"Ini gila!"

Kertas itu terlepas dari tanganku, jatuh ke lantai teras yang basah oleh tampias hujan. Aku melangkah mundur hingga punggungku menabrak dinding ruang tamu. Mataku menatap liar ke arah ketiga pria itu secara bergantian.

"Ini lelucon macam apa?! Suami saya tidak mungkin menyerahkan istrinya sendiri! Ini pasti penipuan!" teriakku, suaraku terdengar melengking di tengah gemuruh hujan.

Pria dengan bekas luka di pelipis itu membungkuk dengan tenang, memungut dokumen tersebut, mengusap air yang menetes di plastiknya, lalu memasukkannya kembali ke dalam map kulit.

"Kami tidak punya waktu untuk melucu, Nyonya Sari," ucapnya, nadanya datar dan mengintimidasi. "Suami Anda, Raka Pratama, meminjam dana sebesar lima miliar rupiah dari Klub Imperium."

"Klub Imperium? Aku bahkan tidak pernah mendengar nama itu!" sergahku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku akibat campuran amarah dan ketakutan.

"Tidak banyak yang mendengar tentang kami, dan itu memang sengaja dibuat demikian. Kami adalah perkumpulan eksklusif." Pria itu melipat payungnya dan tanpa permisi melangkah masuk ke ruang tamuku, diikuti dua anak buahnya.

"Hei! Siapa yang menyuruh kalian masuk?!" Aku berteriak panik, berlari ke arah meja dan meraih ponselku. Tanganku gemetar hebat saat mencoba menekan nomor Raka lagi. Sialan, angkat Raka! Angkat!

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif…”

"Percuma, Nyonya," ucap pria itu sambil mengedarkan pandangan meremehkan ke sekeliling ruang tamu kami yang sempit dan usang. "Dia sedang bersembunyi. Atau mungkin sedang merutuki kebodohannya sendiri."

"Keluar dari rumahku, atau aku lapor polisi sekarang juga!" ancamku, mengacungkan ponsel.

Pria itu malah terkekeh pelan. "Lapor polisi? Silakan. Tapi saya harus mengingatkan Anda, Klub Imperium mengendalikan lebih dari yang Anda kira. Polisi mana pun yang Anda panggil malam ini hanya akan berbalik pergi setelah melihat cap di dokumen itu." Ia menatap tajam langsung ke mataku. "Kontrak itu sah secara hukum di lingkaran kami. Raka tidak punya apa-apa lagi. Bisnisnya hancur. Dan jika dia tidak melunasi utangnya, kontrak menyatakan Anda harus bekerja untuk Klub Imperium selama satu tahun sebagai ganti rugi."

"Bekerja? Menjadi apa?! Barang dagangan?!" Aku menjerit, air mata akhirnya luruh membasahi pipiku. "Kalian pikir manusia itu barang yang bisa digadaikan?!"

"Di dunia kami, ya. Semua hal ada harganya." Ia melirik jam tangan mewahnya. "Kami bisa saja menyeret Anda sekarang. Tapi saya orang yang beradab. Kami akan menunggu sampai suami Anda pulang untuk menyelesaikan penyerahan ini."

"Suamiku tidak akan pernah membiarkan kalian menyentuhku!" tangisku meledak. Aku memeluk tubuhku sendiri yang mulai menggigil kedinginan. "Dia mencintaiku. Dia mungkin sedang kesulitan uang, tapi dia bukan monster! Kalian memalsukan tanda tangannya!"

Tepat saat kalimat itu meluncur dari bibirku, terdengar suara gerbang depan yang dibuka secara paksa. Aku menoleh dengan cepat.

Di tengah guyuran hujan, sebuah taksi tua berhenti. Seseorang keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya berantakan, dan wajahnya sepucat mayat.

Itu Raka.

"Mas Raka!" teriakku, setengah berlari ke arah pintu. Harapan tiba-tiba membumbung tinggi di dadaku. Suamiku pulang. Dia akan mengusir orang-orang gila ini. Dia akan menjelaskan bahwa semua ini hanya salah paham yang konyol.

Raka membeku di ambang pintu saat melihat tiga pria berjas hitam berdiri di ruang tamunya. Kunci rumah jatuh dari tangannya dengan bunyi denting yang pelan. Matanya melebar, memancarkan ketakutan yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

"Mas... Mas, bilang sama mereka kalau dokumen itu palsu!" Aku menarik lengan kemejanya yang basah, mengguncangnya. "Bilang ke mereka, Mas! Mereka bilang kamu menggadaikan aku untuk utang lima miliar! Usir mereka, Mas!"

Raka menatapku dengan mata yang memerah dan berair. Bibirnya bergetar hebat. Ia melirik pria berjas itu, lalu kembali menatapku. Tangannya perlahan naik, memegang bahuku dengan cengkeraman yang lemah.

Dan bukannya membantah, ia justru berkata pelan:

"Maaf, Sar… aku memang menandatangani kontrak itu."