Pagi itu aku bangun pukul empat.
Bukan karena adzan subuh — itu nanti, masih satu jam lagi. Bukan karena Bilqis menangis. Bukan karena suara apa pun. Aku bangun karena di kepalaku, perjanjian itu sudah selesai disusun semalaman tanpa aku tertidur sekalipun.
Aku turun ke ruang kerja Hendra di lantai bawah. Pintunya tidak dikunci — dia tidak pernah merasa perlu mengunci apa pun di rumahnya sendiri. Aku menyalakan komputer. Aku membuka aplikasi pengolah kata. Aku mulai mengetik.
Kalimat demi kalimat. Pasal demi pasal. Aku mengetik dengan tangan yang sangat tenang, seolah-olah ini draf undangan pernikahan, bukan dokumen yang akan menjadi pisau di leher seorang pria yang aku nikahi sepuluh tahun lalu.
Pukul enam, dokumen itu selesai. Tujuh halaman. Tiga belas pasal.
Aku print di printer Hendra. Aku siapkan dua materai sepuluh ribu yang aku ambil dari laci atasnya. Aku letakkan rapi di dalam map plastik biru. Aku bawa naik ke meja makan, taruh di tempat yang biasa Hendra letakkan tablet sambil sarapan.
Lalu aku ke dapur. Aku memasak nasi goreng dengan telur mata sapi. Sarapan favorit Hendra. Aku menyeduh kopi tubruk tanpa gula — caranya minum kopi sejak kami menikah. Aku menyiapkan dua piring. Aku menunggu.
Bilqis turun lebih dulu, masih dengan piyama unicorn-nya. Rambut ekor kudanya berantakan. Dia menggesekkan tubuh ke pangkuanku, memeluk pinggangku sambil mengucek mata.
"Bunda... aku mimpi aneh."
"Mimpi apa, sayang?"
"Aku mimpi Bunda jadi kupu-kupu. Terbang ke langit. Tapi sayapnya warna hitam, bukan warna-warni."
Aku tertawa kecil — entah dari mana datangnya tawa itu. Aku mencium ubun-ubun anakku.
"Itu mimpi bagus, sayang. Kupu-kupu terbang itu artinya Bunda mau ke tempat tinggi."
"Tapi sayapnya hitam, Bunda. Kayak gagak."
"Iya. Tapi Bunda tetap terbang, kan?"
Bilqis mengangguk. Lalu dia menarik kursi di sebelahku, menumpu dagunya ke meja. Aku menyendokkan nasi goreng untuk dia, memberinya kecap manis sedikit di samping piring — caranya makan yang dia minta sejak dia berumur empat tahun.
Hendra turun pukul tujuh kurang. Dia sudah memakai kemeja batik untuk meeting pagi. Dia masuk ke ruang makan, langsung melihat map biru di tempat tablet-nya biasanya.
"Apa ini, Rin?"
"Syarat yang saya bilang semalam, Mas."
Aku menyendokkan nasi goreng ke piringnya. Aku menuangkan kopinya. Aku tidak menatap matanya. Aku hanya melakukan rutinitas yang sama yang aku lakukan setiap pagi selama delapan tahun.
Hendra membuka map. Dia mengangkat tujuh halaman itu satu per satu. Aku bisa melihat dari sudut mataku — alisnya mengkerut, lalu rileks, lalu mengkerut lagi.
"Rin... ini kok... formal banget? Kayak draft kontrak."
"Iya, Mas." Aku tersenyum, menaruh sendok. "Saya mau jelas. Saya nggak mau ada salah paham di kemudian hari."
Hendra membaca lagi. Pasal pertama: *Seluruh gaji pokok bulanan Hendra Pratama dari CV Pratama Konstruksi sebesar Rp45.000.000 per bulan, akan ditransfer ke rekening BCA atas nama Arini Larasati selambat-lambatnya tanggal 5 setiap bulan, sebagai dana inti keluarga inti Arini-Bilqis. Tidak boleh dipotong, ditunda, atau dialihkan untuk keperluan istri kedua atau pihak lain.*
Hendra mengernyit. "Rin, ini kan... otomatis aja. Gaji pokok kan emang untuk keluarga utama."
"Iya, Mas. Makanya saya tulis. Biar pasti."
Pasal kedua: *Seluruh aset yang saat ini sudah terdaftar atas nama Arini Larasati — termasuk namun tidak terbatas pada rumah di Jl. Anggrek Loka Blok C5/12 BSD, dua unit ruko di Bekasi, mobil Honda CR-V 2023, dan saldo deposito di Bank Mandiri serta BCA — sepenuhnya menjadi milik pribadi Arini Larasati. Hendra Pratama tidak dapat menggugat, mengklaim, atau meminta pengalihan terhadap aset-aset tersebut dalam kondisi apapun, termasuk perceraian.*
Hendra terhenti di pasal ini. Lebih lama.
Bilqis sudah selesai sarapan dan minta turun untuk ambil tasnya. Aku mengangguk, dia berlari kecil ke arah tangga. Setelah dia menghilang, Hendra mengangkat wajah.
"Rin, ini kan rumah kita berdua. Aset kita berdua."
"Tapi atas nama saya, Mas."
"Iya, atas nama kamu, tapi—"
"Tapi atas nama saya."
Aku mengulang. Pelan. Tanpa nada tinggi. Tanpa argumen panjang. Hanya kalimat yang sama, diulang sekali, dengan jeda satu detik di antaranya.
Hendra menatap aku. Aku menatap balik. Untuk pertama kalinya pagi itu, mata kami bertemu.
"Mas," kataku, "Mas ingat nggak, tiga tahun lalu, waktu Mas takut diaudit pajak, Mas titipin semua aset itu atas nama saya. Mas sendiri yang ngurusin notarisnya. Mas sendiri yang bilang ke saya — 'Rin, ini biar pajak ringan, ya. Anggap saja aman di nama kamu.' Mas ingat?"
Hendra terdiam.
"Saya nggak protes waktu itu, Mas. Saya nggak minta apa-apa. Saya percaya. Sekarang Mas mau menikah lagi. Boleh. Tapi kalau Mas mau hidup yang baru, hidup yang lama biar jadi punya saya. Itu saja."
"Rin, kamu pikir saya akan menelantarkan kamu?"
Aku tertawa kecil. Bukan tawa sarkasme. Hanya tawa lelah. "Mas, perempuan yang Mas nikahin sekarang sudah hamil empat bulan. Bayangkan tiga tahun lagi — dia punya anak balita yang lucu, sayap mas yang muda, dan saya... saya ibu rumah tangga umur tiga puluh lima yang sudah Mas akrabi sampai tidak ada pesona apa-apa lagi. Apakah Mas yakin Mas akan tetap adil tiga tahun lagi? Lima tahun lagi?"
Hendra membuka mulutnya. Tidak ada yang keluar.
"Saya nggak butuh janji, Mas. Saya butuh hitam di atas putih. Itu saja."
Aku menyodorkan pulpen. Mont Blanc, hadiah dari klien Korea-nya tahun lalu.
Hendra menatap pulpen itu. Lalu kembali ke kertas. Pasal demi pasal dia baca lagi. Pasal tiga: nafkah Bilqis. Pasal empat: visitation right. Pasal lima: tidak boleh ada perceraian dari pihak Hendra. Pasal enam: kalau Hendra meninggal, seluruh aset perusahaan akan masuk ke trust untuk Bilqis. Pasal tujuh sampai tiga belas: hal-hal teknis.
Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Aku bisa membacanya seperti membaca buku anak-anak.
*Cuma gaji pokok. Bonus proyek aku, kan, jauh lebih besar. Aset yang atas nama dia... ya sudah, anggap kompensasi. Toh aset yang atas namaku sendiri juga banyak. Ini wajar. Ini fair. Ini... oke.*
Hendra mengambil pulpen.
Dia tanda tangan di halaman terakhir. Sekali. Dua kali — satu di kolom Pihak Pertama, satu di kolom saksi yang nanti akan diisi notaris. Tidak baca dua kali. Tidak minta direvisi. Tidak tanya kenapa harus bermaterai.
Aku menarik kertas itu pelan, membungkukkan tubuhku sedikit untuk meraihnya. Aku letakkan ke dalam map. Aku menutup map. Aku tersenyum.
"Terima kasih, Mas."
"Iya, Rin." Hendra terdengar lega, hampir lemas. Dia mulai makan nasi gorengnya yang sudah dingin. "Aku nggak nyangka kamu... kamu bener-bener pengertian, Rin. Kamu memang istri terbaik."
Aku mengangguk pelan. Aku berdiri. Aku mengusap rambut Hendra sekali sambil lewat di belakangnya — gesture yang sudah delapan tahun aku lakukan.
"Mas sudah selesai sarapan, kabari saya, ya. Saya bawa ini ke notaris dulu, biar dilegalisir. Mas mau nikah kan minggu depan? Lebih cepat lebih baik."
Hendra mengangguk sambil menyendok nasi. "Iya, Rin. Makasih, ya."
Aku berjalan ke kamar. Pelan. Tenang. Saat aku menutup pintu, kakiku tidak bergetar. Tanganku tidak gemetar. Aku sudah selesai gemetar tadi malam, di kamar mandi, selama dua puluh menit di shower yang aku sengaja nyalakan keras-keras.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Aku menatap map biru di tanganku.
Tujuh halaman.
Yang Hendra kira hanya formalitas.
Yang Sekar — sahabatku — akan tahu maknanya begitu aku WhatsApp dia siang ini.
---
Aku ke notaris pukul sebelas pagi. Notaris Pak Wira — kenalan ayahku sejak lama, yang aku tahu mulutnya rapat dan tangannya cepat. Aku sengaja tidak pilih notaris yang Hendra biasa pakai. Aku tidak ingin satu pun jaringan Hendra tahu apa yang aku tanda-tanganin pagi ini.
Pak Wira membaca tujuh halaman itu pelan-pelan, kacamatanya turun di hidungnya. Setelah halaman ketiga, dia menatap aku.
"Rin, kamu yang nyusun ini sendiri?"
"Iya, Om."
"Kamu... tahu nilai aset yang kamu klaim di pasal dua?"
"Tahu, Om."
"Hendra setuju?"
"Sudah tanda tangan."
Pak Wira diam sejenak, lalu menggeleng pelan. Bibirnya bergerak seperti mau senyum, tapi tidak jadi senyum.
"Saya legalisir hari ini juga. Kamu mau dibikin berapa rangkap?"
"Tiga. Satu untuk Mas Hendra. Satu untuk saya. Satu untuk... cadangan."
Pak Wira mengangguk. Dia tidak bertanya cadangan untuk apa. Dia hanya bekerja — mengambil cap basah, menempel materai cadangan, menulis di kolom-kolom resminya. Lima belas menit. Selesai.
Saat aku berdiri untuk pamit, Pak Wira menahan tanganku sebentar.
"Rin, kalau ada apa-apa, datang ke Om. Ayah kamu dulu... ayah kamu dulu juga begini ke ibumu. Saya yang bantu Ibumu beberapa berkas dulu, sebelum almarhumah meninggal. Saya tahu apa yang sedang kamu lakukan."
Aku menatap Pak Wira. Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk sekali, dan pamit.
Di mobil, aku duduk dengan map di pangkuan, mesin masih mati, jendela tertutup. Aku diam selama lima menit penuh. Aku tidak menangis. Aku tidak tersenyum. Aku hanya... ada.
Lalu aku nyalakan mesin, dan pulang.
---
Malam itu, pukul setengah sebelas, HP-ku bergetar di nakas.
Sekar. Video call.
Aku angkat. Wajah Sekar muncul, masih memakai blazer kantor, di belakangnya rak buku-buku hukum.
"Rin..." suara Sekar nyaris berbisik, padahal dia di rumahnya sendiri. "Rin, kamu sadar nggak..."
"Sadar apa, Kar?"
"Aku baru selesai baca scan yang kamu kirim siang tadi. Sambil makan malam. Aku hampir keselek nasi."
"Kenapa?"
Sekar menatap kamera. Matanya melebar, separuh tidak percaya, separuh kagum.
"Rin... kamu sadar nggak, kamu baru aja jadi pemilik resmi sekitar 70% kekayaan suamimu di atas kertas?"
Aku tidak menjawab.
Aku hanya tersenyum.
Senyum yang baru itu lagi. Yang aku sendiri masih belum kenal.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar