Dina mengetuk pintu kamarnya sendiri.


Rasanya aneh. Sangat aneh. Kamar itu sudah dua tahun menjadi satu-satunya ruang yang benar-benar ia miliki di rumah ini. Ia yang memilih warna gorden abu-abu mudanya. Ia yang menaruh foto pernikahannya di meja rias. Ia yang menyusun buku-bukunya di rak kecil di sudut.


Sekarang ia harus mengetuk pintu kamarnya sendiri.


Tidak ada jawaban dari dalam.


Dina memutar gagang pintu — dan mendapati pintunya terkunci.


Ia menatap pintu itu beberapa saat. Lalu ia mengetuk lagi, lebih keras.


"Siapa?" Suara Clara dari dalam.


"Aku... Dina. Ini kamarku."


Hening sebentar. Kemudian suara langkah kaki, dan pintu terbuka. Clara berdiri di sana, masih mengenakan piyama sutranya, dengan ekspresi sedikit bingung seolah Dina yang salah tempat.


"Oh." Clara melirik sekilas ke dalam kamar — dan Dina bisa melihat bahwa koper Clara sudah dibuka, pakaiannya sudah digantung di lemari yang pintunya terbuka. "Mama yang minta aku pakai kamar ini. Katanya kamar ini yang paling nyaman."


"Ini kamarku." Dina mendengar suaranya sendiri terdengar aneh. Terlalu pelan. Terlalu rapuh.


Clara mengangguk, ekspresinya tidak berubah. "Ya, aku tahu. Tapi Mama bilang kamu bisa pindah ke kamar lain. Katanya ada kamar kosong di ujung lorong."


Kamar di ujung lorong.


Dina tahu kamar itu. Semua orang di rumah ini tahu kamar itu. Itu bukan kamar — itu bekas gudang penyimpanan yang diubah setengah jadi dengan menambahkan ranjang sempit dan jendela kecil yang menghadap tembok. Tidak ada AC. Tidak ada lemari yang layak. Baunya campuran antara kapur barus dan lembab.


"Itu bukan kamar yang layak—"


"Maaf, aku tidak bisa membantu untuk itu." Clara sudah melangkah mundur ke dalam kamar. "Kamu mau ambil barang-barangmu sekarang? Aku perlu istirahat."


Dina menatap perempuan itu. Menatap kamarnya sendiri di belakang Clara — foto pernikahannya yang masih tergantung di dinding, buku-bukunya yang masih di rak, selimut rajutnya yang masih di atas ranjang.


"Berikan aku waktu untuk memindahkan barang-barangku."


"Tentu." Clara tersenyum — senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan — lalu melangkah ke samping untuk memberi jalan.


Dina masuk ke kamarnya — kamarnya sendiri — dengan perasaan yang tidak bisa ia namai. Ia membuka lemari, mengeluarkan pakaian-pakaiannya satu per satu, melipatnya dan menaruhnya ke dalam koper kecil. Ia menurunkan foto pernikahannya dari dinding. Mengambil buku-bukunya. Mengambil kotak kecil berisi perhiasan simpanannya.


Clara duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel, seolah tidak ada yang terjadi.


"Foto ini bagus," kata Clara tiba-tiba.


Dina menoleh. Clara sedang melihat foto pernikahan yang baru saja Dina lepas dari dinding.


"Raka keliatan muda sekali di sini." Clara meletakkan foto itu di meja rias, bukan memberikannya kepada Dina. "Bisa kutaruh di sini? Bagus untuk dekorasi."


Dina mengambil foto itu dari meja rias.


"Ini milikku."


Clara mengangkat bahu. "Oke."


Dina mengemas sisanya dalam diam. Ketika ia keluar dengan koper kecil dan dua tas, Clara sudah menyelonjorkan kakinya di atas ranjang dan menyalakan laptop, sepenuhnya mengabaikan kehadiran Dina.


Pintu kamar tertutup.


Dina berdiri di lorong sempit yang remang-remang, dengan koper di satu tangan dan tas besar di tangan yang lain, menatap pintu kamar yang sudah dua tahun ia masuki setiap hari.


Bu Sari muncul dari arah dapur. Ia menatap Dina sebentar, lalu ke koper dan tas di tangannya, lalu kembali ke wajah Dina.


"Kamar ujung sudah kubersihkan tadi." Hanya itu yang Bu Sari katakan, lalu ia berjalan masuk kembali ke dapur.


Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pengakuan bahwa apa yang sedang terjadi ini tidak normal, tidak adil, tidak manusiawi.


Dina berjalan ke ujung lorong.


Kamar itu kecil, seperti yang ia ingat. Ranjangnya sempit dengan kasur tipis. Jendelanya kecil dan menghadap tembok tetangga, hanya memberi sedikit cahaya. Lemarinya satu pintu, kayunya sudah memudar.


Dina meletakkan kopernya di lantai.


Ia duduk di tepi ranjang yang berderit di bawah beratnya.


Ia menatap foto pernikahannya yang masih ia pegang di tangan — ia dan Raka, berdiri di depan penghulu, Raka tersenyum dengan cara yang dulu membuat Dina yakin bahwa ia telah menemukan rumahnya.


Ia menaruh foto itu menghadap ke bawah di atas koper.


Tidak sekarang. Ia tidak sanggup melihatnya sekarang.


Dina berbaring di kasur tipis itu, menatap langit-langit yang berbercak, dan bertanya-tanya sudah berapa lama sebenarnya ia telah kehilangan suaminya — jauh sebelum hari ini, jauh sebelum Clara, jauh sebelum semua ini dimulai.


Mungkin sejak lama sekali.


Mungkin ia baru saja menyadarinya hari ini.