Tiga hari setelah kepulangan Raka, seluruh keluarga besar datang.
Dina mengetahuinya dari suara-suara yang tiba-tiba memenuhi rumah — tawa paman dan bibi, teriakan anak-anak kecil yang berlari di halaman, bau masakan yang ditambahkan oleh Bu Sari dengan bantuan dua orang ibu dari keluarga Raka.
Tidak ada yang memberitahu Dina.
Ia mengetahuinya ketika ia keluar dari kamar kecilnya untuk mengambil air minum dan mendapati ruang tamu sudah penuh dengan orang-orang yang ia kenal setengah-setengah — wajah-wajah yang pernah hadir di pernikahannya dua tahun lalu, yang mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaan.
Sekarang mereka semua duduk mengelilingi Clara.
Dina berdiri di ambang lorong, tidak terlihat oleh siapa pun, mengamati pemandangan di depannya. Clara duduk di sofa utama bersama Raka, menerima ucapan selamat dengan anggun, memperkenalkan dirinya kepada satu per satu anggota keluarga dengan senyum yang terlatih sempurna.
"Cantik sekali menantunya, Sari," kata seorang bibi kepada Bu Sari.
Bu Sari tersenyum bangga. "Iya, kan? Raka memang pintar memilih."
Dina menelan sesuatu yang pahit di tenggorokannya.
Ia ingin kembali ke kamarnya. Ia ingin menutup pintu dan tidak keluar sampai semua orang ini pulang. Tapi kakinya tidak bergerak.
"Dina."
Suara Pak Hendra, adik ipar Bu Sari, orang yang dua tahun lalu menjadi wali dari pihak keluarga Raka dalam pernikahan mereka.
Dina menoleh. Pak Hendra berdiri beberapa langkah darinya, dengan ekspresi yang sulit dibaca — bukan tidak ramah, tapi juga tidak hangat.
"Ikut ke ruang tamu," katanya pelan. "Raka mau bicara."
Perutnya mengencang. Tapi Dina mengangguk dan mengikuti.
Ketika ia memasuki ruang tamu, beberapa kepala menoleh ke arahnya. Ada yang tersenyum canggung. Ada yang langsung mengalihkan pandangan. Ada yang berbisik-bisik ke telinga orang di sebelahnya.
Clara menatapnya dengan tenang, tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya.
Raka berdiri.
Ruangan menjadi lebih sunyi dari sebelumnya — bukan sunyi yang alami, tapi sunyi yang dibuat, jenis keheningan yang terjadi ketika semua orang tahu sesuatu akan terjadi dan mereka tidak ingin melewatkannya.
"Aku ingin semua keluarga mendengar ini," kata Raka.
Suaranya jelas. Datar. Tanpa emosi yang bisa Dina pegang.
"Pernikahanku dengan Clara adalah pernikahan yang sah. Kami sudah menikah secara resmi tiga bulan lalu di Jakarta, dengan wali dan saksi yang lengkap." Raka berhenti sebentar. Matanya menatap suatu titik di tengah ruangan, bukan menatap Dina, bukan menatap siapa pun secara khusus. "Dan..."
Jeda itu panjang. Terlalu panjang.
Dina merasakan sesuatu di dadanya — bukan sakit, belum — tapi semacam tekanan. Seperti seseorang sedang menekan dada dari luar, perlahan-lahan, dengan kesabaran yang kejam.
"Mulai hari ini..." Raka akhirnya menatap Dina. Matanya kosong. Bukan kosong tanpa perasaan — tapi kosong dengan cara yang terlihat seperti ada sesuatu di baliknya yang sengaja ditutup. "Clara adalah istri yang kuakui."
Dunia Dina berhenti.
Bukan berhenti seperti di film — tidak ada musik dramatis, tidak ada slow motion. Hanya berhenti seperti ketika seseorang menarik rem mendadak: tiba-tiba, kasar, dan meninggalkan rasa pusing sesudahnya.
Ia mendengar beberapa orang menghela napas. Mendengar Bu Sari mendehem pelan. Mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, "Mama, itu artinya apa?" dan ibunya menyuruhnya diam.
Ia mendengar semuanya.
Tapi yang paling keras, yang paling jelas, yang paling tidak bisa ia abaikan, adalah keheningan Raka setelah mengucapkan kata-kata itu — keheningan seorang lelaki yang baru saja menjatuhkan sesuatu yang sangat berat dan tidak merasa perlu untuk mengecek apakah ada yang tertimpa.
"Raka." Dina mendengar suaranya sendiri. Tenang. Sangat tenang. Jenis ketenangan yang datang bukan dari kekuatan, tapi dari ketidakmampuan untuk merasakan lebih jauh lagi. "Kamu sadar apa yang baru kamu ucapkan?"
"Aku sadar."
"Kamu sadar itu artinya kamu baru saja—"
"Dina." Pak Hendra meletakkan tangan di bahunya dengan hati-hati. "Mungkin lebih baik kita bicara di tempat lain—"
"Tidak." Dina menggerakkan bahunya dengan pelan, bukan kasar, tapi cukup untuk membuat Pak Hendra melepaskan tangannya. Ia menatap Raka. "Kamu baru saja mengatakannya di depan seluruh keluarga. Maka biarlah seluruh keluarga mendengar pertanyaanku juga."
Raka tidak bergerak.
"Apa statusku, Raka?" Suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di bawahnya — seperti dawai gitar yang ditarik terlalu kencang dan hampir putus. "Kalau Clara adalah istri yang kamu akui, lalu aku—"
"Ini bukan tempatnya—"
"Ini adalah satu-satunya tempat yang kamu berikan padaku!" Suaranya naik, dan ia biarkan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia membiarkan suaranya didengar tanpa menahannya. "Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara empat mata. Kamu selalu pergi, selalu sibuk, selalu 'nanti'. Jadi aku bicara di sini, sekarang, di depan semua orang yang hadir di pernikahan kita dua tahun lalu."
Beberapa orang di ruangan itu menundukkan kepala.
Raka menatapnya. Matanya masih kosong. Masih tertutup.
"Kita bicarakan nanti."
"Tidak ada nanti, Raka."
Tapi Raka sudah berbalik. Ia berjalan keluar ruang tamu, dan Clara berdiri mengikutinya, dengan langkah yang anggun dan kepala yang tegak, seolah ini adalah hari yang sangat biasa dan perempuan yang baru saja kehilangan segalanya di hadapannya hanyalah bagian dari dekorasi.
Ruang tamu perlahan kembali bersuara. Orang-orang mulai berbicara lagi, pelan-pelan, satu per satu.
Dina berdiri di tengah semua itu.
Tidak ada yang mendekatinya. Tidak ada yang berbicara padanya.
Pak Hendra menyentuh bahunya sekali lagi, lembut. "Dina—"
"Terima kasih, Pak." Dina menoleh ke arahnya dengan senyum yang bahkan ia sendiri tidak yakin seperti apa bentuknya. "Saya baik-baik saja."
Ia tidak baik-baik saja.
Tapi ia berbalik dan berjalan kembali ke lorong, kembali ke kamar kecil yang berbau kapur barus dan lembab, kembali ke tempat yang sekarang menjadi satu-satunya ruang yang tersisa untuknya di rumah yang pernah ia percaya sebagai rumahnya.
Di balik pintu yang tertutup, ia duduk di lantai dengan punggung bersandar ke ranjang sempit.
Dan di luar, ia mendengar suara-suara keluarga kembali ramai — tawa, obrolan, pujian untuk masakan Bu Sari.
Tidak ada yang mencarinya.
Tidak ada yang mengetuk pintunya.
Tidak ada satu pun suara yang memanggil namanya.
Dan untuk pertama kalinya, Dina benar-benar bertanya-tanya: apakah mereka sudah melupakannya, atau mereka memang tidak pernah benar-benar melihatnya sejak awal?
Tapi di tengah kekosongan itu, sesuatu yang lain muncul — sesuatu yang kecil, belum jelas, tapi nyata. Bukan kemarahan. Bukan kepedihan.
Sebuah pertanyaan.
*Kenapa Raka melakukan ini? Kenapa sekarang? Dan kenapa Clara — siapa sebenarnya perempuan itu?*
Dina tidak tahu bahwa pertanyaan yang baru saja lahir dalam pikirannya itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar — sebuah permainan berbahaya yang sudah berjalan jauh sebelum ia menyadarinya, dan ia, tanpa ia ketahui, berada tepat di tengah-tengahnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar