Pagi datang membawa sisa-sisa badai semalam. Langit di luar jendela dapur masih berwarna abu-abu pekat, muram seperti suasana di dalam rumah ini. Jam digital di oven menunjukkan pukul enam pagi. Aku tidak tidur sedetik pun. Semalaman aku hanya duduk di tepi ranjang, menatap dinding kamar dengan pikiran yang berpacu liar, memutar kembali seluruh rekam jejak lima tahun pernikahanku, mencari petunjuk-petunjuk yang selama ini kuabaikan karena terlalu naif.
Air mendidih di dalam teko. Bunyi peluitnya memecah kesunyian yang mencekik. Aku mematikan kompor, menuangkan air panas ke dalam dua cangkir porselen putih yang sudah kuisi dengan kantong teh chamomile.
Saat aku berbalik, Sasmira berdiri di ambang pintu dapur.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam, hanya saja mantelnya sudah dilepas. Wajahnya kusut, matanya bengkak parah. Ia terlihat sangat rapuh, persis seperti bayanganku sendiri di cermin kamar mandi tadi.
Kami saling bertatapan selama beberapa detik. Tidak ada kebencian di mataku saat menatapnya, begitu pula sebaliknya. Kebencian kami telah memiliki muara yang baru.
"Teh?" tawarku, memecah keheningan.
Sasmira ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia berjalan gontai, menarik salah satu kursi di meja island dapur dan duduk. Aku meletakkan cangkir teh hangat di depannya, lalu duduk di kursi berseberangan.
Uap panas mengepul dari cangkir, mengaburkan pandangan kami satu sama lain.
"Dia sudah pergi?" tanya Sasmira pelan, suaranya parau.
"Belum," jawabku datar. "Aku mendengar dia masuk ke kamar mandi di lantai bawah sepuluh menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi dia akan mencoba bicara lagi."
Sasmira menangkup cangkir tehnya dengan kedua tangan, mencari kehangatan. "Aku... aku minta maaf soal semalam, Kala. Maksudku, kata-kataku yang kasar. Aku benar-benar tidak tahu..."
"Aku tahu." Aku menyesap tehku perlahan. Rasanya hambar. "Kamu tidak perlu minta maaf. Kita berdua adalah orang bodoh yang ditipu oleh aktor terbaik di dunia. Jangan membebani dirimu dengan rasa bersalah yang seharusnya menjadi miliknya."
Sasmira menatapku dengan pandangan menilai. "Kamu aneh. Semalam kamu terlihat ingin membunuhku. Tapi pagi ini... kamu terlihat sangat tenang. Terlalu tenang."
Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. "Menangis dan berteriak tidak akan mengembalikan waktu, Mbak Sasmira. Air mataku sudah habis saat anakku meninggal tiga tahun lalu. Pria di luar sana itu..." Aku menghentikan kalimatku, menarik napas panjang. "Dia tidak pantas mendapatkan satu tetes pun air mata lagi dari kita."
Sasmira mengangguk pelan, setuju dengan ucapanku. Ia menatap tehnya, lalu perlahan mulai berbicara, suaranya berubah menjadi lebih analitis, melepaskan emosi yang semalam menjeratnya.
"Aku mulai mencoba mengingat semuanya semalam," kata Sasmira. "Pola perilakunya. Alasan-alasannya. Kala, ada yang tidak masuk akal."
"Tentu saja tidak ada yang masuk akal dari pria beristri dua," balasku sarkastis.
"Bukan itu," Sasmira menatap mataku lekat. "Jadwalnya. Mari kita samakan jadwalnya."
Aku menaikkan alis, sedikit terkejut dengan inisiatifnya, namun naluriku ikut terpancing. "Setiap Senin sampai Jumat siang, dia bekerja di Jakarta. Dia pulang ke rumah ini setiap malam jam delapan. Kadang ada lembur, tapi tidak pernah menginap. Jadwal dinas luar kotanya selalu di hari Jumat sore sampai Selasa pagi, tepat di akhir bulan."
Sasmira mengerutkan kening. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja porselen. "Itu cocok. Setiap hari Jumat minggu keempat, dia tiba di stasiun Bekasi. Dia tinggal di rumahku dari Jumat malam sampai Senin subuh, lalu beralasan harus kembali ke kantor pusat di Jakarta."
"Lalu, bagaimana dengan akhir pekan di minggu pertama dan kedua?" tanyaku, mulai merangkai kepingan-kepingan waktu.
"Dia bilang dia sibuk di lapangan. Tidak bisa diganggu gugat. Kalaupun menelepon, selalu sebentar," jawab Sasmira.
"Denganku," aku menimpali cepat, "minggu pertama dan kedua dihabiskan bersamaku di rumah. Kadang kami pergi makan di luar, kadang dia hanya tidur seharian karena kelelahan."
Kami terdiam. Hitung-hitungan waktu itu terbentang di antara kami seperti sebuah peta yang belum selesai digambar.
"Minggu ketiga," gumam kami berdua nyaris bersamaan.
Aku menatap Sasmira, jantungku mulai berdebar lebih cepat. "Setiap minggu ketiga, dari hari Jumat sampai Minggu... dia di mana?"
Wajah Sasmira memucat. "Denganku tidak ada. Dia selalu beralasan ada rapat dewan direksi atau tinjauan proyek di luar pulau."
"Denganku juga tidak," ucapku pelan, tanganku mencengkeram cangkir teh lebih kuat. "Dia selalu punya alasan untuk lembur di kantor bersama timnya, tidur di hotel dekat kantor karena terlalu lelah menyetir pulang ke rumah. Sebulan sekali, pasti ada akhir pekan di minggu ketiga yang dia habiskan di luar."
Kami saling memandang. Kengerian yang sama terpantul di mata kami.
"Kamu tidak berpikir kalau dia..." Sasmira tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak tahu," potongku cepat, enggan membiarkan pikiran liar itu mengambil alih akal sehatku. "Tapi satu hal yang pasti, ada lubang besar dalam kebohongannya yang belum kita ketahui."
Aku meletakkan cangkir tehku agak keras ke atas meja. "Kita buat kesepakatan, Mbak Sasmira."
Sasmira menatapku intens. "Kesepakatan apa?"
"Untuk sementara waktu, kita jangan gegabah. Jangan menuntut cerai dulu. Jangan biarkan dia tahu bahwa kita mulai mencari tahu hal lain di luar pernikahan kalian," kataku, mataku menatap tajam padanya. "Kita cari tahu seluruh kebenarannya. Ke mana dia pergi setiap minggu ketiga. Siapa saja yang terlibat dalam kebohongannya. Kita kumpulkan buktinya, sampai dia tidak punya celah sedikit pun untuk lari."
Sasmira terdiam cukup lama. Pertimbangan berkecamuk di wajahnya. Namun akhirnya, ia mengangguk mantap. "Aku setuju. Aku tidak akan membiarkannya menang setelah apa yang dia lakukan padaku dan anakku."
Tepat saat kata sepakat itu tercapai, terdengar suara langkah kaki dari lorong. Jagat muncul di pintu dapur. Ia sudah mengenakan kemeja santai dan celana kain. Rambutnya basah setelah mandi. Ia mencoba memasang wajah ramah, meski ketegangan sangat jelas terlihat di garis rahangnya.
"Pagi..." sapanya ragu, matanya melirik cangkir teh kami berdua secara bergantian. "Kalian... sudah bisa bicara lebih tenang?"
Aku mengubah ekspresi wajahku seketika. Menjadi lebih pasif, sedikit terluka, persis seperti istri yang sedang bingung dan patah hati. "Duduklah, Mas. Aku sudah memikirkannya semalaman."
Jagat tampak lega. Ia menarik kursi dan duduk di sebelahku. Ia mencoba meraih tanganku di atas meja, tapi aku menariknya dengan halus dengan dalih ingin mengambil tisu.
"Aku dan Mbak Sasmira sudah bicara," kataku dengan nada lelah yang kubuat-buat. "Ini sangat berat, Mas. Tapi kami butuh waktu untuk berpikir. Tolong, biarkan kami berdua menenangkan diri. Hari ini hari Sabtu. Tolong kamu pergi keluar. Ke mana saja. Jangan ada di rumah ini sampai nanti malam."
Jagat tampak terkejut, namun sekaligus lega karena aku tidak langsung melempar koper bajunya ke luar rumah. "Baik. Baik, Sayang. Aku mengerti. Aku akan pergi ke kedai kopi atau ke rumah temanku. Aku beri kalian waktu. Terima kasih... terima kasih karena tidak gegabah."
Ia bangkit berdiri, menatap kami berdua dengan sorot mata penuh harap palsu, lalu bergegas kembali ke lantai atas, mungkin untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.
Saat ia menghilang dari pandangan, Sasmira berbisik padaku. "Kamu pandai berakting."
"Dia yang mengajariku," jawabku dingin.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara pintu utama ditutup, disusul deru mesin mobil yang menjauh meninggalkan pekarangan. Rumah kembali sepi.
Aku segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang tamu. Semalam, saat terjadi keributan, Jagat menjatuhkan tas kerjanya dan meninggalkannya begitu saja di dekat sofa. Mataku menyapu ruangan. Tas kerjanya sudah tidak ada. Ia pasti membawanya.
Namun, pandanganku terpaku pada sesuatu yang tertinggal di atas meja konsol dekat pintu.
Ponsel kerja Jagat. Ponsel kedua yang katanya hanya digunakan untuk urusan klien proyek. Ia pasti lupa membawanya karena buru-buru.
Aku melangkah mendekat. Jantungku berdetak kencang di dada. Sasmira menyusul dari belakang, berdiri di sampingku.
"Itu ponsel khususnya," bisik Sasmira. "Dia tidak pernah membiarkanku memegangnya."
"Sama," gumamku.
Aku meraih ponsel itu. Layarnya gelap. Aku menekan tombol samping. Layar menyala, menampilkan foto pemandangan pegunungan sebagai wallpaper. Layar itu terkunci dengan password.
"Sial. Terkunci," rutukku pelan. Aku mencoba memasukkan tanggal lahirku. Salah. Tanggal lahirnya. Salah. Tanggal pernikahan kami. Salah.
"Coba ini," Sasmira menyebutkan enam digit angka. "Itu tanggal pernikahan kami."
Aku mengetikkan angka itu. Tulisan merah 'Incorrect Password' berkedip mengejek kami.
"Bukan juga," desahku kecewa. Aku baru saja akan meletakkan kembali ponsel itu ketika tiba-tiba layar layarnya menyala terang kembali. Sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi Telegram.
Pengirim pesan itu hanya menggunakan inisial 'O'.
Tidak ada preview teks yang muncul di layar kunci, namun ada satu hal yang membuat darahku berdesir hebat. Di bawah notifikasi pesan itu, muncul notifikasi kedua dari aplikasi kalender bawaan ponsel yang mengingatkan sebuah jadwal.
Pengingat: Bayar Iuran IPL Bulanan - Rumah Bintaro.
Rumah Bintaro.
Aku menatap Sasmira. "Kamu tahu dia punya rumah di Bintaro?"
Sasmira menggeleng pelan, matanya melebar. "Tidak. Rumahku di Bekasi. Dan rumah ini di Kemang."
Tangan kananku gemetar memegang ponsel itu. Sebelum layar kembali gelap, sebuah pop-up notifikasi Telegram menyala lagi. Kali ini, si pengirim melakukan panggilan suara yang langsung mati dalam hitungan detik, tetapi cukup untuk menampilkan nama kontak yang sebenarnya di layar secara utuh selama sedetik sebelum kembali tersembunyi oleh layar kunci.
Orsila - Istriku.
Di bawah nama itu, sebaris pesan pop-up kecil muncul menerobos sistem keamanan layar karena disetel dengan prioritas tinggi.
'Mas, kerannya udah bener belum? Besok aku tunggu ya, Suamiku. Orsila.'
Napas Sasmira tertahan di sampingku. Ia memegang lenganku erat.
Aku menatap layar ponsel yang perlahan meredup dan mati, membawa kembali rahasia gelap Jagat ke dalam kegelapan. Pertanyaan kami tentang ke mana perginya Jagat di minggu ketiga akhirnya terjawab dengan cara yang paling brutal.
Kami tidak hanya berdua. Ada wanita lain. Dan dia memanggil suamiku dengan sebutan yang sama.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar