Jarum jam dinding berdenting menunjuk angka setengah dua belas malam. Hujan deras yang mengguyur sejak sore belum juga mereda, menyisakan suara gemuruh air yang memukul-mukul atap rumah. Di ruang makan yang sepi, Nadira duduk terdiam. Di hadapannya, sepiring ayam bumbu rujak dan sayur asem kesukaan suaminya sudah dingin, kehilangan uap hangatnya sejak tiga jam yang lalu.

Nadira menghela napas panjang. Jemarinya yang ramping mengetuk-ngetuk layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab. Arga, suaminya, belum juga pulang.

Sudah sebulan terakhir Arga sering pulang larut. Alasan pria itu selalu sama: lembur, rapat dadakan dengan klien, atau sekadar terjebak macet di kawasan Sudirman. Sebagai istri, Nadira selalu berusaha memaklumi. Ia tahu Arga bekerja keras untuk mereka. Untuk masa depan mereka, dan untuk biaya program kehamilan yang sedang mereka rencanakan tahun depan.

Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan memecah lamunan Nadira. Sorot lampu kuning menembus gorden ruang tamu yang setengah tertutup.

Itu pasti Mas Arga, batin Nadira lega.

Ia segera bangkit, merapikan daster batiknya, dan bergegas menuju pintu depan. Senyum hangat sudah ia siapkan, berniat menyambut suaminya dan menawarkan teh hangat. Namun, ketika tangannya baru saja memutar kenop pintu, Nadira mendengar suara yang aneh.

Suara tawa kecil. Suara seorang wanita.

Jantung Nadira tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ia membuka pintu. Angin malam yang dingin berembus masuk, membawa serta percikan air hujan.

Di teras, di bawah cahaya lampu temaram, Arga berdiri. Jas kerjanya sudah dilepas, kemejanya basah di bagian bahu. Tapi pria itu tidak sendirian. Tangan kanannya memegang sebuah payung besar, memayungi dirinya dan seorang wanita yang berdiri sangat rapat di sebelahnya. Wanita itu mengenakan jaket kebesaran milik Arga, tangannya berpegangan pada lengan suaminya seolah takut terjatuh.

Nadira mematung. Senyum di wajahnya luntur seketika. "Mas?" panggilnya dengan suara tertahan.

Arga mendongak. Tidak ada raut bersalah atau terkejut di wajah pria itu. Tatapannya dingin, datar, dan asing. "Buka pintunya lebih lebar, Nad. Di luar dingin," ucap Arga tanpa basa-basi.

Nadira mundur selangkah secara refleks, memberi ruang. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang kini melangkah masuk mengikuti suaminya. Saat wanita itu menyingkirkan rambut panjangnya yang sedikit basah dari wajah, napas Nadira seakan direnggut paksa dari paru-parunya.

Dunia Nadira berhenti berputar detik itu juga.

Wajah itu. Mata itu. Senyum canggung itu. Ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya.

"Maya?" suara Nadira bergetar, lebih terdengar seperti bisikan parau.

Wanita itu—Maya, sahabat yang sudah ia kenal sejak masa kuliah, sahabat yang menjadi pengiring pengantin di pernikahannya, sahabat yang tahu segala rahasia dan tangisannya—kini berdiri di ruang tamu rumahnya, mengenakan jaket suaminya.

"Hai, Nad," sapa Maya pelan. Suaranya terdengar lembut, tapi ada kilatan aneh di matanya yang tak bisa Nadira artikan.

"Apa... apa yang terjadi?" Nadira menatap Arga dan Maya bergantian. Kebingungan menguasai isi kepalanya. "Mobilmu mogok, May? Kenapa kalian bisa bareng? Mas Arga, kamu ketemu Maya di jalan?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Nadira. Ia berusaha membangun skenario paling masuk akal di kepalanya. Skenario yang tidak menghancurkan hatinya.

Namun, Arga justru melangkah melewati Nadira begitu saja, meletakkan payung basah di sudut ruangan, lalu membawa sebuah koper sedang berawarna abu-abu yang baru Nadira sadari keberadaannya.

"Dia tidak mogok di jalan, Nadira," jawab Arga datar, memecah kesunyian yang mencekik.

Nadira mengerutkan kening. Pandangannya jatuh pada koper itu. "Lalu? Koper siapa ini? Kamu mau menginap, May? Kenapa tidak bilang dari tadi sore? Aku bisa siapkan kamar tamu."

Maya menunduk, memainkan ujung resleting jaket Arga yang dipakainya. "Maaf, Nad..." gumamnya, meski nada suaranya sama sekali tidak terdengar menyesal.

"Tidak perlu minta maaf, May," potong Arga cepat. Pria itu menoleh menatap istrinya dengan sorot mata yang mengeras. "Mulai malam ini, Maya akan tinggal di sini. Di rumah ini. Bersama kita."

Hening merayap turun. Suara hujan di luar seolah lenyap, digantikan oleh dengungan nyaring di telinga Nadira.

"Tinggal... di sini?" ulang Nadira, suaranya nyaris hilang. "Apa maksudmu, Mas? Tinggal di sini untuk berapa lama? Dia sedang ada masalah dengan keluarganya? May, kamu bertengkar lagi dengan ibumu?" Nadira melangkah mendekati sahabatnya, hendak menyentuh lengan Maya.

Namun, dengan cepat Arga menepis tangan Nadira sebelum sempat menyentuh Maya. Gerakan itu begitu kasar hingga membuat Nadira terkesiap dan mundur selangkah.

"Jangan sentuh dia," desis Arga pelan, namun cukup tajam untuk mengiris harga diri Nadira.

"Mas..." Mata Nadira memanas. Genangan air mulai mengaburkan pandangannya. "Kamu menepis tanganku untuk wanita lain? Di rumah kita sendiri? Tolong jelaskan padaku, ada apa ini sebenarnya?!" suara Nadira mulai meninggi, pertahanan emosinya runtuh.

Arga berdiri tegap, melindungi Maya di belakang punggungnya. Sikap protektif yang seharusnya hanya milik Nadira.

"Aku rasa kalimatku sudah cukup jelas," ucap Arga dingin. "Maya akan tinggal di sini. Tolong bersihkan kamar tamu di lantai bawah untuknya malam ini."

"Aku istrimu, Arga!" Nadira berteriak, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Dan dia sahabatku! Kamu tidak bisa membawa masuk seorang wanita di tengah malam dengan koper dan menyuruhnya tinggal di sini tanpa penjelasan apa pun! Apa hubungan kalian?! Jawab aku, Maya! Apa yang kalian sembunyikan dariku?!"

Maya melirik dari balik bahu Arga. Wajahnya terlihat polos, seolah ia adalah korban dari kemarahan Nadira. "Nad... tolong jangan marah-marah begitu. Mas Arga kan baru pulang, dia capek. Kita bisa bicarakan ini besok pagi, kan?"

Nadira menatap Maya dengan rasa jijik dan tak percaya yang bercampur aduk. Mas Arga? Sejak kapan Maya memanggil suaminya dengan sebutan selembut itu? Selama ini Maya selalu memanggilnya 'Arga' biasa.

"Jangan ikut campur!" bentak Nadira pada Maya, jarinya menunjuk tepat ke wajah wanita itu. "Ini urusan rumah tanggaku! Kamu, sebagai tamu yang tidak diundang, lebih baik diam!"

"Nadira! Jaga bicaramu!" Arga balas membentak. Gema suaranya memantul di dinding ruang tamu, membuat Nadira memejamkan mata menahan sakit yang luar biasa di dadanya. "Maya bukan tamu. Dan dia berhak bicara di rumah ini. Mulai sekarang, hargai dia."

Nadira tertawa getir. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. Ia menatap pria yang telah dinikahinya selama empat tahun itu. Pria yang berjanji akan menjaganya, melindunginya, dan menjadikannya satu-satunya ratu di rumah ini.

"Menghargainya?" bisik Nadira, air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Kamu menyuruhku menghargai wanita yang datang berdua bersamamu di tengah malam, memakai pakaianmu, dan bersembunyi di balik punggungmu? Sementara kamu, suamiku, membentakku untuk membelanya?"

Arga membuang muka, tampak enggan melihat wajah istrinya yang hancur. Ia meraih gagang koper Maya. "Aku terlalu lelah untuk berdebat malam ini. Ayo, May, aku antar ke kamarmu."

Arga meraih sebelah tangan Maya, menggenggamnya dengan lembut—genggaman yang sudah berbulan-bulan tidak Nadira rasakan—lalu menuntun wanita itu melewati Nadira begitu saja.

Nadira berdiri mematung di tengah ruangan. Ia berbalik, menatap punggung suaminya dan punggung sahabat terbaiknya yang berjalan beriringan menyusuri lorong rumahnya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping, diinjak-injak oleh dua orang yang paling ia percayai di dunia ini.

Ketika pintu kamar tamu ditutup rapat oleh Arga dari dalam, meninggalkan Nadira sendirian dalam kesunyian yang membekukan, Nadira tahu, malam ini adalah akhir dari kehidupan sempurnanya. Dan nerakanya, baru saja dimulai.