Ruang tamu terasa sesak.
Dina tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa asing di rumah ini. Ia sudah dua tahun tinggal di sini, menghafal setiap sudutnya — retak di plester dinding dekat lemari kaca, bunyi anak tangga ketiga yang selalu berderit, bau kapur barus yang keluar dari lemari Bu Sari setiap kali dibuka. Rumah ini bukan miliknya, itu selalu ia sadari. Tapi selama ini, ia setidaknya merasa seperti bagian dari ruang itu.
Sekarang ia merasa seperti penonton.
Bu Sari duduk di sofa utama bersama perempuan itu, sementara Raka berdiri mengambil minum dari dispenser. Percakapan antara ibu mertua dan perempuan asing itu mengalir dengan mudah — terlalu mudah untuk dua orang yang baru saja bertemu.
Kecuali mereka memang tidak baru bertemu.
"Dina." Suara Raka membuatnya tersentak.
Ia mendongak. Raka berdiri beberapa langkah darinya, memegang dua gelas air mineral. Wajahnya... berbeda. Ada sesuatu di balik matanya yang tidak bisa Dina baca. Bukan kegembiraan bertemu setelah dua tahun. Bukan rindu. Hanya sesuatu yang dingin dan hati-hati.
"Duduk dulu," kata Raka.
Bukan ajakan. Lebih terdengar seperti perintah.
Dina duduk di kursi sudut, satu-satunya kursi yang tersisa karena sofa utama sudah ditempati Bu Sari dan perempuan itu. Raka duduk di sebelah perempuan tersebut, memberikan satu gelas padanya dengan cara yang begitu natural sehingga Dina harus mengingatkan dirinya sendiri untuk bernapas.
"Dina," kata Raka lagi, kali ini dengan nada yang berbeda — nada seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu. "Ini Clara."
Clara.
Nama itu keluar dari mulut suaminya dengan cara yang terlalu familiar.
"Clara..." Raka berhenti sebentar. Hanya sedetik. Tapi sedetik itu terasa seperti satu jam bagi Dina. "Ini istriku."
Keheningan.
Bukan keheningan yang tenang. Bukan keheningan yang nyaman. Tapi keheningan yang terasa seperti vakum — seperti semua udara tiba-tiba disedot keluar dari ruangan itu dan Dina tidak bisa menemukan cara untuk menghirup kembali.
"Apa?" Kata itu keluar dari mulut Dina sebelum ia sempat menahannya.
Clara tersenyum. Senyumnya manis, terlatih, dan tidak menyentuh matanya. "Senang bertemu, Dina."
Dina menatap Raka. "Raka, apa maksudnya—"
"Kami menikah tiga bulan lalu," kata Raka, dengan nada yang sama seperti ketika ia melaporkan sesuatu yang tidak penting. "Di Jakarta."
"Tiga bulan—" Dina mendengar suaranya sendiri bergetar. Ia menelan ludah, mencoba menstabilkan dirinya. "Kamu menikah lagi tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak bilang karena aku tahu kamu akan mempersulit."
"Mempersulit?" Dina hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Raka, aku istrimu—"
"Dan Clara juga istriku." Raka menatapnya akhirnya, dan di matanya tidak ada penyesalan. Hanya tekad yang membatu. "Ini bukan sesuatu yang bisa diubah."
Bu Sari menepuk tangan Clara dengan lembut. "Sudah, sudah. Perjalanan jauh pasti lelah. Mama sudah siapkan kamar." Ia bangkit dari sofa, dan senyumnya — senyum yang tidak pernah ia berikan kepada Dina bahkan sekali pun — masih mekar di wajahnya. "Ayo, Nak."
Clara bangkit dengan anggun, menggandeng lengan Bu Sari, dan keduanya berjalan ke arah lorong kamar.
Raka mengikuti.
Dan Dina ditinggal sendiri di ruang tamu, dengan gelas minumannya yang tidak pernah diambilkan untuknya, dengan aroma rendang yang masih menguar dari dapur, dengan meja makan yang sudah ia tata dengan taplak putih dan harapan yang sekarang terasa seperti benda paling memalukan di dunia.
Ia menatap meja makan itu dari kejauhan.
Perkedel jagung. Sambal goreng kentang. Rendang.
Semua makanan favorit Raka.
Dina meletakkan wajahnya di kedua tangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia menangis tanpa suara.
* * *
Malam itu tidak ada yang makan di meja makan.
Bu Sari memesan nasi kotak dari warung sebelah — tiga porsi. Untuk dirinya, untuk Raka, dan untuk Clara. Tidak ada yang keempat.
Dina duduk di kamarnya dengan pintu tertutup, menatap rendang yang ia masak seharian, yang kini dingin di atas piring.
Ia mendengar tawa dari ruang makan. Tawa Bu Sari, yang terdengar asing di telinganya karena ia tidak pernah benar-benar mendengarnya selama dua tahun ini. Tawa Clara, yang nyaring dan percaya diri. Dan sesekali, suara Raka, rendah dan berat.
Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis.
Ia hanya berbaring di ranjang, menatap plafon kamar, dan bertanya pada dirinya sendiri: apa yang salah dengan aku?
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang ia simpan sebagai "Arman Lama": *Din, gimana kabar? Udah lama ga denger suara kamu.*
Dina menatap pesan itu lama.
Arman. Teman masa kuliahnya yang sudah tidak ia hubungi lebih dari dua tahun, sejak ia menikah dan pindah ke sini mengikuti kemauan Bu Sari agar tinggal bersama.
Biasanya ia akan membalas dengan "Baik-baik aja" dan mengakhiri percakapan di sana.
Tapi malam ini, jemarinya bergerak mengetik hal yang berbeda: *Aku tidak baik-baik saja.*
Ia menghapus pesan itu sebelum mengirimnya.
Lalu ia menaruh ponsel ke samping dan menutup mata.
Di luar kamarnya, tawa itu masih terdengar.
Dan Dina menyadari bahwa ia belum benar-benar memahami seberapa sunyi rumah ini sebenarnya — sampai malam ini, ketika ada suara tawa yang sama sekali bukan untuknya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar