamanya Kayla jahat... iblis."

Air mataku menetes seketika, jatuh membasahi rambut putriku.

"Terus... Rio bilang... ibunya Rio bilang Mama itu manipulatif... Mama suka bohong. Mereka semua jauhin Kayla, Ma... Kayla duduk sendirian pas istirahat... Nggak ada yang mau bagi bekal sama Kayla... Hiks... Mama jahat, gara-gara Mama teman-teman benci sama Kayla!"

Kayla melempar kertas kusut yang dipegangnya ke lantai teras. Kertas itu terbuka perlahan oleh angin. Itu adalah gambar keluarga yang selalu dibuat Kayla. Gambar aku, Rizki, dan Kayla yang sedang berpegangan tangan. Tapi gambar wajahku di kertas itu sudah dicoret-coret menggunakan krayon hitam yang ditekan sangat kuat hingga kertasnya hampir robek.

Tatapanku kosong melihat gambar itu. Hancur. Duniaku benar-benar hancur lebur tanpa sisa.

Aku membopong Kayla masuk ke dalam rumah. Mengabaikan lampu kamera CCTV yang berkedip di sudut ruangan, aku terus memeluknya, menenangkannya, membisikkan jutaan kata maaf yang rasanya tidak akan pernah cukup untuk menebus trauma yang harus ditanggungnya hari ini.

Aku menyuapinya makan siang yang hanya dimakan dua suap, memandikannya, dan menunggunya sampai ia jatuh tertidur karena kelelahan menangis. Matanya terpejam, tapi sesekali napasnya masih tersengal, menandakan betapa terguncangnya mental anak sekecil itu.

Begitu napas Kayla mulai teratur di tempat tidurnya, pertahananku runtuh total.

Aku berlari keluar dari kamarnya, melintasi lorong lantai dua, menghindari tatapan kamera pengawas, dan langsung mengunci diriku di dalam kamar mandi utama.

Ini adalah satu-satunya ruangan di rumah ini yang kuingat tidak pernah dipasangi CCTV oleh Rizki. Satu-satunya tempat persembunyianku.

Aku menyalakan keran air shower hingga putaran maksimal. Membiarkan air dingin menderas menghantam lantai keramik untuk menyamarkan suaraku. Aku merosot duduk di bawah guyuran air, masih dengan pakaian lengkap. Dinginnya air seketika menusuk tulang, tapi rasanya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadaku.

Aku melingkarkan kedua lengan memeluk lututku, membenamkan wajahku di sana, dan mulai menjerit.

Aku menjerit sekuat tenaga, meraung di tengah gemuruh air yang jatuh. Suaraku pecah, serak, dan melolong seperti binatang yang terluka parah.

Tuhan, tolong aku! jerit batinku putus asa. Hukum aku kalau aku salah! Tapi jangan sentuh anakku! Jangan biarkan Kayla menanggung kebencian orang-orang gila di luar sana!

Bayangan wajah Kayla yang ketakutan, kata-katanya bahwa ibu teman-temannya menyuruh mereka menjauhinya, merobek-robek hatiku. Aku gagal. Aku gagal melindungi hal yang paling berharga dalam hidupku. Segala uang yang kudapatkan dari media sosial tidak ada artinya jika harga yang harus dibayar adalah kesehatan mental anakku.

Aku menangis sampai tenggorokanku terasa berdarah. Aku menangis sampai kepalaku berdenyut hebat dan mataku perih luar biasa. Aku menangis menyadari bahwa aku sama sekali tidak berdaya, bahwa seseorang di luar sana sedang tertawa melihat kehancuran hidupku.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu kamar mandi membuat isakanku terhenti paksa. Aku menahan napas.

"Haura? Sayang? Kamu di dalam?"

Itu suara Rizki. Pukul berapa ini? Kenapa ia sudah pulang? Biasanya ia tidak pernah tiba di rumah sebelum pukul enam sore.

"Ra? Buka pintunya, Sayang. Mbak Nur bilang kamu ngunci diri di kamar mandi dari sejam yang lalu. Kamu bikin aku panik." Nada suaranya terdengar begitu cemas, begitu penuh kekhawatiran yang tebal.

Dengan tangan gemetar dan pakaian yang basah kuyup, aku mematikan keran shower. Aku berdiri dengan susah payah, kakiku kram karena terlalu lama berjongkok di lantai yang dingin. Perlahan, aku memutar kunci pintu dan membukanya.

Rizki berdiri di sana, masih mengenakan kemeja kantornya yang sedikit kusut. Begitu melihat kondisiku—basah kuyup, menggigil, dengan wajah pucat pasi dan mata merah bengkak—raut wajahnya langsung berubah penuh empati.

"Astaga, Haura... Ya Tuhan," gumamnya, langsung melangkah maju tanpa mempedulikan pakaian kerjanya yang mahal akan ikut basah.

Ia menarikku ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Kedua tangannya yang besar dan kokoh mendekap tubuhku yang bergetar hebat akibat kedinginan dan syok. Ia mengelus punggungku, menciumi puncak kepalaku yang basah oleh air.

"Mas..." isakku kembali pecah di dadanya. "Kayla, Mas... Kayla dijauhin teman-temannya di sekolah. Mamanya Caca bilang aku iblis... Kayla nangis, Mas... Dia takut sama aku. Aku nggak sanggup, Mas. Aku nggak sanggup kalau anakku harus ikut nanggung ini..."

"Ssst... sudah, sayang, sudah. Jangan bicara lagi. Aku tahu, aku tahu semuanya," bisik Rizki dengan nada suara baritonnya yang menenangkan, bergetar seolah ia ikut merasakan kepedihan yang kurasakan. "Aku langsung pulang cepat dari kantor pas dengar kabar soal sekolah Kayla. Aku sudah telepon kepala sekolahnya, aku sudah tegur keras komite wali murid. Ini nggak akan terjadi lagi. Aku janji, Sayang. Semuanya akan membaik. Serahkan semuanya padaku."

Aku meremas kemejanya di bagian dada, membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma parfumnya yang maskulin. Pelukannya malam ini terasa sangat nyata. Kata-katanya begitu meyakinkan. Hati kecilku kembali goyah. Nisa pasti salah, bisikku dalam hati. Nggak mungkin pria yang memelukku seerat ini, yang marah demi anaknya ini, adalah dalang di balik semua kehancuran ini. Nggak mungkin.

"Aku akan selalu ada buat kamu, Haura. Kita hadapi ini sama-sama, ya?" ucap Rizki lagi, tangannya merengkuh pinggangku semakin protektif. "Sekarang kamu ganti baju, pakai air hangat. Aku ambilkan handuk dulu."

Rizki melonggarkan pelukannya sedikit, namun tangan kanannya masih memeluk bahuku. Sementara itu, tangan kirinya bergerak santai mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia meletakkan benda pipih itu begitu saja di atas tepian wastafel marmer di sebelah kami, bersiap untuk mengambil handuk di rak atas.

Aku masih menyandarkan kepalaku di dadanya, mengatur napasku yang tersengal. Pandanganku yang kabur oleh air mata tanpa sengaja jatuh pada layar ponsel Rizki yang diletakkan di wastafel.

Dalam sepersekian detik sebelum layar itu otomatis meredup, sebuah notifikasi pop-up muncul di bagian atas layar. Itu bukan pesan WhatsApp. Itu adalah notifikasi dari aplikasi mobile banking prioritas milik Rizki, aplikasi yang tidak pernah ia izinkan untuk kulihat selama pernikahan kami.

Ikon bank itu menyala terang, menampilkan deretan teks singkat yang cukup besar untuk terbaca dengan jelas dari jarak sedekat ini.

Mataku terpaku. Jantungku yang tadinya berdetak kencang karena tangis, tiba-tiba berhenti berdetak dalam satu ketukan yang menyakitkan. Aliran darahku terasa surut sepenuhnya dari wajahku, meninggalkan rasa dingin yang membekukan jiwa.

Di layar ponsel suamiku yang sedang memelukku erat, meredam tangisku atas penderitaan yang menimpa putri kami, tertulis dengan sangat jelas:

TRANSFER BERHASIL: Rp 150.000.000,00

Penerima: PT DIGITAL BINA KREASI

Keterangan: Pembayaran campaign tahap 2.

Napasanku terputus.

Campaign tahap 2?

Sebuah agensi digital? Seratus lima puluh juta rupiah?

Aku tidak berkedip, menatap huruf-huruf itu hingga perlahan layar ponsel Rizki meredup dan mati, menyisakan pantulan wajahku sendiri yang tampak seperti mayat hidup dari balik kacanya yang hitam.

Di atas kepalaku, Rizki mengelus rambutku dengan sayang. Bibirnya mengecup keningku.

"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang," bisik pria itu dengan suara paling lembut yang pernah kudengar. "Percaya sama aku."

Saat itu juga, di dalam pelukan hangat suamiku yang sempurna, aku menyadari satu kenyataan mengerikan yang akan mengubah hidupku selamanya.

Nisa benar. Pria yang sedang mendekapku ini, pria yang bersumpah akan melindungiku dari kejahatan dunia... adalah monster sesungguhnya yang sedang membayarku untuk dihancurkan.