"Bunda, kata Faiz, Ayah mau punya istri lagi. Aku jadi punya bunda dua?"


Tas sekolah Bilqis sudah melayang ke sofa sebelum aku sempat menjawab. Sepatu dia lemparkan ke pojok tanpa dilepas talinya. Wajah anakku, yang biasanya cerah, sekarang menatap aku dengan satu alis terangkat — gestur yang dia tiru entah dari siapa, mungkin dari aku sendiri.


Aku sedang mengaduk sirup di gelas — untuk dia, untuk sehabis sekolah. Tanganku berhenti.


"Sayang... siapa yang bilang ke kamu?"


"Faiz, Bunda. Anak kelas 3B. Dia bilang Mamanya cerita ke Mama dia, Ayah mau nikah lagi. Bener, Bunda?"


Aku menarik napas. Aku duduk di lantai, tepat di depan Bilqis yang masih berdiri dengan tangan terlipat. Aku menyamakan ketinggian mataku dengan matanya. Aku menggenggam dua tangannya — tangan kecil, masih lembut, masih punya bekas crayon di jari telunjuk dari pelajaran seni.


"Sayang... Ayah memang mau nikah lagi."


Mata Bilqis melebar. Tidak menangis. Hanya melebar. Bibirnya terbuka sedikit.


"Kenapa, Bunda?"


Aku tidak punya jawaban yang baik. Tidak ada jawaban yang baik untuk anak berumur delapan tahun. Aku tidak bisa bilang "karena ayah kamu lupa diri sejak punya banyak uang." Aku tidak bisa bilang "karena ayah kamu memilih perempuan lain yang lebih muda." Aku tidak bisa bilang "karena dunia kadang nggak adil, sayang, dan kamu harus belajar itu sejak sekarang."


Aku memilih jawaban yang aku bisa.


"Karena ada satu perempuan yang lagi butuh bantuan Ayah, sayang. Dan Ayah memilih untuk membantu dengan cara menikahinya."


"Tapi... tapi Bunda gimana?"


"Bunda baik-baik aja, sayang."


"Tapi Bunda kan istri Ayah."


"Iya. Bunda tetap istri Ayah. Cuma... Ayah punya satu istri lagi."


"Itu boleh, Bunda?"


Aku menarik napas dalam. "Dalam agama kita, sayang, itu boleh. Dengan syarat tertentu."


Bilqis terdiam lama. Aku bisa melihat otaknya bekerja keras di balik mata coklatnya yang sama dengan mataku. Lalu dia bertanya:


"Bunda sedih?"


Aku tersenyum. Aku menarik dia ke pelukanku. Aku menanam wajahku ke rambutnya yang masih beraroma sampo strawberry.


"Bunda... bunda lagi belajar untuk nggak sedih, sayang."


"Aku bantu Bunda, ya?"


"Iya, sayang. Kamu udah membantu."


Aku memeluk dia lama. Sangat lama. Sampai dia akhirnya tertidur di pangkuanku, sambil aku duduk di lantai ruang tamu, di sebelah tas sekolah yang dia lempar, di samping gelas sirup yang sirupnya sudah mengendap di dasar.


---


Tiga hari sebelum akad, mertuaku datang.


Dia datang membawa sebuah kotak besar — kain saten putih, manik-manik mutiara, benang emas. Dia menaruhnya di meja ruang tamu seperti dia menaruh hadiah, dengan senyum yang aku rasa dia maksudkan sebagai senyum hangat.


"Rin, Mama bawakan kain untuk akad Hendra. Mama minta tolong kamu jahitkan kebaya untuk Vanessa. Yang biru cantik kemarin Mama liat di pinterest, kamu masih ingat? Yang lehernya V."


Aku menatap kotak itu.


Aku menatap mertuaku.


Aku menatap kotak itu lagi.


"Maaf, Ma. Saya... saya yang jahit?"


"Iya, Rin. Kamu kan pinter jahit. Bantulah Mama. Mama mau gajiin tukang jahit, tapi... Mama pikir lebih baik kalau kamu yang buat. Biar terlihat keluarga. Biar Vanessa tau, Mbak Arininya ridho dan dukung."


Aku mengangguk pelan.


"Iya, Ma. Saya jahit."


Mertuaku tersenyum lega. Dia memeluk aku sebentar — pelukan yang dingin, hambar, hanya formalitas. Lalu dia pergi.


Aku duduk di lantai, di depan kotak itu. Aku membukanya. Kain saten putih itu menggulir keluar seperti cairan. Bersih. Suci. Mahal.


Aku mengeluarkannya, mengukur dengan meteran. Aku membuat pola di kertas koran — aku memang masih ingat. Aku belajar jahit dari ibuku saat masih kecil. Ibuku, yang ditinggal ayah karena ayah menikah lagi tanpa izin, dan harus menghidupi tiga anak dengan jahitan. Aku belajar jahit bukan untuk fashion. Aku belajar jahit untuk bertahan hidup.


Sekarang aku menjahit kebaya untuk perempuan yang akan menikahi suamiku.


Lingkaran macam apa yang Tuhan rancang.


Aku menjahit selama dua hari. Aku menjahit sambil Bilqis mengerjakan PR di sebelahku. Aku menjahit sambil mendengarkan ceramah Ustadz di YouTube tentang "Pahala Istri yang Diridho-i Dimadu" — bukan karena aku percaya, tapi karena aku ingin mendengar bagaimana orang lain merasionalisasi rasa sakit ini.


Pada hari kedua, jariku tertusuk jarum.


Bukan tusukan kecil — tusukan yang dalam, hingga jarumnya hampir keluar dari sisi lain ujung jari telunjukku. Aku menariknya. Darah keluar seperti tetesan tinta. Satu tetes jatuh ke kain saten putih itu.


Aku menatap noda merah di atas putih.


Aku menatap.


Aku menatap lama.


Lalu aku ke kamar mandi, mengambil hidrogen peroksida, kapas, dan kembali ke kain. Aku menetes-neteskan hidrogen peroksida ke noda. Aku menggosok pelan dengan kapas. Noda itu memudar. Pelan-pelan. Sampai hilang.


Tapi aku tahu noda itu di sana. Saten putih yang sudah pernah tersentuh darah, tidak akan pernah lagi suci. Bahkan kalau matamu tidak bisa melihat.


Aku terus menjahit.


---


Sore hari kedua, ketika aku sedang memasang kancing terakhir di kebaya itu, bel rumah berbunyi.


Bu Tatik. Tetangga sebelah rumah, ibu rumah tangga umur lima puluhan yang punya WhatsApp grup ibu-ibu kompleks dan mulutnya yang paling produktif di lingkungan ini.


Aku membukakan pintu sambil masih membawa jarum di tangan kiri.


"Eh, Mbak Arini..." Bu Tatik tersenyum, dengan tatapan yang sudah aku kenal — tatapan ibu-ibu yang datang bukan untuk menyapa, tapi untuk mengumpulkan bahan gosip. "Saya cuma mau anter ini. Kue lemper. Buatan saya sendiri."


"Wah, makasih, Bu. Silakan masuk."


Aku tahu dia akan masuk apapun jawabanku. Dia masuk. Dia duduk di sofa ruang tamu, melihat-lihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dia komentari di grup WA nanti.


"Saya denger... Pak Hendra mau nikah lagi, ya, Mbak?"


Aku tersenyum. Aku ke dapur, menuangkan teh untuk dia.


"Iya, Bu."


"Sebentar lagi, ya?"


"Tiga hari lagi."


Bu Tatik terdiam. Dia tidak menduga aku akan menjawab dengan begitu santai. Dia memutar gelas teh di tangannya.


"Mbak... saya mau ngomong sebagai sesama perempuan, ya. Mbak harus pertahankan rumah tangga Mbak. Jangan dilepasin gitu aja. Saya tau kok, perempuan kayak Vanessa itu... cuma cari materi. Pak Hendra dimanfaatin."


"Iya, Bu."


"Mbak... Mbak nggak protes? Nggak nangis?"


"Saya udah selesai nangisnya, Bu."


Bu Tatik menatap aku. Lama. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, dia berkata sesuatu yang tidak aku duga.


"Mbak Arini... suami saya juga pernah selingkuh. Lima belas tahun lalu. Saya tau gimana rasanya."


Aku menoleh ke arah Bu Tatik. Untuk pertama kalinya, aku melihat dia bukan sebagai tetangga yang nyinyir, tapi sebagai perempuan yang pernah patah hati. Mata Bu Tatik berair sedikit, lalu dia berkedip cepat.


"Saya nggak akan tanya-tanya lagi, Mbak. Saya cuma mau bilang... apapun yang Mbak putuskan nanti, Mbak nggak sendirian. Saya tinggal sebelah. Pintu saya selalu terbuka."


Aku terdiam. Sesuatu yang aku tidak duga akan terjadi terjadi: aku merasa tergetar oleh kebaikan tetangga yang biasanya cuma jadi sumber gosip.


"Makasih, Bu Tatik."


Bu Tatik mengangguk. Dia meletakkan gelas teh yang belum dia minum. Dia berdiri. Sebelum keluar, dia menatap kebaya biru muda yang tergantung di gantungan di sudut ruangan.


"Itu kebaya untuk dia?"


"Iya, Bu."


Bu Tatik menggeleng pelan, lalu tersenyum getir. "Mbak Arini, Mbak terlalu baik. Suatu hari, mudah-mudahan ada yang bales kebaikan Mbak ini."


Dia pergi. Aku kembali menjahit. Tapi sekarang, di kepalaku, ada satu hal baru yang aku tambahkan ke laci penuh informasi itu: di kompleks ini, mungkin ada lebih banyak sekutu daripada yang aku kira.


---


Malam terakhir, setelah Bilqis tidur, aku duduk di meja kerja Hendra yang kosong. Aku menyalakan laptop. Aku tidak membuka social media. Aku tidak membuka YouTube.


Aku membuka spreadsheet.


Kolom A: Nama vendor katering yang biasa kerja sama dengan event organizer di Jakarta.

Kolom B: Harga sewa booth di mal-mal besar.

Kolom C: Modal awal yang aku butuhkan untuk dapur produksi rumahan.

Kolom D: Estimasi pendapatan per pesanan.

Kolom E: Target tabungan dalam 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan.


Aku mengisi kolom-kolom itu satu per satu. Pelan. Detail. Aku punya tabungan pribadi — uang gaji aku dari pekerjaan di bank, lima tahun sebelum menikah dengan Hendra. Tidak banyak, tapi cukup. Sekitar 80 juta. Aku tidak pernah menggunakannya. Aku selalu merasa... entah kenapa... ini cadanganku. Cadangan untuk hari yang aku tidak tahu kapan akan datang.


Hari itu sudah datang.


Aku menyimpan spreadsheet. Aku tutup laptop. Aku berdiri.


Aku menatap kebaya biru muda yang sudah jadi, tergantung di gantungan baju di pojok kamar — siap untuk Vanessa pakai besok di akad. Aku menatapnya selama tiga puluh detik.


Lalu aku menatap kalender yang menggantung di dinding kamar.


Tanggal 17.


Tujuh hari dari sekarang, aku akan kirim WhatsApp pertama ke teman Sekar yang pesan katering arisan.


Empat puluh tujuh hari dari sekarang, aku akan dapat pesanan pertama dari Kementerian.


Tiga ratus enam puluh lima hari dari sekarang, aku akan tanda tangan kontrak distribusi dengan jaringan hotel.


Aku tidak tahu detail tepatnya — aku hanya merasa garis besarnya, seperti seseorang yang melihat awan dan tahu di sana ada hujan, meskipun belum jatuh.


Aku akan menjadi sesuatu, Hendra.


Saat kamu sedang sibuk membagi waktu antara dua rumah, saat kamu sedang bangga dengan keperkasaan poligami kamu, saat kamu pikir aku hanya istri pertama yang patuh dan menghitung hari menua di rumahmu — aku akan menjadi sesuatu yang kamu bahkan tidak akan kenali ketika kamu kembali.


Saat aku menutup spreadsheet itu, aku menatap kalender lagi. Aku mengambil pensil. Aku menandai tanggal akad Hendra-Vanessa besok dengan satu lingkaran kecil. Bukan tanda silang. Bukan tanda seru. Hanya lingkaran — netral, tidak menghakimi. Catatan untuk diriku sendiri bahwa hari itu adalah titik nol. Titik dimulainya hidup yang berbeda.


Aku mematikan lampu kamar.


Aku tidur.


Untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tidur nyenyak.



---