Mendengar suara sang ibu mertua, sebuah harapan kecil tiba-tiba mekar di dada Nadira. Selama empat tahun pernikahannya, Nadira selalu berusaha menjadi menantu yang sempurna. Ia menuruti semua keinginan Bu Darmi, membelikannya perhiasan setiap hari raya, memasak makanan kesukaannya, dan selalu diam ketika mertuanya itu menyindir soal keturunan. Nadira yakin, sebagai sesama perempuan dan seorang ibu, Bu Darmi pasti akan membelanya. Pasti beliau akan marah besar melihat kelakuan anak laki-lakinya.

Dengan langkah terburu-buru, Nadira meninggalkan dapur dan setengah berlari menuju ruang tamu. Ia ingin memeluk ibu mertuanya, menumpahkan segala tangis dan rasa sakit yang ia tahan sejak semalam.

Di ruang tamu, Bu Darmi yang mengenakan kebaya katun sederhana dan membawa sebuah rantang susun, tengah memeluk Arga dengan hangat.

"Ibu..." panggil Nadira parau. Air matanya kembali merebak. "Ibu, tolong Nadira, Bu..."

Bu Darmi melepaskan pelukannya dari Arga dan menoleh. Namun, tidak ada senyum hangat di wajah wanita paruh baya itu. Tidak ada rentangan tangan yang menyambut Nadira. Bu Darmi justru menatap Nadira dengan dahi berkerut, pandangannya dingin dan penuh selidik, menelusuri penampilan Nadira yang berantakan dengan mata bengkak.

"Kamu ini kenapa, Nadira? Pagi-pagi sudah menangis berantakan begitu? Bikin sial rumah saja," ketus Bu Darmi, meletakkan rantangnya di atas meja tamu dengan kasar.

Langkah Nadira terhenti seketika. Harapan yang baru saja mekar langsung layu, dihantam realita yang dingin. "Bu... Mas Arga, Bu... Mas Arga bawa perempuan lain ke rumah ini. Dia selingkuh, Bu. Dan perempuan itu..."

Belum selesai Nadira bicara, terdengar langkah kaki pelan dari arah lorong. Maya berjalan mendekat, wajahnya kembali diatur menjadi sosok yang lembut dan pemalu. Ia menunduk sopan saat melihat Bu Darmi.

Jantung Nadira berdegup kencang, bersiap melihat reaksi ibu mertuanya yang pasti akan mengusir wanita tak tahu malu itu.

Namun, yang terjadi selanjutnya membuat Nadira merasa seolah langit baru saja runtuh dan menimpa kepalanya.

Wajah Bu Darmi yang tadinya kaku dan dingin, mendadak berubah cerah bercahaya. Senyum lebar mengembang di bibir keriputnya. Tanpa memedulikan Nadira yang berdiri membeku di dekatnya, Bu Darmi melangkah cepat melewati Nadira, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah Maya.

"Ya ampun, Sayangku! Cucu Ibu! Akhirnya Ibu bisa lihat kamu di rumah ini!" seru Bu Darmi dengan nada gembira yang tak dibuat-buat.

Ia memeluk Maya dengan sangat erat, mengecup kedua pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang. Maya membalas pelukan itu tak kalah hangat. "Ibu... maafin Maya baru bisa kumpul di sini," bisik Maya dengan suara lembut yang terdengar memuakkan di telinga Nadira.

"Sstt, nggak apa-apa, Nak. Yang penting sekarang kamu sudah di sini, dirawat dengan benar sama Arga. Gimana kandunganmu? Mual-mualnya sudah mendingan?" Bu Darmi mengusap perut Maya yang masih rata dengan tatapan penuh kebanggaan, seolah perut itu menyimpan harta karun paling berharga di dunia.

Nadira menyaksikan pemandangan itu dengan napas tercekat. Matanya membelalak lebar, otaknya menolak memproses apa yang sedang ia lihat. Ibu mertuanya... merangkul selingkuhan suaminya? Menanyakan kabar kandungannya?

"Ibu... tahu?" Suara Nadira terdengar sangat rapuh, seperti kaca yang siap pecah berkeping-keping. "Ibu tahu kalau Mas Arga berselingkuh dengan Maya? Ibu tahu perempuan ini hamil anak Mas Arga?!"

Bu Darmi menghentikan usapannya di perut Maya. Ia menoleh menatap Nadira. Kali ini, tatapannya jauh lebih tajam dan merendahkan dari sebelumnya. Ia menarik lengan Maya agar berdiri di belakangnya, sikap protektif yang sama persis dengan yang dilakukan Arga.

"Tentu saja Ibu tahu, Nadira," jawab Bu Darmi dengan nada menantang, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Bahkan, Ibu yang menyuruh Arga membawa Maya tinggal di sini. Kasihan dia hamil muda di luar sana, tidak ada yang menjaga."

"Ibu yang menyuruhnya?" Nadira menggelengkan kepala tak percaya. "Bu, aku ini menantu Ibu! Aku istri sah Arga! Bagaimana bisa Ibu mendukung perselingkuhan anak Ibu sendiri?! Bagaimana bisa Ibu menghancurkan hatiku seperti ini?!"

"Menantu?" Bu Darmi tertawa remeh. Ia bersedekap dada, memandang Nadira dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Menantu macam apa yang selama empat tahun tidak bisa memberikan satu pun keturunan untuk keluarga ini? Kamu pikir Ibu sabar menunggu setiap tahun, melihat kamu sibuk kerja ke sana kemari, berdandan cantik, tapi rahimmu kering?!"

Kata-kata 'rahimmu kering' menghantam Nadira tepat di ulu hati. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa, mencoba mencari pasokan oksigen yang seolah hilang dari ruangan itu.

"Ibu... aku sudah berusaha, Bu. Aku ikut program dokter, aku minum semua obat dan jamu yang Ibu kasih. Dokter bilang kami hanya butuh waktu..." isak Nadira, memohon sedikit simpati dari wanita yang pernah memanggilnya 'anakku' itu.

"Alah, alasan dokter saja itu karena mereka mau mengeruk uang dari suamimu!" potong Bu Darmi kejam. "Buktinya? Arga sama Maya baru sebentar saja langsung jadi! Itu membuktikan kalau yang bermasalah itu kamu, Nadira! Bukan anakku!"

Nadira menoleh pada Arga, berharap suaminya akan membela kehormatannya sedikit saja. Tapi Arga hanya diam. Pria itu menunduk, seolah membenarkan setiap hinaan yang keluar dari mulut ibunya.

"Mas... kamu diam saja ibumu menghinaku seperti ini?" tangis Nadira pecah. "Di mana janjimu dulu yang bilang akan selalu melindungiku? Apa salahku padamu, Mas, sampai kamu tega menghukumku sekejam ini?"

Arga mendongak, menatap Nadira dengan tatapan lelah. "Aku sudah bilang, Nad. Aku butuh keturunan. Ibuku butuh cucu. Kamu tidak bisa memberikannya, dan Maya bisa. Terimalah kenyataan ini dengan lapang dada. Toh, aku tidak berniat menceraikanmu. Kamu tetap jadi istri pertamaku."

"Istri pertama?" Nadira tertawa histeris di sela tangisnya. Kepalanya menggeleng kuat. "Kamu pikir aku mau dimadu dengan sahabatku sendiri?! Kamu pikir aku sudi menjadi bagian dari kebohongan dan pengkhianatan menjijikkan ini?!"

"Lalu kamu mau apa?!" Bu Darmi tiba-tiba membentak dengan suara melengking. Wajah tuanya terlihat garang. "Mau cerai?! Silakan! Kalau kamu cerai, janda mandul sepertimu siapa yang mau?! Kamu harusnya bersyukur Arga masih mau menampungmu di rumah ini! Perempuan tidak tahu diri!"

Bu Darmi melangkah maju, telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Nadira. "Dengar ya, Nadira. Mulai hari ini, Maya adalah nyonya di rumah ini. Dia yang membawa penerus keluarga kami. Hormati dia. Kalau kamu tidak bisa menerima, pintu depan selalu terbuka lebar untukmu!"

Maya, yang sejak tadi berlindung di balik punggung Bu Darmi, menatap Nadira dengan air mata buaya yang kembali menetes. "Nad... tolong mengerti posisiku. Aku nggak minta kamu pergi. Kita bisa hidup bertiga di sini. Aku rela berbagi Mas Arga denganmu."

"Diam kau, pelacur!" jerit Nadira, kehilangan kendali. Ia maju hendak menarik rambut Maya, muak dengan segala kepalsuan wanita itu.

Namun dengan sigap, Arga menahan tubuh Nadira, mencengkeram kedua lengan istrinya dengan sangat keras hingga Nadira memekik kesakitan. Arga mendorong tubuh Nadira hingga wanita itu terjerembap ke lantai ruang tamu yang dingin.

"Arga!" Nadira meringis, memegangi sikunya yang menghantam lantai marmer.

"Sudah kubilang jangan pernah sentuh Maya!" bentak Arga murka, berdiri menjulang di hadapan Nadira yang jatuh terduduk. "Kalau kamu terus bersikap kasar seperti ini, aku tidak akan segan-segan mengusirmu, Nadira!"

Bu Darmi berdecih pelan, menatap Nadira dengan pandangan jijik. "Biarkan saja dia, Ga. Perempuan gila. Ayo, Maya sayang, kita ke meja makan. Ibu bawakan opor ayam kesukaanmu. Kamu harus banyak makan biar cucu Ibu sehat."

Bu Darmi merangkul bahu Maya dengan penuh kasih, menuntun wanita itu menuju ruang makan. Maya sempat menoleh ke belakang, menatap Nadira yang tersungkur di lantai. Dari sudut bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang sangat sinis dan merendahkan terukir jelas, sebelum akhirnya ia membuang muka dan berjalan manja bersama ibu mertuanya.

Arga menatap Nadira sejenak. Tidak ada uluran tangan. Tidak ada kata maaf. Pria itu hanya menghela napas panjang, merapikan kemejanya, lalu berkata dengan suara datar, "Kemas barang-barangmu, Nad. Mulai malam ini, Maya akan menempati kamar utama di lantai atas. Udara di kamar bawah kurang bagus untuk kehamilannya. Kamu pindah ke kamar tamu."

Setelah mengucapkan vonis tak berperi kemanusiaan itu, Arga membalikkan badan dan berjalan menyusul ibu dan selingkuhannya ke ruang makan. Meninggalkan Nadira sendirian, meringkuk di atas lantai yang dingin, dihancurkan sehancur-hancurnya oleh orang-orang yang paling ia cintai.

Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, sebuah kesadaran menyelinap masuk ke dalam benak Nadira. Di rumah ini, ia sudah mati. Tidak ada lagi tempat untuknya. Tidak ada lagi sisa harga diri yang bisa ia pertahankan jika ia tetap tinggal.

Dengan tangan gemetar dan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Nadira perlahan bangkit berdiri. Matanya menatap tajam ke arah tangga yang menuju ke lantai dua. Kamar utamanya. Singgasananya yang telah dirampas.

Baiklah, batin Nadira. Hatinya yang hancur kini mengeras bak baja. Kalau itu mau kalian... aku akan pergi.

Nadira melangkahkan kaki menaiki tangga. Ia bukan akan mengemasi barang untuk pindah ke kamar tamu. Ia akan mengemasi barang untuk pergi dari neraka ini, selamanya. Dan suatu hari nanti, ia bersumpah, mereka semua akan bertekuk lutut memohon maaf padanya.