Matahari pagi menembus celah gorden, menyilaukan mata Nadira yang membengkak. Ia duduk memeluk lutut di atas ranjangnya yang luas namun terasa begitu dingin. Semalaman ia tidak tidur. Otaknya terus berputar, memutar ulang kejadian semalam layaknya kaset rusak yang menyiksa. Ia mendengar suara pintu kamar tamu dibuka tengah malam, mendengar langkah kaki samar di lorong, namun ia terlalu pengecut untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
Dengan sisa tenaga yang ada, Nadira memaksakan diri bangkit. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi, membasuh wajahnya yang pucat. Matanya menatap bayangannya sendiri di cermin—rambut berantakan, kantung mata menghitam, dan wajah yang kehilangan cahayanya.
"Kau harus kuat, Nadira. Jangan biarkan mereka melihatmu hancur," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati yang sebenarnya sudah rapuh.
Nadira turun ke lantai bawah, menuju dapur. Harum kopi hitam yang diseduh menyapa penciumannya. Dulu, aroma itu selalu berhasil membuatnya tersenyum karena itu berarti Arga sudah bangun. Namun pagi ini, aroma itu terasa memuakkan.
Di area meja pantri, duduk seorang wanita dengan santai. Maya.
Sahabatnya itu mengenakan celana pendek berbahan kaus dan kemeja putih kebesaran yang lengannya digulung hingga siku. Kemeja putih itu... Nadira tahu betul kemeja itu. Itu kemeja kerja Arga yang biasanya pria itu pakai setiap hari Senin.
Darah Nadira mendidih seketika.
"Apa yang kamu pakai?" tanya Nadira tajam, suaranya memecah kesunyian dapur.
Maya menoleh perlahan, memegang sebuah cangkir keramik berwarna biru tua—cangkir favorit Nadira yang biasa ia gunakan untuk minum teh setiap sore. Maya tersenyum kecil, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Oh, pagi, Nad. Udah bangun?" sapa Maya santai, seolah ia adalah pemilik rumah yang sedang menyapa tamu. Ia menyesap kopi dari cangkir biru itu. "Maaf ya, semalam baju-bajuku di koper basah kena hujan, jadi aku pinjam kemeja Mas Arga dulu. Dia yang suruh pakai kok."
Nadira mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Lepaskan kemeja itu," desisnya.
Maya mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Cuma kemeja bekas pakai, Nad. Kamu pelit banget sih sama sahabat sendiri."
"Aku bilang lepaskan, Maya! Dan taruh cangkir itu! Itu cangkirku!" Nadira melangkah maju, napasnya mulai memburu.
Maya menghela napas panjang, meletakkan cangkir itu di atas pantri dengan sedikit bantingan keras, menimbulkan suara 'klak' yang nyaring. Ia turun dari kursi bar, berhadapan langsung dengan Nadira. Tidak ada lagi Maya yang polos dan manis seperti semalam di depan Arga. Wajah wanita itu kini dipenuhi tantangan dan rasa percaya diri yang arogan.
"Kamu ini kenapa sih, Nad? Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Pantas saja Mas Arga sering mengeluh kalau di rumah bawaannya pusing. Istrinya kerjaannya marah-marah terus," ucap Maya dengan nada sinis yang mengiris hati Nadira.
"Kamu... kamu sadar dengan apa yang kamu bicarakan?!" Nadira menatap Maya tak percaya. "Kamu datang ke rumahku, merusak rumah tanggaku, dan sekarang kamu menceramahiku soal bagaimana aku bersikap pada suamiku? Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, May? Kita bersahabat sejak sepuluh tahun lalu!"
Maya tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka.
"Persahabatan? Jangan naif, Nadira. Kamu pikir aku tahan selama sepuluh tahun selalu ada di bawah bayang-bayangmu? Kamu yang selalu jadi bintang, kamu yang selalu beruntung dapat pekerjaan bagus, dan puncaknya... kamu menikah dengan pria sesempurna Arga. Kamu selalu memamerkan kehidupan sempurnamu di depanku!"
"Aku tidak pernah memamerkan apa pun! Aku selalu berbaginya denganmu karena aku menganggapmu saudaraku!" balas Nadira, suaranya bergetar menahan amarah dan tangis.
"Berbagi?" Maya tersenyum miring. "Ya. Kamu memang pandai berbagi. Termasuk suamimu."
Plaakk!
Tanpa bisa dikendalikan lagi, tangan kanan Nadira melayang keras menampar pipi kiri Maya. Suara tamparan itu bergema nyaring di dapur yang sepi. Kepala Maya terlempar ke samping, jejak merah kelima jari Nadira langsung tercetak jelas di kulit putihnya.
"Jaga mulut kotormu, perempuan murahan!" napas Nadira tersengal, seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"Ada apa ini?!"
Sebuah suara bariton yang keras mengejutkan mereka berdua. Arga berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan pakaian tidur, wajahnya memerah penuh amarah. Matanya menatap tajam ke arah Nadira, lalu beralih pada Maya yang memegangi pipinya sambil mulai terisak pelan.
Dalam sekejap, raut arogan Maya menghilang, digantikan dengan air mata buaya dan wajah memelas yang begitu meyakinkan.
"Mas..." rintih Maya, berlari kecil menghampiri Arga dan bersembunyi di balik lengan pria itu. "Aku cuma mau buat sarapan untuk kalian, tapi Nadira tiba-tiba datang dan marah-marah. Dia... dia menamparku, Mas."
Mata Arga membelalak. Ia menatap Nadira dengan pandangan murka, seolah Nadira adalah penjahat terkejam di dunia.
"Kamu gila, Nadira?!" bentak Arga sambil melangkah maju, mendorong bahu Nadira dengan telunjuknya hingga wanita itu terhuyung ke belakang. "Beraninya kamu main tangan di rumah ini! Apa salah Maya padamu?!"
Nadira menatap suaminya dengan hati yang hancur berkeping-keping. Pria yang seharusnya membelanya, pria yang seharusnya mengusir wanita asing dari rumah mereka, justru membentaknya demi membela si pengkhianat.
"Kamu tanya apa salahnya?!" teriak Nadira, menunjuk Maya yang mengintip dari balik bahu Arga dengan tatapan licik. "Dia memakai kemejamu! Dia bertingkah seolah rumah ini miliknya! Dia bilang aku sudah berbagi suamiku dengannya! Tanyakan pada perempuan itu, Arga! Apa sebenarnya hubungan kalian?!"
"Maya benar!" balas Arga, suaranya menggelegar mengalahkan suara Nadira. "Sikapmu yang seperti ini, yang kasar, posesif, dan kekanak-kanakan, yang membuatku muak padamu, Nad!"
Kata-kata itu bagai godam yang menghantam ulu hati Nadira. Napasnya tercekat. Matanya menatap bola mata Arga yang dulu selalu menatapnya penuh cinta, kini hanya dipenuhi kebencian dan rasa jengkel.
"Muak?" Nadira mengulang kata itu dengan suara bergetar. Air matanya menggenang, namun ia menolak untuk menangis di depan mereka. "Kamu muak padaku, suamiku? Lalu untuk apa selama empat tahun ini aku mengabdi padamu? Untuk apa aku bangun pagi, mengurus semua keperluanmu, membuang mimpiku demi menjadi istri yang baik untukmu?!"
"Itu memang tugasmu sebagai istri!" balas Arga tanpa belas kasihan. "Tapi sayangnya, tugas utamamu pun gagal kamu penuhi, kan?"
Nadira terdiam. Dunia di sekelilingnya seakan runtuh perlahan. "Apa maksudmu?"
Arga mendengus sinis. "Empat tahun, Nadira. Empat tahun kita menikah dan rumah ini tetap sepi. Ibuku terus-terusan bertanya kapan dia menimang cucu, dan aku selalu pasang badan membela kamu yang ternyata rahimnya bermasalah!"
"Mas Arga!" Nadira menjerit, menutupi mulutnya sendiri yang gemetar. Dadanya sesak luar biasa. Bagaimana bisa Arga menggunakan luka paling dalam di hidupnya—kesulitannya untuk hamil—sebagai senjata untuk menyerangnya?
"Sementara Maya..." Arga menoleh sejenak pada wanita di sebelahnya, suaranya melembut, tatapannya berubah hangat. "...Maya memberiku apa yang tidak bisa kamu berikan."
Nadira merasa lututnya lemas seketika. Ia mundur perlahan, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak... tidak mungkin..." gumamnya histeris. Ia menatap perut Maya yang tertutup kemeja kebesaran Arga. "Kalian... kalian..."
Maya menatap Nadira langsung, sebuah senyum kemenangan terukir samar di sudut bibirnya yang tak terlihat oleh Arga.
"Ya, Nad," ucap Arga tegas, mengunci pandangannya pada istrinya yang hancur lebur. "Maya sedang mengandung anakku. Sudah tiga bulan. Dan dia akan melahirkan anak itu di rumah ini."
Bumi tempat Nadira berpijak seolah amblas. Telinganya berdenging hebat, pandangannya berkunang-kunang. Pengkhianatan ini bukan hanya sebatas kebohongan malam hari atau sekadar perselingkuhan sesaat. Suaminya telah menanam benih di rahim wanita yang ia panggil sahabat.
Saat pandangan Nadira mulai kabur oleh air mata yang tumpah ruah, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di leher Maya. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk angsa. Kalung yang persis sama dengan yang Arga berikan pada Nadira saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
Hanya saja, kalung milik Maya... terlihat lebih usang, seolah sudah dipakai setiap hari selama bertahun-tahun.
Di saat itulah Nadira menyadari satu kebenaran yang jauh lebih mengerikan: pengkhianatan ini tidak baru saja terjadi. Mereka sudah menipunya sejak lama, sangat lama. Mungkin, jauh sebelum pernikahan ini terjadi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar