"Saya terima nikahnya Vanessa Kirana binti Suroto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Tiga puluh detik. Itu durasinya.
Aku duduk di kursi tamu, baris kedua. Aku memakai kebaya hitam, dengan jilbab cokelat tua. Tanganku di pangkuan. Kakiku rapat. Wajahku — kalau ada yang memperhatikan — terlihat tenang. Damai. Bahkan tersenyum tipis. Seperti seorang ibu yang menonton anaknya berdiri di panggung wisuda.
Penghulu mengetuk meja. *Sah.*
Para tamu bertepuk tangan.
Aku ikut bertepuk tangan. Tepuk tangan yang sama yang aku berikan saat Bilqis menang lomba mewarnai di TK. Tepuk tangan yang sama yang aku berikan saat Hendra dilantik jadi ketua asosiasi kontraktor tiga tahun lalu. Tepuk tangan yang sama, tapi dengan makna yang sama sekali baru.
Aku merasa beberapa pasang mata menatap aku diam-diam. Bibi Hendra di sebelah kanan. Pak Lurah di belakang. Vendor catering yang mengintip dari belakang dapur. Mereka semua menatap aku, mungkin menunggu aku menangis, atau pingsan, atau berlari keluar.
Aku tidak melakukan apa-apa dari itu.
Aku duduk. Aku tersenyum. Aku bertepuk tangan.
Bilqis ada di sebelahku, memakai dress ungu — pilihan dia sendiri, dia bilang ungu adalah warna "kuat". Dia tidak ikut bertepuk tangan. Tangannya menggenggam tanganku, erat.
"Bunda...?"
"Iya, sayang."
"Bunda boleh nggak boleh aku bilang sesuatu?"
"Boleh, sayang. Apa?"
"Aku nggak suka Tante Vanessa."
Aku menoleh ke bawah, menatap putriku. "Kenapa, sayang?"
"Aku liat dia tadi waktu sebelum acara, di kamar ganti. Dia ngomongin Bunda sama Mamanya. Dia ketawa-ketawa, Bunda. Bilang Bunda 'mati gaya'. Aku denger sendiri."
Mati gaya.
Istilah yang aku tidak sangka akan keluar dari mulut perempuan yang baru saja jadi istri kedua suamiku.
Aku mengusap rambut Bilqis pelan. "Sayang, nggak usah pikirin omongan Tante Vanessa, ya."
"Tapi aku marah, Bunda."
"Bunda juga, sayang."
Itu pertama kalinya aku mengakui di depan Bilqis bahwa aku marah. Aku tidak yakin itu keputusan yang baik. Tapi aku tidak ingin berbohong ke anakku. Aku tidak ingin Bilqis tumbuh dengan ibu yang berpura-pura kuat, lalu suatu hari dia akan menemukan bahwa ibunya hancur di balik pintu kamar mandi.
Aku ingin Bilqis tahu — marah itu wajar. Marah itu bisa dipakai. Marah itu, kalau dikelola dengan baik, adalah bahan bakar.
Bilqis mengangguk pelan. Dia bersandar ke pundakku.
---
Setelah ijab, ada acara salaman. Tamu-tamu antri untuk menyalami pengantin baru dan keluarga.
Aku berdiri di samping Hendra, di posisi yang biasanya untuk "ibu pengantin pria" — karena mertuaku duduk di kursi roda, sakit pinggang katanya, padahal aku tahu dia sehat-sehat saja. Aku berdiri tegak. Aku bersalaman dengan semua orang.
Banyak yang menatapku dengan tatapan iba. Banyak yang menatap dengan tatapan penasaran. Beberapa, kerabat dekat dari sisi Hendra, menatap dengan tatapan menghakimi — *kasihan, perempuan ini, tidak bisa menjaga suaminya.*
Aku menyalami mereka semua dengan senyum yang sama.
Salah satu tamu, sepupu jauh Hendra dari Surabaya, menahan tanganku lebih lama dari yang sopan.
"Mbak Arini..." katanya sambil menyengir. "Sabar, ya. Suami emang kadang ada masanya nakal."
Aku menarik tanganku halus. "Iya, Pak. Terima kasih doanya."
Pak Lurah datang, salaman cepat, lalu lewat. Tante Nita — yang dulu paling kencang memuji Hendra di hari pernikahan kami sepuluh tahun lalu — kali ini menatap aku dengan mata yang menghindar. Tidak menyalamiku langsung. Hanya mengangguk dari jauh.
Aku tersenyum. Aku tidak peduli. Aku mencatat semua wajah, semua nada, semua siapa-yang-memihak-siapa. Daftar di kepalaku makin panjang.
Sampai Vanessa giliran.
Setelah dia menyalami para tamu, dia akhirnya berdiri di depanku. Dengan kebaya biru muda yang aku jahit dua hari penuh, dengan noda darah kecil yang sudah aku hilangkan tapi yang aku tahu ada di sana.
Vanessa tersenyum. Dia mengulurkan tangannya.
Aku menggenggam tangannya. Hangat. Halus. Tangan yang tidak pernah mencuci piring sendiri.
Dia mencondongkan tubuh, sengaja agar terlihat oleh tamu seperti dia sedang mengucapkan terima kasih. Lalu dia berbisik di telingaku.
"Mbak..." napasnya hangat di kupingku, parfum Chanel-nya menusuk. "Mbak harusnya berterima kasih sama saya. Saya nggak ambil suami Mbak seutuhnya. Saya cuma pinjam."
Aku tersenyum.
Aku tidak menarik tanganku.
Aku tetap menggenggam tangannya, lalu mencondongkan tubuhku, mendekatkan bibirku ke telinganya. Aku berbisik kembali, dengan suara yang sangat lembut, seperti seorang ibu yang menasehati anak gadisnya.
"Vanessa, sayang... pinjam yang lama, ya. Saya tidak buru-buru."
Aku merasakan Vanessa membeku. Untuk satu detik penuh, tangannya kaku di tanganku.
Lalu dia menarik tangan itu, pelan, dengan senyum yang masih tergantung di bibirnya — tapi senyum yang sudah retak. Aku bisa melihat retakannya, di sudut bibir kanannya, di garis matanya yang sedikit menyipit.
"Maksud Mbak apa?" katanya, masih tersenyum, masih untuk konsumsi tamu.
Aku menarik tanganku pelan. Aku tersenyum balik. Aku menjawab dengan suara normal — bukan bisikan kali ini. Cukup keras untuk didengar tamu di sekitar.
"Maksud saya... saya bahagia kalian berdua bisa bersama. Saya ridho. Saya pulang dulu, ya, Bilqis sudah ngantuk."
Aku menarik tangan Bilqis. Aku menyentuh bahu Hendra sekali — gestur pamit yang sopan. Lalu aku berjalan keluar dari hall hotel, melewati barisan tamu, melewati standing flower, melewati papan ucapan yang bertuliskan *"Selamat Menempuh Hidup Baru Hendra & Vanessa."*
Di pintu keluar, ada seorang fotografer yang menyiapkan kamera. Dia memintaku berhenti sebentar untuk foto.
"Ibu Arini, boleh satu foto? Untuk dokumentasi keluarga."
Aku berhenti. Aku tersenyum. Aku menarik Bilqis ke samping aku. Aku berpose sambil meletakkan tangan di pundak putriku.
*Klik.*
Aku tidak tahu nanti, ketika foto ini dicetak, aku akan terlihat seperti apa.
Mungkin seperti perempuan yang baru saja melepas suaminya kepada perempuan lain — tegar, tersenyum, ikhlas.
Atau mungkin seperti perempuan yang baru saja menandatangani tujuh halaman dokumen yang akan menjadi bom waktu di kemudian hari.
Aku berharap, untuk Vanessa dan Hendra, yang mereka lihat adalah yang pertama.
---
Aku sampai di rumah pukul sepuluh malam. Bilqis sudah tertidur di mobil. Aku menggendongnya ke kamar, melepas dressnya pelan-pelan, mengenakan piyamanya. Aku mencium dahinya.
Aku turun ke ruang kerja Hendra.
Pintunya tidak dikunci, masih. Aku masuk. Aku menyalakan lampu meja. Aku membuka laci ketiga dari atas. Di sana, di dalam map biru yang sama, perjanjian itu berada — sudah dilegalisir notaris, sudah ada cap basah, sudah resmi.
Aku mengeluarkannya. Aku membaca lagi, dari halaman pertama sampai terakhir.
Tujuh halaman.
Tiga belas pasal.
Aku mengulanginya keras-keras, sendirian di ruang yang sepi. Pasal demi pasal. Suaraku berbisik, hampir seperti membaca doa.
Setelah selesai, aku memasukkan kembali ke map. Aku menutup laci. Aku mematikan lampu.
Saat aku berjalan keluar, HP-ku bergetar di saku. Pesan WhatsApp masuk. Dari Sekar.
*"Rin, gimana akadnya? Kamu baik-baik aja?"*
Aku berhenti di tangga, mengetik balasan.
*"Aku baik. Akadnya cepat. Tiga puluh detik."*
*"Kamu nangis?"*
*"Enggak."*
*"Beneran?"*
*"Beneran."*
*"Rin, aku tau kamu. Kamu nggak harus pura-pura kuat di depan aku."*
Aku menatap layar HP-ku lama. Aku tidak segera menjawab. Aku duduk di anak tangga, di tengah-tengah antara lantai bawah dan atas.
Aku berpikir. Sekar benar — aku tidak harus pura-pura kuat di depan dia. Sekar adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu aku menangis selama dua puluh menit di shower kamar mandi lima hari yang lalu. Sekar adalah satu-satunya orang yang tahu aku pernah memuntahkan semua makan malamku di toilet, malam sebelum aku bertemu Vanessa untuk pertama kali.
Tapi malam ini, di tangga rumahku sendiri, di hari pernikahan suamiku dengan perempuan lain, aku tidak sedang pura-pura kuat. Aku tidak menangis bukan karena aku menahan. Aku tidak menangis karena... ada yang berubah.
Aku mengetik balasan, jujur kali ini.
*"Kar, aku nggak nangis. Aku justru ngerasa... lega."*
*"Lega? Lega gimana?"*
*"Lega karena akhirnya semua hal yang selama ini aku rasakan di dalam — kekhawatiran, ketakutan, kecurigaan — sekarang udah resmi terjadi. Aku nggak perlu nebak-nebak lagi. Aku nggak perlu denial lagi. Hari ini, akad itu, ngebebasin aku dari semua keraguan. Sekarang aku tau persis apa yang harus aku lakukan."*
Sekar tidak segera membalas. Lama. Mungkin dua menit.
Lalu balasannya muncul.
*"Rin... aku takut sama kamu yang sekarang."*
Aku menatap layar.
Aku tersenyum sendiri di tangga gelap itu.
Aku mengetik balasan terakhir untuk malam itu.
*"Bagus, Kar. Berarti aku udah jadi sesuatu yang baru."*
Aku menutup HP. Aku berdiri. Aku naik ke kamar.
Sebelum tidur, aku berdiri di depan cermin lemari selama satu menit. Aku menatap pantulan wajahku — perempuan tiga puluh dua tahun, dengan kebaya hitam, jilbab cokelat, mata yang tidak menangis sepanjang hari.
Aku berbisik ke pantulan itu.
"Arini..."
Pantulan itu menatap balik.
"...mulai besok, kita beda."
Pantulan itu mengangguk.
Aku mematikan lampu.
Tepat saat lampu padam, HP-ku bergetar sekali lagi. Pesan WhatsApp masuk. Bukan dari Sekar.
Dari nomor yang sama — yang seminggu lalu mengirim aku tiga kata *"Maaf, Mbak Arini."*
Kali ini pesannya lebih panjang.
*"Mbak Arini, saya tau ini malam akad Mas Hendra. Maaf saya ganggu. Saya cuma mau bilang, ada sesuatu yang Mbak harus tau soal Vanessa. Sesuatu yang Mas Hendra sendiri belum tau. Kalau Mbak siap, hubungi saya. Saya tunggu."*
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Aku menatap layar yang menyala dalam gelap.
Aku tidak membalas. Belum. Tapi aku menyimpan nomor itu — dengan nama "X" — dan aku menyimpan pesannya.
Aku tidur dengan HP di samping bantalku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidur sambil tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Bukan senyum lega. Senyum yang aneh — senyum yang baru, lagi-lagi yang itu — yang aku rasa di sudut bibirku, yang tidak hilang bahkan saat napasku mulai melambat menuju tidur.
Esok pagi, aku akan membalas pesan dari nomor X itu. Esok pagi, aku akan mulai.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar