"Ini semua bisa dijelaskan."
Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu kami yang dingin. Tiga detik berlalu tanpa ada yang merespons. Sasmira masih terisak di sudut sofa, tangannya meremas ujung mantel kremnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sementara aku, aku hanya bisa menatap pria yang berdiri di ambang ruang keluarga itu seolah ia adalah makhluk asing yang baru saja turun dari langit.
"Dijelaskan?" Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuduga. Serak. Nyaris seperti bisikan.
Jagat mengangguk cepat. Ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja konsol dengan gerakan kaku, matanya bergerak gelisah menatapku dan Sasmira bergantian. "Iya, Sayang. Tolong, beri aku waktu untuk bicara. Kalian berdua... tolong jangan emosi dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
"Sayang?" Aku mengulang kata itu, merasakan rasa mual yang tiba-tiba mengocok perutku. "Kamu memanggilku sayang, di depan perempuan yang memegang buku nikah bersamamu?"
Jagat mengambil satu langkah maju. Tangannya terulur ke arahku. "Kala, kumohon—"
"Jangan sentuh aku!" bentakku keras. Tubuhku otomatis mundur hingga punggungku menabrak lengan sofa. "Tetap di sana, Mas. Jangan berani-berani maju satu langkah pun."
Langkah Jagat terhenti. Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wajah tampannya yang selalu terlihat rapi dan berwibawa kini tampak kacau. Ia menoleh ke arah Sasmira.
"Sasmira, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya, nada suaranya kini berubah. Bukan lagi memelas, melainkan menuntut. Ada kilat kemarahan di matanya. "Siapa yang memberitahumu alamat ini? Bukankah aku sudah bilang jangan pernah—"
"Jangan pernah apa?!" Sasmira tiba-tiba berdiri. Isak tangisnya berhenti, digantikan oleh amarah yang meledak. Ia menunjuk wajah Jagat dengan jari gemetar. "Jangan pernah mencari tahu tentang 'mendiang' istrimu? Begitu maksudmu?! Kenapa, Mas? Kamu takut aku tahu bahwa perempuan yang kamu tangisi di kuburan sialan itu ternyata masih hidup dan bernapas di rumah ini?!"
Wajah Jagat memucat. Ia menelan ludah, matanya membelalak menatap Sasmira, lalu beralih padaku dengan panik. "Kala, itu... itu tidak seperti yang kamu dengar. Dia salah paham."
"Salah paham?" Aku tertawa. Tawa yang kosong dan menyakitkan. Aku meraih buku nikah dari pangkuanku dan melemparnya tepat ke dada Jagat. Buku itu menghantam kemejanya dan jatuh ke lantai. "Jelaskan bagian mana yang salah paham, Mas! Tanggal di buku itu? Tanda tanganmu? Atau ceritamu pada perempuan ini bahwa aku sudah mati?!"
Jagat menunduk menatap buku nikah itu sejenak, lalu kembali menatapku. Ia tampak seperti hewan yang terpojok. Otaknya pasti sedang bekerja keras, mencari celah, mencari kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang sudah terbongkar.
"Duduk," perintahku dingin.
Jagat ragu sejenak.
"Aku bilang duduk, Mas!" teriakku, suaraku pecah. "Duduk dan jelaskan pada kami berdua, bagaimana caramu membagi hidupmu selama tiga tahun terakhir tanpa terlihat sedikit pun cacat di mataku!"
Jagat akhirnya menurut. Ia duduk di kursi tunggal yang membelakangi jendela, tampak begitu kecil dan menyedihkan. Sasmira kembali duduk di sofanya, masih menangis dalam diam. Aku tetap berdiri. Aku tidak ingin duduk. Aku merasa jika aku duduk, pertahananku akan runtuh dan aku akan hancur malam ini juga.
"Aku... aku minta maaf," Jagat memulai, suaranya nyaris berbisik. Ia menundukkan kepala, menatap lantai seolah pola karpet kami adalah hal paling menarik di dunia.
"Maaf tidak cukup, Mas. Kami butuh kebenaran," tuntutku. "Tiga tahun, Mas. Tiga tahun lalu, aku sedang hancur karena kehilangan anak kita. Dan kamu... kamu malah menikah lagi? Kenapa?"
Jagat mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Justru karena itu, Kala. Justru karena kamu hancur."
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Waktu itu... kamu begitu dingin." Nada suara Jagat mulai berubah, seolah ia sedang menyusun pembelaan diri. "Setelah keguguran itu, kamu depresi, Kala. Kamu mengurung diri di kamar berminggu-minggu. Kamu tidak mau disentuh. Kamu tidak mau diajak bicara. Sementara aku... aku hancur juga, tapi aku harus tetap bekerja. Tekanan di kantor sedang gila-gilanya. Proyek di luar kota menuntutku bolak-balik."
Aku terkesiap. "Jadi kamu menyalahkanku? Kamu membenarkan perselingkuhanmu karena aku sedang berduka atas janin kita yang mati?!"
"Bukan perselingkuhan!" bantah Jagat cepat. "Aku menikahinya secara sah, Kala!"
"Oh, tentu. Itu membuatnya jauh lebih mulia," sindirku tajam. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, tetapi aku menolak membiarkannya jatuh. "Lanjutkan, Mas. Aku ingin dengar seberapa brengsek alasanmu."
Jagat menghela napas berat. "Aku kesepian, Kala. Di Surabaya, di proyek itu, aku butuh seseorang. Aku butuh teman bicara yang tidak menangis setiap kali aku menyebut kata 'rumah'. Sasmira ada di sana. Dia staf administrasi di kantor cabang. Dia perhatian. Dia mendengarkan keluh kesahku."
Sasmira terisak keras. "Kamu bilang kamu duda, Mas! Kamu bilang kamu sebatang kara dan butuh tempat untuk pulang! Kalau aku tahu kamu punya istri yang sedang berduka, aku tidak akan pernah sudi menyentuhmu!"
"Aku tahu, Sas. Aku tahu," Jagat beralih menatap Sasmira dengan pandangan memelas. "Tapi kalau aku jujur, kamu tidak akan mau denganku, kan? Dan aku butuh kamu. Aku butuh kamu untuk merawatku di sana, sementara aku tidak bisa meninggalkan Kala di sini."
Kengerian merayap di tengkukku saat mendengar kata-katanya. Cara ia mengatakannya... begitu masuk akal di kepalanya. Seolah ia adalah korban dari keadaan. Seolah menikahi dua wanita adalah solusi logis dari masalah emosionalnya.
"Kamu menjadikan Sasmira perawatmu di luar kota, dan menjadikanku istrimu di rumah ini?" tanyaku, nyaris tak percaya. "Lalu cerita tentang kematianku?"
Jagat tertunduk lagi. "Sasmira terus bertanya kenapa aku tidak pernah membawanya ke rumah utamaku di Jakarta. Dia mulai curiga kenapa aku selalu menyembunyikan identitas keluargaku. Aku panik, Kala. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus membuat cerita yang membuatnya berhenti bertanya."
"Tidak punya pilihan?" Sasmira tertawa getir. "Kamu membawaku ke makam orang lain, Mas! Kamu menangis memeluk nisan yang bahkan kamu tidak tahu nama siapa yang tertulis di baliknya! Betapa sakit jiwanya kamu?!"
"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, Sasmira!" Jagat berseru, suaranya meninggi. "Aku tidak mau kehilanganmu!"
"Lalu aku?!" bentakku. "Kamu bilang kamu mencintaiku setiap malam! Apakah itu juga kebohongan?!"
"Tidak, Kala! Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!" Jagat menatapku dengan tatapan memohon yang dulu selalu berhasil meluluhkan hatiku. "Kamu istri pertamaku. Cinta pertamaku. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu. Aku selalu pulang kepadamu, kan? Aku selalu memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi. Aku hanya... aku hanya tidak bisa melepaskan kalian berdua."
Rasa jijik menguasai diriku. Pria ini tidak sedang meminta maaf atas kesalahannya. Ia sedang mencari pembenaran atas keserakahannya. Ia pikir, selama ia memberikan uang dan waktu yang adil, ia berhak memiliki kami berdua seperti barang koleksi.
"Cukup, Mas," potongku. Tubuhku gemetar karena menahan emosi yang meluap-luap. "Aku sudah mendengar cukup banyak omong kosong malam ini."
Sasmira bangkit berdiri. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar. "Aku akan pergi. Aku akan urus surat cerai kita secepatnya, Mas. Aku merasa jijik pernah tidur satu ranjang dengan pembohong sepertimu."
Jagat panik. Ia langsung berdiri dan menghampiri Sasmira, mencoba menahan lengan perempuan itu. "Sas, jangan begini. Tolong, kita bicarakan besok. Ini sudah larut malam. Kamu mau ke mana hujan-hujan begini?"
Sasmira menepis tangan Jagat sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku! Aku akan menginap di hotel, atau di jalanan, di mana saja asal tidak melihat wajahmu!"
Sasmira berjalan cepat menuju pintu depan. Namun saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti. Hujan di luar semakin menderas, petir menyambar menerangi kaca jendela. Tubuhnya bergetar. Ia sendirian di kota ini. Aku tahu itu. Dari percakapan kami tadi, Sasmira bilang keluarganya ada di Jawa Timur, dan ia datang ke Jakarta hari ini hanya bermodal alamat yang tak sengaja ia temukan di draf email Jagat.
Aku menatap punggung Sasmira yang bergetar hebat. Lalu aku menatap Jagat, yang kini menatapku dengan tatapan penuh harap. Ia berharap aku mengusir Sasmira. Ia berharap setelah malam ini, ia bisa merayuku, meminta maaf dengan setangkai mawar dan perhiasan mahal, lalu hidup kami akan kembali normal seperti yang ia inginkan.
Di saat itulah, sebuah kesadaran yang dingin dan gelap menyergap otakku.
Jika aku mengusir Sasmira sekarang, jika aku menuntut cerai besok pagi dan pergi dari rumah ini, Jagat akan menang. Ia akan merana sebentar, lalu dengan mudahnya ia akan mencari perempuan lain dengan narasi kebohongan yang baru. Ia akan menghancurkan hidup wanita lain, sama seperti ia menghancurkan hidupku dan Sasmira malam ini. Ia tidak akan pernah belajar.
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tidak mau pergi sebagai istri yang kalah dan lari dari medan perang.
"Sasmira, tunggu," panggilku. Suaraku kini stabil, tidak ada lagi getaran tangis di sana.
Sasmira menoleh dari ambang pintu, menatapku bingung. Jagat pun menatapku, keningnya berkerut.
Aku berjalan perlahan ke arah mereka berdua. Aku menatap langsung ke dalam mata Jagat, mata yang selama lima tahun ini kuanggap sebagai rumahku. Kini, mata itu hanyalah dua lubang kosong yang menyimpan banyak rahasia kotor.
"Kamu menginap di sini malam ini, Mbak Sasmira," kataku tegas, memecah keheningan. "Di kamar tamu."
"Kala, apa-apaan ini?" protes Jagat, wajahnya pias. "Ini masalah internal kita berdua. Kenapa dia—"
Aku menatap Jagat dengan sorot mata paling dingin yang pernah kumiliki seumur hidupku.
"Dengar baik-baik, Mas," ucapku, memotong protesnya. Kalimat demi kalimat meluncur dari bibirku seperti belati es. "Malam ini, kamu tidur di sofa. Besok, aku tidak mau melihat wajahmu sampai aku yang memutuskan ingin bicara. Dan jangan pernah berpikir aku akan mengemasi barang-barangku lalu pergi meninggalkan rumah ini untukmu."
Aku maju satu langkah, menipiskan jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfumnya. Aroma yang dulu menenangkanku, kini membuatku mual.
"Kalau aku pergi," desisku pelan, memastikan setiap suku kata meresap ke dalam gendang telinganya, "kamu hanya akan melakukan ini lagi pada wanita lain. Dan aku bersumpah, Mas... aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."
Aku membalikkan badan, berjalan menuju kamarku tanpa menoleh lagi. Membiarkan Jagat terpaku dalam diam, dan Sasmira yang menatapku dengan tatapan tak percaya. Pertarungan baru saja dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar