Cengkeraman kedua pria berbadan besar itu terasa seperti besi panas yang meremukkan tulang lenganku. Aku menjerit, meronta sejadi-jadinya, menendang ke udara kosong. Namun, kakiku bahkan tidak menyentuh lantai. Mereka mengangkat tubuhku dengan mudahnya, menyeretku menuju pintu depan yang terbuka lebar, membiarkan badai malam menelan jeritanku.

"Lepaskan aku! Bajingan! Kalian tidak berhak melakukan ini!" teriakku, suaraku parau, tenggorokanku terasa robek.

Mataku nanar mencari sosok pria yang seharusnya melindungiku, pria yang telah mengikat janji suci di hadapan Tuhan untuk menjaga hidup dan matiku.

Raka.

Suamiku itu masih tersungkur di lantai ruang tamu, memegangi dadanya yang baru saja ditendang. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, menodai kemeja putihnya yang basah kuyup.

"Mas Raka! Tolong aku!" raungku, air mataku mengalir deras, mengaburkan pandanganku. "Lakukan sesuatu! Bangun, Mas! Jangan biarkan mereka membawaku!"

Kupikir dia akan bangkit. Kupikir dia akan mengambil pisau dapur, memukul mereka dengan kursi, atau setidaknya memeluk kakiku dan memohon agar mereka melepaskanku. Sesuatu. Apa saja!

Namun, Raka hanya menatapku. Matanya penuh ketakutan, bahunya bergetar hebat. Ia menangis tersedu-sedu, mengerutkan tubuhnya seperti cacing yang disiram garam.

"Maafkan aku, Sar..." Suaranya terdengar pecah, nyaris tenggelam oleh suara guntur. "Aku janji... aku akan cari uangnya. Aku akan menebusmu secepatnya. Tolong mengerti, Sar... kalau aku melawan, mereka akan membunuhku malam ini juga."

Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan fisik apa pun. Waktu seolah melambat. Udara di sekitarku mendadak habis. Rasa panik dan takut yang sedari tadi mencengkeramku tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa jijik dan kehampaan yang luar biasa gelap.

Pria ini... pria yang kusuapi saat dia sakit, pria yang bajunya kusetrika setiap pagi, pria yang demi dirinya aku rela makan nasi dengan garam agar dia bisa terlihat pantas saat menemui klien... ternyata adalah seorang pengecut yang rela menumbalkan istrinya sendiri demi nyawanya yang tak berharga.

"Kamu bukan laki-laki, Raka," desisku, suaraku berubah dingin, menembus derasnya hujan. Mataku menatap lurus ke dalam matanya, memastikan dia melihat kebencianku yang menyala. "Mulai detik ini, kau bukan suamiku. Dan aku bersumpah, Raka... aku bersumpah kau akan menyesali malam ini seumur hidupmu!"

Pria dengan bekas luka di pelipisβ€”yang memimpin rombongan iniβ€”mendengus geli. "Drama yang mengharukan. Bawa dia masuk ke mobil. Kita sudah buang terlalu banyak waktu."

Mereka menarikku keluar rumah. Hujan deras langsung membasahi tubuhku, menembus daster katun tipis yang kukenakan. Aku menggigil kedinginan, namun tidak melawan lagi. Tenagaku habis, digantikan oleh kebuntuan pikiran.

Mereka mendorongku masuk ke kursi belakang mobil SUV mewah itu. Salah satu pria bertubuh besar duduk di sebelah kananku, mengunci pergerakanku, sementara pria dengan bekas luka duduk di kursi depan, di sebelah sopir. Pintu mobil ditutup dengan suara bantingan yang berat, memutus suara badai di luar, menggantinya dengan keheningan kabin mobil yang mencekam dan beraroma kulit mahal serta parfum maskulin.

Mesin mobil menderu halus. Saat roda mulai berputar meninggalkan pekarangan rumah kontrakanku, aku menoleh ke belakang melalui kaca jendela yang berembun.

Raka berdiri di ambang pintu. Siluetnya terlihat menyedihkan di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Ia tidak berlari mengejar. Ia tidak berteriak memanggil namaku. Ia hanya berdiri diam di sana, menatap mobil ini menjauh, membawa istrinya ke tempat antah berantah. Pengecut itu membiarkanku pergi.

Aku memejamkan mata, membiarkan air mata terakhir jatuh menuruni pipiku. Berakhir sudah. Kehidupan sederhana namun penuh cinta yang selalu kubanggakan ternyata hanyalah ilusi berdarah.

"Kamu seharusnya berhenti menangis," sebuah suara berat memecah keheningan kabin.

Aku membuka mata dan menatap pria berwajah codet yang melihatku melalui kaca spion tengah. Matanya tajam, mengulitiku dari atas ke bawah.

"Kalian penculik," desisku tajam. "Kalian semua penjahat."

Pria itu malah tertawa pelan, tawa yang meremehkan. "Kami bukan penjahat, Nyonya Sari. Kami adalah pebisnis. Dan di dunia bisnis, utang harus dibayar. Suamimu menilaimu seharga lima miliar. Seharusnya kamu tersanjung, ternyata kau cukup mahal untuk ukuran wanita dari pinggiran kota."

Aku membuang muka, menatap jalanan gelap yang diguyur hujan, mengepalkan tanganku erat-erat.

"Jangan menatap kami dengan tatapan penuh dendam seperti itu," lanjut pria itu, nadanya kini merendah, terdengar seperti sebuah ancaman yang dibungkus dengan beludru. "Kamu tidak tahu ke mana kamu akan pergi. Di luar sana, ribuan orang rela membunuh demi bisa menginjakkan kaki di gedung kami. Beruntung sekali kamu dipilih. Tidak semua orang bisa masuk ke dunia kami."