Layar ponsel itu sudah kembali menggelap, menyisakan pantulan wajahku dan Sasmira yang sama-sama pias. Ruang tamu rumahku yang biasanya terasa hangat dan aman, kini terasa seperti ruang interogasi yang mengurung kami dalam sesak. Udara seolah tersedot habis, digantikan oleh aroma pengkhianatan yang pekat.

"Orsila," gumamku, mengeja nama yang baru saja berkedip di layar itu dengan susah payah. Lidahku terasa kelu, seolah nama itu dilapisi racun. "Istriku. Dia... dia memanggil perempuan itu istri."

Sasmira mundur selangkah, tubuhnya menabrak ujung meja konsol. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri menatap ponsel hitam milik Jagat yang tergeletak bisu. "Ini gila, Kala. Ini benar-benar gila. Dua istri saja sudah sebuah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Tapi tiga? Tiga?! Pria macam apa yang sedang kita hadapi ini?!"

Napasku memburu. Ada gemuruh hebat di dalam dadaku, kombinasi antara amarah yang membakar dan rasa mual yang melilit lambung. Aku meraih ponselku sendiri dari saku daster, dengan tangan bergetar aku menyalakan kamera, lalu menekan tombol daya di ponsel Jagat agar layarnya menyala sebentar. Aku memotret layar kunci itu—menangkap bukti pop-up jadwal pembayaran IPL di Bintaro, sebelum layarnya kembali mati.

"Kala, apa yang kamu lakukan?" Sasmira bertanya dengan suara gemetar.

"Mengamankan bukti," jawabku dingin. Kumasukkan kembali ponselku ke dalam saku, lalu meletakkan ponsel Jagat tepat di posisi semula, mengatur sudutnya agar terlihat persis seperti saat ia meninggalkannya. "Kalau dia sadar ponselnya tertinggal dan kembali ke sini, dia tidak boleh tahu kita sudah melihat pesan ini."

Sasmira menelan ludah. "Lalu... apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Aku menatap Sasmira lekat-lekat. Mata perempuan itu menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. Semalam ia datang ke mari dengan status sebagai korban yang merasa paling dikhianati, hanya untuk menemukan fakta bahwa penderitaannya ternyata harus dibagi dengan wanita lain. Dan kini, fakta baru baru saja menampar kami berdua.

"Ganti bajumu, Mbak," ucapku dengan nada datar yang mengejutkan diriku sendiri. "Kita ke Bintaro sekarang."

Mata Sasmira membulat. "Sekarang? Tapi kita bahkan tidak tahu alamat lengkapnya, Kala! Bintaro itu luas. Lagipula... apa kamu yakin kita sanggup menghadapi ini lagi? Aku... rasanya aku tidak kuat." Sasmira menggelengkan kepalanya pelan, bahunya merosot. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Aku melangkah maju, memegang kedua bahu Sasmira dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk menyadarkannya. "Dengar. Kalau kamu mau menangis dan menyerah, silakan. Kamu bisa pulang ke Bekasi dan membiarkan Jagat menang dengan kebohongannya. Tapi aku tidak akan berhenti di sini. Aku sudah menghabiskan lima tahun hidupku melayani seorang pembohong patologis. Aku butuh tahu seberapa dalam lubang kebohongan ini. Dan aku butuh tahu siapa Orsila."

Sasmira menatapku. Tangisnya tertahan di ujung tenggorokan. Ia melihat keteguhan di mataku, sebuah resolusi yang lahir dari kehancuran total. Perlahan, ia mengangguk. "Beri aku waktu lima menit untuk mencuci muka."

Tiga puluh menit kemudian, kami sudah berada di dalam mobilku. Jalanan Jakarta di hari Sabtu pagi ini belum terlalu padat, sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan air di beberapa ruas jalan. Wiper mobil bergerak ritmis menyapu gerimis kecil yang kembali turun.

Di kursi penumpang, Sasmira terus-menerus menatap ke luar jendela. Tangannya saling meremas di atas pangkuannya. Sesekali ia menghela napas panjang, seolah sedang berusaha membuang beban yang menghimpit dadanya.

"Bagaimana kita bisa menemukannya?" Sasmira akhirnya memecah keheningan saat mobil kami mulai memasuki jalan tol menuju Bintaro. "Notifikasi kalender itu hanya menyebut 'Rumah Bintaro'. Tidak ada nama jalan, tidak ada nama kluster."

Tanganku mencengkeram kemudi dengan erat. Mataku lurus menatap aspal basah di depan. "Dia lupa bahwa dia menautkan email utamanya ke iPad yang ada di ruang kerjanya di rumah," kataku tenang. "Aku memeriksa kotak masuknya tadi sebelum kita berangkat. Ada tagihan elektronik bulanan dari pengelola kluster perumahan yang dikirim tiga hari lalu. Kluster Amarantha, Bintaro Sektor Sembilan. Lengkap dengan nomor blok dan rumahnya."

Sasmira menoleh ke arahku dengan tatapan tak percaya. "Kamu meretas iPad-nya?"

"Aku istrinya. Aku tahu password semua perangkatnya, kecuali ponsel rahasianya itu," jawabku dingin. "Dulu aku tidak pernah memeriksa karena aku percaya padanya. Kepercayaan adalah hal yang mahal, Mbak Sasmira. Dan suamiku baru saja membuangnya ke tempat sampah."

Mobil kembali hening. Hanya terdengar suara penyiar radio yang mengabarkan tentang cuaca hari ini, berbanding terbalik dengan badai yang sedang mengamuk di dalam kepalaku.

Sepanjang perjalanan, otakku terus berputar mengurai ingatan. Jagat selalu beralasan kelelahan setiap minggu ketiga. Ia bilang beban kerjanya paling berat di pertengahan bulan. Terkadang ia tidur di hotel dekat kantor dengan alasan besok paginya ada rapat direksi jam tujuh. Dan aku, sebagai istri yang 'pengertian', selalu menyiapkan kemeja bersih dan pakaian dalamnya di dalam tas kecil setiap kali ia beralasan harus menginap.

Betapa bodohnya aku. Pakaian yang kusetrika dengan tanganku sendiri itu, ternyata ia pakai untuk menemui wanita lain. Untuk tidur di ranjang wanita lain.

"Kala..." panggil Sasmira pelan. Suaranya terdengar ragu. "Menurutmu, seperti apa Orsila itu?"

"Entahlah," jawabku singkat.

"Apakah dia... lebih muda dari kita? Lebih cantik?" Sasmira bertanya lagi, suaranya mengecil. Aku bisa mendengar rasa insecure yang merayap di setiap suku katanya. Penyakit yang selalu menyerang perempuan ketika menyadari posisinya tergantikan.

Aku menekan pedal gas lebih dalam, menyalip sebuah truk besar. "Itu tidak penting. Muda, tua, cantik, atau tidak, dia tetaplah korban dari pria yang sama. Atau mungkin, dia adalah kaki tangannya. Kita tidak akan tahu sampai kita melihatnya sendiri."

Satu jam kemudian, gerbang kluster Amarantha menjulang di depan kami. Kluster ini bukan perumahan sembarangan. Deretan rumah di dalamnya mengusung desain skandinavia yang modern, dengan pepohonan rindang dan jalanan paving yang bersih. Penjaga keamanannya sempat menahan kami di gerbang, namun dengan tenang aku menyebutkan nomor blok dan nama Jagat Adiraga, beralasan bahwa kami adalah kerabat yang ingin memberikan kejutan.

Satpam itu tersenyum ramah. "Oh, rumah Pak Jagat. Silakan, Bu. Blok C nomor delapan. Lurus saja, nanti di pertigaan kedua belok kiri."

Aku mengangguk, membalas senyumnya dengan senyum palsu. Dadaku bergemuruh. Bahkan satpam di sini mengenal nama suamiku dengan baik. Berapa sering ia pulang ke sini hingga satpam pun menghafal namanya?

Mobil melaju pelan menyusuri jalanan kluster yang sepi. Di sebelah kiri, deretan rumah berpagar rendah berjajar rapi. Mataku memindai setiap nomor rumah yang terpasang di dinding. Enam... tujuh... dan akhirnya, angka delapan.

Aku menghentikan mobil tepat di depan rumah itu.

Rumahnya asri. Catnya bernuansa putih dan abu-abu terang. Di garasi, tidak ada mobil, namun ada sebuah motor matic terparkir rapi. Halaman depannya dipenuhi pot-pot tanaman hias monstera dan calathea yang tampak sangat terawat. Ini bukan rumah persinggahan sementara. Ini adalah rumah yang dihuni, dirawat, dan dihidupi.

Sasmira menatap rumah itu dari balik kaca jendela mobil dengan napas tertahan. "Ini... ini lebih besar dari rumahku di Bekasi," bisiknya lirih, seolah fakta itu menambah luka baru di hatinya.

"Kita turun sekarang," perintahku, mematikan mesin mobil.

Kakiku terasa seperti jeli saat melangkah keluar dari mobil. Udara Bintaro yang mendung terasa menyengat paru-paruku. Sasmira berjalan di belakangku, langkahnya ragu, seolah ia sedang berjalan menuju tiang gantungan.

Kami berdiri di depan pagar besi bercat hitam yang hanya setinggi dada. Pintu utama rumah itu terbuat dari kayu jati solid, tertutup rapat. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian dan sisa-sisa harga diri yang kumiliki. Aku menekan bel yang terpasang di pilar pagar.

Ting-tong.

Suara bel itu terdengar ceria, sangat kontras dengan situasi kami. Kami menunggu dalam diam. Detik demi detik berlalu terasa seperti jam.

Terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu kayu jati itu perlahan terbuka.

Seorang wanita muncul dari balik pintu.

Napas Sasmira di belakangku terdengar tercekat. Aku sendiri membeku di tempat.

Wanita itu... ia sangat berbeda dari bayangan apa pun yang mungkin ada di kepalaku. Ia memakai daster selutut bermotif bunga kecil berbahan rayon yang terlihat sangat nyaman. Rambut hitamnya yang panjang dan lurus hanya diikat asal-asalan dengan jepit jedai di belakang kepala. Tidak ada riasan di wajahnya, namun kulitnya bersih dan bersinar. Ia sangat cantik, dengan cara yang sangat sederhana dan tidak dibuat-buat. Usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan, sedikit lebih muda dariku dan Sasmira.

Ia menatap kami dari balik pagar. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, ketakutan, atau kebingungan. Ekspresinya sangat tenang, nyaris datar. Mata cokelatnya menatap mataku, lalu beralih menatap Sasmira, dan kembali lagi kepadaku.

"Cari siapa, ya?" tanyanya, suaranya lembut, namun ada nada tegas yang tak terbantahkan di sana.

Aku berdehem, berusaha menemukan suaraku yang tiba-tiba hilang. Tanganku mengepal kuat di sisi tubuh. "Maaf mengganggu pagi-pagi. Apa benar ini rumah Mas Jagat? Jagat Adiraga?"

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia bersandar di kusen pintu, melipat kedua lengannya di depan dada. Tatapannya kembali menyapu kami berdua dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sejenak, aku merasa sedang dihakimi.

Lalu, sebuah senyum kecil, senyum yang sangat tipis dan tak tertebak, muncul di sudut bibirnya.

Ia membuka kancing pagar dan mendorongnya hingga terbuka lebar.

"Mas Jagat sedang tidak ada di rumah," ucapnya tenang, suaranya mengalun pelan memecah keheningan kluster. Ia melangkah mundur, memberikan jalan bagi kami berdua untuk masuk.

Aku dan Sasmira saling berpandangan sejenak, bingung dengan reaksi wanita ini. Ia tidak bertanya siapa kami. Ia tidak mengusir kami.

"Saya... saya Kala," ucapku akhirnya, merasa perlu menjelaskan kehadiran kami sebelum melangkah masuk. "Dan ini—"

"Aku tahu," potong wanita itu dengan suara yang sangat tenang.

Kalimatnya menghentikan langkahku di udara. Sasmira terkesiap mundur setengah langkah.

Wanita itu menatap kami dengan sorot mata yang sulit diartikan. Bukan benci, bukan marah, tapi lebih seperti sebuah kepasrahan yang ganjil. Ia tersenyum lagi, kali ini senyumnya terlihat getir.

"Mas Jagat sudah bilang kalau suatu hari nanti kalian pasti akan menemukan alamat ini," ucapnya pelan. Matanya menatap lurus ke dalam mataku, menelanjangi segala pertahanan yang kubangun sejak semalam.

Ia menghela napas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang sangat berat, lalu melanjutkan kalimatnya yang seketika menghancurkan sisa-sisa duniaku.

"Jadi... kalian akhirnya datang juga." Wanita itu menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur penghormatan yang terasa sangat ironis. "Istri pertama dan kedua, kan? Silakan masuk, Mbak Kala, Mbak Sasmira. Aku Orsila. Istri ketiga."