Dina meletakkan sendok kayu di pinggir wajan, lalu melangkah ke jendela dapur untuk kesekian kalinya.
Jalan depan rumah masih sepi. Hanya ada angin sore yang menggerakkan dedaunan mangga di halaman, dan suara televisi dari ruang tengah yang selalu dinyalakan keras-keras oleh ibu mertuanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit.
Raka bilang akan tiba sebelum maghrib.
Dina menarik napas panjang, lalu kembali ke kompor. Rendang sudah hampir matang. Aromanya memenuhi seluruh dapur — kayu manis, serai, dan santan yang perlahan mengering menjadi cokelat gelap. Rendang adalah masakan pertama yang ia pelajari khusus untuk Raka. Dua minggu sebelum menikah, ia meminta resep dari ibunya sendiri, menelepon berkali-kali sampai benar-benar hafal takaran rempahnya.
Raka pernah bilang, tidak ada rendang yang lebih enak dari buatan Dina.
Dua tahun sudah ia tidak mendengar suara itu.
"Masih di dapur?"
Dina menoleh. Bu Sari, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu dengan daster batik dan kipas di tangan. Wajahnya datar seperti biasa — tidak ada senyum, tidak ada kehangatan, hanya tatapan yang selalu membuat Dina merasa sedang diperiksa.
"Iya, Bu. Sebentar lagi selesai."
"Jangan gosong." Bu Sari mendecak lalu berbalik pergi.
Dina menghembuskan napas pelan. Sudah dua tahun ia tinggal di rumah ini, dan sudah dua tahun pula ia belajar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah diam. Bu Sari tidak pernah menyukainya. Bahkan sejak pertama kali Raka membawanya ke sini untuk berkenalan, tatapan ibu itu sudah berkata: kamu tidak cukup baik untuk anakku.
Tapi Raka bilang jangan khawatir. Raka bilang Mama butuh waktu.
Dan Dina percaya.
Selama dua tahun ini, ia percaya.
Ia mengurus rumah, memasak tiga kali sehari, membayar tagihan listrik dari uang kiriman Raka, dan tersenyum setiap kali Bu Sari melempar komentar yang pelan-pelan mengikis kepercayaan dirinya. Ia tidak mengeluh. Ia menulis semua rindu dan lelahnya di buku catatan kecil berwarna biru yang ia simpan di laci bawah bantal.
Raka menelepon dua kali seminggu. Kadang sekali. Kadang ia hanya mengirim pesan singkat: "Sehat?" Dan Dina selalu menjawab: "Sehat. Kamu?"
Tidak pernah ada lebih dari itu.
Tapi hari ini semuanya akan berubah.
Hari ini Raka pulang.
Dina mematikan kompor dan mengangkat rendang ke piring besar. Ia sudah menyiapkan nasi, sambal goreng kentang, dan perkedel jagung — semua makanan favorit suaminya. Meja makan sudah ia tata sejak tadi pagi, dengan taplak putih yang ia setrika malam sebelumnya.
Ia ingin semuanya sempurna.
Ia ingin Raka melihatnya dan tersenyum dengan cara yang dulu selalu membuat dadanya hangat.
Bunyi klakson dari depan rumah membuat Dina tersentak.
Ia meletakkan piring, mengelap tangannya dengan celemek, dan berlari kecil ke ruang depan. Jantungnya berdegup kencang. Dua tahun. Dua tahun ia menunggu momen ini. Ia sudah membayangkannya ratusan kali — pintu terbuka, Raka masuk, memeluknya, mencium keningnya, lalu mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar pulang.
Dari celah jendela, ia melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar.
Mobil itu asing. Bukan mobil Raka yang biasa.
"Mama! Raka datang!" suara Bu Sari tiba-tiba terdengar bersemangat dari kamarnya, sesuatu yang nyaris tidak pernah Dina dengar dalam dua tahun terakhir.
Pintu depan terbuka. Bu Sari melangkah cepat ke halaman, wajahnya bersinar dengan senyum yang lebar — senyum yang bahkan tidak pernah ia berikan kepada Dina.
Dina mengikutinya dari belakang, berdiri di ambang pintu.
Pintu mobil terbuka.
Raka keluar dari sisi pengemudi. Ia terlihat lebih kurus, rambutnya sedikit lebih panjang, tapi wajahnya tetap sama. Wajah yang Dina hafal setiap garisnya.
Dina hampir mengucapkan namanya.
Tapi kemudian pintu sisi penumpang terbuka.
Dan seorang perempuan keluar.
Dina membeku.
Perempuan itu tinggi, berkulit terang, dengan rambut hitam panjang yang terurai rapi. Ia mengenakan dress midi berwarna krem yang terlihat mahal. Gerakannya anggun, caranya membenahi rambutnya setelah keluar dari mobil tampak seperti gerakan yang sudah sering dilatih.
Cantik. Sangat cantik.
Dan sebelum Dina sempat bertanya dalam hati siapa perempuan itu, sebelum ia sempat mengusir rasa aneh yang tiba-tiba mencekik tenggorokannya — perempuan itu melangkah ke sisi Raka dan menggandeng lengannya.
Bukan seperti teman.
Bukan seperti rekan kerja.
Tapi seperti seseorang yang merasa punya hak untuk berada di sana.
Bu Sari membuka tangan lebar-lebar. "Ayo masuk, ayo masuk! Mama sudah kangen!"
Dina tidak bergerak.
Ia berdiri di sana, di ambang pintu, dengan tangan masih berbau rempah-rempah dan celemek masih terikat di pinggang, menatap suaminya berjalan masuk ke halaman bersama seorang perempuan yang ia tidak kenal.
Raka melihatnya.
Hanya sedetik.
Lalu ia mengalihkan pandangan.
Dan Dina merasa ada sesuatu yang retak di dalam dadanya — perlahan, seperti kaca yang baru saja tersentuh batu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar