Dua minggu kemudian, Hana duduk di lantai kamarnya, memegang map cokelat yang masih tertutup.
"Buka, Han." Ibunya, Bu Sumiyati, duduk di pinggir kasur. Sambil bersila menyandar bantal, tangan ibunya yang sudah berurat-urat memegang teh hangat dalam gelas. "Atau ibu yang buka?"
"Sebentar, Bu."
Hana menarik napas. Map itu cokelat polos, sama persis dengan map-map yang sudah pernah ia terima dari Ustadzah Maemunah sebelumnya. Tiga map sebelumnya. Tiga nama yang berakhir dengan tiga cerita yang sama: kenalan, foto dilihat keluarga, lalu mundur sebelum sempat ada pertemuan pertama. Selalu alasannya halus. *"Keluarga kami merasa belum cocok, Nak."* *"Mungkin Hana untuk yang lain ya."* *"Hana baik kok, tapi—"*
Selalu ada *tapi.*
Map cokelat ini — yang sekarang ada di pangkuannya — adalah map keempat. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Saat Ustadzah Maemunah mengantarnya tadi sore, beliau tidak duduk lama seperti biasa. Beliau hanya menyerahkan map, lalu berkata pelan: *"Han, kali ini ibu nggak akan banyak ngomong. Kamu buka, kamu baca, kamu pikirin. Tapi satu hal — pihak lelakinya minta perkenalan tanpa pertukaran foto dulu."*
Tanpa foto.
Hana belum pernah dengar yang seperti itu.
"Bu," Hana menatap ibunya, "kenapa orang minta tanpa foto?"
Bu Sumiyati menyeruput tehnya pelan-pelan.
"Macem-macem alasan, Nak."
"Misalnya?"
"Misalnya — dia takut ditolak karena wajahnya saja."
Hana berkerut.
"Atau," lanjut ibunya, "dia capek dilihat karena wajahnya saja."
Hana menatap map itu.
Kalimat ibunya menempel sebentar di kepalanya. Karena ia juga pernah merasa begitu — meski terbalik. Tiga kali ia dikirim biodata-fotonya ke keluarga calon, tiga kali keluarga calon itu menelpon Ustadzah Maemunah dengan pertanyaan yang sama-sama tidak jujur: *"Bu, Hana tinggi badannya berapa ya, Bu?"* *"Bu, kulitnya — ya, kulitnya yang asli, Bu, bukan yang di foto?"* *"Bu, dia anak satu-satunya? Ibunya sakit terus ya, Bu?"*
Hana menelan ludah. Lalu membuka map.
---
Halaman pertama: data pribadi.
**Nama lengkap:** Farhan Abdurrahman
**Tempat / tanggal lahir:** Bandung, 17 Agustus 19—
**Pendidikan:** S1 Kedokteran Umum, Universitas Padjadjaran
**Pekerjaan:** Dokter umum di Klinik Pesantren Al-Hidayah
**Alamat:** Jalan Cipta Asih No. 12, Bandung
**Status orang tua:** Ibu almarhumah. Ayah (Mahmud, 68 tahun) tinggal terpisah.
**Status sebelumnya:** Pernah bertunangan. Calon istri meninggal sebelum akad nikah, tiga tahun lalu.
Hana berhenti membaca.
Ia menatap baris terakhir itu — *"Calon istri meninggal sebelum akad nikah, tiga tahun lalu"* — dan untuk beberapa detik, ia tidak bisa lanjut. Bukan karena terkejut. Tapi karena di kepalanya, untuk pertama kalinya sejak beberapa hari ini, sesuatu terhubung.
*Patah.*
Kata itu muncul di kepalanya, tanpa diundang.
Ia membalik halaman.
Halaman kedua: tempat foto seharusnya ada. Tapi di sana hanya ada selembar kertas kecil yang dilipat dua, ditempel sederhana di atas posisi foto.
Hana mengambil kertas itu. Membuka lipatannya.
Tulisan tangan. Tinta hitam. Tulisan yang rapi tapi sedikit miring ke kanan — tulisan orang yang biasa menulis resep, tapi memaksa diri menulis lebih hati-hati kali ini.
*"Saya minta maaf karena tidak menyertakan foto.*
*Saya bukan menyembunyikan apa-apa. Saya hanya — sudah terlalu sering dilihat dulu, dinilai dulu, diputuskan dulu, sebelum sempat saya bilang siapa saya.*
*Kalau Hana berkenan ketemu, saya akan datang sendiri ke rumah Ustadzah Maemunah. Hana boleh memutuskan setelah ketemu — pulang juga tidak masalah, dan saya tidak akan mengejar. Saya cuma minta satu kesempatan untuk dilihat sebagai cerita, bukan sebagai wajah.*
*Hormat saya,*
*Farhan."*
Hana membaca kertas itu sekali. Lalu dua kali. Lalu tiga kali.
Lalu ia melipatnya kembali, menaruh di pangkuannya, dan menatap ibunya.
"Bu."
"Iya, Nak."
"Bu, saya — saya nggak tahu kenapa. Tapi ada sesuatu di tulisan ini..."
"Apa, Nak?"
Hana menggeleng pelan.
"Saya kayak ngerti dia."
Bu Sumiyati menatap putrinya. Mata Bu Sumiyati — meski tubuhnya sudah lelah, meski tangannya gemetar saat memegang gelas — masih punya kejelasan yang tidak hilang.
"Han," ia bertanya, "kalau bukan karena foto, kamu mau ketemu?"
Hana berpikir.
Bukan pertanyaan yang sulit, sebenarnya. Tapi ia ingin jujur pada dirinya sendiri sebelum menjawab.
Ia menatap kertas itu lagi. Kalimat *sudah terlalu sering dilihat dulu, dinilai dulu, diputuskan dulu.*
Ia mengangkat wajah.
"Iya, Bu. Saya mau."
Bu Sumiyati tersenyum tipis.
"Ya sudah. Telpon ustadzah."
---
Pertemuan pertama dijadwalkan hari Sabtu, ba'da Ashar.
Hari itu, Hana bangun jam empat pagi. Subuh ia jamaah dengan ibunya di kamar — ibunya sudah tidak kuat ke masjid lagi sejak bulan lalu, dan Hana yang biasanya berimam. Sehabis Subuh, Hana duduk di teras, memandang jalan kampung yang masih sepi, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan.
Gugup? Iya.
Tapi gugup ini beda. Gugup yang lebih dekat dengan rasa ingin tahu daripada rasa takut.
Aisyah datang jam delapan, bawa kuaci dan kopi sachet — *"Han, gue temenin sampai siang ya. Lo gugup kan?"* — tapi Hana mengusirnya pulang jam sepuluh, karena Aisyah terlalu banyak bertanya. *Dia kerja apa? Umurnya berapa? Lo udah cek IG-nya?* — dan Hana tidak punya jawaban untuk satu pun, karena ia memang tidak punya IG laki-laki itu, tidak punya foto, tidak punya apa-apa selain selembar kertas kecil dengan tulisan tangan yang masih ia simpan di laci.
Jam satu siang, Hana mulai memilih gamis.
Ia membuka lemarinya. Menatap deretan gamis. Hijau zaitun — yang ia pakai ke akad Rania — terlipat di pojok. Ia tidak akan memakainya. Ia tidak ingin gamis itu lagi.
Pilihannya jatuh ke gamis biru tua, sederhana, dengan bordir kecil di lengan. Gamis yang dulu dibuatkan ibunya untuk wisuda S1-nya — gamis yang sudah berumur enam tahun, sudah agak pudar, tapi yang paling Hana suka.
Ia memakainya. Jilbab navy, sederhana, tanpa hiasan.
Ia berdiri di depan cermin.
Wajahnya — Hana menatap pantulannya — tidak terlihat seperti perempuan yang akan ketemu calon. Wajahnya terlihat seperti perempuan yang akan ketemu seseorang yang sudah tahu sesuatu tentang dia. Dan itu — entah kenapa — terasa lebih menenangkan daripada gugup.
"Bu, saya berangkat ya."
Bu Sumiyati duduk di kursi tamu, sudah memakai jilbab. "Tante Aisyah jemput kita kan?"
"Iya, Bu. Sebentar lagi."
"Han."
"Iya, Bu?"
Ibunya menatap Hana lama. Lalu tersenyum.
"Cantik, Nak."
Hana terkesiap. Ia tidak menyangka kalimat itu. Ia tertawa pelan, mengusap mata.
"Bu, jangan bikin saya nangis dulu. Belum sampai sana."
"Ibu serius."
"Iya, Bu. Makasih."
Klakson mobil terdengar di luar — Aisyah. Hana memeluk ibunya sebentar, mengambil tas kecilnya, lalu keluar.
---
Rumah Ustadzah Maemunah sama seperti biasa. Pagar besi karat di sudut, pot-pot tanaman di teras, bau melati tipis dari dalam.
Aisyah turun untuk mengantar ibu Hana masuk dulu — Ustadzah Maemunah meminta ibu Hana ada di pertemuan ini, sebagai wakil keluarga karena ayahnya almarhum. Hana berdiri sebentar di mobil, menatap pagar itu. Memejamkan mata. Membaca basmalah.
Lalu ia turun, dan berjalan ke pintu.
Pintu dibuka oleh Ustadzah Maemunah. Senyumnya selalu sama. Tapi kali ini, Hana memperhatikan — ada sesuatu yang sedikit beda di senyum ustadzah. Lebih kecil. Lebih hati-hati.
"Masuk, Nak."
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Ibu kamu sudah di ruang dalam sama suami ibu. Pihak lelakinya sudah datang." Ustadzah Maemunah menyentuh lengan Hana sebentar — gestur yang Hana tidak pernah lihat sebelumnya dari ustadzah. "Han, sebelum kamu masuk ruang tamu — ibu mau bilang satu hal."
"Iya, Bu?"
"Apapun yang terjadi di dalam, jangan terburu-buru ngambil keputusan. Oke?"
Hana mengerutkan kening pelan.
"Iya, Bu."
Ustadzah Maemunah mengangguk. Lalu ia melangkah duluan, melewati ruang dalam, ke arah ruang tamu.
Hana mengikuti.
Pintu ruang tamu terbuka.
Hana melangkah masuk.
---
Di kursi tamu — di kursi yang sama dengan tempat Hana dulu duduk untuk ketiga ta'aruf sebelumnya — ada seorang laki-laki yang berdiri saat Hana masuk.
Kemeja putih sederhana. Celana hitam. Peci hitam.
Wajah yang Hana kenal.
Wajah yang sudah hampir dua minggu menempel di kepalanya, yang tidak ia bisa hilangkan, yang ia selalu pikir adalah kebetulan tidak penting dari hari yang tidak penting.
Laki-laki di pojok aula. Laki-laki yang menangkap piringnya.
Hana berdiri di pintu. Tidak bergerak.
Otaknya butuh waktu tiga detik untuk memproses. Lalu lima detik lagi untuk percaya. Lalu dua detik lagi untuk merasakan — pelan, bertahap — sesuatu yang naik dari dada ke tenggorokan. Bukan amarah. Bukan terkejut. Sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Campuran.
"Anda..."
Suara Hana keluar pelan, tapi cukup untuk didengar di ruangan kecil itu.
Laki-laki di seberang — Farhan — mengangguk pelan. Wajahnya tidak terlihat malu, tidak terlihat menang, tidak terlihat berharap. Hanya wajah yang tahu ini akan terjadi seperti ini, dan sudah siap dengan apapun jawaban Hana.
"Iya," Farhan menjawab. Suaranya tenang. "Saya yang waktu itu."
Hana tidak duduk.
Ia menatap Farhan. Lalu menatap Ustadzah Maemunah, yang berdiri di sudut ruangan. Lalu menatap ibunya, yang duduk di kursi sebelah, terlihat bingung karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Lalu menatap Farhan lagi.
"Anda yang minta tanpa foto."
"Iya."
"Anda tahu — saat ibu Ustadzah menelpon saya dua minggu lalu, dari mobil — Anda tahu kalau saya yang waktu itu?"
"Tahu."
Hana menelan ludah.
"Anda sengaja?"
Farhan menarik napas. Ia tidak menghindar dari pertanyaan itu. Ia menatap Hana langsung, dan menjawab dengan suara yang ia jaga supaya tidak terdengar membela diri.
"Iya. Saya sengaja minta tanpa foto. Saya minta itu sebelum saya tahu Anda yang waktu itu — dan setelah saya tahu, saya tetap minta yang sama. Karena saya — saya ingin Anda setuju ketemu saya tanpa diberi tahu siapa saya dulu."
"Kenapa?"
Farhan menatap Hana lama.
"Karena saya nggak mau Anda setuju ketemu hanya karena Anda inget wajah saya di aula."
Hana mengerjap.
"Saya juga nggak mau Anda menolak hanya karena Anda inget wajah saya di aula."
Hening.
Ruangan diam selama beberapa detik. Hana mendengar suara jam dinding di belakangnya berdetak. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Saya minta maaf," Farhan menambah, suaranya lebih pelan. "Kalau ini membuat Anda merasa dimanipulasi, saya tarik. Anda boleh pulang sekarang. Saya tidak akan mengganggu lagi. Sungguh."
Hana menatap kursi yang seharusnya ia duduki.
Selama beberapa detik, ia tidak tahu apakah ia akan duduk atau pergi.
Otaknya berkata pulang — karena ini adalah pola yang sudah ia kenal, pola laki-laki yang punya rencana di belakangnya, pola yang berakhir dengan ia jadi pilihan kedua atau ketiga atau entah keberapa. Otaknya berkata — *Han, lo udah pernah ditipu sekali. Jangan lagi.*
Tapi sesuatu yang lain berkata — *Han, lihat matanya. Lihat sekali lagi.*
Hana menatap mata Farhan.
Mata itu — yang tiga minggu lalu ia lihat dari pojok aula yang berseberangan — masih sama. Tidak ada manipulasi di sana. Tidak ada kemenangan. Hanya orang yang sedang menunggu jawaban, dengan kerentanan yang ia coba sembunyikan tapi tidak benar-benar bisa.
Mata orang yang baru saja patah.
Sama dengan mata yang ia lihat di cermin kamar mandinya, di malam ia membakar surat-surat itu satu per satu.
Hana menarik napas dalam-dalam.
Lalu, perlahan, ia melangkah ke kursi. Duduk. Meletakkan tasnya di pangkuan.
Ia tidak menatap Farhan saat duduk. Ia menatap meja.
"Saya nggak pulang." Suaranya keluar pelan, tapi jelas. "Tapi saya mau bilang satu hal dulu sebelum kita mulai."
"Iya."
"Saya tahu Anda nggak bermaksud manipulasi. Saya percaya itu." Hana mengangkat wajahnya, menatap Farhan. "Tapi besok lagi — kalau kita lanjut — jangan ada lagi yang Anda simpan dari saya. Apapun. Karena saya udah pernah dijadiin orang yang dapet informasi terakhir. Dan saya nggak mau itu lagi."
Farhan menatap Hana lama. Lalu mengangguk pelan.
"Saya janji."
Ustadzah Maemunah di sudut ruangan — Hana lihat dari sudut matanya — mengusap matanya pelan, dan duduk di kursi.
Pertemuan ta'aruf pertama itu dimulai.
Tapi sebelum siapapun sempat membuka mulut lagi, Farhan menarik napas dan berkata — suaranya jernih, tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya:
"Sebelum kita lanjut, saya mau jujur tentang satu hal lagi."
Hana mengangkat wajah.
"Apa?"
Farhan menatapnya.
"Saya — tunangan saya yang meninggal. Sarah namanya. Saya belum sepenuhnya selesai dengan dia. Saya pikir saya udah selesai, tiga tahun ini. Tapi dua minggu lalu, malam ibu Ustadzah ngasih saya biodata Anda — Bunda Sarah, ibunya, nelpon saya. Dia bilang dia nemu surat di kamar Sarah. Yang belum sempet dikirim. Saya belum buka surat itu sampai sekarang."
Hana terdiam.
"Saya mau bilang ini," Farhan melanjutkan, "karena Anda berhak tahu. Saya datang ke sini bukan karena saya udah utuh. Saya datang ke sini karena saya pikir — kalau saya jujur dari awal, mungkin Anda mau bantu saya buat utuh."
Hana menatap kalimat itu menggantung di udara di antara mereka.
Lalu — perlahan — ia tersenyum.
Bukan senyum yang lebar. Bukan senyum yang manis. Hanya satu sudut bibir yang sedikit naik.
"Mas Farhan," ia berkata pelan, "kalau Anda butuh seseorang yang udah utuh, saya bukan orangnya."
Farhan menatapnya.
"Saya juga lagi patah."
Hana menarik napas.
"Jadi mungkin," ia melanjutkan, suaranya pelan tapi mantap, "kita berdua harus mulai dari situ dulu — sebelum bicara yang lain."
Di sudut ruangan, Ustadzah Maemunah menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam sore itu, ia menangis tanpa suara.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar