Dina tidak tidur semalaman.
Ia berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan rumah yang perlahan-lahan menjadi sunyi — tawa yang berhenti, langkah kaki yang menjauh, suara pintu kamar yang ditutup. Semua bunyi itu ia dengarkan satu per satu, seperti seseorang yang sedang menginventarisasi kehilangannya.
Subuh datang. Dina bangkit, berwudhu, dan salat.
Dalam doanya ia tidak meminta banyak. Ia hanya meminta kekuatan untuk menghadapi hari ini — karena ia tahu hari ini akan lebih berat dari semalam.
Setelah salat, ia duduk di tepi ranjang dan menyusun kalimatnya dalam kepala. Ia harus bicara dengan Raka. Bukan untuk meminta ia membatalkan pernikahannya dengan Clara — meski bagian dari dirinya ingin sekali mengucapkan itu. Tapi ia harus tahu alasannya. Ia berhak atas penjelasan.
Dua tahun. Ia menunggu dua tahun.
Tidak ada yang memberitahunya. Tidak ada tanda-tanda. Setiap kali ia menelepon, Raka menjawab seperti biasa. "Sehat." "Sibuk." "Nanti pulang." Tidak ada kalimat: aku sudah bertemu seseorang. Tidak ada: aku akan menikah lagi. Tidak ada: maaf, Dina.
Tidak ada apa pun.
Jam enam pagi, Dina keluar dari kamarnya.
Dapur masih kosong. Ia menyalakan kompor, memanaskan air, dan mulai menyiapkan sarapan. Kegiatan itu ia lakukan dengan otomatis — tubuhnya sudah hafal ritme pagi di rumah ini: nasi goreng atau lontong sayur, teh manis untuk Bu Sari, dan kopi hitam tanpa gula untuk—
Dina berhenti.
Dua tahun ia menyiapkan kopi tanpa gula karena suatu hari nanti Raka akan pulang dan ia ingin sudah siap. Sudah hafal. Sudah menjadi istri yang baik dalam arti yang paling sederhana.
Sekarang ia tidak tahu lagi apakah kopi itu harus ia siapkan.
"Oh, kamu sudah di sini."
Dina menoleh. Clara berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan piyama sutra berwarna krem muda yang terlihat sangat mahal, rambutnya diikat longgar. Tanpa makeup pun wajahnya tetap cantik — jenis kecantikan yang membuat Dina sadar bahwa perempuan ini tidak perlu berusaha terlalu keras untuk terlihat sempurna.
"Iya." Dina memaksakan senyum. "Mau sarapan apa?"
Clara masuk ke dapur, membuka kulkas, mengamati isinya dengan ekspresi seorang tamu yang sedang menilai penginapan berbintang. "Ada buah tidak?"
"Ada apel dan pisang."
"Yogurt?"
"Tidak ada."
Clara menutup kulkas. "Nanti beli ya. Aku biasa sarapan yogurt dan granola." Ia mengatakannya ringan, seperti sedang berbicara dengan asisten rumah tangga. Bukan kepada perempuan yang sudah dua tahun tinggal di rumah itu.
Dina mencatat permintaan itu dalam hati. Lalu ia kembali mengaduk nasi goreng.
"Raka bilang kamu yang mengurus rumah selama ini," kata Clara, duduk di kursi meja makan sambil memainkan ponselnya.
"Iya."
"Bagus." Hanya itu. Tidak ada terima kasih. Tidak ada pengakuan. Hanya "bagus" yang terdengar seperti seseorang menilai pekerjaan seorang pegawai.
Raka masuk sepuluh menit kemudian, sudah berpakaian rapi. Ia mengambil kopi yang ternyata sudah Dina siapkan — dengan otomatis, tanpa sadar — dan duduk di sebelah Clara. Keduanya mulai berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, dengan nama-nama yang tidak Dina kenal.
Dina meletakkan piring nasi goreng di meja.
"Raka." Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan.
Raka mendongak.
"Aku perlu bicara denganmu."
Hening sebentar. Clara tidak mengangkat wajah dari ponselnya, tapi Dina melihat senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Nanti," kata Raka.
"Kapan?"
"Nanti, Dina." Nada itu bukan nada suami yang sedang minta waktu. Itu nada seseorang yang tidak ingin diganggu.
Bu Sari masuk dari ruang tengah. "Eh, sudah sarapan? Bagus, bagus." Ia langsung duduk di sebelah Clara, mengelus punggung tangan menantunya yang baru itu dengan penuh kasih sayang. "Semalam tidur nyenyak, Nak?"
"Nyenyak, Ma." Clara tersenyum. Senyum yang berbeda dari yang tadi ia berikan kepada Dina — lebih hangat, lebih hidup.
Bu Sari menoleh ke Dina. "Nasi gorengnya kurang garam kemarin."
Dina membuka mulut untuk menjawab, tapi Bu Sari sudah berpaling kembali ke Clara.
Dina berdiri di sana — di dapur yang selama dua tahun ia rawat, di meja yang selama dua tahun ia bersihkan, di antara orang-orang yang seharusnya keluarganya — dan ia merasa seperti bayangan. Ada, tapi tidak dilihat. Hadir, tapi tidak dihitung.
Setelah sarapan, ketika Bu Sari dan Clara pergi ke ruang tengah, Dina mendekati Raka yang masih duduk dengan kopinya.
"Raka, tolong. Kita harus bicara."
Raka meletakkan gelas. Menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Apa yang ingin ku bicarakan?" Dina hampir tidak percaya. "Kamu pulang membawa perempuan lain dan menyebutnya istrimu. Kamu tidak memberitahuku apa pun. Dan kamu tanya apa yang ingin ku bicarakan?"
"Aku sudah jelaskan semalam."
"Kamu tidak menjelaskan apa pun, Raka. Kamu hanya memberitahuku fakta. Itu bukan penjelasan."
Raka berdiri. "Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi."
"Aku tidak minta kamu mengubahnya!" Dina menahan suaranya agar tidak terdengar ke ruang tengah. "Aku hanya minta kamu menjelaskan kenapa. Dua tahun, Raka. Dua tahun aku menunggu kamu di sini, merawat ibumu, mengurus rumahmu, dan kamu tidak pernah—"
"Dina." Satu kata. Tajam dan dingin seperti pisau yang tidak diangkat tinggi-tinggi tapi langsung ditekan ke luka.
Dina terdiam.
"Bukan waktunya untuk ini." Raka mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Aku ada keperluan."
Ia pergi.
Pintu depan menutup.
Dan Dina berdiri sendirian di dapur, dengan piring kotor yang belum dicuci, dengan pertanyaan yang tidak terjawab, dengan hati yang perlahan-lahan belajar bahwa mungkin — mungkin — ada hal-hal yang lebih menyakitkan dari kesepian.
Salah satunya adalah diabaikan oleh orang yang seharusnya paling melihatmu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar