Aku selalu percaya bahwa rumah adalah sebuah muara. Tempat di mana segala lelah dari dunia luar luruh, tempat di mana topeng-topeng dilepaskan, dan tempat di mana kita bisa menjadi versi paling jujur dari diri kita sendiri. Selama lima tahun terakhir, aku membangun rumah ini dengan keyakinan itu. Setiap sudutnya kucintai. Aroma lavender yang selalu menguar dari diffuser di sudut ruang tamu, susunan bantal sofa yang warnanya kupilih sendiri agar senada dengan karpet, hingga deretan foto berbingkai kayu di dinding yang merekam jejak kebahagiaanku bersama Jagat.

Jagat Adiraga. Mengingat namanya saja biasanya sudah cukup untuk membuat sudut bibirku terangkat. Ia adalah definisi dari seorang suami yang nyaris tanpa celah. Pria pekerja keras yang selalu memastikan aku tidak pernah kekurangan apa pun. Ia jarang pulang larut tanpa alasan yang masuk akal. Kalaupun ia harus tertahan di kantor karena rapat direksi atau harus dinas ke luar kota, ia selalu meneleponku. Suaranya di seberang sana selalu terdengar lembut, penuh penyesalan karena harus meninggalkanku sendirian di rumah. Ia tahu persis bagaimana membuatku merasa menjadi satu-satunya wanita yang bertahta di dunianya.

Malam ini, jam di dinding ruang tengah sudah menunjuk angka sepuluh lewat lima belas menit. Hujan turun rintik-rintik di luar, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang konstan dan mendinginkan udara malam. Di atas meja makan, sepiring gurame asam manis dan tumis brokoli kesukaan Jagat sudah dingin sejak dua jam yang lalu. Aku masih duduk di sofa, memeluk bantal sambil sesekali melirik layar ponsel yang gelap.

Pesan terakhirnya masuk pada pukul delapan malam. “Masih di jalan, Sayang. Hujannya bikin jalanan macet parah. Kamu tidur duluan saja kalau mengantuk, ya. Love you.”

Aku tersenyum tipis saat membacanya ulang. Aku tidak pernah bisa tidur sebelum mendengar suara mesin mobilnya memasuki pekarangan. Itu sudah menjadi kebiasaanku. Menunggu Jagat pulang adalah caraku memastikan bahwa duniaku masih berputar pada poros yang benar.

Namun, di tengah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara detak jarum jam dan rintik hujan, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.

Ting-tong.

Bel rumah berbunyi. Suaranya bergema cukup keras di dalam rumah yang sepi. Aku mengerutkan kening. Jagat selalu membawa kunci cadangannya sendiri. Ia tahu aku mudah terbangun dan tidak pernah mau menggangguku jika ia pulang larut. Kenapa ia memencet bel? Apakah kuncinya tertinggal? Atau mungkin ada paket yang datang terlambat?

Aku meletakkan ponselku di atas meja kopi, merapikan sedikit daster panjang berbahan katun yang kukenakan, lalu melangkah menuju pintu depan. Udara dingin langsung menyergap kulitku saat aku memutar kunci dan menarik gagang pintu.

“Mas, kok tumben pencet bel—”

Ucapanku terhenti di udara. Nafasku tertahan di tenggorokan.

Di teras rumahku, di bawah pendar lampu kekuningan yang temaram, bukan suamiku yang berdiri. Melainkan seorang perempuan.

Ia mungkin berusia beberapa tahun lebih muda dariku. Rambutnya yang lurus sebahu sedikit basah karena cipratan hujan. Ia mengenakan mantel berwarna krem yang menutupi blus sederhananya, dan tangannya mencengkeram erat tali tas selempangnya. Wajahnya pucat, tetapi matanya menatapku dengan sebuah intensitas yang aneh. Ada ketakutan di sana, tetapi juga ada keberanian yang dipaksakan.

Aku mengerjapkan mata, mencoba memproses kehadiran tamu tak diundang ini di tengah malam. "Maaf... cari siapa, ya?" tanyaku, berusaha menjaga nada suaraku tetap sopan meski firasat aneh mulai merayap di tengkukku.

Perempuan itu menelan ludah. Jakunnya bergerak pelan. Ia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapan yang entah mengapa membuatku merasa sedang dinilai.

"Apa benar ini rumah... Jagat Adiraga?" Suaranya pelan, nyaris bergetar tertiup angin malam.

Aku mengangguk, sedikit lega karena setidaknya ia tidak salah alamat. "Iya, benar. Ini rumah Mas Jagat. Tapi suaminya sedang tidak ada di rumah, masih di jalan pulang dari kantor. Ada keperluan apa ya, Mbak? Rekan kerjanya Mas Jagat?"

Mendengar kata 'suami', bahu perempuan itu menegang. Matanya yang sedari tadi mencoba terlihat tegar tiba-tiba berkaca-kaca. Ia mengambil satu langkah mundur, seolah kata-kataku baru saja menamparnya secara fisik.

"Suami..." gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. Ia menarik napas panjang, dadanya naik-turun dengan cepat. "Jadi... benar. Apa yang kudengar selama ini benar."

Firasat aneh yang tadi hanya merayap, kini berubah menjadi alarm peringatan yang memekakkan telinga di dalam kepalaku. Sesuatu terasa sangat tidak beres. "Maaf, Mbak ini siapa, ya?" tanyaku lagi, kali ini nada suaraku lebih tegas, naluri teritorialku sebagai pemilik rumah dan sebagai seorang istri mulai mengambil alih.

Perempuan itu menatap mataku lekat-lekat. Hujan di belakangnya terasa semakin deras, menenggelamkan suara-suara lain di dunia ini kecuali suara napas kami berdua.

"Nama saya Sasmira Lestani," ucapnya perlahan, mengeja setiap suku kata seolah itu adalah kalimat paling berat yang pernah ia keluarkan dari mulutnya. "Saya... saya datang ke sini karena saya harus tahu kebenarannya."

"Kebenaran apa? Tolong bicara yang jelas, Mbak. Ini sudah malam." Aku mulai merasa tidak nyaman. Tanganku perlahan bergerak memegang pinggiran pintu, bersiap untuk menutupnya jika perempuan ini ternyata orang gila atau berniat jahat.

Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari bibir Sasmira membuat seluruh persendianku mati rasa.

"Saya adalah istri Jagat."

Keheningan yang membekukan jatuh di antara kami. Hujan masih turun, tetapi aku tidak lagi mendengarnya. Angin malam berhembus menembus dasterku, tetapi aku tidak lagi merasakan dinginnya. Seluruh duniaku tiba-tiba menyempit, hanya terfokus pada wajah pucat perempuan di hadapanku ini.

Aku menatapnya selama beberapa detik, menunggu ia tertawa dan mengatakan bahwa ini adalah lelucon yang buruk. Atau mungkin prank acara televisi. Tetapi wajah Sasmira tetap tegang, matanya meneteskan satu bulir air mata yang langsung ia usap dengan kasar.

Tiba-tiba, sebuah tawa kering keluar dari mulutku. Tawa yang terdengar sumbang dan tidak wajar, bahkan di telingaku sendiri. "Mbak Sasmira, saya tidak tahu apa tujuan Mbak datang ke sini malam-malam begini. Tapi lelucon Mbak sangat tidak lucu. Saya adalah istri Jagat Adiraga. Kami sudah menikah selama lima tahun. Kalau Mbak mau menipu atau mencari masalah—"

"Saya tidak berbohong!" Sasmira memotong ucapanku, suaranya naik satu oktaf, terdengar putus asa. Tangannya yang gemetar buru-buru merogoh ke dalam tas selempangnya. Ia mengaduk-aduk isinya dengan panik, mencari sesuatu.

"Mbak, lebih baik Mbak pergi sekarang sebelum saya telepon satpam komplek," ancamku, tanganku sudah siap mendorong pintu untuk menutupnya. Jantungku berdetak liar. Aku marah. Ya, aku marah karena perempuan asing ini berani datang ke rumahku dan mengotori nama baik suamiku. Jagatku. Jagat yang begitu mencintaiku.

"Tunggu! Tolong, lihat ini dulu. Tolong!" Sasmira setengah berteriak. Tangannya akhirnya menarik sesuatu dari dalam tas.

Sebuah buku kecil. Buku berwarna hijau kecokelatan yang sangat kukenal bentuknya.

Buku nikah.

Napas tertahan di dadaku. Tanganku yang berada di gagang pintu gemetar hebat. Sasmira menyodorkan buku itu ke arahku dengan tangan yang sama gemetarnya.

"Saya... saya tidak tahu kalau dia punya istri lain. Saya bersumpah saya tidak tahu," isak Sasmira, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya. "Tolong lihat sendiri."

Bagaikan digerakkan oleh sesuatu di luar kendaliku, tanganku perlahan terulur. Ujung jari-jariku menyentuh sampul buku itu. Dingin. Aku mengambilnya dari tangan Sasmira. Buku itu terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah murni yang siap menarikku tenggelam ke dasar laut.

Aku membuka halaman pertamanya. Jantungku bergemuruh, memompa darah dengan begitu cepat hingga telingaku berdenging.

Di halaman itu, tertempel dua buah pas foto berlatar biru. Satu foto menampilkan wajah perempuan di hadapanku ini, Sasmira Lestani. Dan di sebelahnya... Senyum itu. Sorot mata itu. Kemeja putih yang kukenali dengan sangat baik. Itu adalah suamiku. Jagat Adiraga.

Tinta cap resmi dari Kantor Urusan Agama menimpa kedua foto tersebut, mengunci mereka dalam sebuah keabsahan yang tidak bisa dibantah oleh mata mana pun. Namanya tercetak jelas di sana, lengkap dengan tanggal lahirnya, nama ayahnya. Tidak ada keraguan, tidak ada kemungkinan salah orang. Itu suamiku.

Lututku tiba-tiba terasa seperti jeli. Aku harus bersandar pada kusen pintu agar tidak ambruk. Namun, yang membuat mataku terasa perih bagai disiram cuka bukanlah foto itu. Melainkan deretan angka yang tertulis di bawahnya. Tanggal pernikahan mereka.

Tanggal itu menunjukkan bulan dan tahun yang tepat berada di pertengahan masa pernikahanku dengan Jagat. Tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun lalu. Saat aku sedang berjuang memulihkan diri dari keguguran anak pertama kami. Saat Jagat memelukku setiap malam, berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan selalu ada untukku, bahwa aku adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Di saat aku menangis meratapi janin kami yang tak selamat di rumah ini, suamiku ternyata sedang berdiri di hadapan penghulu, mengikrarkan janji suci kepada perempuan lain.

Buku nikah itu terlepas dari tanganku, jatuh ke lantai teras dengan suara buk yang pelan.

Duniaku, rumah yang kubangun dengan pondasi cinta dan kepercayaan selama lima tahun, runtuh seketika malam itu. Tak bersisa sedikit pun.