"Mas ngajak saya ngapain ke sini?"
Aku bertanya sambil membuka pintu mobil. Di hadapanku berdiri sebuah kafe mewah di daerah Senopati — kafe dengan teras kayu jati, kursi-kursi rotan mahal, dan menu kopi yang harga satu cup-nya setara satu kilo daging sapi di pasar.
Hendra keluar dari pintu pengemudi, membenarkan kerah kemejanya.
"Mau ketemu Vanessa, Rin. Aku rasa... kita perlu kenalan baik-baik. Biar nggak ada awkward nanti pas akad."
Aku tertawa kecil di dalam hati. *Akad.* Dia menyebutnya seperti pesta ulang tahun.
"Oh." Aku merapikan jilbab cokelat yang aku pakai. Aku sengaja pakai jilbab hari ini — bukan karena religius mendadak, tapi karena aku ingin terlihat seperti perempuan tua-tua yang dimadu, biar di mata Vanessa aku terlihat... lemah. Itu yang aku perlukan. Aku perlu dia menganggap aku lemah.
Kami masuk ke kafe. Di pojok, di meja dekat jendela, seorang perempuan muda berdiri sambil melambai. Vanessa.
Aku menghitung dalam tiga detik:
- Tinggi sekitar 165 cm.
- Kulit putih, sengaja diputihkan, terlihat dari leher yang warnanya tidak nyambung dengan tangan.
- Dress putih ketat, panjang sampai lutut, dengan belahan dada yang... saya pikir tidak pantas untuk pertemuan dengan istri pertama calon suaminya.
- Tas Louis Vuitton di samping kursinya. Asli atau palsu, aku belum bisa pastikan dari jauh.
- Perut sedikit menonjol di balik dress. Tapi tidak terlalu — kalau aku tidak tahu dia sedang hamil, aku mungkin akan mengira dia hanya kekenyangan.
"Mbak Arini!" Vanessa memeluk aku sebelum aku sempat menjawab. Wangi parfumnya menusuk hidung — Chanel, kalau aku tidak salah. Wangi yang sama yang dua minggu lalu aku cium dari kemeja Hendra. "Akhirnya ketemu. Aku udah lama pengen kenalan."
"Iya, ya..." Aku tersenyum, mundur selangkah dengan halus. Aku tidak suka dipeluk orang asing. "Saya juga."
Kami duduk. Vanessa duduk di seberang aku, di samping Hendra. Hendra menggenggam tangan Vanessa di atas meja — santai, terbiasa. Aku tidak bereaksi.
Pelayan datang. Vanessa memesan strawberry matcha latte. Aku memesan teh tawar. Hendra americano.
"Mbak Arini..." Vanessa memulai, dengan suara yang sedikit terlalu manis. "Aku pengen jujur ke Mbak. Aku tau ini... susah buat Mbak. Tapi aku janji, aku nggak bakal ganggu rumah tangga Mbak. Aku cuma minta tempat kecil di hidup Mas Hendra. Aku tau Mbak yang nomor satu."
Aku mengangguk. Aku tersenyum. Aku tidak berkata apa-apa.
Vanessa terus bicara. Tentang masa lalunya yang katanya "berat" — orangtua bercerai, kakak yang menjadi PSK, dia yang harus bekerja sebagai SPG sejak umur 17 tahun untuk biayai sekolahnya sendiri. Tentang bagaimana dia ketemu Mas Hendra di event Jakarta Auto Show, dan langsung "kagum" dengan kebijaksanaan beliau. Tentang bagaimana dia menahan diri selama berbulan-bulan untuk tidak menggoda, tapi "takdir bicara lain."
Aku mendengarkan. Aku menganggukkan kepala di tempat yang tepat. Aku tersenyum di tempat yang tepat. Aku adalah aktris yang lebih baik dari yang Vanessa kira.
Hendra ikut bicara — dia memuji Vanessa, mengelus tangan Vanessa, sesekali melirik aku untuk memastikan aku tidak meledak. Aku tidak meledak. Aku tidak akan meledak hari ini. Aku akan meledak nanti, di waktu yang aku tentukan sendiri.
Pelayan datang membawa pesanan. Vanessa mengangkat matcha-nya, lalu — entah disengaja atau tidak — sedikit menumpahkan ke dressnya, di bagian perut.
"Aduh!" pekiknya. Dia berdiri, menarik dressnya menjauh dari kulit, lalu — dengan gerakan yang menurutku terlalu lambat untuk "tidak sengaja" — dia mengusap perutnya yang menonjol.
Bagian dressnya yang ketat menempel ke kulit basah. Garis tonjolan perutnya jadi jelas. Sangat jelas.
Aku menghitung di kepalaku. Kalau hamil empat bulan, tonjolan harusnya seperti itu — sedikit di atas pusar, masih agak rata di bagian bawah. Tapi yang aku lihat... tonjolannya lebih ke atas, lebih bulat, lebih jelas. Lebih seperti... lima bulan. Atau lebih.
Aku menyimpan informasi itu.
"Eh, sorry, Mas Hen!" Vanessa tertawa cekikikan ke Hendra. "Aku ceroboh banget. Tapi gapapa, baby kita kuat kok di dalam." Dia mengelus perutnya lagi, kali ini lebih lama, sambil menatap aku.
Aku tersenyum. "Baby boy atau girl, Vanessa?"
"Belum tau, Mbak. Dokter bilang nanti pas tujuh bulan baru kelihatan jelas."
Tujuh bulan.
Tapi tadi katanya empat bulan.
Kalau benar empat bulan, USG sudah bisa lihat jenis kelamin. Itu aku tahu. Aku pernah hamil. Bilqis ketahuan perempuan di usia kandungan 14 minggu.
Aku menyimpan informasi itu. Tidak lagi mungkin empat bulan. Pasti lebih. Mungkin lima. Mungkin enam.
Berarti — berarti — Hendra dan Vanessa bukan delapan bulan. Mereka lebih lama dari itu. Atau Vanessa sudah hamil sebelum mengenal Hendra dan menjebak.
Banyak skenario yang muncul di kepalaku. Aku tidak menutup satu pun. Semuanya aku simpan sebagai kemungkinan.
"Mbak Arini..." Vanessa kembali duduk, kali ini dia bicara sambil melirik Hendra. "Aku pengen tanya satu hal. Boleh?"
"Boleh."
"Mbak... ridho sama poligami ini, kan? Aku nggak mau dosa kalau ternyata Mbak nggak ridho."
Aku menatapnya. Aku tahu apa yang sedang dia lakukan. Dia sedang mencari pengakuan formal — supaya kalau nanti ada konflik, dia bisa bilang "tapi Mbak yang ridho duluan."
Aku tersenyum lebar. Aku menjawab dengan suara paling lembut yang aku bisa keluarkan.
"Vanessa, sayang... yang ridho atau enggak itu Allah yang tau. Bukan saya, bukan kamu. Yang penting kalian berdua jalan dengan baik. Saya doakan."
Vanessa mengangguk-angguk, terlihat puas — meskipun jawaban saya sebenarnya bukan "iya". Tapi orang-orang seperti Vanessa hanya mendengar nada, bukan kata. Dan nada saya hangat. Itu cukup untuk dia.
Hendra ke kamar mandi sebentar. Vanessa langsung berubah.
Senyum di wajahnya tetap ada — tapi lebih dingin. Dia mencondongkan tubuh ke depan, menurunkan suaranya.
"Mbak Arini, aku jujur, ya?"
"Iya."
"Mas Hen itu... laki-laki yang luar biasa. Tapi dia capek, Mbak. Capek punya istri yang itu-itu aja. Mbak tau kan, laki-laki butuh variasi."
Aku tidak mengangguk. Aku hanya menatap dia.
"Aku nggak menghakimi Mbak, ya. Mbak udah ngabdi delapan tahun, itu bagus banget. Tapi sekarang giliran aku yang bikin Mas Hen seneng. Mbak tetap di rumah, urus Bilqis, terima nafkah. Aku yang urus Mas Hen di tempat lain. Win-win, kan?"
Aku tetap menatap dia. Tidak mengedipkan mata.
Vanessa menyandar lagi, tersenyum. "Mbak harusnya berterima kasih sama aku, sebenernya. Aku nggak ambil Mas Hen seutuhnya. Aku cuma... pinjam."
Aku tersenyum. Untuk kali kedua dalam tiga hari, senyum yang baru itu muncul lagi. Senyum yang aku sendiri masih belajar mengenal.
Aku mencondongkan tubuh ke depan. Aku menyamai posisi Vanessa.
"Vanessa, sayang..." aku mulai dengan suara yang sama lembutnya, "Pinjam yang lama, ya. Saya tidak buru-buru."
Wajah Vanessa membeku. Senyumnya tergantung di bibir, tapi matanya tidak lagi tersenyum.
"Maksud Mbak?"
"Maksud saya, kalau kamu mau pinjam Mas Hen, pinjam aja lama-lama. Saya nggak akan minta balik dia buru-buru."
Vanessa membuka mulut, lalu menutupnya. Lalu membuka lagi.
"Mbak... ngomong apa sih?"
Aku tersenyum lebih lebar. Aku menyandar ke kursiku.
"Saya cuma ngerespon kamu, sayang. Kamu yang bilang 'pinjam', kan? Saya cuma menjawab."
Hendra kembali dari kamar mandi. Dia duduk, menggenggam tangan Vanessa lagi, lalu mengernyit melihat wajah Vanessa yang sedikit kaku.
"Kenapa, sayang?"
"Eh? Eh, nggak apa-apa, Mas." Vanessa kembali tersenyum manis, tapi senyumnya tidak sama seperti tadi. "Aku cuma agak pusing. Bayinya nendang-nendang."
Aku menyeruput tehku.
Bayi yang katanya empat bulan, sekarang sudah bisa menendang sampai bikin ibunya pusing.
Aku simpan informasi itu, di laci yang sama dengan informasi-informasi lain.
Lacinya sudah mulai penuh.
---
Setelah Hendra membayar tagihan dan kami berdiri untuk pamit, Vanessa memeluk aku lagi. Pelukan yang lebih lama dari yang aku mau, dan kali ini aku merasakan kuku Vanessa menekan tipis di punggungku — bukan untuk menyakiti, hanya untuk menandai.
"Sampai ketemu di akad, Mbak," bisiknya. "Aku tunggu Mbak."
Aku tersenyum dan melepaskan diri sopan.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Hendra menyetir sambil bersenandung pelan. Lagu pop tahun 90-an yang aku tahu dia tidak suka — dia memutarnya karena Vanessa yang suka. Aku duduk di sebelahnya, menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang sama yang sudah aku lihat ribuan kali.
"Rin..." kata Hendra di lampu merah, "kamu... cocok sama Vanessa, ya. Aku kira tadi bakal canggung."
Aku menoleh ke arahnya. "Cocok gimana, Mas?"
"Kalian kayak... ya, kayak akur. Kayak dia hormat sama kamu, dan kamu juga ramah ke dia. Aku lega banget, Rin."
Aku tersenyum kecil. Aku tidak menjawab.
Lampu hijau menyala. Mobil bergerak lagi.
Setelah dua menit, Hendra bicara lagi. Kali ini lebih pelan.
"Rin... makasih, ya. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu... kamu istri yang sangat istimewa. Aku bersyukur banget punya kamu."
Aku menatap dia. Kerut samar di sudut matanya. Sedikit uban di pelipisnya yang dia tutup-tutupi dengan semir setiap bulan. Pria yang aku pernah cintai mati-matian, yang dulu pernah aku pikir adalah anugerah Tuhan terbesar yang pernah aku terima.
Sekarang dia adalah... entahlah. Bukan musuh. Belum. Tapi juga bukan suami lagi, dalam arti yang aku pernah pahami.
"Iya, Mas," aku menjawab. "Saya juga bersyukur."
Aku menoleh kembali ke jendela. Lampu-lampu Jakarta masih sama. Tapi aku, di kursi penumpang ini, sudah bukan perempuan yang sama yang naik mobil ini dua jam yang lalu.
Saat mobil belok ke arah perumahan kami, aku diam-diam membuka HP-ku di pangkuan, di bawah sorot lampu sein. Aku buka galeri. Aku menatap foto Bilqis yang aku ambil pagi tadi — dia tertawa sambil memegang mainan unicornnya, rambut acak-acakan, mata sipit karena tertawa. Foto itu, di tengah mobil yang membawa aku pulang dari pertemuan dengan perempuan yang akan menikahi suamiku, membuat aku merasakan sesuatu yang aku tidak duga.
Bukan sedih. Bukan marah. Hanya: *jangkar.*
Bilqis adalah jangkarku. Selama Bilqis aman, selama Bilqis bahagia, apapun yang Hendra dan Vanessa lakukan tidak akan menenggelamkan aku.
Aku menutup HP. Aku menatap jalan di depan. Mobil masuk ke garasi.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar