Duniaku berhenti berputar. Suara hujan di luar mendadak terdengar berdengung jauh di telingaku, digantikan oleh suara dengingan panjang di kepalaku.
Aku menepis tangan Raka dari bahuku seolah kulitnya adalah racun yang membakar.
"Apa... apa maksudmu?" bisikku. Suaraku nyaris tak terdengar. Aku berharap aku salah dengar. Aku memohon pada Tuhan agar ini hanyalah mimpi buruk.
Raka jatuh berlutut di depanku. Air mata bercampur air hujan membasahi wajahnya. Ia mencengkeram ujung dasterku, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
"Maafin aku, Sari... Ampuni aku! Aku dijebak! Bisnisku hancur total bulan lalu. Investor lari bawa uang kita, vendor menuntut pembayaran... Kalau aku tidak bayar, aku akan dipenjara, Sar!" Raka meratap, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai.
"Lalu kau menukar istrimu untuk membebaskan dirimu?!" Aku menjerit sekuat tenaga, suaraku serak karena tenggorokanku terasa robek. "Kau menukarku?! Menggadaikanku pada lintah darat seperti barang bekas?!"
"Tidak, Sayang, dengarkan aku dulu!" Raka mendongak, wajahnya menyedihkan. "Itu Klub Imperium! Mereka bukan lintah darat biasa. Mereka menawarkan pinjaman cepat. Aku... aku awalnya hanya disuruh tanda tangan, mereka bilang jaminannya hanya formalitas! Aku yakin bulan ini aku bisa dapat proyek baru untuk melunasi utangnya. Aku bersumpah, Sar! Aku berniat menebusmu sebelum jatuh tempo!"
Plak!
Tanganku melayang begitu saja menampar pipi kirinya. Begitu keras hingga telapak tanganku terasa panas dan berdenyut.
"Kau bajingan egois, Raka!" raungku, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadaku sesak, seakan paru-paruku diremas kuat. "Aku menemanimu makan mie instan dibagi dua saat kau baru merintis usaha. Aku merawat ibumu saat beliau sakit keras sampai meninggal. Aku menjual kalung peninggalan ibuku untuk bayar sewa rumah ini! Dan ini balasanmu?! Menjadikanku pelacur untuk orang-orang kaya itu?!"
"Sari, bukan begitu! Kamu cuma harus kerja di sana... jadi asisten atau apa pun, bukan dijual!" Raka memohon, berusaha meraih tanganku namun aku melangkah mundur dengan jijik. "Lagi pula, aku masih punya waktu! Aku masih punya waktu!"
Raka menoleh dengan panik ke arah tiga pria berjas yang sedari tadi hanya menonton kami dalam keheningan yang dingin.
"Beri aku waktu seminggu lagi!" Raka berteriak pada pria dengan bekas luka itu. "Jatuh temponya masih bulan depan, kan?! Di kontrak tertulis bulan depan! Aku akan cari pinjaman dari bank, aku akan jual organ tubuhku kalau perlu! Tapi jangan bawa istriku!"
Pria itu tersenyum meremehkan. Ia melangkah maju perlahan, sepatu kulitnya mengetuk lantai dengan bunyi yang mengancam. Ia kembali membuka map hitamnya, menarik selembar kertas lain yang lebih tipis dan melemparkannya ke depan Raka yang masih berlutut.
"Drama keluarga yang sangat menyentuh. Tapi waktu kami sangat berharga, Raka," ucap pria itu dingin. "Baca baik-baik adendum yang kau tanda tangani minggu lalu saat kau meminta tambahan waktu tunda."
Tangan Raka bergetar saat mengambil kertas basah itu. Matanya membaca dengan cepat, lalu seketika wajahnya berubah semakin pucat. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
"Kau gagal memenuhi syarat tambahan dari Klub," pria itu menjelaskan, nada suaranya memotong udara seperti pisau. "Bunga berlipat ganda, dan sesuai perjanjian adendum yang kau setujui tanpa membacanya dengan teliti... jatuh tempo utangmu ditarik maju."
Pria itu melirik jam tangan mewahnya yang berlapis emas.
"Pukul 23:59. Jatuh temponya adalah malam ini."
"Tidak... tidak mungkin..." Raka menggelengkan kepalanya dengan brutal. "Kalian menipuku! Kalian sengaja melakukan ini!"
"Kami adalah pengusaha, Raka. Kami hanya menagih aset yang menjadi hak kami secara legal." Pria itu sama sekali tidak mempedulikan tangisan Raka. Ia mengalihkan pandangannya kepadaku. Tatapannya membuat bulu kudukku berdiri. Itu adalah tatapan seorang tuan kepada barang miliknya.
Ia memberi isyarat dengan lambaian kecil pada dua anak buahnya di belakang. Kedua pria berbadan besar itu langsung melangkah maju, memegang kedua lenganku dengan cengkeraman sekuat besi.
"Lepaskan aku! Lepas!" Aku meronta dengan sisa tenagaku, menendang ke udara, berusaha melepaskan diri. Namun tenaga mereka tidak sebanding denganku.
"Sari! Jangan bawa dia! Tolong!" Raka berusaha berdiri untuk menolongku, namun pria dengan bekas luka itu menendang dada Raka dengan telak, membuat suamiku terpelanting ke belakang hingga menabrak meja kayu. Raka terbatuk darah, memegangi dadanya dan tak mampu bangkit lagi.
"Mas Raka!" teriakku histeris. Walau dia telah mengkhianatiku, melihatnya disiksa di depan mataku membuat hatiku tetap hancur.
Pria pemimpin itu berjalan mendekatiku, berdiri hanya beberapa sentimeter dari wajahku yang berlinang air mata. Ia merapikan kerah jasnya, lalu tersenyum dingin.
"Berhentilah menangis, Nyonya. Kehidupan lamamu yang menyedihkan ini sudah berakhir."
Ketua rombongan itu menatapku lekat-lekat sebelum berkata:
"Mulai malam ini, Nyonya Sari adalah milik Klub Imperium."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar