Hujan turun bagai badai malam ini, menghantam atap seng rumah kontrakan kami dengan suara yang memekakkan telinga. Aku melirik jam dinding yang berdetak monoton. Pukul sebelas malam.

Secangkir teh chamomile yang kubuatkan untuk Raka sudah dingin sejak dua jam yang lalu. Suamiku belum juga pulang.

Aku menghela napas panjang, mengusap tengkukku yang terasa kaku. Membangun bisnis dari nol memang tidak mudah. Aku tahu Raka sedang kesulitan mencari investor untuk perusahaannya yang di ambang kebangkrutan. Sebagai istri, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menemaninya di titik terendah sekalipun. Aku rela menjual perhiasan peninggalan ibuku bulan lalu hanya agar kami bisa makan dan membayar sewa rumah.

"Angkat teleponnya, Mas," gumamku sambil menekan nomor Raka untuk yang kesepuluh kalinya.

Hanya suara operator yang terdengar. Ponselnya mati total.

Kecemasan mulai merayap naik ke dadaku. Di luar sana, kilat menyambar, menyinari ruang tamu kami yang remang-remang. Bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar, terdengar ketukan keras dari pintu depan.

Tok! Tok! Tok!

Ketukannya kaku dan berirama tegas. Itu bukan cara Raka mengetuk pintu. Suamiku selalu memutar kenop pintu lebih dulu sebelum mengetuk dengan pola nadanya yang khas.

Jantungku berdebar lebih cepat. Siapa yang bertamu di tengah malam buta dalam keadaan badai seperti ini?

Aku berjalan gontai menuju pintu, mengintip dari balik gorden jendela. Ada sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir tepat di depan pagar rumah kami yang berkarat. Mesinnya menyala, dan lampu depannya menembus derasnya hujan.

Tok! Tok! Tok!

"Siapa?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar, berusaha mengalahkan suara hujan.

"Malam, Nyonya. Kami mencari Bapak Raka Pratama." Sebuah suara berat dan dingin membalas dari luar.

Ragu-ragu, aku memutar kunci dan membuka pintu perlahan. Angin dingin dan tampias hujan langsung menerpa wajahku. Tiga orang pria berdiri di teras rumah. Mereka semua mengenakan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, dilindungi oleh payung-payung besar berwarna senada. Pria yang berdiri paling depan memiliki bekas luka goresan tipis di pelipisnya, menatapku dengan mata setajam elang.

"Suami saya belum pulang," kataku cepat, berusaha menutupi kegugupanku. "Ada keperluan apa malam-malam begini? Kalau urusan pekerjaan, bisa kembali ke kantornya besok pagi."

Pria di depan itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Sayang sekali, Nyonya. Kami tidak datang untuk urusan pekerjaan biasa."

"Lalu?"

"Kami datang untuk menjemput jaminan utang," jawabnya tenang, namun kata-katanya terasa seperti bongkahan es yang dilemparkan ke wajahku.

"Jaminan utang?" Aku mengerutkan dahi, tertawa canggung. "Bapak pasti salah alamat. Suami saya memang sedang ada masalah bisnis, tapi kami tidak punya barang berharga apa pun untuk dijadikan jaminan. Rumah ini pun kami cuma menyewa."

Dua pria di belakangnya tetap diam seperti patung, membuat suasana semakin mencekam. Pria di depan melangkah maju satu langkah, membuatku refleks mundur.

"Kami tidak pernah salah alamat, Nyonya Sari," ucap pria itu.

Darahku berdesir. Bagaimana dia tahu namaku?

Pria itu merogoh bagian dalam jasnya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam pekat dengan lambang keemasan yang tidak kukenali di bagian depannya. Ia membuka map itu dan menyodorkan selembar dokumen tebal ke arahku.

"Silakan dibaca, Nyonya. Ini adalah salinan kontrak yang ditandatangani oleh suami Anda secara sadar dan tanpa paksaan."

Tangan kananku gemetar saat meraih dokumen itu. Ada cap merah menyala dan tanda tangan Raka yang sangat kukenali di atas materai. Mataku menyapu deretan kalimat dengan bahasa hukum yang rumit, mencoba mencari inti dari apa yang sedang terjadi. Otakku menolak memproses angka-angka nol yang terlalu banyak di dalam kertas itu. Utang? Suamiku berutang sebanyak ini?

Namun, bukan jumlah uangnya yang menghentikan detak jantungku.

Jari telunjukku berhenti pada satu paragraf di halaman kedua. Sebuah klausa tentang penyerahan aset jika utang tidak dibayar tepat waktu.

Mataku terpaku. Napasku tercekat di tenggorokan. Kertas di tanganku seakan berubah menjadi bara api, tetapi aku terlalu lumpuh untuk menjatuhkannya. Aku membaca satu kalimat yang membuat seluruh darah di tubuhku membeku:

"Jaminan yang diserahkan: Istri sah, Sari Anggraini."