Suamiku meminta izin menikah lagi di antara suapan kedua sup tahu buatanku.


Tanpa rasa berdosa. Tanpa gemetar di ujung suaranya. Seolah-olah dia baru saja meminta aku menambahkan sedikit garam ke kuahnya.


"Rin, aku mau ngomong serius."


Aku mengangkat wajah dari piringku. Lampu gantung kristal di atas meja makan menyala lembut, memantul ke permukaan meja kayu jati yang baru tahun lalu dia hadiahkan untukku saat ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh. Di sebelahnya, vas keramik berisi mawar putih segar — aku ganti setiap dua hari. Tangan kananku masih memegang sendok. Sup tahu yang baru saja kutiup sedikit terombang-ambing.


"Iya, Mas. Apa?"


Aku tersenyum. Aku selalu tersenyum saat Hendra bicara serius. Itu kebiasaan yang sudah delapan tahun aku latih.


Hendra menaruh sendoknya. Dia menyandar ke kursi, melonggarkan dasi Hermès yang baru bulan lalu dia beli dari Singapura. Hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya — pukul tujuh malam, padahal akhir-akhir ini selalu lewat sebelas. Aku sudah mencurigai sesuatu sejak dia masuk pintu sambil membawa wangi parfum yang bukan miliknya.


"Aku... aku mau menikah lagi."


Sendokku berhenti tepat di udara. Tidak jatuh. Tidak gemetar. Hanya berhenti, seolah-olah waktu di rumah ini berhenti bersamanya.


Aku mendengar suara jam dinding di ruang tamu. Tik. Tik. Tik. Aku mendengar suara televisi kecil di kamar Bilqis, suara kartun pony yang berlari-lari. Aku mendengar suara sendiri — suara napasku yang biasa saja, satu-dua-satu-dua.


"Maaf, Mas?"


Aku berusaha menjaga suara tetap netral. Bukan kaget. Bukan marah. Hanya... bingung. Seperti aku tidak mendengar dengan benar.


"Aku mau menikah lagi, Rin." Hendra mengulang, kali ini lebih jelas. "Sama Vanessa."


Vanessa.


Aku mencari arsip di kepalaku. Nama itu — di mana aku pernah dengar? Oh. Iya. Sales marketing dari klien proyek Tangerang, yang pernah datang ke rumah dua bulan lalu untuk antar dokumen. Cantik. Putih. Muda. Saat itu aku bahkan menawarinya teh. Aku mengingat senyumnya yang manis kepada Hendra — yang waktu itu aku kira hanya keramahan profesional.


Bodohnya aku.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutku. "Sales marketing yang kemarin antar dokumen ke sini?"


"Iya."


"Sudah berapa lama, Mas?"


Hendra tampak sedikit kaget — mungkin dia kira aku akan menangis, atau melempar piring, atau berteriak. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya bertanya, seperti aku bertanya tentang harga ikan tongkol di pasar.


"Em... delapan bulan. Tapi Rin, dengar dulu—"


"Delapan bulan."


Aku mengulang, dan mendengar suaraku sendiri berbisik. Delapan bulan. Berarti sejak Februari. Bulan di mana dia mulai sering pulang malam, dengan alasan proyek hotel di Bekasi. Bulan di mana dia mulai tidur sambil memunggungiku.


"Rin." Hendra mencondongkan tubuh, suaranya berubah lembut, suara yang dulu membuat aku jatuh cinta sepuluh tahun lalu. "Kamu tahu kan, agama membolehkan. Dan aku... aku berusaha tetap adil. Aku akan tetap menafkahimu, tetap pulang ke sini, tetap jadi ayah Bilqis—"


"Sudah hamil?"


Pertanyaanku memotong dia di tengah kalimat. Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Tapi aku perlu tahu. Karena kalau hamil, berarti ini bukan lagi soal cinta. Ini soal kewajiban yang dipaksakan ke dalam kotak agama.


Hendra terdiam sejenak. Bibirnya bergerak tapi tidak ada suara. Lalu — anggukan kecil. "Empat bulan."


Empat bulan.


Aku menghitung mundur di kepalaku. Itu artinya... Vanessa hamil tepat di bulan kelima setelah hubungan mereka mulai. Atau sebelumnya. Aku tidak akan pernah tahu pasti.


HP Hendra di atas meja bergetar. Layarnya menyala. Aku melihat nama yang tertulis di sana — **MAMA** — dan ikon panggilan video masuk.


"Itu Mama," kata Hendra. "Aku... aku mau beliau bicara langsung dengan kamu, Rin. Biar lebih jelas."


Tanganku bergerak sendiri. Aku mengambil HP Hendra dan menggeser tombol hijau. Wajah ibu mertuaku muncul di layar — Bu Hartati, dengan jilbab cokelat dan kacamata baca yang masih tergantung di leher. Dia tidak terkejut. Sama sekali tidak terkejut. Dia jelas sudah tahu apa yang sedang terjadi di meja makanku malam ini.


"*Assalamualaikum*, Rin." Suara Bu Hartati lembut, seperti suaranya saat menyuruh aku menambahkan gula ke teh-nya tahun lalu. "Mama dengar dari Hendra. Mama mau bicara langsung."


"*Waalaikumsalam*, Ma."


Aku menjawab otomatis. Sopan. Tenang. Padahal di dalam dadaku — kalau ada CCTV di sana — pasti terekam suara sesuatu yang pecah. Bukan retak. Pecah. Seperti gelas kristal yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter.


"Rin, Mama tahu ini berat untuk kamu. Tapi anak Mama sudah berusaha menahan diri selama berbulan-bulan, Rin. Vanessa itu... anak orang. Mama sudah ketemu, dia sopan. Sekarang sudah hamil, Rin. Kalau Hendra tidak menikahi dia, dosanya besar. Lebih besar dari poligami."


Aku mengangguk. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Mengangguk.


"Mama mau kamu ridho, Rin. Pahalanya besar untuk istri yang ridho dimadu. Mama doakan kamu masuk surga lewat pintu ini."


Aku menggigit bagian dalam pipi kananku. Pelan. Hingga aku bisa merasakan rasa logam tipis di lidahku. Tapi wajahku — aku tahu — tetap tersenyum.


"Iya, Ma. Arini... Arini paham. Tapi... boleh saya pikir dulu?"


"Mama tunggu jawaban kamu besok, ya, Rin. Hendra besok harus kasih kepastian ke Vanessa. Kasihan, perutnya sudah besar."


Sambungan terputus.


Aku menaruh HP itu kembali ke atas meja, di samping piring sup tahuku yang sekarang sudah dingin. Hendra menatap aku, mencari sesuatu di wajahku — air mata, kemarahan, sesuatu yang bisa dia respon dengan rayuan atau permintaan maaf. Tapi tidak ada apa-apa di sana. Aku tahu. Aku merasakannya. Wajahku rata.


"Rin?"


"Iya, Mas."


"Kamu... gimana?"


Aku menatapnya. Pria yang sepuluh tahun lalu aku nikahi dengan satu setelan jas sewaan dan akad sederhana di rumah orang tuaku. Pria yang lima tahun lalu aku temani saat dia hampir bangkrut dan harus tidur di kolong meja kantornya selama tiga bulan. Pria yang tiga tahun terakhir tiba-tiba sukses, beli mobil mewah, pindah ke perumahan elite di BSD, dan mulai memakai jam tangan yang harganya lebih mahal dari mobil pertama kami.


Pria yang sekarang, dengan piring sup di depannya, meminta izin menikah lagi.


Aku tersenyum. Kali ini bukan senyum terlatih. Kali ini senyum yang baru — senyum yang aku tidak tahu sebelumnya bisa aku miliki.


"Boleh, Mas."


Hendra terkejut. Matanya melebar sedikit. "Beneran?"


"Beneran."


"Kamu... kamu nggak marah?"


Aku mengangkat sendokku kembali. Aku mencicipi sup tahu yang sudah dingin. Rasanya... sama saja. Sup tahu yang sama yang aku masak setiap Jumat malam selama delapan tahun pernikahan kami.


"Marah buat apa, Mas? Mas sudah dewasa. Mama sudah setuju. Vanessa sudah hamil. Apa hak saya marah?"


Bahuku turun pelan-pelan. Aku merasakan udara masuk ke paru-paruku untuk pertama kalinya sejak Hendra mulai bicara. Aku menelan sup itu. Aku menyendok lagi.


"Tapi, Mas..." kataku, sambil menatap mata Hendra langsung untuk pertama kalinya malam itu, "Saya punya satu syarat. Cuma satu."


Hendra menahan napas. Aku bisa lihat. Dadanya berhenti naik turun selama dua detik penuh.


"Apa syaratnya, Rin?"


Aku tersenyum lagi. Senyum yang baru itu, yang aku sendiri belum kenal.


"Besok aja, ya, Mas. Saya tulis dulu. Biar jelas. Biar nggak ada salah paham nanti. Kita orang dewasa, kan? Harus hitam di atas putih."


Hendra mengangguk cepat. "Iya, iya. Apa aja, Rin. Aku setuju. Apa aja."


Aku mengangguk balik. Aku menyendok sup terakhir. Aku menelannya. Aku tersenyum padanya.


"Sekarang makan dulu, Mas. Supnya nanti dingin."


Hendra mengangguk, mengambil sendoknya dengan sedikit kaku. Dia mulai makan. Aku juga. Kami makan dalam diam selama lima menit.


Di kepalaku, sementara aku mengunyah, aku sudah mulai menyusun perjanjian itu. Pasal demi pasal. Aku ingat semua materi hukum perdata di tahun kedua kuliahku dulu. Aku ingat semua aset Hendra yang dia titipkan atas nama aku tiga tahun lalu — "biar pajak ringan, Rin." Aku ingat nomor-nomor rekening kami. Aku ingat sertifikat-sertifikat yang dia simpan di brankas kantornya. Aku ingat semua. Selama delapan tahun, aku ingat semua, walaupun dia kira aku hanya istri biasa yang sibuk mengurus anak.


Aku ingat semua, Hendra.


Dan besok, aku akan menuliskannya satu per satu.


---


Tepat saat aku menyendok suapan terakhir, HP-ku bergetar di saku celana panjangku. Aku mengeluarkannya pelan-pelan di bawah meja. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor tidak dikenal.


Tiga kata.


*"Maaf, Mbak Arini."*


Aku menatap layar itu selama dua detik penuh, sambil tangan kananku masih memegang sendok. Hendra di seberangku tidak menyadari apa-apa — dia sibuk menyendokkan sup ke mulutnya, sambil sesekali mengecek HP yang tergeletak di samping piringnya. Aku menyimpan HP-ku kembali ke saku. Aku tidak akan menjawab. Bukan sekarang.


"Mas," kataku, "saya boleh izin ke kamar mandi sebentar?"


"Iya, Rin. Kenapa? Pusing?"


"Nggak, cuma... mau cuci muka aja."


Aku berdiri. Aku berjalan ke kamar mandi di ujung lorong. Aku mengunci pintu. Aku menyalakan keran wastafel. Aku membiarkan air mengalir sebentar — untuk suara, bukan untuk apa-apa lagi.


Aku menatap pantulan diriku di cermin.


Perempuan yang aku lihat tidak menangis. Tidak gemetar. Tidak pucat. Hanya... menatap balik dengan mata yang lebih dingin dari yang aku ingat tadi pagi. Pipiku masih berwarna sehat. Bibirku masih sedikit lembap dari kuah sup. Jilbabku masih tertata rapi.


Aku menatap. Aku menghitung satu sampai sepuluh dalam hati. Aku menatap lagi.


Aku tersenyum pada pantulanku.


*"Selamat datang ke hidup baru,"* aku berbisik. *"Pelan-pelan."*


Aku mematikan keran. Aku membuka pintu. Aku kembali ke meja makan dengan langkah yang sama tenangnya seperti tadi.


Aku menatap layar itu selama dua detik. Lalu aku menyimpan HP itu kembali ke saku.


Foto profil pengirim — meskipun aku belum pernah save nomornya — menunjukkan seorang wanita muda berkerudung pink, tersenyum manis ke kamera, dengan tulisan di bio: *"Calon Bunda Insya Allah Desember 2025."*



---