Aku tidak tahu berapa lama aku berada di dalam mobil itu. Jalanan kota yang kukenali perlahan berubah. Mobil ini tidak menuju ke daerah kumuh atau gudang terbengkalai seperti yang sering kulihat di film-film penculikan. Sebaliknya, kami memasuki kawasan elit di pusat kota, melewati gerbang-gerbang tinggi rumah kedutaan dan gedung pencakar langit.
Tiba-tiba, mobil berbelok tajam memasuki sebuah jalan bawah tanah pribadi. Kegelapan menyelimuti kami selama beberapa menit sebelum akhirnya lampu-lampu LED terang menyilaukan mataku. Kami berada di sebuah basement yang sangat luas, dipenuhi oleh deretan mobil-mobil supercar keluaran terbaru dan mobil-mobil mewah anti peluru.
"Turun," perintah pria di sebelahku, membuka pintu.
Aku melangkah keluar dengan kaki gemetar. Dasterku yang basah kini menempel di kulit, membuatku merasa semakin rentan dan terhina. Namun, aku menegakkan kepalaku. Jika mereka ingin melihatku hancur, aku tidak akan memberikan kepuasan itu secara cuma-cuma.
Pria dengan codet itu—yang kudengar anak buahnya memanggilnya Tuan Barata—berjalan di depanku. "Ikuti saya. Jangan bertingkah konyol. Banyak mata yang mengawasimu di sini."
Kami melangkah menuju sebuah lift berlapis emas dan kaca hitam. Lift itu tidak memiliki tombol angka, hanya sebuah pemindai retina. Barata mendekatkan matanya, dan pintu lift terbuka tanpa suara.
Ketika lift berhenti dan pintunya terbuka kembali, napasku tertahan di tenggorokan.
Dunia di hadapanku bukanlah tempat penyekapan kotor. Ini adalah sebuah aula mahamegah yang interiornya mengingatkanku pada istana di Eropa klasik. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya hangat keemasan, memantul di atas lantai pualam putih bersih yang memanjang sejauh mata memandang. Pilar-pilar pualam berukir berdiri kokoh. Alunan musik klasik dari gesekan biola terdengar sayup-sayup, berpadu dengan dengung percakapan rendah dan tawa elegan.
"Jalan," Barata mendorong punggungku pelan.
Kami berjalan menyusuri pinggiran aula. Di bagian tengah, kulihat puluhan orang berpakaian sangat mewah—jas yang dijahit khusus, gaun malam bertabur berlian, dan perhiasan yang harganya mungkin bisa memberi makan satu desa selama setahun. Mereka memegang gelas sampanye, berbicara, tertawa, dan... bertaruh.
Namun, bukan kemewahan itu yang membuat darahku berdesir. Melainkan orang-orang yang berdiri di sudut-sudut ruangan, atau di belakang para tamu mewah itu.
Ada wanita-wanita muda dan pria-pria rupawan yang mengenakan pakaian seragam serba hitam. Mereka berdiri mematung seperti pelayan, namun ada sesuatu yang salah dengan sorot mata mereka. Mata mereka kosong, dipenuhi ketakutan dan keputusasaan yang sama seperti yang kurasakan saat ini.
Di salah satu sofa kulit bundar, seorang pria tua gendut sedang tertawa sambil mengelus rambut seorang wanita muda yang berlutut di samping kakinya. Wanita itu gemetar, namun tidak berani menepis tangan si pria. Di pergelangan tangan wanita itu, kulihat sebuah gelang logam tipis yang berkedip merah.
Perutku mual. Pemahaman itu menghantamku seperti godam baja.
Orang-orang berbaju hitam itu... mereka sama sepertiku. Mereka bukan karyawan biasa. Mereka adalah "jaminan". Mereka adalah nyawa-nyawa yang digadaikan oleh keluarga, suami, atau ayah mereka sendiri kepada klub neraka ini. Mereka diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai aset bergerak. Koleksi. Mainan.
"Ini... ini gila," bisikku tanpa sadar. "Kalian memperdagangkan manusia secara terang-terangan..."
Barata mendengus. "Perdagangan manusia itu ilegal, Nyonya Sari. Kami tidak melakukan itu. Semua orang yang kamu lihat memakai seragam hitam di sini berada di sini secara legal. Mereka terikat kontrak hutang piutang yang sah. Mereka bekerja untuk membayar hutang keluarga mereka. Kami menyebutnya... pengabdian eksklusif."
"Pengabdian? Ini perbudakan!" desisku marah.
"Pilih kata-katamu dengan hati-hati," Barata mencengkeram lenganku kuat-kuat. "Di ruangan ini, ada menteri, ada jenderal, ada konglomerat yang mengendalikan ekonomi negara. Satu teriakan darimu, dan aku jamin mayat suamimu akan ditemukan mengambang di sungai besok pagi."
Aku langsung menutup mulutku, menggigit bibir bawahku keras-keras untuk menahan tangis. Raka mungkin bajingan, tapi aku tidak ingin menjadi penyebab kematiannya.
Kami berjalan semakin jauh ke dalam klub, melewati sebuah koridor yang lebih sepi. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan abstrak mahal. Aku menundukkan kepala, merasa sangat hina dengan penampilanku yang acak-acakan dan basah kuyup di tengah istana ini.
Tiba-tiba, langkah Barata terhenti. Aku hampir menabrak punggungnya.
"Selamat malam, Tuan," sapa Barata, nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat hormat, bahkan sedikit gentar.
Aku mendongak perlahan.
Di hadapan kami, berdiri seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang tegak dan berwibawa. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang terlihat sederhana namun potongannya sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan beberapa helai uban di pelipisnya. Ia memegang sebuah tongkat dengan gagang perak berbentuk kepala serigala.
Pria itu tidak merespons sapaan Barata. Matanya yang gelap dan tajam menatap lurus ke arahku.
Tatapannya begitu menusuk, seolah mampu menelanjangi jiwaku, melihat langsung ke dalam masa laluku. Jantungku berdebar tak karuan. Ada sesuatu dari wajah pria itu yang membuatku merinding, sebuah aura kekuasaan mutlak yang membuat udara di koridor ini terasa menipis.
Ia melangkah maju perlahan. Tongkat peraknya berketuk di lantai pualam. Tuk. Tuk. Tuk. Pria misterius itu berhenti tepat di depanku. Ia tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan. Ia mengamati lekuk wajahku, hidungku, mataku. Ekspresinya yang dingin perlahan berubah. Ada kilatan keterkejutan yang ia coba sembunyikan dengan cepat, namun rahangnya terlihat menegang.
"Siapa nama wanita ini?" tanyanya. Suaranya berat, serak, dan bergema.
"Jaminan baru, Tuan. Atas nama Raka Pratama. Nama wanita ini Sari Anggraini," jawab Barata cepat.
Pria itu terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Ia menatap mataku lekat-lekat, lalu menyunggingkan sebuah senyum yang sulit diartikan.
"Menarik…" gumam pria misterius itu pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Wajahmu… sangat mirip dengan seseorang yang dulu aku kenal."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar