Udara di dapur itu terasa menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum Nadira. Tatapan matanya terkunci pada benda kecil yang menggantung di leher Maya. Sebuah liontin angsa dari emas putih. Benda itu berayun pelan saat Maya bernapas, seolah mengejek kewarasan Nadira yang kini berada di ujung tanduk.
"Kalung itu..." Suara Nadira terdengar parau, nyaris seperti bisikan yang tertiup angin. Ia melangkah satu tindak ke depan, tangannya gemetar menunjuk ke arah dada Maya. "Dari mana kamu dapat kalung itu, Maya?"
Maya tersentak pelan. Secara refleks, tangan kirinya naik menutupi liontin tersebut. Matanya melirik cepat ke arah Arga, seolah mencari perlindungan. Kepanikan sesaat melintas di wajah wanita itu sebelum ia kembali memasang raut polosnya.
"I-ini... ini cuma kalung biasa, Nad. Aku beli di toko perhiasan waktu jalan-jalan," jawab Maya dengan nada yang dibuat senatural mungkin, meski suaranya sedikit bergetar.
Nadira tertawa. Sebuah tawa hambar, getir, dan penuh keputusasaan. Ia menoleh ke arah suaminya yang kini mematung dengan wajah pias. Rahang Arga mengeras, matanya menghindari tatapan Nadira.
"Beli di toko perhiasan?" Nadira mengulang ucapan Maya, suaranya kini mulai meninggi, memecah kesunyian pagi. "Tahun lalu, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, suamiku memberiku kalung yang sama persis! Dia bilang, itu desain khusus, custom-made, hanya dibuat satu di dunia untuk istrinya!"
Nadira mencengkeram ujung meja pantri untuk menopang tubuhnya yang terasa limbung. "Dan sekarang... kalung yang katanya hanya ada satu di dunia itu, melingkar dengan indahnya di leher sahabatku sendiri. Jawab aku, Mas! Jawab!" teriak Nadira histeris. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah, menganak sungai di kedua pipinya.
Arga menghela napas kasar. Ia memijat pangkal hidungnya, terlihat frustrasi. "Nadira, hentikan. Ini masih pagi. Jangan membuat keributan yang tidak perlu."
"Keributan yang tidak perlu kamu bilang?!" Nadira memukul meja pantri dengan telapak tangannya. "Kamu membawa perempuan ini ke rumah kita, mengumumkan bahwa dia hamil anakmu, dan sekarang aku menemukan bukti bahwa kalian sudah membohongiku jauh sebelum ini! Sejak kapan, Mas?! Sejak kapan kalian bermain gila di belakangku?!"
Dapur itu hening selama beberapa detik. Hanya terdengar suara isak tangis Nadira yang tertahan dan napas Arga yang berat. Maya masih berlindung di belakang Arga, enggan membuka suara, membiarkan pria itu yang menjadi tamengnya.
"Sejak dua tahun yang lalu," ucap Arga akhirnya. Suaranya pelan, tapi terdengar seperti ledakan bom di telinga Nadira.
Dua tahun.
Nadira terhuyung mundur, punggungnya menabrak pintu kulkas. Dua tahun. Berarti, separuh dari masa pernikahan mereka adalah kebohongan besar. Saat Arga memeluknya di malam hari, saat pria itu mengecup keningnya sebelum berangkat kerja, saat mereka duduk bersama di ruang tunggu dokter kandungan sambil berpegangan tangan... di saat yang sama, Arga juga membagi tubuh dan hatinya dengan Maya.
"Dua tahun..." bibir Nadira bergetar hebat. "Kamu... menidurinya selama dua tahun? Dan kamu, Maya..." Nadira menatap sahabatnya dengan pandangan penuh rasa jijik yang luar biasa. "Selama dua tahun kamu datang ke rumah ini. Kita masak bareng, kita belanja bareng. Kamu mendengarkan semua keluh kesahku soal rumah tangga ini. Kamu menghiburku setiap kali aku menangis karena hasil test pack selalu negatif. Kamu... kamu monster, Maya!"
Maya mulai terisak, air matanya menetes dramatis. Ia mencengkeram lengan kemeja Arga semakin erat. "Aku nggak bermaksud menyakitimu, Nad. Sumpah, aku nggak ada niat... Awalnya kami cuma sering ngobrol. Mas Arga sering cerita soal tekanannya di rumah. Soal kamu yang selalu stres dan obsesif mau punya anak. Dia butuh tempat bersandar, Nad. Dia kesepian..."
"Kesepian?!" potong Nadira tajam. "Aku ada di rumah ini setiap hari! Aku melayaninya dari ujung rambut sampai ujung kaki! Kalau dia kesepian, kenapa dia tidak bicara padaku?! Kenapa dia malah mencari pelacur berkedok sahabat sepertimu?!"
"Jaga mulutmu, Nadira!" Arga membentak keras, melangkah maju hingga wajahnya berhadapan langsung dengan Nadira. Urat-urat di lehernya menonjol. "Jangan pernah sebut Maya pelacur! Dia perempuan baik-baik! Dia mengerti aku saat kamu tidak bisa!"
Nadira menatap nyalang ke dalam mata suaminya. Tidak ada lagi sisa-sisa cinta di sana. Yang tertinggal hanya amarah, kekecewaan, dan rasa sakit yang tak terlukiskan.
"Mengerti kamu?" Nadira tersenyum sinis, air matanya terus mengalir. "Apa yang dia mengerti, Mas? Bahwa kamu butuh pelampiasan nafsu saat istrimu sedang sibuk berjuang menahan sakitnya suntik hormon demi memberimu anak? Begitu?!"
"Kamu yang membuat pernikahan ini jadi neraka, Nadira!" Arga membalas tak kalah sengit. Suaranya menggema di seluruh ruangan. "Setiap hari yang kamu bicarakan hanya dokter, masa subur, obat, dan klinik! Kamu berubah jadi perempuan yang tidak kukenal! Kamu dingin, kamu gampang marah, kamu selalu menangis setiap akhir bulan! Rumah ini terasa seperti rumah sakit, bukan rumah tempatku pulang!"
Nadira terdiam. Kata-kata Arga menembus jantungnya bak ribuan jarum. Jadi, ini salahnya? Perjuangannya untuk memberikan keturunan—sesuatu yang sangat diinginkan Arga dan keluarganya—kini berbalik menjadi senjata untuk menghancurkannya?
"Aku melakukan semua itu untuk kita, Mas..." suara Nadira melemah, energinya terkuras habis. "Untuk Ibumu yang selalu menuntut cucu. Untukmu yang selalu menatap iri setiap kali melihat teman-temanmu menggendong bayi. Aku mengorbankan tubuhku, mentalku... dan ini balasanmu?"
Arga memalingkan wajah, rahangnya masih mengeras. "Semuanya sudah terjadi, Nad. Tidak ada yang perlu disesali. Maya sedang mengandung anakku. Darah dagingku."
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?" tanya Nadira parau. "Kamu mau poligami? Kamu pikir aku sudi berbagi suami dengan pengkhianat ini?"
Maya yang sejak tadi bersembunyi akhirnya angkat bicara. Sambil mengusap air matanya, ia menatap Nadira dengan tatapan memelas yang sangat memuakkan. "Nad... aku mohon. Biarkan aku melahirkan anak ini di sini. Anak ini butuh ayahnya. Aku janji, aku nggak akan menuntut banyak. Aku rela jadi yang kedua, asalkan anak ini punya status yang jelas."
"Pembohong!" desis Nadira. "Kamu pikir aku bodoh? Setelah dua tahun kamu menusukku dari belakang, kamu pikir aku akan percaya omong kosongmu? Kamu menginginkan posisiku, kan, Maya?! Kamu menginginkan suamiku, rumahku, kehidupanku!"
Nadira beralih menatap Arga yang masih berdiri tegak melindungi wanita itu.
"Pilih, Mas," tantang Nadira, suaranya kini terdengar sangat dingin dan datar. Hatinya yang hancur perlahan membeku. "Pilih aku, istrimu yang sah. Atau perempuan ini. Jika kamu memilihnya, suruh dia angkat kakinya dari rumahku sekarang juga."
Arga menatap Nadira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit keraguan di matanya, namun hal itu sirna begitu Maya merintih pelan sambil memegangi perutnya.
"Mas... perutku kram..." keluh Maya dengan suara manja yang dibuat-buat, menyandarkan kepalanya ke bahu Arga.
Kepanikan langsung melanda wajah Arga. Ia segera merangkul pinggang Maya. "Kita duduk ya, sayang. Jangan banyak berdiri dulu," ucapnya lembut, sangat kontras dengan nada keras yang ia gunakan pada Nadira tadi.
Panggilan 'sayang' itu adalah pukulan telak terakhir bagi Nadira. Arga memanggil wanita lain dengan sebutan itu di depannya. Di rumahnya.
Arga kembali menatap Nadira, kali ini dengan sorot mata yang mutlak dan tak terbantahkan. "Aku tidak akan mengusir Maya. Dia membawa anakku. Kalau ada yang merasa tidak nyaman dan ingin pergi dari rumah ini..." Arga menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata istrinya. "...itu adalah kamu, Nadira."
Napas Nadira seakan berhenti berembus. Dunia di sekelilingnya menjadi gelap. Suaminya baru saja mengusirnya. Mengusirnya dari rumah yang mereka bangun bersama. Demi seorang pengkhianat.
Sebelum Nadira sempat membuka mulut untuk membalas, suara bel pintu depan berbunyi nyaring, memecah ketegangan yang pekat di dapur itu. Seseorang menekan bel berkali-kali dengan tidak sabar.
Arga mengernyitkan dahi. "Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya, lalu menoleh pada Maya. "Kamu tunggu di sini, biar aku yang buka."
Arga berjalan meninggalkan dapur. Nadira masih berdiri mematung, sementara Maya, yang kini hanya berdua dengannya, tiba-tiba melepaskan tangan dari perutnya. Raut kesakitan di wajah wanita itu lenyap seketika, digantikan oleh senyum miring yang penuh kemenangan.
Maya mencondongkan tubuhnya ke arah Nadira dan berbisik pelan, "Sudah kubilang, kan, Nad? Kamu selalu bisa berbagi suamiku denganku."
Nadira mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap untuk menghabisi wanita itu saat itu juga. Namun, suara riang dari arah ruang tamu menghentikan niatnya. Sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara yang membuat darah Nadira kembali berdesir ngeri.
"Arga, anakku! Aduh, Ibu kangen sekali. Mana menantu kesayangan Ibu? Ibu bawa opor ayam kesukaannya!"
Itu suara Bu Darmi. Ibu mertuanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar