Tidak ada yang bisa mempersiapkanmu untuk momen ketika kewarasanmu dicabut secara paksa. Aku berdiri membeku di ambang pintu, menatap buku nikah yang tergeletak pasrah di atas ubin teras. Angin malam menyapu halamannya, membuatnya terbuka lebar, seolah dengan sengaja mempertontonkan bukti pengkhianatan itu kepadaku berulang-ulang.
Di hadapanku, Sasmira menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan. Suara tangisannya terasa seperti jarum yang menusuk-nusuk gendang telingaku.
Sebuah emosi yang gelap, pekat, dan tak pernah kukenali sebelumnya tiba-tiba meledak dari dasar perutku. Ia merambat naik ke dada, mencekik kerongkonganku, dan membakar mataku. Amarah. Amarah yang begitu beringas hingga aku merasa bisa menghancurkan apa saja saat ini.
"Masuk," desisku, suaraku terdengar serak dan asing.
Sasmira menurunkan tangannya, menatapku dengan mata merah yang ketakutan. "Apa?"
"Masuk ke dalam. Sekarang," ulangku, lebih keras. Aku memungut buku nikah itu dari lantai, lalu melangkah mundur, memberikan ruang baginya untuk masuk. Aku tidak peduli dengan sepatunya yang basah. Aku tidak peduli dengan karpet mahalku. Malam ini, rumah ini bukan lagi sebuah tempat suci. Rumah ini adalah tempat kejadian perkara.
Sasmira melangkah ragu melewati ambang pintu. Begitu ia berada di dalam, aku membanting pintu depan hingga tertutup rapat. Bunyi debuman kayu itu bergema di seluruh penjuru ruang tamu, membuat Sasmira terlonjak kaget.
Aku berbalik menatapnya. Napasku memburu. "Jelaskan," kataku dengan rahang menegang. "Berapa lama kalian sudah merencanakan ini? Berapa lama kamu dan laki-laki keparat itu menertawakanku di belakang punggungku?!"
Sasmira menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Setengah jam yang lalu aku bahkan tidak tahu kalau kamu ada di dunia ini! Aku tidak tahu dia punya istri!"
"Omong kosong!" bentakku. Suaraku pecah, gema keputusasaanku memantul di dinding-dinding ruang tamu yang dihiasi foto-foto pernikahanku dengan Jagat. Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tanganku mencengkeram buku nikahnya, nyaris merobek sampulnya. "Kamu pikir aku bodoh, hah?! Tiga tahun! Kalian sudah menikah selama tiga tahun! Dan kamu mau bilang kamu tidak tahu dia sudah beristri? Kamu pikir pria seumurannya, mapan, tanpa istri itu wajar? Kamu pasti tahu, kamu hanya menutup mata karena kamu perempuan gatal yang mengincar hartanya!"
Kata-kataku kejam, aku tahu itu. Namun saat ini aku tidak bisa berpikir jernih. Aku ingin melukainya. Aku ingin dia merasakan setidaknya sebagian kecil dari kehancuran yang sedang menggerogoti dadaku saat ini.
Plak!
Tiba-tiba tangan Sasmira menepis lenganku dengan keras. Matanya yang tadi ketakutan kini menyala oleh kemarahan yang sama besarnya denganku.
"Jaga mulutmu!" balas Sasmira tak kalah sengit. Air mata masih membasahi wajahnya, tetapi nadanya kini tajam. "Kamu pikir aku mau ada di posisi ini? Kamu pikir aku bangga datang ke sini malam-malam untuk menemukan fakta bahwa suamiku ternyata milik orang lain? Jagat bilang padaku bahwa dia duda! Dia bilang istri pertamanya meninggal karena sakit!"
Deg.
Darahku terasa berhenti mengalir sedetik. Meninggal karena sakit?
"Dia... dia bilang aku mati?" bisikku, rasa sakit yang baru dan jauh lebih tajam menikam jantungku.
Sasmira menelan ludah, dadanya naik turun. Ia menyeka air matanya dengan kasar. "Ya. Dia bahkan membawaku ke sebuah makam di luar kota. Makam tanpa nama di sebuah pemakaman umum. Dia menangis di sana, mengatakan betapa dia mencintai mendiang istrinya dan betapa dia sulit move on sampai akhirnya bertemu denganku. Dia memanipulasiku. Keluargaku percaya padanya. Teman-temanku mengaguminya. Aku menyerahkan seluruh hidupku padanya!" Sasmira akhirnya jatuh terduduk di atas sofa, tangisannya kembali pecah, kali ini terdengar lebih menyayat hati. "Aku sedang mengandung anaknya bulan lalu... dan aku keguguran karena kelelahan menunggunya pulang dari dinas luar kota... dinas yang ternyata... ternyata untuk pulang ke rumah ini."
Aku terhuyung mundur. Lututku membentur meja kopi. Keguguran. Kata itu bergema di kepalaku. Ia mengalami hal yang sama denganku. Dan Jagat... Jagat membohonginya dengan cara yang tak terbayangkan kejamnya. Memalsukan kematianku? Membawa perempuan ini ke makam orang tak dikenal demi sebuah narasi agar ia terlihat rapuh dan mengundang simpati?
Pria macam apa yang selama ini tidur di sebelahku? Pria macam apa yang mencium keningku setiap pagi sebelum pergi bekerja?
Amarahku pada Sasmira perlahan menguap, digantikan oleh kengerian yang membuat seluruh tubuhku merinding. Kami berdua berdiri di ruangan ini, memperebutkan gelar siapa yang lebih berhak atas seorang pria, tanpa menyadari bahwa kami berdua sedang memperebutkan seorang monster.
Aku menjatuhkan diriku di sofa yang berada di seberang Sasmira. Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara. Hanya suara isak tangis Sasmira dan rintik hujan di luar jendela yang mengisi kesunyian di antara kami. Dua orang perempuan, terjebak dalam jaring kebohongan yang dirajut oleh pria yang sama.
"Setiap akhir bulan," aku mulai berbicara, suaraku datar dan hampa, menatap kosong ke arah karpet. "Setiap akhir bulan, selama lima hari, dia selalu bilang harus mengawasi proyek di Surabaya. Dia tidak pernah membiarkanku ikut dengan alasan cuaca di sana sedang buruk dan ia harus berada di lapangan seharian."
Sasmira mengangkat wajahnya yang basah. Ia memandangku dengan mata yang membelalak perlahan, menyadari arah pembicaraanku. "Setiap akhir bulan... dia pulang ke rumahku di Bekasi. Dia bilang itu adalah satu-satunya waktu dia bisa mengambil cuti dari pekerjaannya yang gila."
Kami saling bertatapan. Kepingan-kepingan puzzle yang selama bertahun-tahun berserakan dalam kegelapan kini mulai menyatu, membentuk sebuah gambar mengerikan yang tak pernah kami bayangkan. Absennya di akhir pekan, ponsel yang selalu diletakkan terbalik, parfum dengan aroma yang terkadang sedikit berbeda, tagihan kartu kredit yang tak pernah ia biarkan aku melihatnya. Semuanya bukan sekadar kebetulan. Itu adalah rutinitas yang diatur dengan presisi gila.
Tiba-tiba, sebuah cahaya lampu menyorot terang dari balik gorden jendela ruang tamu, menyapu dinding ruangan sebelum akhirnya berhenti. Diikuti oleh suara deru mesin mobil yang sangat kami kenal.
Suara ban yang bergesekan dengan paving block pekarangan. Suara mesin yang dimatikan. Langkah kaki di garasi.
Itu Jagat.
Sasmira menegang. Tubuhnya kaku, matanya melebar panik menatap ke arah pintu. Ia mencengkeram ujung mantelnya dengan erat. Sementara aku, aku hanya bisa duduk membeku. Hatiku yang tadinya hancur kini membeku menjadi sebongkah es yang padat dan tajam.
Terdengar suara anak kunci dimasukkan ke dalam lubang pintu. Bunyi 'klik' yang dulu selalu menjadi penanda bahwa kebahagiaanku telah pulang, kini terdengar seperti suara pelatuk pistol yang ditarik.
Pintu terbuka.
Jagat melangkah masuk. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda, lengan bajunya digulung hingga siku, dan tas kerjanya tersampir santai di bahu kanan. Rambutnya sedikit basah oleh gerimis.
"Sayang, maaf aku pulangnya kemalaman," serunya dengan nada ceria yang biasa ia gunakan, sambil membungkuk untuk melepaskan sepatunya di area masuk. "Jalanan benar-benar macet di tol. Kamu belum tidur, kan? Aku belikan martabak manis kesukaan—"
Kata-katanya terputus di udara. Jagat mengangkat kepalanya, berjalan masuk ke ruang tamu, dan langkahnya terhenti secara mendadak seolah ia baru saja menabrak tembok kasat mata.
Tas kerjanya meluncur jatuh dari bahunya, menghantam lantai dengan suara berdebum yang keras. Kotak martabak di tangannya ikut terlepas.
Ia berdiri di sana. Matanya menatap Sasmira yang duduk di sofa dengan wajah sembab dan mantel basah, lalu beralih menatapku yang duduk di seberangnya dengan buku nikah berwarna hijau di atas pangkuanku.
Udara di ruangan itu seolah tersedot habis. Waktu berhenti berdetak. Aku bisa melihat jakun Jagat bergerak naik turun dengan susah payah. Wajahnya yang biasa tampan dan penuh percaya diri kini memucat pasi, seputih kertas. Keterkejutan di matanya begitu nyata, topeng sempurnanya retak berkeping-keping dalam satu detik itu.
Ia tertangkap basah. Di rumahnya sendiri. Dengan dua nyawa yang telah ia permainkan selama bertahun-tahun duduk berhadapan.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Kami bertiga terjebak dalam segitiga kebisuan yang menyesakkan dada. Aku menatapnya tepat di matanya, mencari sedikit saja sisa-sisa pria yang kukenal selama lima tahun ini. Namun, yang kulihat hanyalah kepanikan seorang pengecut yang menyadari permainannya telah usai.
Jagat menelan ludah. Ia memaksakan sebuah senyum yang sangat kaku, senyum yang terlihat lebih mirip seperti meringis kesakitan. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan di depan dada, sebuah gestur menyerah sekaligus menenangkan.
"Kala... Sasmira..." suaranya bergetar, sebelum ia akhirnya mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh sisa kewarasanku nyaris putus.
"Tolong tenang dulu... Ini semua bisa dijelaskan."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar