Langkah kaki Nadira terasa berat saat menapaki setiap anak tangga menuju lantai dua. Tangannya mencengkeram erat pegangan tangga kayu jati yang dulu ia pilih sendiri bersama Arga saat rumah ini baru dibangun. Dulu, rumah ini adalah istana kecil mereka. Simbol cinta dan kerja keras. Namun kini, dinding-dindingnya seolah mengimpit, lantainya terasa sedingin es, dan udara di dalamnya mencekik leher Nadira.
Ia mendorong pintu kamar utamanya. Aroma parfum maskulin Arga yang bercampur dengan pengharum ruangan beraroma lavender langsung menusuk penciumannya. Kamar ini adalah saksi bisu dari segala tawa, tangis, dan doa-doa panjang Nadira di sepertiga malam, memohon agar Tuhan segera menitipkan janji kehidupan di rahimnya.
Kini, kamar ini akan ditempati oleh perempuan lain. Oleh sahabatnya sendiri.
Dengan tangan bergetar, Nadira membuka pintu lemari pakaian tiga pintu di sudut ruangan. Ia meraih sebuah koper besar berwarna hitam dari atas lemari, lalu membantingnya di atas ranjang king size yang seprai putihnya masih rapi. Ia membuka resleting koper itu dengan kasar.
Aku tidak akan menangis lagi, batinnya, meski pandangannya sudah mengabur. Aku tidak akan memberikan mereka kepuasan melihatku hancur.
Nadira mulai menarik pakaiannya dari dalam lemari. Ia tidak peduli untuk melipatnya dengan rapi. Kemeja kerja, celana panjang, kaus, dan beberapa helai daster ia masukkan begitu saja ke dalam koper. Ia hanya mengambil pakaian yang ia beli dari gajinya sendiri sebelum berhenti bekerja dua tahun lalu—keputusan yang ia ambil karena Arga memintanya fokus pada program kehamilan.
Betapa bodohnya dia. Ia melepaskan kariernya, kemandiriannya, demi seorang pria yang pada akhirnya menginjak-injak harga dirinya hingga tak bersisa.
"Kamu ngapain, Nad?"
Suara berat dan dingin itu membuat gerakan tangan Nadira terhenti sejenak. Arga berdiri di ambang pintu, bersedekap dada, menatap koper besar di atas ranjang dengan kening berkerut.
Nadira mengabaikannya. Ia berbalik menuju meja rias, menyapu beberapa produk perawatan wajah miliknya ke dalam sebuah tas kecil.
"Nadira, aku bicara padamu!" Arga melangkah masuk, nada suaranya mulai meninggi. Ia meraih lengan Nadira dan memaksanya berbalik. "Aku menyuruhmu pindah ke kamar tamu di bawah, bukan berkemas untuk minggat!"
Nadira menepis tangan Arga dengan sekuat tenaga. Matanya menatap tajam ke arah bola mata pria yang dulu sangat ia puja itu. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang sama yang kamu gunakan untuk memeluk perempuan itu, Arga!" desisnya penuh kebencian.
Arga mendengus kasar, rahangnya mengetat. "Kamu mau ke mana malam-malam begini? Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Nadira. Jangan membesar-besarkan masalah! Kamu pikir dengan kamu kabur dari rumah, masalah ini akan selesai?"
"Membesar-besarkan masalah?!" Nadira tertawa sumbang, tawanya menggema di kamar yang luas itu, terdengar menyayat hati. "Suamiku menghamili sahabatku sendiri. Membawanya masuk ke rumah ini. Mengusirku dari kamarku sendiri. Dan ibu mertuaku mendukung perzinaan itu dengan penuh suka cita! Lalu kamu bilang aku membesar-besarkan masalah?!"
"Ini bukan perzinaan kalau aku menikahinya, Nadira!" bantah Arga keras, wajahnya memerah. "Aku akan menikahi Maya! Dia membawa darah dagingku, penerus keluargaku! Sesuatu yang selama empat tahun ini gagal kamu berikan! Kamu harusnya sadar diri dan menerima takdirmu!"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arga, tanpa ada keraguan, tanpa ada rasa bersalah. Nadira menatap suaminya dengan perasaan mual yang luar biasa melanda perutnya. Pria di hadapannya ini bukan Arga yang ia kenal. Bukan Arga yang melamarnya di bawah rintik hujan lima tahun lalu. Pria ini adalah monster egois yang bersembunyi di balik topeng suami yang baik.
"Menikahinya?" bisik Nadira parau. "Silakan. Nikahi dia, Arga. Tapi tidak selagi aku masih menjadi istrimu. Karena detik ini juga, aku tidak sudi lagi berbagi udara yang sama dengan kalian berdua."
Nadira menutup kopernya, menarik resletingnya dengan kuat, lalu menurunkannya dari atas ranjang. Ban koper itu berdebum menghantam lantai kayu.
Melihat Nadira benar-benar akan pergi, kepanikan sejenak melintas di wajah Arga. "Kamu mau ke mana, Nad? Ini sudah tengah malam! Hujan di luar! Kamu tidak punya uang, kamu tidak punya pekerjaan! Jangan gila!"
Arga berusaha menahan gagang koper Nadira, namun wanita itu mencengkeramnya lebih kuat.
"Lebih baik aku mati kedinginan di luar sana daripada harus menghirup bau busuk pengkhianatan di rumah ini!" teriak Nadira, mendorong dada Arga hingga pria itu mundur selangkah.
Keributan di lantai dua rupanya menarik perhatian orang-orang di lantai bawah. Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menaiki tangga. Bu Darmi muncul di ambang pintu, disusul oleh Maya yang menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak yang pura-pura terkejut.
"Ada apa ini teriak-teriak?!" seru Bu Darmi, berkacak pinggang menatap Nadira dan kopernya. "Oh, jadi kamu mau minggat? Bagus! Pergi sana! Biar sekalian rumah ini bersih dari perempuan pembawa sial sepertimu!"
"Ibu, jangan begitu..." Maya melangkah maju, memegang lengan Arga dengan raut wajah memelas. Air mata buayanya kembali menggenang di pelupuk mata. "Mbak Nadira... tolong jangan pergi gara-gara aku. Aku yang salah, Mbak. Kalau Mbak Nadira tidak bisa menerimaku, biar aku saja yang pergi. Aku tidak mau menghancurkan rumah tangga kalian..."
Maya menunduk, isak tangisnya terdengar begitu pilu. Ia menyentuh perutnya yang rata, lalu menatap Arga dengan pandangan hancur. "Mas... biarkan aku pergi saja, Mas. Aku bisa membesarkan anak ini sendirian. Aku rela..."
"Jangan bicara sembarangan, Maya!" Arga langsung merangkul bahu Maya, wajahnya penuh kekhawatiran yang amat sangat. "Kamu sedang hamil, jangan banyak pikiran. Kamu tidak akan ke mana-mana. Ini rumahmu juga!"
Nadira menyaksikan pertunjukan teater murahan di depannya dengan dada yang terasa mau meledak. Ia menatap Maya, melihat bagaimana wanita itu menyembunyikan senyum liciknya di balik dada Arga. Maya benar-benar ular berbisa yang selama ini ia pelihara dan ia hangatkan di dadanya sendiri.
"Hebat..." Nadira bertepuk tangan pelan, tiga kali. Suara tepukan itu memecah drama menjijikkan di depannya. "Benar-benar akting yang luar biasa, Maya. Kamu pantas mendapatkan piala atas peranmu sebagai korban yang teraniaya."
Nadira melangkah maju, mendekati Maya dan Arga. Tidak ada lagi air mata di wajahnya. Hanya ada sisa-sisa keberanian terakhir yang ia kumpulkan dari sekeping harga dirinya yang tersisa.
"Dengar baik-baik, Maya," ucap Nadira dengan suara yang sangat rendah, namun sangat tajam. "Kamu bisa mengambil pakaiannya. Kamu bisa mengambil kamarnya. Kamu bisa mengambil pria pengecut ini dari hidupku." Nadira menunjuk wajah Arga dengan telunjuknya yang bergetar. "Karena pria yang bisa direbut oleh wanita murahan sepertimu, memang tidak pantas untuk dipertahankan."
Wajah Arga mengeras, rahangnya bergemeretak menahan amarah. "Jaga ucapanmu, Nadira!"
"Dan untuk Ibu..." Nadira beralih menatap Bu Darmi yang mendelik ke arahnya. "Semoga Ibu bahagia dengan menantu dan cucu yang Ibu dapatkan dari hasil merusak rumah tangga orang lain. Semoga Ibu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya anak perempuan Ibu dikhianati dan dibuang seperti sampah."
"Beraninya kamu menyumpahiku, perempuan mandul!" jerit Bu Darmi, mengangkat tangannya hendak menampar Nadira.
Namun sebelum tangan keriput itu mendarat di wajahnya, Nadira menahan pergelangan tangan mertuanya dengan kuat, lalu menghempaskannya ke udara. Bu Darmi terkesiap, mundur selangkah dengan wajah pucat. Ia tidak menyangka Nadira yang selama ini selalu menunduk dan penurut bisa melawan.
Nadira menarik napas panjang. Ia mengangkat tangan kirinya. Di jari manisnya, melingkar sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian kecil. Cincin pernikahan yang selama empat tahun ini tidak pernah sekalipun ia lepaskan, bahkan saat ia mandi atau mencuci piring.
Dengan gerakan mantap, Nadira mencabut cincin itu dari jarinya.
Mata Arga membelalak lebar melihat pemandangan itu. "Nad... apa yang kamu lakukan?" suaranya tiba-tiba melemah, ada secercah kepanikan yang nyata di sana. Bagaimanapun, melihat lambang ikatan mereka dilepas dengan begitu mudah, menghantam egonya sebagai seorang suami.
Nadira tidak menjawab. Ia melemparkan cincin itu ke lantai kayu. Benda bulat kecil itu berdenting nyaring, menggelinding beberapa kali sebelum akhirnya berhenti tepat di ujung sepatu Arga.
"Pernikahan kita selesai, Arga," ucap Nadira dengan suara yang sangat tenang. Ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan marahnya. "Urus surat cerai kita secepatnya. Jangan pernah mencari aku lagi, dan jangan pernah berharap aku akan kembali."
Tanpa menunggu balasan apa pun dari mereka, Nadira memutar tubuhnya. Ia meraih gagang kopernya dan menyeretnya keluar dari kamar itu. Langkahnya mantap menuruni tangga. Ia tidak menoleh ke belakang, meski ia mendengar teriakan Bu Darmi yang terus memakinya dari lantai atas.
Nadira berjalan melintasi ruang tamu, tempat di mana dulu ia dan Arga sering menonton televisi bersama sambil memakan martabak manis. Ia melewati ruang makan, tempat di mana dulu Arga selalu memuji masakannya. Semua kenangan itu kini terasa seperti racun yang menggerogoti ingatannya.
Ia membuka pintu depan. Angin malam yang dingin dan sisa-sisa hujan gerimis langsung menyapu wajahnya. Kegelapan malam menyambutnya seperti pelukan kawan lama.
Nadira melangkah keluar, menutup pintu rumah itu dari luar dengan satu bantingan keras.
Brak!
Suara pintu yang tertutup rapat itu menjadi titik akhir dari kehidupannya yang lama. Tidak ada lagi Nadira istri Arga. Tidak ada lagi Nadira sang menantu penurut. Yang tersisa kini hanyalah Nadira, seorang wanita dengan hati yang hancur berkeping-keping, berdiri sendirian di tengah malam yang gelap gulita.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan gerimis membasahi wajahnya yang terasa panas. Saat ia membuka mata, jalanan sepi membentang di hadapannya. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak punya tempat tujuan. Namun satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak akan pernah menengok ke belakang lagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar